Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Sinar mentari memasukki jendela rumah sakit. Sinarnya tidak mengusik seorang gadis yang sedang makan dengan wajah dimurung. Gadis cantik memanyunkan bibirnya. Tangannya sibuk mengaduk bubur khusus untuknya.
“ Melisa sayang kamu harus menginap dirumah sakit lagi ya.... supaya kamu cepat sehat” bujuk paman Bekkyunie.
“ Paman aku sudah sehat” kataku kesal.
“ Kamu baru saja mengalami hal yang tragis” kata paman Bekkyunie membujukku.
“ Aku sudah mengalami hal yang lebih tragis dari pada ini” gumanku pelan.
KRETTT bunyi pintu terbuka menampilkan ayah yang datang bersama dokter Choi. Dokter Choi tersenyum hangat kearahku yang kuhiraukan.
“ Melisa bagaimana keadaanmu?” tanya dokter Choi ramah.
“ Aku sangat baik dokter jadi apa aku boleh pulang?” tanyaku berbinar.
“ Boleh apabila perkembangan keadaan Melisa membaik sampai sore nanti maka dokter akan mengizinkanmu pulang sebaliknya bila keadaanmu memburuk kamu tetap tinggal dirumah sakit untuk beberapa hari” kata dokter Choi ramah.
Perkataan dokter Choi seperti angin segar bagi pendengaranku. Aku melirik ayah dengan wajah bahagia. Aku senang ayah berhasil membujuk dokter Choi untuk memulangkanku. Aku segera memakan bubur dengan lahab membuat paman Bekkyunie melotot melihat tingkah lakuku yang rondom.
Aku menghabiskan bubur dan meminum obat yang disediakan. Aku melirik kalender yang menandakan hari minggu. Besok adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah diskors.
“ Melisa ayah dan paman Bekkyunie harus pergi ke kantor” kata ayah pamit.
“ Hati-hati ayah dan paman” kataku
Ayah memberikanku ciuman sebelum pergi begitupula paman Bekkyunie. Mereka meninggalkanku sendirian diruanganku yang luas. Aku menempati kamar VIP dengan segala fasilitas lengkap dan mewah.
Aku mengambil ponselku menghubungi Tris untuk mengirimiku sebuah vidio. Aku juga menyempatkan membeli sebuah alat teknologi komunikasi terbaru. Aku memikirkan sebuah hadiah yang bagus untuk membuat hidup Olivia yang damai menjadi tergunjang.
Aku memposisikan tubuhku dengan nyaman. Tanganku mengambil remot dimeja untuk menyalakan tv. Aku mencari acara hiburan yang kuinginkan. Pilihanku jatuh keacara komedi situasi yang dibintangi oleh aktor-aktor tampan.
Waktu berlalu dengan begitu cepat membuatku terlena. Aku menikmati komedi yang disuguhkan. Suara tawaku mengema setiap adagen lucu diperlihatkan. Aku memengang perutku yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.
Tanpa Melisa sadari ada sosok tampan yang mengamatinya. Matanya berbinar melihat tawa Melisa. Tawa yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapapun. Tawa yang mampu membuat seseorang merasa istimewa.
Sosok pria tampan itu bernama Alex. Tangannya mengambil kamera ponselnya untuk mengambil gambar tawa Melisa. Alex mengamati setiap ekspresi Melisa dari balik pintu. Alex tidak berani membuka pintu takut bahwa akan menghancurkan tawa Melisa. Alex sabar menunggu Melisa menyelesaikan acara favoritnya.
Disisi lain aku merasa sesuatu mengawasiku. Aku menutup mata untuk berganti jiwa dengan Melisa. Aku memasukki alam bawah sadar yang menampilkan Melisa yang tertidur lelap. Aku berlahan membuka mata menghelan nafas.
“ Siapa yang mengawasiku? Sayang sekali Melisa tertidur sehingga penglihatanku menjadi terbatas” guman Melisa.
