NovelToon NovelToon
GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

GADIS PEMBAWA SIAL, DI CINTAI DUDA KAYA RAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa idayu

Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.

Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bau Orang Mati

Angin sore berhembus pelan, membawa aroma bunga kamboja yang tumbuh di sudut halaman belakang. Namun, Nayra seolah tak merasakannya. Gadis itu duduk terpaku di bangku, matanya menatap kosong ke arah aquarium besar di depannya, tempat ikan-ikan koki berenang dengan gerakan yang lambat dan tenang. Pikirannya melayang entah ke mana, hingga sebuah suara berat dan familiar memecah keheningan itu.

"Nay."

Nayra tersentak, seolah terbangun dari mimpi. Ia menoleh dan mendapati Sean, pria yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar aneh, campur aduk antara rasa hormat dan rasa kesal. Sean sudah berdiri tak jauh dari sana. Mata pria itu menatapnya tajam, namun ada sesuatu yang sulit diartikan di balik sorot matanya.

"Tuan... Kenapa ada di sini?" tanya Nayra, suaranya sedikit parau. Ia benar-benar terkejut. Sean tidak pernah memberitahu kalau ia akan datang. Dan melihat pria itu kini menghampirinya, membuat suasana tenang yang baru saja ia bangun seketika berubah menjadi canggung.

"Saya sengaja ingin menemui mu," jawab Sean datar, nada bicaranya dingin tanpa emosi. Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung mendudukkan dirinya di bangku yang ada di seberang Nayra.

Nayra melirik sinis. Sok akrab sekali. Bahkan tidak minta izin dulu, batinnya kesal. Namun, ia menahannya. Lagi pula, melawan Sean hanya akan membuat suasana semakin panas.

"Kau akrab dengan Ken?" tanya Sean tiba-tiba, memotong ranting pikiran Nayra. Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa basa-basi, membuat Nayra mengerutkan kening bingung.

"Maksud Tuan?" Nayra menatapnya heran, berusaha mencari jawaban di wajah datar pria itu.

"Ken. Keponakan ku," ulang Sean, matanya masih menatap lurus ke depan, tidak menoleh ke arah Nayra. "Sejauh apa kau dekat dengan dia?"

"Kak Ken? Senior saya?" Nayra menggeleng pelan, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke aquarium. "Kami tidak terlalu akrab, Tuan. Hanya sesama teman di kampus yang saling menyapa."

"Kau yakin?" Sean akhirnya menoleh, tatapannya tajam seolah ingin menembus isi kepala Nayra. Ia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati aquarium, kakinya menghentak pelan lantai keramik yang dingin. "Tapi yang saya dengar, kau sangat akrab. Bahkan Ken selalu ada untuk mu. Atau mungkin... bisa dibilang, dia suka sama kamu."

Nayra mengerutkan kening semakin dalam. Ia memperhatikan punggung lebar Sean yang kini membelakanginya. Ada nada apa itu? Apa pria ini sedang... cemburu? Pikiran itu tiba-tiba muncul begitu saja, dan entah keberanian dari mana datangnya, Nayra membuka mulutnya.

"Apakah Tuan sedang cemburu?"

Suara itu menggantung di udara. Sean menegang. Perlahan, ia menoleh ke arah Nayra. Mata mereka bertemu, terkunci dalam diam selama beberapa detik yang terasa seperti berlangsung begitu lama.

"Kau bercanda, Nay?" tanya Sean, suaranya rendah namun terdengar tegas. Sudut bibirnya sedikit terangkat, namun bukan senyum ramah, melainkan senyum meremehkan. "Apa kau fikir aku anak-anak? Aku tidak ada waktu untuk cemburu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya."

Setelah berkata demikian, Sean kembali duduk. Namun kali ini, ia tidak kembali ke tempat semula. Ia justru duduk tepat di samping Nayra. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Nayra bisa merasakan hangatnya tubuh pria itu. Wajah Nayra seketika memerah bak udang rebus. Ini pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan Sean. Ia bisa melihat dengan jelas sorot mata pria itu, tajam, dalam, dan entah mengapa, terlihat sangat seksi di mata Nayra.

"Sean? Kau masih di sini?"

Suara Nagara, memecah momen itu. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah santai, tangannya memegang gelas berisi air putih.

"Naga?" Sean menyunggingkan senyum ramah, perubahan sikapnya yang drastis membuat Nayra melongo dalam hati. "Iya. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Nayra, agar bisa lebih mengenal satu sama lain."

"Dih, sok manis. Di depan kakak aja ramah begitu. Pas lagi berdua sama aku, mukanya kaku banget kayak kanebo kering" batin Nayra kesal, sambil melirik Sean dengan tatapan sinis. Memang begitulah Sean. Di depan keluarga Nayra, ia adalah pria yang sopan, murah senyum, dan sangat dihormati. Tapi saat berdua saja dengan Nayra, sifatnya berubah 180 derajat. dingin, kaku, dan suka menebak-nebak perasaan gadis itu.

"Geser, aku mau duduk," ucap Nagara sambil menepuk-nepuk bangku di sebelah Sean, memberi isyarat agar Sean menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Nayra.

"Dih, sebanyak itu tempat duduk di halaman ini!" gerutu Sean, namun ia tetap menurut. Dengan malas, ia menggeser tubuhnya hingga bahu nya dan bahu Nayra berhasil bersentuhan.

Saat itulah, sesuatu yang tak terduga terjadi. Perasaan mual yang sejak tadi Nayra tahan tiba-tiba meledak.

"Huek..."

Nayra menutup mulutnya dengan cepat, wajahnya memucat.

"Kenapa, Nay?" Nagara langsung menoleh, wajahnya penuh kekhawatiran.

"Kau masih mual?" tanya Sean, dan untuk pertama kalinya, nada dinginnya hilang. Tatapannya kini penuh dengan kekhawatiran yang tulus.

"Bau Tuan... enggak enak," ucap Nayra dengan meringis, tangannya segera menutup hidung dan mulutnya rapat-rapat, seolah menahan bau yang sangat menyengat.

"Aku? Bau ku enggak enak?" gumam Sean, tampak bingung. Ia menatap Nagara seolah meminta konfirmasi, lalu refleks mengangkat tangannya dan mencium bagian ketiaknya sendiri, berusaha mengecek apakah benar ia berbau tidak sedap.

"Masuk lah, duduk di dalam saja. Ini sudah sore, anginnya mulai dingin dan tidak bagus untuk mu, Nay," ajak Nagara lembut, mencoba mengalihkan perhatian.

"Bukan, tunggu! Dia menyebut ku bau!" protes Sean, tidak terima. Ia menatap Nagara dan Nayra secara bergantian, matanya membelalak tak percaya. "Aku baru saja mandi dan memakai parfum yang harganya jutaan!"

"Itu hanya hidung Nayra saja yang sensitif, Sean. Jangan diambil hati," ucap Nagara berusaha menenangkan. Baginya, Sean justru wangi. sangat wangi malah. "Mungkin dia masuk angin karena terlalu lama di luar, jadi perutnya mual dan tidak sengaja bilang begitu."

"Tidak, Kak! Dia memang bau!" seru Nayra, bukannya menenangkan, ia justru memperjelas ucapannya dengan nada tegas. "Bau nya seperti... seperti habis pakai minyak untuk orang mati!"

"Hey!" Sean menatap tajam ke arah Nayra, matanya menyala marah. "Apa kau sedang menyumpahi ku, Nay? Berani sekali kau mengata-ngatai aku seperti itu!"

"Sudah-sudah. Masuklah, Nay," potong Nagara, sambil tersenyum tipis ke arah Sean. Senyuman itu jelas sekali terlihat mengejek pria yang kini tampak kesal setengah mati itu.

"Iya, Kak. Aku juga tidak betah lama-lama di dekat dia," jawab Nayra singkat, lalu segera berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sean yang menatap punggungnya dengan sorot mata tajam yang menyimpan sejuta tanda tanya.

Setelah Nayra hilang di balik pintu, Nagara menepuk bahu Sean pelan.

"Dia sedang hamil, Sean," ucap Nagara pelan, namun kata-kata itu cukup membuat Sean terdiam kaku. "Hormon ibu hamil itu naik turun, sensitif sekali. Bau yang biasa saja bisa terjadi bau yang sangat menyengat bagi mereka. Jadi, maklumi saja ya."

Nagara tertawa kecil melihat ekspresi Sean yang kini berubah dari marah menjadi bingung bercampur syok.

Sean menghela napas panjang, lalu kembali menunduk dan terus-menerus mengendus bau tubuhnya sendiri, seolah masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiran ibu hamil..." keluhnya pelan, namun di dalam hatinya, ada rasa lega yang aneh bercampur dengan kekhawatiran baru terhadap gadis yang kini ada di dalam rumah itu.

1
Ardy Ansyah
👍👍👍👍👍👍
Akak Lisa
👍👍👍👍
Monroe George
dunia Nayra msih baik" sja coz pnya saudara kembar yang peduli 👍
Monroe George
marathon aku kak, seru crita nya 💪
Monroe George
CEO ni nnti yang nikahi Nayra 🤭
Ardy Ansyah
teraniaya dulu bahagia kemudian 🤣. suka aku tuh kalau alur yang begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!