Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Dila Turun Tangan
# Bab 15 — Dila Turun Tangan
**POV: Dila**
---
Namaku Dila. Atau setidaknya, itulah yang mereka panggil selama 36 tahun terakhir.
Aku duduk di bangku belakang kelas, seperti biasa. Pensil di tanganku menari di atas kertas, menggambar pemandangan yang tidak pernah kulihat—menara kristal, langit tembaga, dan sesosok pria dengan mata ungu yang bercahaya.
Aku sudah menggambar wajah itu ribuan kali. Tapi tidak pernah bisa melupakannya.
Karena pria itu adalah Dewa Psikis. Dan aku adalah satu-satunya yang selain Hubble yang tahu apa yang terjadi malam itu.
36 tahun lalu.
---
Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Aku berusia 16 tahun—secara fisik, aku tidak pernah berubah sejak saat itu. Aku adalah bangsawan psikis, putri dari klan yang dihormati. Keluargaku adalah salah satu yang terkuat di wilayah itu.
Tapi kekuatan tidak bisa menyelamatkan mereka.
Malam itu, langit berubah menjadi biru. Bukan biru biasa—biru terang, seperti api yang membakar. Dan dari tengah cahaya itu, muncul seorang pria dengan mata bercahaya.
Dewa Psikis.
Ia tidak bicara. Ia hanya mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, seluruh wilayahku hancur. Rumah-rumah runtuh. Tubuh-tubuh berjatuhan. Aku melihat ayahku—seorang psikis level tinggi—jatuh tanpa bisa melawan.
Aku berlari. Bersembunyi. Menyembunyikan auraku sehingga ia tidak bisa merasakanku. Itu adalah satu-satunya keahlian yang menyelamatkan hidupku: kemampuan untuk menghilangkan aura psikis.
Aku selamat. Tapi keluargaku tidak.
Dan sejak saat itu, aku bersumpah untuk tidak pernah menggunakan kekuatanku lagi. Aku akan hidup sebagai manusia biasa. Aku akan melupakan masa laluku.
Tapi takdir berkata lain.
---
Kedatangan Reiki ke desa ini mengubah segalanya.
Aku tahu sejak pertama kali melihatnya. Aura itu—aura yang sama seperti malam 36 tahun lalu. Mungkin lebih lemah, mungkin lebih tersembunyi. Tapi aku bisa merasakannya.
Ia adalah reinkarnasi Dewa Psikis.
Aku ingin pergi. Ingin lari seperti yang selalu kulakukan. Tapi sesuatu menahanku. Mungkin rasa penasaran. Atau mungkin rasa bersalah karena selama ini aku hanya diam.
Aku mulai mengamatinya dari jauh. Caranya berjalan. Caranya berbicara. Caranya menatap Hime—gadis misterius yang tiba-tiba muncul di desa ini.
Dan aku melihat perubahan. Kekuatannya mulai bangkit. Dan semakin kuat ia, semakin ia berubah.
Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku sudah melihatnya sebelumnya.
Dan kali ini, aku tidak bisa diam.
---
Sore itu, aku berjalan menuju gudang tua di pinggir desa. Tempat di mana Hime, Reiki, dan KSAN berkumpul. Aku sudah cukup lama mengamati. Sekarang saatnya untuk bicara.
Ketika aku sampai di pintu, Hime menatapku dengan curiga. "Dila? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku perlu bicara. Dengan kalian semua."
KSAN mengerutkan dahi. "Tentang apa?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Tentang Reiki. Tentang siapa dia sebenarnya. Dan tentang apa yang akan terjadi padanya jika kalian tidak berhati-hati."
Hime diam. Lalu ia membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
---
Aku duduk di lantai gudang, di depan Hime, Reiki, dan KSAN. Hubble juga ada di sana, berdiri di sudut dengan tangan bersedekap.
"Kau tahu sesuatu tentang Reiki?" tanya Hime.
"Aku tahu lebih dari yang kalian kira."
"Ceritakan."
Aku menatap Reiki. Ia menatapku kembali dengan mata ungu itu—mata yang sama seperti yang kulihat 36 tahun lalu.
"Aku tahu kau adalah reinkarnasi Dewa Psikis," kataku.
Ruangan hening. Hime menatapku dengan mata terbelalak.
"Bagaimana kau tahu?" bisiknya.
