"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jembatan Cinta
Fajar Pov
Aku menyukainya.. Aku sangat menyukai dekat dengan Raina. Aku tak ingin bila harus jauh darinya, walaupun itu hanya satu detik saja. Seolah jiwaku telah benar-benar menyatu dengan dirinya.
Gadis yang tengah asyik menopangkan dagunya di pundakku ini, kemudian dengan lembutnya ia membisikkan kalimat yang mampu menggetarkan hatiku.
“Ana Uhibbuka Fillah Abang,” tanpa menjawabnya, aku hanya tersenyum. Entah sejak kapan, aku mulai menyukai kalimat indah yang Raina ucapkan itu.
Dan tentu saja, Raina tidak akan mampu melihat senyuman yang terpatri indah di wajahku ini, karena helm full face yang ku kenakan.
Setelah berkelana selama satu jam diatas motor, aku memutuskan untuk menghentikan lajunya di sebuah pulau yang indah di kota ini.
Aku membawa kekasih halalku ini, menuju salah satu daya tarik wisatawan di pulau ini, namanya jembatan cinta.
Ketika kami mulai menginjakkan kaki di jembatan ini, mata penuh kekaguman dari Raina sangat jelas tampak.
Bahkan sesekali ia mengucapkan salah satu kalimat di dalam Surah Ar-Rahman, aku tidak hafal dengan lafadznya, tapi aku paham betul maknanya.
“Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?” mendengarkanku membacakan arti ayat yang ia bacakan, kemudian Raina tersenyum, aku tahu itu dari matanya yang menyipit.
“Ini jembatan cinta namanya..” kataku untuk memberitahukan kepada Raina.
Aku sangat tahu, gadis ini belum pernah mengunjungi tempat ini, dan juga mungkin belum tahu nama tempat ini.
“Jembatan cinta..” katanya membeo.
Aku tersenyum, setiap kali aku melihat matanya, pacaran kedamaian dan juga kesejukan selalu kurasakan. Itulah alasannya, aku tidak ingin jauh darinya.
“Tetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalkan Abang, Raina..” spontan aku mengatakannya pada Raina, aku hanya merasa akan sangat jauh dengannya suatu saat nanti.
“Ana akan tetap berada disini, dekat dengan detak jantungmu," katanya sambil menunjuk pelan dadaku, jantungku bahkan kini semakin berdetak dengan hebatnya.
“Mulai sekarang, jembatan cinta ini akan menjadi saksi cinta kita. Jika nanti Abang tidak menemukan ana dimanapun, maka Abang datang saja kesini," katanya yang kemudian merentangkan tangannya, membiarkan setiap hembusan angin yang lembut ini, membelai matanya yang tengah terpejam.
“Kita.. akan tetap bersama, melewati deburan ombak mematikan, angin yang kencang, dan berbagai macam rintangan yang menghadang.”
Kemudian aku menghampirinya dan merangkulnya dari arah belakang, lalu aku meletakkan kepalaku dipundak Raina.
“Anyway.. kamu punya hutang sama Abang..” ucapku berbisik di telinga Raina.
“Utang apa Bang?” tanyanya datar.
Raina benar-benar polos, dan masih tak mengerti maksudku.
“Kan Abang tadi udah selamatin kamu, dari lamaran Dhuha. Jadi.. Abang minta imbalan sama kamu.”
Saat aku mengatakan ingin minta imbalan pada istriku ini, eh.. dia malah merogoh saku gamisnya, entah apa yang akan dia lakukan.
“Nih.. lihat, di saku ana cuma ada lima ribu Bang, tapi cukup untuk beli es krim kok. Tapi cuma satu,” katanya sambil nyengir kuda, dibalik cadar yang dikenakan.
Aku merasa kepolosan dan keluguannya itu membuatku merasa jatuh cinta lagi dan lagi untuk kesekian kalinya pada istriku ini.
“Abang gak minta uang kamu, uang Abang juga lebih banyak,” kataku masih memberikan kode padanya, tapi ia belum juga paham.
Sambil menggaruk tangannya, Raina kembali bertanya dengan polos.
“Terus apa Bang? ana bukan gadis yang mudah ngerti, kalau Abang nggak minta dengan jelas apa maunya..” ucapnya kembali datar.
Apakah jika aku jujur kamu akan bersedia? – batinku yang sedikit terkekeh memikirkan itu semua.
“Bang Fajar, Abang..” sapanya yang membuyarkan lamunanku.
“Eh.. anu, kita bahas topik lain aja ya,” kataku untuk menghentikan raut penasaran dari Raina.
“Ok deh, nggak apa-apa. Kapanpun Abang minta, kalau ana sanggup in syaaAllah ana akan kasih imbalan untuk Abang,” katanya sambil tersenyum, sehingga menampakkan lengkungan garis matanya yang indah.
“Bisa jantungan aku nanti lama-lama,” ucapku pelan.
Ternyata istriku ini memiliki pendengaran yang sangat tajam, buktinya dia mendengar ucapanku tadi.
“Abangkan masih muda, kok jantungan sih? Oh.. mungkin karena selama ini Abang terlalu mudah emosi kali ya,” ucapnya polos lagi.
Ingin rasanya aku menggaruk tembok cina, sambil guling-guling digurun sahara untuk menikmati udara dingin, kemudian tertawa terbahak-bahak. Nggak nyambungkan? itu lah yang aku rasa saat bersama istriku yang polos ini.
Tapi untungnya ada seorang tukang foto keliling yang menghentikan kelucuanku kali ini.