Aku tidak punya pilihan lain selain berpura-pura tengelam dalam alur cerita acara ini. Aku mulai bosan karena orang yang mengawasi tidak menunjukan pergerakannya. Selain itu acara komedian sudah berakhir.
KRETT bunyi pintu terbuka menampilkan sosok yang berjalan kemari. Aku menoleh untuk melihat Alex yang
menjenggukku. Aku melihat Alex datang dengan sekeranjang buah, seikat bunga dan sebuah tas kecil.
“ Untuk apa kau datang kemari” kataku judes.
Aku menatap Alex dengan tajam yang pastinya diabaikan. Aku tidak mengerti mengapa dia mengawasiku. Aku memasang alarm waspada kepada Alex.
“ Untuk menjengukmu” kata Alex santai.
Alex menaruh buah dan bunga dimejaku. Aku melihat Alex dengan cekatan menganti bunga yang berada divas dengan bunga yang dibawa Alex. Bunga besar yang memiliki warna merah muda yang cerah.
“ Bunga apa yang kamu bawa?” tanyaku penasaran.
“ Kamu tidak tahu nama bunga ini” kata Alex mengejekku. Tangan Alex sibuk memasukkan satu persatu bunga merah muda kedalam vas.
“ Kalau aku tahu tidak akan tanya” kataku kesal.
“ Bunga ini bernama anyelir” kata Alex yang fokus merangkai bunga.
“ Bunga anyelir.... aku tidak pernah dengar... emmm apa makna bunga itu?” tanyaku penasaran.
“Bunga anyelir melambangkan cinta dan kasih sayang sehingga membuat orang yang sakit akan merasakan kedamaian dan ketenangan karena dia akan dikelilingi orang yang mencintainya” kata Alex menjelaskan padaku.
“ Oh... kamu tahu banyak ya tentang bunga” kataku memuji Alex. Alex tersenyum kecil mendengar pujianku.
“ Ibuku menyukai bunga sehingga ibu mengajariku mengenai makna setiap bunga yang ibu ketahui” kata Alex tersenyum.
Aku mengangguk memperhatikan tangan Alex yang begitu cekatan dalam merangkai bunga. Tangannya berpindah kebingkisan yang dibawanya. Alex membuka plastik yang membukus bungkisan tersebut.
“ Kamu ingin makan buah apa?” tanya Alex.
“ Buah apa saja yang bisa dimakan” kataku santai.
Alex mengambil buah apel kemudian mencucinya. Setelah bersih baru Alex potong kecil-kecil. Potongannya disusun disebuah piring kecil bersama dengan garbu. Alex memberikanku satu potongan yang aku ambil semua buah dipiring. Alex terkekeh melihat tingkahku.
“ Kamu harus makan yang banyak supaya tidak kurus kerempeng kayak mayat hidup” kata Alex mengejekku.
“ Enak saja mengataiku kurus kerempeng kayak mayat hidup” kataku protes dengan bibir manyun.
“ Bibirnya gak usah dimajuin makin mirip kayak bebek” kata Alex mengejek.
“ Biarin bibir-bibir punya siapa” kataku kesal. Aku memalingkan wajah dengan wajah ditekuk. Aku memejamkan mata menuju alam bawah sadar untuk membangunkan Melisa. Aku tidak berminat bertengkar dengan Alex.
Tanpa Melisa sadari Alex memperhatikan setiap tingkah laku Melisa yang menurutnya mengemaskan. Sebenarnya Alex ingin mencium bibir Melisa yang sedang cemberut. Tapi Alex sadar sekarang Melisa belum berada dalam gengamannya. Alex akan bersabar sampai waktu itu tiba.
Akhirnya Aku berganti dengan Melisa. Melisa membuka mata berlahan dengan tangan menegang dagu. Mata Melisa menunjukan tanpa minat menatap Alex.