"Karena aku ada di sana malam itu. Malam ketika Dewa Psikis membantai keluargaku."
Hubble melangkah maju. "Kau... kau juga?"
Aku mengangguk. "Aku adalah bangsawan psikis. Keluargaku dibantai malam itu. Aku selamat karena aku bisa menyembunyikan auraku."
"Selama 36 tahun?" tanya KSAN.
"Selama 36 tahun. Aku bersembunyi. Berpura-pura menjadi gadis desa biasa. Tidak menggunakan kekuatanku sama sekali."
"Tapi kenapa kau muncul sekarang?" tanya Hime.
Aku menatap Reiki. "Karena aku melihat pola yang sama. Kekuatannya mulai bangkit. Dan semakin kuat ia, semakin ia berubah. Aku tidak ingin sejarah terulang."
Reiki menunduk. "Aku... aku tidak tahu."
"Tentu kau tidak tahu. Kau tidak ingat apa pun dari kehidupan sebelumnya. Tapi percayalah padaku: jika kau terus menggunakan kekuatanmu tanpa kendali, kau akan menjadi seperti dia."
"Dia?" tanya Hime.
"Dewa Psikis yang dulu. Makhluk tanpa perasaan. Mesin penghancur."
---
Hime menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Apa yang harus kami lakukan?"
Aku diam sejenak. "Ada dua pilihan. Pertama, kau bisa membiarkannya terus menggunakan kekuatannya. Ia akan menjadi semakin kuat—tapi ia akan kehilangan kemanusiaannya. Kedua, kau bisa menahannya. Membantunya mengendalikan kekuatan itu. Tapi itu berarti ia tidak akan pernah mencapai potensi penuhnya."
"Dan jika aku memilih opsi kedua?"
"Maka ia akan tetap menjadi Reiki. Manusia. Tidak sempurna. Tapi juga tidak menjadi monster."
Hime menatap Reiki. Reiki menatapnya kembali.
"Apa yang kau pilih?" tanya Dila.
Hime meraih tangan Reiki. "Aku memilih dia. Bukan Dewa. Bukan kekuatan. Tapi dia."
Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku merasa bahwa mungkin—hanya mungkin—ada harapan.
---
Malam itu, aku duduk sendirian di kamarku, menatap gambar yang kugambar. Pria dengan mata ungu. Dewa Psikis.
Tapi kali ini, aku tidak merasa takut. Karena aku tahu bahwa Reiki berbeda. Ia memiliki orang-orang yang peduli padanya. Hime. KSAN. Bahkan Hubble, yang perlahan mulai menerima.
Mungkin kali ini, sejarah tidak akan terulang.
Atau mungkin aku hanya berharap terlalu banyak.
Tapi untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku merasa bahwa aku tidak lagi sendirian.
---
Keesokan paginya, aku kembali ke laboratorium. Hime sedang sibuk dengan perangkatnya. KSAN memasang sensor baru. Reiki duduk di sudut, membaca buku catatan.
"Hei," sapaku.
Mereka menatapku.
"Aku ingin membantu."
Hime tersenyum. "Kau diterima."
Dan untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku menggunakan kekuatanku bukan untuk bersembunyi, tapi untuk membantu.
Aku mengeluarkan pensil dan kertas. Dan aku mulai menggambar—bukan pemandangan dari masa lalu, tapi peta energi desa ini. Dengan kekuatan imajinasiku, aku bisa memvisualisasikan aliran energi yang tidak bisa dilihat oleh perangkat Hime.
"Ini luar biasa," kata Hime, menatap gambarku. "Kau benar-benar bisa melihat aliran energi?"
"Aku bisa menggambarnya. Itu sudah cukup."
KSAN bersiul. "Dengan ini, kita bisa melacak setiap fluktuasi energi di desa."
Aku mengangguk. "Dan kita bisa menemukan siapa yang bersembunyi."
---
Sore harinya, kami menemukan sesuatu. Di gambarku, ada titik energi yang tidak biasa—tersembunyi di bawah tanah, di dekat balai desa.
"Apa itu?" tanya Hime.
"Aku tidak tahu. Tapi itu bukan dari Reiki. Dan bukan dari kita."
Hubble, yang sejak tadi diam, angkat bicara. "Mungkin itu markas Penjaga Gerbang."
"Atau mungkin sesuatu yang lain," kataku.
Aku menatap gambar itu. Titik energi itu berdenyut pelan, seperti jantung yang berdetak.
*Ada sesuatu di bawah desa ini. Sesuatu yang menunggu untuk ditemukan.*
Dan untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku merasa bahwa petualangan sejati baru saja dimulai.
---
Malam harinya, aku duduk sendirian di kamarku, memikirkan apa yang akan terjadi. Aku sudah bergabung dengan tim Hime. Aku sudah mengungkapkan identitasku. Tidak ada jalan mundur sekarang.
Aku mengeluarkan pensil dan kertas, dan mulai menggambar. Bukan peta energi—tapi wajah. Wajah pria dengan mata ungu. Dewa Psikis.
Tapi kali ini, aku menggambarnya dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai monster, tapi sebagai manusia. Dengan senyum. Dengan kerutan di keningnya. Dengan kelelahan di matanya.
Karena setelah bertemu Reiki, aku menyadari sesuatu: Dewa Psikis bukanlah monster. Ia adalah manusia yang memiliki kekuatan terlalu besar untuk dikendalikan. Dan pada akhirnya, kekuatan itu yang menghancurkannya.
Tapi Reiki memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Dewa dulu: teman. Orang-orang yang peduli padanya. Dan mungkin—hanya mungkin—itu bisa membuat perbedaan.
---
Keesokan harinya, aku kembali ke laboratorium. Hime, Reiki, KSAN, dan Hubble sudah berkumpul. Mereka sedang mendiskusikan peta energi yang aku gambar.
"Di sini, " kataku, menunjuk ke titik di bawah balai desa. "Ini adalah pusat dari semua fluktuasi. Aku yakin ini adalah gerbang. "
"Tapi kenapa baru sekarang muncul? " tanya KSAN.
"Mungkin karena energi Reiki yang membangunkannya. "
Hubble mengangguk. "Itu masuk akal. Semakin kuat Reiki, semakin aktif gerbang itu. "
"Lalu apa yang harus kita lakukan? " tanya Reiki.
Semua diam. Tidak ada yang tahu jawabannya.
Aku angkat bicara. "Kita harus mencari tahu lebih dulu. Sebelum kita memutuskan apa pun, kita perlu data yang cukup. "
"Setuju, " kata Hime. "Kita akan menyelidiki gerbang itu besok malam. "
---
Malam itu, kami berkumpul di laboratorium untuk persiapan terakhir. Hime memeriksa perangkatnya. KSAN memastikan semua sensor berfungsi. Hubble dan Karmas berjaga di luar.
Aku duduk di sudut, menggambar. Bukan peta—tapi sketsa wajah Reiki. Wajah anak muda yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya, tapi tetap berani menghadapi masa depannya.
"Apa itu? " tanya Reiki, duduk di sampingku.
"Kau. "
Ia menatap gambar itu. "Bagus. Tapi aku tidak serajut itu. "
"Kau lebih rajut dari yang kau kira. "
Ia tersenyum. "Terima kasih. "
"Sama-sama. "
Kami diam sejenak. Lalu ia berkata, "Dila, apa kau takut? "
"Takut? "
"Tentang apa yang akan terjadi. Tentang gerbang itu. Tentang masa depanku. "
Aku menatapnya. "Aku takut. Tapi aku juga penasaran. Karena untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku merasa hidupku punya tujuan. "
"Tujuan? "
"Membantumu. Membantu kalian semua. Mungkin ini adalah cara untuk menebus masa laluku. "
"Kau tidak perlu menebus apa pun. "
"Mungkin. Tapi aku ingin. "
Ia tersenyum. "Kau orang baik, Dila. "
Aku tertawa kecil. "Aku hanya orang yang lelah bersembunyi. "
---
Pukul sepuluh malam, kami berangkat. Hime memimpin, diikuti oleh Reiki, KSAN, dan aku. Hubble dan Karmas berjaga di permukaan.
Kami berjalan menuju balai desa. Di bawahnya, ada ruang bawah tanah yang tidak pernah digunakan. Tapi menurut petaku, di sanalah gerbang itu berada.
Kami membuka pintu tua yang berdebu. Tangga batu menurun ke dalam kegelapan. Udara di sini dingin—lebih dingin dari luar. Dan ada bau aneh, seperti tanah basah bercampur logam.
