Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 BAB 5 : JIWA YANG BERGELIUR
Malam hari, di apartemen Kirana yang minimalis namun dipenuhi aroma rempah, mereka berdua duduk menghadap buku biru tua yang legendaris itu. Kirana telah menyiapkan makan malam sederhana: nasi putih hangat, tempe goreng krispi, dan Urap Sayur dengan bumbu kelapa yang sangat segar.
"Makanan ini..." Arga menyuapkan sesendok urap ke mulutnya. "Rasanya seperti pelukan."
"Itu karena aku menggunakan kencur segar dan sedikit terasi yang kubakar sendiri," jelas Kirana. "Bara sangat suka urap ini. Dia dulu sering mencuri bumbu kelapanya sebelum kucampur dengan sayur."
Arga tersenyum tipis mendengar nama anaknya disebut. "Ceritakan padaku tentang dia. Tentang Bara."
Kirana tersenyum sedih. "Dia lahir di tengah badai, Arga. Kau memberinya nama Bara karena kau berharap dia memiliki semangat yang membara untuk melindungi orang lain, tapi tetap hangat bagi keluarganya. Dia sangat mirip denganmu, tapi dia punya bakat memasak yang luar biasa. Dia bisa mengenali jenis bumbu hanya dari aromanya sejak umur tiga tahun."
Arga terdiam, membayangkan seorang anak laki-laki kecil yang tidak pernah ia temui di dunia ini. "Lalu... apa yang terjadi padanya setelah aku... setelah aku di masa lalu meninggal?"
Kirana membuka halaman terakhir buku biru yang sebelumnya belum ia tunjukkan pada Arga. Di sana ada sebuah surat pendek dengan aksara yang lebih rapi, seolah ditulis oleh orang dewasa.
> "Untuk Ayah dan Ibu di masa depan. Aku telah menyembunyikan pusaka keluarga kita di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh waktu. Jika kalian membaca ini, carilah 'Jantung Selatan'. Di sana, cinta kalian tertanam dalam bentuk yang paling murni."
>
"Jantung Selatan?" Arga mengernyit. "Apakah itu wilayah di Majapahit?"
"Bukan," jawab Kirana, matanya berbinar. "Jantung Selatan adalah nama perkebunan Edelweiss milik keluarga Tantri di lereng gunung. Tempat yang dulu kita gunakan untuk pertama kalinya bicara jujur satu sama lain."
Arga teringat sesuatu. "Keluarga Larasati baru saja membeli lahan besar di daerah selatan Jawa Timur untuk proyek resort mewah. Mereka menyebutnya 'Proyek Edelweiss'."
Kirana membeku. "Laras tahu. Dia pasti menemukan catatan sejarah lain atau dia memiliki sisa-sisa ingatan yang lebih kuat dari kita. Dia mencari pusaka itu, Arga."
"Pusaka apa yang sebenarnya Bara sembunyikan?"
"Bukan emas atau perhiasan," Kirana menatap Arga dengan serius. "Menurut legenda keluarga Tantri, ada sebuah kotak perak yang berisi 'Sumpah Darah'. Siapa pun yang memiliki kotak itu dan memecahkan segelnya, dia bisa memanggil kembali memori penuh dari kehidupan sebelumnya—atau bahkan menghapusnya selamanya."
Arga mengepalkan tangannya. "Jika Laras mendapatkan kotak itu, dia bisa menghapus memoriku tentangmu selamanya. Dia bisa membuatku kembali menjadi pria dingin yang membencimu."
"Atau lebih buruk lagi," Kirana menambahkan. "Dia bisa menggunakannya untuk memanipulasi sejarah kuliner kita dan mengklaim semua resep di buku ini sebagai miliknya, menghancurkan namaku dan Kedai Majapahit secara legal."
Telepon Arga tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari detektif swasta yang ia sewa. Isinya adalah sebuah foto: Larasati sedang berdiri di depan sebuah gerbang kayu tua yang sangat familiar bagi Kirana.
Gerbang menuju Perkebunan Edelweiss.
"Dia sudah di sana," bisik Arga.
Kirana segera berdiri, melepas celemeknya, dan mengambil jaket kulit hitamnya. "Kita berangkat sekarang. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh warisan anakku."
Arga ikut berdiri, mengambil kunci mobilnya. Sifat 'Iblis Perang Utara'-nya kini benar-benar bangkit. "Siapkan dirimu, Kirana. Jalan menuju ke sana mungkin berliku, tapi kali ini, kita akan melaluinya bersama."
Saat mereka melangkah keluar dari apartemen, Kirana sempat melirik pisau Damaskus yang kini tersampir di pinggang Arga—tersembunyi di balik jasnya. Pisau itu bersinar redup, seolah memberikan restu bagi perjalanan mereka.
Perang untuk masa lalu telah dimulai di masa depan. Dan di atas segalanya, Kirana tahu, ini bukan hanya soal resep atau harta. Ini adalah soal membuktikan bahwa cinta sejati tidak akan pernah basi, tidak peduli berapa abad ia telah tersimpan.
...****************...
...Bersambung.... Terima kasih telah membaca📖 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
arga itu kakak iparnya Panji? terus Kirana siapanya panji sih? 😅
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia