NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakangan ini sudah jadi makanan sehari-hari.

Meski menunya spesial, suasana makan siang agak tegang. Obrolan basa-basi cepat mati. Sekitar 15 menit kemudian, Kapten Andi letakkan sendok garpu dan nyalakan rokok kretek. Budi pinjam korek dari Kapten, ikutan nyalain satu batang. Bukan kebiasaan dia, tapi kadang kalau lagi stres atau mikir berat, dia suka ngerokok.

“Ayo berangkat!” kata Kapten Andi sambil berdiri setelah habisin rokoknya.

Semua ikut berdiri dan langsung menuju kaki bukit. Budi jalan paling belakang, main-main sama parangnya, ayun-ayun ke udara sambil latihan gerakan tebas. Bang Zain nengok ke belakang dan nyengir.

“Wah, semangat banget ya kamu, Nak? Nanti di bukit banyak rumput liar sama semak belukar. Puas deh tebas-tebasan!” goda Bang Zain.

Budi nggak tersinggung. “Saya biasa olahraga, jadi cukup fit. Kalian serahin aja buat buka jalan. Saya di depan, kalian tinggal jaga belakang.”

Sebenarnya Budi nggak terlalu semangat atau energik. Dia cuma mau latihan skill pake parang. Misi ini kelihatan lebih berbahaya dari dugaan, dan di hutan kayak gini, skill Silat level 4-nya nggak cukup kalau nggak dibantu senjata tajam. Tapi nambah skill baru nggak gampang. Nggak cukup cuma pegang parang dan tebas sana-sini. Harus kuasai gerakan dasar, butuh latihan berulang-ulang. Contohnya skill Mengemudi dia cuma level 1 meski sudah punya SIM. Bisa dibayangin betapa susahnya di hutan ini.

“Wah, mantap! Kayaknya kita harus andalkan kamu nih!” Bang Zain ketawa lebar.

Polwan muda yang tadi diem aja akhirnya nggak tahan. “Bang Zain, udah deh jangan ngejek terus!” Lalu dia nengok ke Budi, “Nggak apa-apa, Budi. Nanti kita gantian kok.”

“Aku oke kok, jangan khawatir,” jawab Budi sambil nyengir.

“Mbak Jeni, kenapa sih nyalahin aku? Dia sendiri yang sukarela,” protes Bang Zain, lalu gumam pelan, “Enak ya muda ganteng.”

Polwan yang ternyata namanya Jeni melotot ke Bang Zain tapi nggak bales lagi.

Mas Aji buru-buru nyamber, “Bang Zain, Mbak Jeni! Biar aku aja yang gantian sama Budi. Kan kita berdua yang paling muda di sini.” Dia masih baru di kerjaan, jadi ini kesempatan bagus buat buktiin diri.

“Ya udah, serahin ke Mas Aji sama Budi. Kalian semua tetap waspada, perhatiin sekitar,” tutup Kapten Andi.

Mereka lewatin desa, sampai ujung jalan cor. Jalur setapak selebar 2 meter yang biasa dipake warga sekarang sudah ditumbuhi rumput liar tinggi. Kalau bukan karena warga sering lewat, mungkin jalannya sudah nyatu sama ladang. Mereka injak rumput yang empuk, lumayan gampang dilalui.

Sesekali terdengar suara gesekan dan gerakan di semak-semak, bikin semua langsung siaga. Nggak ada yang tahu itu tikus, ular, atau apa lagi.

Bang Zain yang jalan paling belakang tiba-tiba tampar pipinya sendiri keras. Dia liat telapak tangan: seekor nyamuk gede remuk, darah segar netes.

“Anjir! Nyamuknya gede banget!” umpat Bang Zain sambil garuk-garuk pipi. Rasanya gatal luar biasa.

“Kita deket hutan, nyamuk di sini emang lebih ganas. Hati-hati ya,” ingatkan Kapten Andi.