“Mau difoto sama istrinya Mas?” katanya ramah pada kami.
Aku sebenarnya bukan orang yang hobi berfoto, bahkan aku sempat menolak dengan halus tawaran tukang foto ini.
Kemudian, Raina dengan caranya yang menawan meminta maaf kepada tukang foto itu, lalu memintanya untuk mengambil beberapa gambar kami.
Dua jepretan telah berhasil diabadikan, kemudian aku yang mengetahui Raina tidak membawa uang, langsung mengulurukan uang untuk membayar Bapak itu.
“Makasih banyak ya Pak..”
“Sama-sama Neng..”
Setelah tukang foto itu beranjak pergi, kemudian Raina memberikan sebuah foto untukku.
“Ini untuk Abang, satu lagi untuk ana.”
“Kenapa mau sih difoto tukang foto keliling? Mau foto, ya di studio lah..” kataku masih dengan sedikit ego yang kumiliki.
“Abang tahu gak.. mungkin aja, kita adalah pelanggan pertama Bapak itu. Kalau kita tolak, lalu Bapak itu akan memberikan apa untuk keluarganya di rumah? Dan mungkin aja, uang itu adalah sarana baginya untuk menyambung hidup,” katanya yang kemudian melangkahkan kakinya, ia tampak kecewa dengan respon yang kuberikan.
“Abang minta maaf, kamu benar. Abang terlalu sombong dengan yang Abang miliki. Sampai Abang nggak bisa berfikir sejauh itu.”
Aku kemudian mensejajarkan posisi berjalanku dengannya, kemudian menggandeng erat tangannya.
Gadis di sampingku ini kemudian tersenyum, ia memanglah gadis yang berbeda. Caranya memperlakukan orang lain sangat berbeda. Bahkan, ia tak pernah berfikir buruk tentang seseorang, termasuk diriku.
“Abang simpan fotonya di dompet ya..” kataku dengan senyuman.
Kring..
Notifikasi pesan masuk di ponselku. Segera aku membacanya, “Gue nggak akan biarin kalian bahagia diatas penderitaan yang gue rasain.”
Raina yang melihat ekspresi anehku langsung bertanya dengan nada yang khawatir, “Siapa Bang?”
“Nggak.. ini bukan siapa-siapa kok.”
Aku masih belum bisa menceritakan pada Raina, aku akan mencoba menyimpannya, sampai nanti aku menemukan siapa yang telah mengirim pesan dan apa maksud pesan ini.
“Kok wajah Abang gelisah gitu?”
“Oh.. ini kayak semacam tipuan deh. Masak mereka minta pulsa sama Abang.” Aku berharap alibiku kali ini mampu menghentikan rasa penasaran dari Raina.
“Oohhh.. ana kira Abang kenapa.” Dan benar saja, Raina tidak bertanya lagi apapun padaku.
Untuk mengalihkan suasana, aku kemudian mengajak Raina makan disebuah tempat, yang kunilai adalah tempat yang akan menjadi tempat favorite untuk Raina.
“Kita makan di sana yuk..” ajakku yang diiyakan dengan anggukan oleh Raina.
...*****...
Setelah sampai dicaffe yang kami tuju, aku langsung menggandeng istriku untuk masuk ke dalam.
“Ini caffe favorite Abang, kalau lagi ngumpul,” ucapku memberitahu.
“Cantik tempat Bang. Selera Abang dalam memilih segala hal emang gak pernah salah,” pujinya dengan nada yang manis, dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Setelah menemukan tempat duduk yang kami inginkan, kami langsung memesan makanan.
“Kamu pesan apa?” tanyaku.
“Ana ngikut Abang aja,” jawabnya singkat.
“Mbak.. pesan nasi goreng ayamnya dua, sama air mineralnya dua juga ya mbak,” ucapku pada pelayan restoran.
“Ditunggu ya Mas, Mbak..” ucap pelayan itu ramah.
“Kagum ya Bang, lihat Indonesia..” ucap Raina sambil memandang interior caffe yang sangat menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia ini.
“Iya, disini kita bisa menikmati Indonesia tanpa harus ke daerahnya langsung.”
“He em Bang..” ucapnya masih tanpa kedipan ketika memandangi setiap sudut caffe ini.
Kring..
Lagi-lagi ponselku berdering, dan menampakkan notifikasi pesan masuk lagi. Segera aku membacanya, “Lo boleh kali ini bahagia, tapi ingat!! Itu semua gak akan lama.”
Setelah membaca pesan singkat misterius itu, kemudian aku menyebarkan pandanganku ke setiap sudut caffe. Aku berfikir, pasti orang yang mengirimi pesan bernada ancaman itu sedang berada didekat kami.
Tapi nihil, semuanya tidak sesuai dengan yang ku fikirkan, aku bahkan tidak menemukan orang yang berlagak aneh di tempat ini.
Setelah beberapa saat, akhirnya makanan yang kami pesan tiba juga, segera aku dan Raina menyantapnya tanpa ada obrolan apapun.
Kemudian setelah selesai menyantap makanan kami, aku dan Raina langsung memutuskan untuk pulang.
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah bisa up lagi😁
Hemm.. ada yang mencium aroma-aroma mencurigakan tidak?🤔
Yuk terus dukung cerita ini supaya Author makin semangat. Dengan cara, tekan jempolnya🖒tulis masukan kritik dan sarannya😄serta berikan penilaiannya✔
Jazakillah Khair 💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa