NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:101.2k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 27

Malam hari setelah rumah mulai sepi dan para tetangga pulang ke rumah masing-masing, Aabid berusaha memejamkan mata setelah jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Namun, Matanya harus kembali terbuka kala terdengar derit suara pintu dibuka kasar.

Aabid menatap ke arahnya dan terlihat seseorang datang dari sana.

Dito.

Aabid beranjak dari posisi tidur dengan duduk menyandarkan bahunya di bahu ranjang sembari mengernyitkan dahi bingung kala Dito justru mengunci pintu. Apa dia? Aabid mulai menerka.

Dan benar saja Dito melangkah menuju ranjang sekarang, menghempaskan dirinya di sisi sebelah Aabid.

Tanpa sepatah kata ia langsung memejamkan mata. Jelas terlihat oleh Aabid bahwa Dito masih menyimpan rasa kesal yang teramat dalam padanya.

"Dito ...."

Aabid mencoba untuk membuka suara, tapi cepat-cepat Dito menyergahnya.

"Apa kamu tidak tahu jam berapa? Sudah malam jangan banyak bicara. Kamar Teh Selina sedang dihias masih mau tanya kenapa Dito di sini? Apa Dito harus tidur bertiga sama pengantin baru?!" Ucapan panjang lebar dengan nada ketus terdengar di telinga Aabid sekalipun Aabid sama sekali tidak bertanya mengenai hal itu.

Tidak marah, Aabid masih berusaha untuk tidak terpancing dan berusaha sesabar mungkin meskipun sulit.

"Ini kamar kamu, kamu lebih berhak," jawab Aabid masih dengan nada lemah lembut.

"Bagus kalau tahu diri!" ujar Dito lagi dan lagi, lalu menutup wajahnya dengan salah satu lengan.

Seolah tak ingin lagi mendengar dan menutup pembicaraan dengan pria di sampingnya itu.

Persis. Aabid seolah melihat dirinya sendiri dalam diri Dito dan nyatanya itu membuatnya lumayan jengkel.

"Om, punya kenalan polisi. Om dengar kamu mau jadi polisi."

Aabid masih berusaha mencari bahan obrolan yang sekarang bisa memperbaiki hubungannya dengan Dito.

Dan benar saja. Seketika tangan Dito turun dari wajah dan ia pun menatap Aabid.

"Tau dari mana?! nguping?" tuduh Dito tanpa basa-basi.

"Tadi nenek kamu sempat bicara perihal itu dengan ibumu. Saya dengar karena mereka bicara di ruang sebelah. Ruang tamu," jawab Aabid sambil menunjuk ke arah dinding sebelah.

Mendengar kata nenek, Dito kembali tak bersemangat.

"Oh, nenek lampir!" ujar Dito dengan nada malas dan tak suka.

Aabid kembali tersentak, tak hanya sikapnya yang sama. Tapi, caranya menanggapi sesuatu pun tak jauh berbeda.

Lampir, Aabid sempat melontarkannya siang tadi kala mendengar kalimat-kalimat pedas yang keluar dari mulut perempuan bergelar Hajah itu.

Lagi, Aabid menggaruk tengkuk yang tidak gatal melihat tingkah Dito yang terus saja menyamainya.

Berhadapan dengan Dito membuat Aabid seakan menemukan lawan yang sepadan.

"Sudah daftar? Mau Om kenalin sama kenalan Om yang polisi itu?" Aabid mencoba untuk melembutkan suara, menurunkan emosi, dan menjadi teman baik bagi Dito.

"Emang bener?" Akhirnya Dito kembali menatap Aabid dengan sorot penuh harap.

Aabid menganggukkan kepala. Namun, tak lama sorot penuh harap itu meredup dan lenyap.

"Ah, sudah lah Om. Semua bilang kalau nggak punya uang nggak usah pengen jadi polisi. Uwa Veri yang polisi aja juga bilang gitu."

"Oh, Uwa kamu polisi juga?"

"Iya. Karena kata-kata Uwa, Bapak semakin melarang keras karena keadaan kami tidak memungkinkan," ujarnya dan Aabid pun semakin tertarik.

"Berarti Uwa kamu yang bermasalah. Jadi polisinya karena sogokan," kata Aabid lalu tertawa

"Kata Ardi temennya Dito, ada polisi yang murni masuknya. Namanya Pak Irsyad. Tapi, Dito nggak bisa ikut menemui. Gara-gara nolongin Om ini." Dito berujar raut kecewa nampak di wajah anak yang baru lulus SMA itu.

Aabid pun terdiam. Rasa bersalah kembali datang, seolah ia lah yang mematahkan harapan Dito.

"Udah jangan sedih gitu Nggak ada uang yang penting ada niat, bisa, kok. Nggak usah Om Irsyad. Temennya Om buktinya juga bisa. Bahkan langsung balok emas bukan perak lagi. Nanti Om kenalin."

"Serius, Om?" Dito beringsut duduk, menyamai Aabid dan mendekatkan diri ke arah Aabid.

"Duarius malah." Aabid mengangkat tangan menunjukkan ibu jari dan jari telunjuknya.

"Kamu mau tahu caranya?" lanjutnya kemudian.

"Emang caranya gimana, Om?" tanya Dito begitu tak sabar. Cara Untuk menjadi seorang Polisi.

Akhirnya Aabid tahu apa yang bisa membuat Dito tertarik dan akhirnya juga ia tahu bagaimana cara memperbaiki hubungannya dengan Dito.

"Caranya belajar, persiapkan mental dan fisik kamu. Niat yang jelas, banyak-banyak latihan fisik kardiovaskular. Berapa nilai kamu? IPA, matematika, bahasa inggris?"

