NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Gema dari Ibu Kota

Surabaya di pagi hari saat sidang perdana hak asuh anak Dewi dimulai terasa begitu menyesakkan. Hana berdiri di depan Pengadilan Agama, mendampingi Dewi yang wajahnya pucat pasi, terus-menerus meremas ujung hijabnya. Di sisi lain, Maya baru saja mendarat dari Jakarta, membawa koper berisi dokumen hukum yang tebal dan sebuah kabar yang tidak terduga.

"Hana, kita harus bicara sebentar sebelum masuk," bisik Maya, menarik Hana sedikit menjauh dari kerumunan wartawan lokal yang mulai mengendus kasus ini.

"Ada apa, May? Soal Haris?" tanya Hana cemas.

Maya menggeleng, matanya menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini soal Aris. Kemarin, dia meminta pengacaranya menyampaikan sebuah surat untukmu. Dia tahu tentang pergerakanmu di Surabaya. Entah bagaimana, dia masih punya telinga di luar sana."

Hana merasakan desiran dingin di punggungnya. "Aku tidak mau baca, May. Biarkan dia membusuk dengan penyesalannya."

"Bukan itu, Na," potong Maya cepat. "Aris menyerahkan sisa aset tersembunyi yang tidak sempat disita negara—sebuah ruko di kawasan pemukiman padat di Jakarta Timur. Dia menyerahkannya atas namamu, dengan syarat ruko itu harus dijadikan cabang 'Ruang Temu' khusus untuk pendidikan anak-anak dari ibu yang menjadi anggota koperasimu."

Hana tertegun. Langkahnya terhenti tepat di anak tangga pengadilan. "Kenapa sekarang?"

"Dia bilang, itu adalah satu-satunya cara dia bisa meminta maaf pada ibunya, Mama Sarah, lewat dirimu. Dia tahu dia sudah kehilangan segalanya, termasuk kewarasannya jika terus membencimu," jelas Maya.

Hana menatap langit Surabaya yang mulai terik. Sebuah pemberian dari pria yang menghancurkannya, untuk membangun masa depan anak-anak yang senasib dengan anak-anak Dewi. Hidup memang penuh dengan ironi yang tajam.

Sidang berlangsung dengan penuh ketegangan. Haris duduk di seberang ruangan dengan senyum meremehkan, dikelilingi oleh jajaran pengacara mahal. Ia mencoba menggunakan narasi klasik: bahwa Dewi adalah ibu yang tidak stabil secara mental, depresi, dan tidak mampu secara finansial.

Namun, Haris tidak menyangka dengan amunisi yang dibawa Maya.

"Yang Mulia," suara Maya menggema di ruang sidang yang tenang. "Klien kami, Ibu Dewi, saat ini adalah anggota aktif Koperasi Wanita Nasional 'Ruang Temu'. Beliau memiliki jaminan penghasilan, tempat tinggal yang layak di rumah aman kami, dan yang paling penting, dukungan psikologis profesional. Kami juga membawa bukti rekaman medis yang menunjukkan bahwa tekanan mental yang dialami Ibu Dewi adalah akibat langsung dari intimidasi sistematis yang dilakukan oleh suaminya sendiri."

Dewi, yang awalnya menunduk, perlahan mengangkat kepalanya. Ia melihat ke arah Hana yang duduk di bangku pengunjung. Hana memberikan anggukan kecil, sebuah kode kekuatan yang melintasi ruangan.

Saat hakim meminta Dewi memberikan pernyataan, wanita itu berdiri dengan kaki yang tidak lagi gemetar sehebat tadi pagi.

"Yang Mulia," suara Dewi parau namun jelas. "Saya mungkin pernah hancur. Saya mungkin pernah merasa tidak berguna. Tapi di 'Ruang Temu', saya belajar bahwa saya adalah seorang manusia, dan di atas segalanya, saya adalah seorang ibu. Saya tidak butuh kemewahan Tuan Haris, saya hanya butuh hak saya untuk memeluk anak-anak saya tanpa rasa takut."

Suasana sidang seketika haru. Hakim menunda keputusan hingga minggu depan, namun angin kemenangan mulai berembus ke arah mereka. Haris keluar dari ruang sidang dengan wajah merah padam, menghindari sorotan kamera.

Sore harinya, Hana, Raka, dan Maya duduk di bar kafe Surabaya yang hampir rampung. Raka sedang memasang pegangan pintu kayu yang ia ukir dengan motif melati.

"Jadi, apa keputusanmu soal ruko dari Aris itu, Na?" tanya Raka sambil menyeka keringat.

Hana menyesap kopinya, menatap jalanan Surabaya yang mulai temaram. "Aku akan menerimanya, tapi bukan sebagai pemberian pribadi. Aku akan memasukkannya ke dalam aset yayasan. Kita akan beri nama 'Pondok Literasi Mama Sarah'. Biarlah ruko itu menjadi penebus dosa bagi Aris dan penghormatan terakhir untuk ibunya."

Maya tersenyum bangga. "Kamu benar-benar sudah melampaui rasa bencimu, Hana. Itu adalah tingkat kemerdekaan yang paling tinggi."

"Aku hanya ingin rantai kebencian ini putus di sini, May," jawab Hana lembut. "Kalau aku menolak karena dendam, aku sama saja dengan Aris yang dulu—egois dan keras kepala. Dengan menerima dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, aku benar-benar menang."

Di Jakarta, Aris menerima kabar melalui pengacaranya bahwa Hana menerima rukonya untuk dijadikan sekolah. Di dalam selnya yang sempit, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Aris menangis—bukan karena kehilangan harta, tapi karena akhirnya ia merasa sedikit "manusia" setelah melakukan satu hal yang benar.

Hana berdiri di samping Raka, melihat bagaimana sebuah ruang pertemuan kecil di Surabaya mulai mengubah hidup orang-orang. Ia tahu, perjalanannya masih panjang menuju Makassar, menuju 60 bab hidupnya. Namun di malam ini, ia merasa akarnya sudah cukup kuat untuk menahan beban apa pun yang dikirimkan dunia kepadanya.

"Siap untuk Grand Opening besok, Sayang?" tanya Raka, merangkul pinggang Hana.

"Sangat siap, Ka. Mari kita tunjukkan pada kota ini bahwa dari puing-puing kehancuran, kita bisa membangun istana harapan," balas Hana mantap.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!