"Di sini, " bisikku. "Aku bisa merasakannya. "
Kami turun. Tangga itu berkelok-kelok, semakin dalam. Dan semakin ke bawah, semakin kuat energi yang kurasakan.
Kami sampai di sebuah ruangan bawah tanah. Di tengahnya, ada sebuah gerbang batu—tingginya sekitar tiga meter, diukir dengan simbol-simbol yang sama seperti di pulau. Tapi gerbang ini tertutup. Terkunci.
"Ini dia, " kata Hime. "Gerbang antar-dimensi. "
"Tapi kenapa ada di sini? " tanya KSAN.
"Mungkin ini adalah pintu belakang. Atau mungkin ini adalah gerbang utama, dan yang di pulau itu hanya replika. "
Aku mendekati gerbang itu. Aku meletakkan tanganku di permukaan batunya. Dingin. Tapi di dalamnya, ada denyut—seperti jantung yang berdetak.
"Ia hidup, " bisikku.
Reiki mendekat. Ia juga meletakkan tangannya di gerbang itu. Dan untuk sesaat, gerbang itu bercahaya—biru terang—lalu meredup.
"Ia mengenalimu, " kataku.
"Atau ia menungguku. "
Kami berdiri di depan gerbang itu, tidak tahu harus berbuat apa. Tapi satu hal yang pasti: ini baru awal.
---
Kami kembali ke laboratorium dengan informasi baru. Gerbang di bawah balai desa—itu adalah penemuan yang mengubah segalanya.
"Jika gerbang itu terbuka, " kata Hime, "entah apa yang bisa keluar dari sana. "
"Atau masuk, " tambah Hubble.
Aku duduk di sudut, menggambar peta energi yang lebih detail. Dila duduk di sampingku, membantuku dengan gambar-gambar yang lebih rumit.
"Kau tahu, " katanya pelan, "aku sudah bersembunyi selama 36 tahun. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku melakukan sesuatu yang berarti. "
"Kau tidak perlu bersembunyi lagi, " jawabku. "Kau bagian dari tim sekarang. "
Ia tersenyum. "Terima kasih. "
"Sama-sama. "
Malam itu, kami memutuskan untuk menjaga gerbang itu—setidaknya, sampai kami tahu cara menanganinya. Hubble dan Karmas berjaga secara bergantian. Hime terus menganalisis data. Dan aku, KSAN, dan Dila menyusun strategi.
Ini baru awal. Tapi untuk pertama kalinya, kami memiliki tujuan yang jelas.
Dan itu sudah cukup.
---
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Lebih ringan. Seperti beban yang selama ini kupikul mulai berkurang.
Aku berjalan menuju laboratorium. Hime sudah ada di sana, sibuk dengan perangkatnya. KSAN sedang mengecek monitor. Dila menggambar di sudut.
"Selamat pagi, " sapaku.
Mereka menatapku dan tersenyum.
"Selamat pagi, " jawab Hime. "Kau tidur nyenyak? "
"Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ya. "
Aku duduk di kursiku. Di depanku, ada peta energi yang digambar Dila. Titik di bawah balai desa masih menjadi pusat perhatian.
"Apa rencana kita hari ini? " tanyaku.
Hime menatapku. "Kita pelajari gerbang itu. Dan kita cari tahu cara menutupnya—atau membukanya dengan aman. "
"Kedengarannya berbahaya. "
"Memang. Tapi itulah satu-satunya cara. "
Aku mengangguk. "Aku siap. "
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar siap menghadapi apa pun yang akan datang.
---
Malam itu, aku duduk sendirian di kamarku, memikirkan semua yang telah terjadi. Dalam satu minggu, hidupku berubah total. Dari seorang gadis desa biasa yang bersembunyi selama 36 tahun, menjadi bagian dari tim yang berusaha menyelamatkan dunia.
Atau setidaknya, menyelamatkan satu anak SMA yang ternyata adalah reinkarnasi dewa.
Aku mengeluarkan pensil dan kertas, dan mulai menggambar. Bukan peta energi—tapi wajah. Wajah Reiki. Wajah Hime. Wajah KSAN. Wajah semua orang yang kini menjadi bagian dari hidupku.
Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam 36 tahun, aku merasa bahwa aku memiliki keluarga.
Dan itu adalah perasaan yang tidak akan pernah aku tukar dengan apa pun.
---
**— Bersambung —**