"8 dan 9, Om."

"Bagus, dong. Kamu daftar aja di akademi kepolisian."

"Sekolah lagi maksud, Om?"

"Iya. Empat tahun."

"Yah, keluar biaya lagi." Semangat Dito meredup, ia menghempaskan punggungnya di bahu ranjang.

Seolah hilang harapan.

"Enggak ada biaya. Kuliah di kedinasan itu tidak dipungut biaya. Hanya, nilai harus bisa dipertahankan. Tapi mempertahankan tidak sesusah yang dibayangkan orang-orang. Kalau bisa masuk pasti bisa mempertahankan. InsyaAllah."

Aabid mencoba untuk menjelaskan. Berharap Dito paham dan mendengar. Tak menyerah hanya karena suara orang yang belum tentu paham.

Dito terdiam cukup lama, ia berpikir cukup keras. Lalu menghela napas setelah beberapa saat ia berada dalam kebisuan. Kepalanya bersandar di dinding. Pandangan menerawang membuat Aabid sedikit cemas.

"Enggak, Om. Aku mau yang SMA jadi polisi aja. Teh selina juga kuliah nggak dipungut biaya. Tapi tugas kuliah, buku penunjang dan yang lain pasti juga butuh biaya. Jadi Dito mau yang cepet aja. Biar bisa bantu keuangan keluarga. Nggak dihina-hina lagi sama tetangga dan nenek." Nada bicara yang terdengar begitu tulus membuat Aabid tak bisa berkata-kata.

Aabid tertegun, kala melihat anak seusia Dito sudah berpikir sejauh itu. Sedangkan dirinya?

Di usia Dito ia hanya bisa merengek dan meminta agar disetujui atas keinginan yang bertentangan dengan keinginan papa dan mamanya.

Dan sekarang ia pun menjadi tahu alasan sebenarnya selina memilih berhenti kuliah. Semua tak jauh-jauh dari masalah biaya. Namun, ia pandai menutupinya.

"Dito teh takut kalau Dito mengalami hal yang sama seperti Teh selina. Dito nggak sesabar Teteh," lanjut Dito dengan nada yang masih sama.

"Mengalami hal bagaimana?"

"Dikata-katain nggak punya rasa kasihan sama orang tua. Udah nggak mampu malah kuliah nggak langsung kerja. Sekalipun punya gelar, emang cari kerja gampang apa kalau nggak ada kolega? Gitu kata mereka. Sampai panas kuping Dito teh."

Primitif. Bagi Aabid pemikiran orang-orang di tempat ini masih sangat kampungan dan mencerminkan minimnya ilmu.

"Lalu apa kata selina. selina nggak melawan?"

"Teh selina mana pernah mau ribut. Kalau itu Dito sudah dirobek mulutnya. Teh selina mah payah. Dito kemarin mau dorong nenek yang mulutnya pedas. Tapi, Teteh nahan lagi nahan lagi."

Lagi lagi Aabid menelan ludah, mendengar curhatan yang justru menyentilnya karena ia akan melakukan hal yang sama tadi siang.

"Kakak kamu nggak mau kamu masuk penjara mungkin. Kalau udah tua kan gampang matinya. Kalau mati kamu jadi tersangka," kata Aabid yang juga masih menyimpan kesal pada nenek mereka dengan begitu entengnya.

Dito pun terkikik.

"Sudah, jangan dipikirkan. Itu semua tidak benar. Yang penting kamu belajar yang rajin. Nanti Om kenalkan sama temen Om yang polisi supaya kamu dibimbing."

"Beneran, Om?!"

"Hem. Tapi nanti mungkin bimbingannya lewat Om, kamu kan nggak kenal. Sekarang istirahatlah. Besok kita mulai latihan kardiovaskular dan sedikit pelajaran."

Dito tersenyum, lalu mengangguk cepat, semangatnya naik di level paling tinggi karena baru kali ini ada orang yang mendukung keinginannya dan bahkan memberikan harapan paling besar di banding yang lain.

Ia beringsut membaringkan badan memunggungi Aabid, dengan senyuman ia menutup matanya perlahan, tak sabar menunggu tiba esok hari di mana Aabid memberikan janji.

Di balik punggung Dito, Aabid ikut tersenyum.

"Gitu doang?!" batinnya berkata ketika akhirnya ia menemukan cara yang menurutnya tak sesulit yang ia duga.

Aabid senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Yang menjadi pertanyaan di benak Aabid sekarang adalah bagaimana bisa Dito mempunyai kesamaan dari berbagai sisi bahkan sekarang cita-cita pun sama?

Aabid menyusul Dito, membaringkan tubuhnya di sebelahnya. Ada rasa lega setidaknya satu perkara bisa terselesaikan.

Tinggal bagaimana cara ia meyakinkan anak di sebelahnya itu bahwa kata-kata orang tak perlu didengar dan memudarkan impiannya.

1
Reni Anggraeni
up LG atuh🤭
aliyya
makin rame aj nich,ayu udh dorong selina ampe kebentur dinding,jgn sampai Aabid melihat nanti makin g bisa d bebas in bpak lo ayu,tp gpp sich jd g ad yg berani bikin keluarga harun sakit hati lg,biar mereka kapok ,,,🤭❤️❤️❤️
bude gemoy
ayo....lanjut tambah greget.....
double up Thor 🙏
bude gemoy
up lagi thor.....😍😍😍😍😍
aliyya
wallpaper nya foto spa y,,,?
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
Danny Muliawati
mksih Thor lumayan banyak update nya😄
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!