"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Indah dan Janji Suci
POV Zhira
Hari-hari setelah kejadian pesan ancaman itu terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan. Seolah Tuhan sengaja mengirimkan ujian kecil itu untuk menyatukan hati kami dan membersihkan orang-orang jahat dari sekitar kami.
Sekarang, fokus kami penuh untuk mempersiapkan hari bahagia. Hari di mana aku dan Arfan akan resmi menjadi suami istri sehidup semati.
"Ra, coba kamu lihat desain undangannya ini. Gimana menurut kamu? Warna emas sama putih, cocok nggak sama tema dekorasi?" tanya Arfan sambil menunjukkan tablet di tangannya.
Kami sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu rumah orang tua Arfan, menikmati sore yang hangat.
Aku melihat desain itu dengan seksama. Tulisan namaku dan namanya berdampingan indah. "Zhira Alvina & Arfan Darmawan".
"Cantik banget Fan... Elegan. Aku suka," jawabku sambil tersenyum lebar. "Tapi Fan... kamu yakin mau acara sebesar ini? Kita bisa kok buat sederhana aja, nanti boros kalau kegedean."
Arfan langsung menggeleng tegas, lalu mencubit hidungku gemas.
"Ah enggak boleh gitu dong Sayang. Kamu itu wanita yang sudah sabar nunggu bahagia selama bertahun-tahun. Kamu pantas dapat yang terbaik, yang termegah, dan yang paling indah. Biar semua orang tahu, kalau Zhira Alvina itu istriku, dan aku bangga banget punya kamu."
Deg!
Jantungku selalu berdetak kencang setiap kali dia mengucapkan kata-kata manis itu. Dia benar-benar tahu cara membuatku merasa seperti seorang putri raja.
Beberapa hari kemudian, kami pergi bersama ke toko busana pengantin. Bu Ratna dan Ibu Zainal juga ikut menemani, membuat suasana jadi sangat meriah dan penuh tawa.
"Nah yang ini nih Nduk! Coba kamu ukur baju pengantin warna putih renda ini. Pasti cocok banget sama kulit kamu," seru Bu Ratna antusias.
Aku masuk ke ruang ganti. Saat keluar mengenakan gaun pengantin yang megah dan indah, semua orang di ruangan itu terdiam sejenak.
Mataku berkaca-kaca melihat bayanganku di cermin besar. Aku terlihat berbeda. Wajah yang dulu sering pucat dan lesu karena beban hidup, kini bersinar cerah dengan senyum bahagia.
"Masya Allah... cantiknya..." bisik Ibu Zainal takjub, matanya sudah basah. "Anak Ibu sudah besar... sudah mau jadi pengantin saja."
Arfan yang berdiri di depan cermin menatapku tak berkedip. Dia mendekat perlahan, lalu membetulkan sedikit kerudung di kepalaku dengan tangan yang gemetar sedikit.
"Ra..." suaranya parau. "Kamu... kamu beneran mau jadi milik aku ya? Rasanya kayak mimpi banget lihat kamu seindah ini."
"Iya Fan... cuma milik kamu," jawabku terharu.
"Janji sama aku, setelah kita nikah nanti, kita nggak akan pernah pisah. Apapun masalahnya, kita hadapin bareng-bareng. Nggak ada lagi nangis sendirian, nggak ada lagi rahasia. Semuanya kita bagi dua," kata Arfan lembut tapi tegas, menatap mataku lekat-lekat lewat pantulan cermin.
"Aku janji, Fan. Bersamamu, aku siap buat apa saja."
Malam harinya, saat aku sedang duduk di teras rumah merapikan buku catatan daftar tamu, tiba-tiba Ayah Alvin menghampiriku.
"Nak Zhira..."
"Iya Yah?"
Ayah duduk di sebelahku, menghela napas panjang lalu menatapku dengan wajah penuh haru.
"Bapak bangga sama kamu, Nak. Bapak tahu perjalanan kamu nggak mudah. Bapak tahu kamu banyak nangis, banyak capek, tapi kamu nggak pernah nyerah. Dan sekarang lihat hasilnya... kamu dapat yang terbaik."
Ayah memegang tanganku. "Maafin Bapak ya Nak... selama ini Bapak lemah. Bapak tahu Ibu kamu kadang kelewatan, tapi Bapak nggak bisa banyak berbuat. Bapak minta maaf."
"Yah... jangan ngomong gitu. Ayah adalah Ayah terbaik. Tanpa Ayah, mungkin Zhira sudah hancur dari dulu. Terima kasih ya Yah, sudah selalu ada buat Zhira meski diam-diam," jawabku sambil memeluk lengan Ayah.
"Iya Nak. Yang penting sekarang kamu bahagia. Arfan itu anak baik, bertanggung jawab. Kamu harus jadi istri yang baik juga ya. Hormati orang tuanya, sayangi suaminya."
"Siap Yah, Insya Allah."
Di kejauhan, Arfan melihat aku dan Ayah mengobrol dengan hangat. Dia tersenyum bangga, lalu mendekat.
"Ngomongin apa nih? Kok serius banget?" tanyanya sambil ikut duduk.
"Ngomongin kamu lah Mas! Ngomongin kalau kamu harus jaga anak Bapak baik-baik!" goda Ayah Alvin tertawa.
"Tenang Pak! Insya Allah saya akan jaga dia lebih dari saya menjaga diri saya sendiri," jawab Arfan mantap.
Langit mulai gelap, bintang-bintang mulai bermunculan. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tidak lama lagi, statusku akan berubah. Dari Zhira yang dulu sendirian, kini akan menjadi Nyonya Arfan Darmawan yang penuh cinta.
"Besok kita mulai gladi resik ya Ra," bisik Arfan.
"Iya... aku siap."
Hati ini tenang, penuh harap, dan siap menyambut babak terindah dalam hidupku.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh, makin dekat nih hari H-nya! 🥹❤️ Manis dan haru banget kan?
Gimana Bestie? Lanjut Bab 28 lagi gas! Kita mau cerita gladi resik dan kejutan dari keluarga Arfan! 🔥📖✨