Tiba-tiba, dari semak-semak beberapa meter di depan Budi, ada gerakan keras. Semak bergoyang hebat, lalu sesosok makhluk melompat keluar dan kabur secepat kilat. Gerakannya kayak anak panah, ninggalin jejak panjang di rerumputan. Daun-daun nutupin semuanya, jadi nggak kelihatan jelas. Gerakan mendadak itu bikin Mbak Jeni kaget, langsung teriak kecil sambil tepuk dada sendiri.

“Astaga! Itu apa tadi?!”

“Mungkin tikus kali,” jawab Mas Aji ragu-ragu. Dia juga kaget karena jalan di belakang Budi.

“Tikus? Mana ada tikus segede itu? Mungkin musang. Bikin jantungan aku,” kata Mbak Jeni, suaranya masih gemetar.

Budi yang di depan cuma sempat liat bayangan samar. Dia yakin bukan musang warnanya kehijauan. Tapi dia nggak mau tambah bikin orang takut, jadi diem aja.

Dia tarik napas dalam, pegang parang lebih erat, terus tebas semak di depan sambil fokus ke gerakan tangan. Makhluk tadi bikin dia mikir. “Kalau tanaman tumbuh secepat ini dalam beberapa bulan terakhir, gimana sama hewannya? Tumbuhan kan produsen di rantai makanan. Kalau mereka berubah, seluruh ekosistem juga ikut berubah drastis. Mungkin belum kelihatan luas, tapi pasti ada hewan-hewan tertentu yang sudah bermutasi.”

Tiba-tiba dia ingat misi yang dibatalkan. Keringat dingin keluar. Dia sempat nebak PT Borneo Jaya Trading bakal tutup dalam enam bulan, tapi nggak mikir lebih jauh. Bisa aja karena cash flow jelek, masalah keuangan, atau salah urus orang dalam. Tapi kalau digabung sama semua yang dia lihat beberapa hari ini, kesimpulannya menyeramkan: perdagangan internasional bisa terganggu total.

“Kalau darat aja udah gini, laut pasti juga berubah. Begitu kapal-kapal kargo mulai bermasalah, berapa banyak perusahaan dan orang yang kena dampaknya nggak kebayang.” Dunia kayak lagi alami perubahan besar. Budi tinggal di kota, dan meski media sering bahas, dia nggak terlalu ambil pusing. Baru sekarang, pas ke desa ini, dia sadar betapa seriusnya.

“Nggak heran harga beras naik gila-gilaan dan suku bunga bank naik terus. Habis misi ini, aku harus siap-siap,” pikir Budi dalam hati.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kaki bukit. Di situ ada jalur setapak lama yang sekarang ditutupi tanaman berduri dan semak lebat. Budi liat Bang Zain garuk-garuk pipi terus, dan sekarang ada benjolan sebesar kepalan bayi di situ.

“Apa-apaan tuh mukamu?” tanya Budi penasaran.

“Ini bekas sengatan nyamuk tadi. Gatalnya nggak ketulungan!” keluh Bang Zain sambil cek senjatanya dan garuk lagi.

Mbak Jeni mendekat liat, langsung kaget. “Ya ampun! Nyamuk di sini ganas banget ya? Mending aku cuti hari ini deh. Kalau mukaku jadi begini, malu ketemu orang.”

Mas Aji nahan tawa. “Mungkin Bang Zain kulitnya sensitif. Dulu temen sekelas aku gitu, tiap digigit langsung bengkak gede.”

“Ngaco kau! Kulit aku normal! Ada yang bawa minyak kayu putih atau salep nggak?” tanya Bang Zain manyun.

Budi awalnya mikir mungkin alergi kulit, tapi kalau Bang Zain bilang nggak, berarti lain. Dia kaget sendiri. “Hewan juga bermutasi ya? Nyamuk aja bisa seganas ini?”

“Ludahin aja dulu. Pakai apa yang ada,” kata Kapten Andi sambil senyum kecil. Dia sebenarnya senang liat Bang Zain kena getah. Orang itu emang suka rewel dan nggak kooperatif di kantor. Udah lama Kapten pengen kasih pelajaran kecil. “Nanti juga reda. Ayo, naik bukit sekarang. Budi, kamu duluan.”

Budi singkirkan pikiran-pikirannya, pegang parang erat, dan mulai masuk hutan dengan hati-hati.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!