Alex memberikan Melisa potongan apel yang berada dipiring kecil. Melisa menerima piring berisi potongan apel. Melisa memasukkan potongan apel kedalam mulutnya.
Alex duduk didekat Melisa yang masih kuawasi pergeraannya. Melisa sibuk mengunyah apel yang berada dimulutnya.
“ Ada angin apa kamu baik kepadaku” kata Melisa curiga.
“ Astaga... wahai gadis beruang mengapa sikapmu berubah-ubah setiap detik tadi kau baik sekarang judes” kata Alex frustasi melihat tingkah lakuku.
“ Karena aku mencium aroma sebuah rencana yang sedang kau persiapkan” kata Melisa tajam.
Alex memandang Melisa dengan tatapan jengah. Alex memutar bola matanya dengan menghelan nafas.
“ Rencana.... emm... ayo kita perbaiki pertemuan pertama kita yang gagal” kata Alex berpikir.
“ Aku tidak mau” kata Melisa acuh.
“ Mengapa?” tanya Alex terkejut.
“ Buang-buang waktu” kata Melisa santai.
“ Tapi aku ingin memperbaiki pertemanan kita” kata Alex cemberut.
“ Tidak ada yang perlu diperbaiki toh pertemanan kita baik-baik saja” kata Melisa sambil makan apel.
“ Apa maksudmu?” tanya Alex.
“ Kalaupun kita perkenalan ulang akhirnya tetap sama kalau ketemu pasti ribut mulu kayak Tom and Jerry” kata Melisa santai.
"Tom and Jerry?" tanya Alex binggung.
"Tokoh kartun" jawab Melisa cepat yang diangguki Alex.
“ Sebenarnya aku tidak mau ribut” kata Alex lirih yang masih bisa didengar Melisa.
“ Alex ambilkan aku minum” kata Melisa memerintah Alex.
Alex melotot mendengar perintah Melisa yang terkesan seperti bos. Alex menunjukkan ekspresi kesal.
“ Ambilkan aku minum” perintah Melisa.
“ Mengapa aku harus menuruti perintahmu sedangkan air putih berada disebelahmu?” kata Alex kesal.
“ Karena aku temanmu yang sedang sakit” kata Melisa acuh.
Alex menuruti perintah Melisa dengan kesal. Alex memberikan gelas berisi air kepada Melisa. Melisa menerima minuman dari Alex.
“ Emmm gelasnya bau... ganti” perintah Melisa. Alex mencium gelas yang diberikan Melisa.
“ Tidak bau tuh” kata Alex heran.
“ Ganti” perintah Melisa.
“ Mengapa aku harus menurutimu?” tanya Alex kesal.
“ Karena aku sedang sakit” kata Melisa acuh.
Akhirnya Alex menganti gelas Melisa dengan yang baru. Alex menungkan air putih kegelas yang baru dan memberikan kepada Melisa. Melisa merasa senang bisa menjaili Alex.
Alex mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawa. Sebuah buku tulis yang bertuliskan cataan Melisa.
“ Maaf aku baru mengembalikannya sekarang dan aku sudah memperbaikinya” kata Alex kesal.
“ Terimakasih” kata Melisa menerima buku catatan dari Alex. Melisa merasa bersalah karena perbuatannya yang mengerakkan Lisa untuk menolak menyerahkan buku catatannya.
“ Aku minta maaf sebenarnya aku tidak mau meminjamkan bukuku padamu.... bukan karena mengenai kamu... hanya saja isi catatanku tidak selengkap dan...” kata Melisa
“ Dan berupa peta konsep dengan gambar-gambar kartun” kata Alex melanjutkan perkataan Melisa.
Melisa mengangguk membenarkan perkataan Alex. Aku memang membuat catatan dalam bentuk animasi dua dimensi karena menurutku lucu dan imut. Aku menghelan nafas karena kerondoman kelakuanku.
“ Gambaranmu bagus kalau boleh tahu kamu mengambar apa?” kata Alex memuji.
Melisa tersenyum cerah membuat Alex terpana. Mata Melisa berbinar dengan mulutnya terbuka. Melisa menjelaskan setiap detail apa yang kugambar. Alex mendengarkan dengan serius. Mata Alex tidak lepas dari wajah Melisa dengan senyum tipis yang menghiasi wajah Alex.
Aku yang melihatnya mereka hanya bisa memperhatikan ekspresi yang ditampilkan. Tanganku sibuk membelai bulu Toto dengan otakku yang beku dengan perubahan sikap Alex pada Melisa.
“ Aku tidak menginggat ada jalan cerita seperti ini. Apa alur novel berubah tapi bagaimana bisa?” gumanku.
Jam terus berjalan kedepan tak terasa sudah waktunya Melisa untuk meminum obat. Suster datang membawakan bubur berserta obat yang akan diminum Melisa. Alex menemani Melisa makan dan membantu Melisa meminum obat.
Aku merasa Alex perhatian kepada Melisa. Otakku berpikir alasan mengapa Alex bersikap seperti ini. Kilatan kilasan permitaan Alex untuk move on dari Olivia tercetak jelas dipikiranku.
“ Alex sungguhan ingin move on dari Olivia” kataku lirih.
Obat yang diminum Melisa mulai berkerja. Melisa mulai tertidur dengan pulas. Alex meninggalkan Melisa dengan berlahan. Alex tidak ingin membangunkan Melisa.
Dering ponsel membangunkan Melisa. Aku sibuk menghitung bulu Toto sehingga meminta Melisa untuk mengangkat telepon. Melisa membuka mata dengan wajah kesal.
“ Apa gunanya menghitung bulu Toto” guman Melisa kesal.
Melisa mengambil ponsel berwarna hitam dimeja. Jempolnya menekan icon hijau dilayar ponsel tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
“ Halo” kata Melisa menyapa orang disebrang sana.
“ Melisa kamu dimana?” tanya seseorang dengan nada dingin.
“ Kenapa kamu mencariku?” tanya Melisa.
Elgartara diam membisu membuat Melisa bosan dan mematikan ponsel. Dering kembali terdengar membuat Melisa menghelan nafas. Melisa menerima panggilan dari Elgartara.
“ Ada yang harus kukatakan” kata Elgartara
“ Katakan saja” kata Melisa acuh.
“ Tidak kita harus bertemu” kata Elgartara
“ Aku sibuk” kata Melisa mematikan ponselnya lagi. Dering terdengar melisa mengangkatnya.
“ Ada apa lagi” kata Melisa
“ Kenapa kamu seperti ini?” tanya Elgartara
“ Memang aku seperti apa?” tanya Melisa memancing Elgartara untuk jujur.
“ Kau begitu dingin padaku” kata Elgartara lirih.
“ Prfff itu yang selalu aku rasakan” kata Melisa tertawa sedih.
Melisa menamadang langit-langit kamar rumah sakit. Pikiran Melisa menginggat kenangan masa kecil yang terlintas diotak.
“ Elgar ingat tidak dulu waktu kecil sebelum ibuku meninggal. Kita pernah pergi bersama ketaman. Kita bermain bersama bercanda gurau bagaikan musim semi yang indah. Awalnya aku mengagumimu.. kamu anak yang baik, perhatian, tampan, sopan dan pandai. Lama-lama aku menyukaimu tapi aku tidak berani mengatakannya... aku malu untuk mengatakan semua ini. Sampai dimana kamu membuatkanku sebuah cincin dari tumbuhan. Waktu itu kamu bilang kelak saat kita besar kamu akan menjadikanku istrimu. Kita berjanji akan menjadi keluarga yang bahagia” kata Melisa sambil tersenyum kecut.
Air mataku mengalir deras mendengar kisah cinta Melisa yang penuh kepolosan. Aku merasa bersalah sering mengejeknya bodoh padahal Melisa hanya ingin menepati janji. Aku tidak mendengar suara Elgartara hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.
“ Saat kita sudah besar aku datang untuk mewujudkan janji kita... tapi sepertinya kamu tidak mengingatnya. Kamu berubah menjadi sedingin es. Aku terlalu bodoh dan naif berpikir kamu masih sama seperti dulu. Nyatanya musim semi sudah berubah menjadi musim salju” kata Melisa sedih.
Air mata jatuh membasahi pipi Melisa. Melisa menarik nafas menguasai nada bicaranya. Aku mendengar deru nafas Elgartara yang kuyakini dia mendengar perkataan Melisa.
“ Saljunya semakin dingin hingga membekukan hati. Api yang kupegang hampir padam diterpa dinginnya salju. Aku fikir dengan kaki dan tangan yang sudah membeku ini akan sanggup melindungi api kecil agar tetap menyala. Api yang tidak mampu menghangatkan badan namun bisa menerangi jalan. Kamu tahu api itu apa?”” kata Melisa tersenyum kecut.
“ Elgar... api itu adalah cinta. Cintaku untukmu sebesar apapun akan musnah dihatimu. Saat hatimu telah membeku yang tak akan pernah mencair. Kecuali... ada seseorang yang mempu mencairkan hatimu... dan itu bukan aku” kata Melisa lirih penuh emosional.
Melisa mengusap air matanya yang jatuh. Dada Melisa terasa sesak dengan hati tercabik-cabik. Aku melihat
Melisa kesulitan untuk mengucapkan kata yang tak pernah dibayangkan oleh Melisa.
“ Hubungan ini sudah tidak baik bagi kita jadi kita akhiri saja pertunangan ini” kata Melisa parau.
Melisa menunduk dengan tangan kanan yang memengang dada. Air mata menetes jatuh dengan deras.
“ Walau begitu kita akan tetap menjadi teman” kata Melisa mengakhiri perbincangan.
Melisa menutup telepon dari Elgartara. Aku melihat Melisa memeluk dirinya. Melisa menangis dengan keras. Melisa berhasil mengelurkan perasaan yang selama ini terpendam dihatinya. Tidak ada seorangpun yang tahu perasaan Melisa yang sebenarnya bahkan aku yang satu tubuh dengannya.
“ Lisa rasanya aku bahagia sudah mengatakan seluruh perasaanku kepada Elgartara” kata Melisa tersenyum senang.
Air mata Melisa masih mengalir dipipinya. Melisa menutup kedua matanya. Melisa menghampiriku dengan langkah lunglai. Aku yang sedang membelai Toto memandangnya dengan tatapan bertanya.
“ Maaf... Lisa aku sedikit mengubah alur” kata Melisa lirih.
“ Tidak apa yang penting perasaanmu sekarang sudah lega” kataku lembut.
“ Walaupun aku mengatakan aku membatalkan pertunangan ini tapi sepertinya tidak semuda itu menginggat Elgar tidak memberi respon” kata Melisa berpikir.
“ Elgartara pasti senang dengan pembatalan pertunangan ini. Akhinya Elgartara akan jadian dengan Olivia. Begitu pula peranku menjadi Vilian berakhir. Hah... padahal masih banyak kekuatan Melisa yang belum aku gunakan. Orang-orang Melisa yang masih tersembunyi dan belum kutemui. Aku juga belum mengunakan kekayaan Melisa. Sia-sia aku membuat rencana yang kususun dengan susah payah” kataku lemas.
Aku membayangkan perjuangan kami untuk sampai titik ini berakhir. Aku memilih tinggal dialam bawah sadar saja. Aku akan menghancurkan seluruh alam bawah sadar. Kemudian mengembalikannya kebentuk semula.
“ Tenang saja walaupun aku sudah sedikit mengubah alurnya. Elgartara tidak akan melepaskanku begitu saja” kata Melisa percaya diri.
“ Kamu percaya diri sekali” kataku Menghina Melisa.
“ Elgartara memiliki sikap posesif pada apa yang sudah dimilikinya. Lisa kamu akan melihat seberapa berbahayanya Elgartara” kata Melisa menasehatiku. Aku memasang wajah tidak peduli.
“ Selain Itu ayah Elartara merupakan pemegang saham terbesar diperusahan ayah. Ayah Elgartara menanam saham hampir 60% dan ayah juga memiliki pinjaman pada perusahan HJ. Apabila perusahan pramudja menarik saham maka ayah akan kesulitan membayar pinjaman kepada perusahan HJ dengan kata lain ayah bangkrut” kata Melisa menjelaskan.
Perkataan Melisa membuatku melonggo otak berhenti berkerja. Sekarang aku mengerti mengapa ayah Elgartara bisa langsung bangkrut.
“ MELISA MENGAPA KAMU TIDAK BILANG DARI AWAL?” Teriakku mengema diseluruh alam bawah sadar.
" Kamu tidak tanya" kata Melisa santai.
Aku berdiri dengan tangan mengigit jari. Aku berjalan bolak balik untuk mencari solusi. Aku duduk menghirup oksigen yang banyak dan mengeluarkan berlahan.
“ Kita akan hidup dari nol. Aku punya tabungan hasil dari pemotetan kemarin ditambah uang sakuku bisa membeli rumah kecil yang cukup untuk berdua. Kita akan pindah sekolah kesekolah negeri dengan biaya yang lebih murah. Kita akan tinggal dipinggir kota untuk memanimalisir pengeluaran” kataku Memberi solusi.
“ Ide yang bagus” kata Melisa mengangguk.
“ Ngomong-ngomong apa kamu tahu siapa pemilik HJ?” tanyaku penasaran.
Aku sudah mencari tahu diinternet dan publik tidak ada yang tahu tentang pemilik HJ. Aku sudah meminta Tris untuk menyelidiki permilik HJ namun hasilnya nihil.
“ Tidak tahu” kata Melisa santai.
-----------
Disisi lain seorang pemuda tampan mendatangi kantor urusan agama. Matanya menatap tajam kedepan. Pakaian rapi dengan jas hitam dan dasi hitam menambah kesan menawan. Pemuda tampan memasukki gedung kantor urusan agama menuju ruangan pernikahan.
“ Ada yang bisa saya bantu” kata petugas yang melayani dengan sopan.
“ Menikah” kata orang itu dingin.
“ Nama pasangan yang akan diajukan untuk menikah?” tanya petugas ramah.
“ Elgartara Pramudja dan Melisa Abbriana Claviana” kata Elgartara.
“ Tolong berkasnya” kata petugas.
Elgartara menyerahkan berkas yang diinginkan.
“ Maaf tapi usia kalian masih sangat kecil jadi kalian belum bisa menikah” kata petugas menolak halus.
“ Aturan negara menyatakan batas usia pernikahan tujuh belas tahun dan usia kami sudah tujuh belas tahun jadi sudah diperbolehkan untuk menikah” kata Elgartara memojokkan petugas.
“ Anda benar tapi anda masih sekolah terlebih kalian bersekolah disekolah elit” kata petugas.
Mata Elgartara menatap tajam kearah petugas. Petugas meneguk ludah dengan tangan gemetar.
“ Pernikahan ini dilakukan setelah kami lulus sekolah” kata Elgartara dingin.
“ Kalau begitu silahkan isi formulir perndaftaran” kata petugas.
Elgartara meninggalkan kantor urusan agama dengan mengendarai mobil hitam. Elgartara memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi. Perasaan Elgartara saaat ini marah dan terkejut. Marah mengetahui kenyataan Melisa meninggalkannya. Terkejut Melisa berani berbuat hal yang tidak pernah Elgartara pikirkan.
***