Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIKAP ARYA
Pagi itu, suasana di ruang makan kediaman utama, seperti biasa. Terasa formal meski piring-piring sudah hampir kosong. Maura, Freya, dan Tama masih duduk di posisi masing-masing, menyesap sisa teh mereka dengan tenang.
Sementara, Arya meletakkan serbetnya di atas meja, lalu berdiri seraya merapikan jasnya yang tanpa cela. "Aku berangkat sekarang," pamitnya singkat, memberikan anggukan sopan yang tertuju lebih kepada Mama dan kakak, dan adiknya daripada kepada istrinya sendiri.
Tanpa menunggu balasan panjang, ia pun melangkah keluar menuju ruang depan. Yasmin pun segera bangkit, setengah berlari kecil mengekor di belakang punggung lebar itu.
"Mas!" panggil Yasmin begitu mereka sampai di dekat pintu utama yang terbuka, terpampang jelas mobil Arya yang sudah siap untuk melesat meninggalkannya hari ini.
Arya menghentikan langkah, berbalik dengan satu tangan merogoh kunci di saku celananya. "Ada apa? Aku sudah hampir terlambat."
Yasmin meremas jemarinya, matanya menatap Arya dengan binar yang sulit diartikan—campuran antara marah dan tekad yang kuat. Sejak pandangannya tak sengaja menangkap jejak samar di lehernya—tanda yang tak seharusnya ada di sana, sikap Arya bergeser total. Tidak ada lagi wajah hangat, helaan napas lelah yang maklum, maupun jemari kokoh yang membelai lembut Yasmin. Kini, yang ada hanyalah jarak yang membentang lebar.
"Aku... aku mau ikut, Mas." cetus Yasmin tiba-tiba.
Alis Arya bertaut. "Ikut ke mana?"
"Ke... ke rumah sakit." ucap Yasmin melangkah satu titik lebih dekat, menghalangi jalan Arya menuju pintu mobil.
Arya mengangkat sebelah alisnya. " Rumah sakit?" ulangnya. "Bukannya kamu trauma sama rumah sakit? Lagipula... hari ini aku gak ada stay di ruang pribadi, Yasmin."
Yasmin menelan ludah, dadanya sesak oleh dilema yang menghimpit. Benar, bayangan lorong rumah sakit yang dingin, bau disinfektan yang menyengat, dan bunyi monitor jantung yang monoton selalu sukses membuatnya berkeringat dingin karena trauma masa lalu. Namun, menatap punggung Arya yang terasa sejauh samudra pagi ini meninggalkannya, jauh lebih menakutkan.
Tinggal di sana tanpa Arya berarti harus berhadapan dengan tatapan menghakimi dari Maura yang selalu menuntut kesempurnaan, atau sindiran tajam Freya yang tak pernah berhenti mencari celah kesalahannya.
Dan, yang paling membuatnya bergidik adalah Tama. Keberadaan pria itu di rumah yang sama terasa seperti ancaman yang terus mengintai di balik bayangan, terutama setelah apa yang tertinggal di lehernya pagi ini.
"Aku bosan di rumah terus, Mas." Kata Yasmin beralasan. "Aku mau ikut kamu kerja."
Arya menghela napas panjang, melirik jam tangannya dengan gelisah. "Yasmin, rumah sakit bukan tempat untuk bermain atau sekadar menghilangkan rasa bosan. Bahkan, di rumah sakit pun gak ada obat bosan. Aku akan sangat sibuk hari ini. Kamu di rumah saja, belanja atau cari hobimu sendiri kalau memang jenuh."
"Mas..." Yasmin mulai merengek, kakinya sedikit dihentakkan pelan ke lantai marmer. Matanya yang setengah memohon, mulai berkaca-kaca.
Arya menghela udara dalam-dalam. "Yasmin kamu tuh kenapa si jadi seperti ini?"
Yasmin tersentak. Suara Arya tidak meledak, namun tajamnya kata-kata itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan. Dingin yang terpancar dari mata suaminya seolah membekukan air mata yang nyaris jatuh di pipinya. "Maaf, Mas. Aku hanya..."
"Yasmin, aku ke rumah sakit untuk bekerja, untuk mengurus nyawa orang. Bukan untuk menjadi pengasuhmu karena kamu tidak betah di rumah." Potong Arya dengan kalimat tegas dan lugas.
Arya tidak lagi menatap Yasmin. Ia membuang muka, lebih memilih memandang mobilnya yang sedari tadi menunggu untuk ditumpanginya.
Dalam benaknya, bayangan tanda kemerahan di leher Yasmin sejak kemarin masih berputar-putar seperti kaset rusak. Itu bukan sekadar tanda, itu adalah tamparan bagi harga dirinya sebagai seorang suami.Kemarahannya tidak meledak, namun membeku menjadi kecurigaan yang berkarat.
Setiap kali Yasmin bicara atau bertingkah manja seperti biasa, kini Arya merasa itu hanyalah topeng untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih gelap. Sama seperti sekarang ini. Tatapan Yasmin yang penuh permohonan, lebih seperti tameng untuk mengungkapkan rasa bersalah.
"Aku pergi," kata Arya singkat. Ia berbalik tanpa menunggu jawaban, apalagi sebuah kecupan di dahi yang biasanya menjadi ritual manis mereka. Langkah kakinya yang tegas berdentum di atas lantai marmer, menciptakan irama yang terasa seperti vonis bagi Yasmin.
Yasmin terpaku di tempatnya berdiri. Punggung Arya yang biasanya menjadi tempatnya bersandar, kini tampak seperti tembok raksasa yang dingin dan tak tertembus. Tanpa kata-kata perpisahan yang hangat, tanpa tatapan mata yang menenangkan, Arya benar-benar meninggalkannya dalam ketidakpastian yang mencekam. Sungguh, sikap dingin itu jauh lebih menyiksa daripada hinaan Maura dan Freya, namun tak bisa menyaingi ancaman Tama.
****