NovelToon NovelToon
In Between

In Between

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Office Romance / Tamat
Popularitas:37.3k
Nilai: 5
Nama Author: PrettyDucki

Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.

Namun hidup punya selera humor yang aneh.

​Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.

Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kos Baru

Minggu pagi Mila baru saja selesai membantu Mama menggoreng kerupuk saat ponselnya bergetar hebat di atas meja. Nama "Damian 🏳️‍🌈" terpampang di layar dengan ikon Video Call.

​Mila menggeser tombol hijau, dan seketika layar ponselnya dipenuhi oleh wajah Damian yang memakai kacamata hitam besar dengan latar belakang pantai Bali yang terik.

📞 "HELL-OOOO, UPIK ABUUU!" teriak Damian tanpa aba-aba. Suaranya melengking menembus speaker. "Itu muka apa penggorengan berminyak banget? Where are you anyway? Kenapa background-nya warna ijo gitu? Mau syuting CGI?"

Mila menjauhkan ponsel dari telinganya. "Berisik, ah! Gue di rumah Nyokap. Kenapa?"

📞 "Oh, thank God," Damian mengelus dadanya dramatis. "Kirain pingsan lagi terus kepanggang dalem kosan you yang kayak oven itu. Serius deh, Mil, itu kosan udah kayak simulasi neraka!"

"Sialan!" Mila mendengus sambil menyeka keringat di pelipisnya. "Ya mau gimana? Emang budget gue cuma nyampe situ. Gue kan bukan gula-gulanya gadun yang bisa dapet apartemen gratis."

📞 "Nah, that’s why I’m calling you, Darling," Damian mendadak serius, mendekatkan wajahnya ke kamera. "Gue punya kosan nganggur di Setiabudi. It’s a studio unit, full AC, water heater, high-speed Wi-Fi. Pokoknya standar hidup manusia beradab lah!"

Mila langsung menggeleng cepat. "Duh, Dam, thanks but no thanks. Gue nggak mampu ya bayarin gaya hidup lo. Gaji gue nggak cukup buat sewa kosan di Setiabudi. Lo mau gue jual ginjal?"

📞 Damian memutar bola matanya malas. "Excuse me? Who said anything about paying? Dengerin dulu makanya!"

"Jadi gimana maksudnya?"

📞 "Jadi gini, itu unit udah gue sewa buat 6 bulan ke depan. Rencananya Moreno mau ambil modeling job di Jakarta, jadi gue siapin tempat biar dia nggak ribet. Tapi tiba-tiba dia berubah pikiran, katanya upahnya nggak worth it lah. So, the unit is empty and it’s already paid off! Daripada jamuran nggak ada penunggunya, mending lo yang nempatin."

Mila terdiam sejenak. "Gratis?"

📞 "Gratis, tis! Lo nggak perlu bayar biaya perawatan apapun. Anggap aja itu amal jariyah gue biar lo nggak mati kepanasan. Lo tinggal dateng, bawa badan sama KTP doang. Bilang lo penyewa kamar nomor 106. Gue udah bilang sama penjaga kosnya, namanya Pak Gun. It’s yours for the next few months."

"Gue mau! Damian... gila, thank you banget! Lo emang bidadari tak bersayap!" Mila nyaris berteriak kegirangan.

📞​ "Duh, nggak usah lebay, please. Gue cuma nggak mau best friend gue pingsan lagi gara-gara dehidrasi pas tidur. Jangan malu-maluin circle gue lo! Ya udah, gue mau sunbathing dulu sama my boyfriend. Bye bye, babe!"

Klik. Sambungan terputus.

Mila menatap layar ponselnya yang hitam dengan perasaan tak percaya. Hari-harinya di kosan Bu Dena akan pindah ke kamar elit di Setiabudi. Semesta sepertinya sedang berusaha menghiburnya dengan cara yang paling ajaib lewat makhluk bising bernama Damian.

.

.

Sore itu, matahari Jakarta mulai meredup saat taksi online yang ditumpangi Mila berhenti di depan sebuah bangunan berdesain industrial modern di kawasan Setiabudi. Mila turun, menarik napas dalam-dalam sebelum menyeret koper besarnya menuju gerbang hitam tinggi yang tampak kokoh.

​Begitu gerbang terbuka, Mila langsung terpana. Halaman depannya bukan sekadar tempat parkir, melainkan area asri dengan tanaman hijau yang tertata rapi dan pencahayaan lampu kuning temaram yang memberikan kesan mahal. Tidak ada aroma got atau asap knalpot ngetem. Yang ada cuma seorang security dan wangi pengharum ruangan otomatis yang tercium bahkan dari lobi.

​"Sore, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang pria berseragam safari rapi di meja resepsionis. Sepertinya dia Pak Gun.

​"Iya, Pak. Sore. Saya penghuni baru kamar 106," ujar Mila ramah.

​"Oh, iya, iya. Kuncinya sudah pegang kan Mbak? Mari, Mbak, saya bantu bawakan kopernya."

​Mila mengekor di belakang Pak Gun melewati lorong yang lantainya terbuat dari marmer mengkilap. Saat pintu kamar terbuka, Mila nyaris mengeluarkan suara takjub. Untung bisa ditahannya, atau dia benar-benar akan terlihat norak di hadapan orang yang baru dikenal.

Kamar itu adalah studio unit dua lantai. Lantai pertama ada ruang mini, dapur kecil dengan kulkas dua pintu, juga meja makan untuk dua orang.

​Saat Pak Gun membawanya ke lantai dua, Mila melihat tempat tidur queen size dengan headboard abu-abu empuk. Di sudut ruangan, ada meja kerja kayu solid yang menghadap langsung ke jendela yang menghadap taman kecil. Di sana juga ada Smart TV 43 inci yang terpasang di dinding.

​"AC-nya sudah saya nyalakan ya, Mbak, biar sejuk," ucap Pak Gun ramah sebelum keluar.

Ah... suara Pak Gun bahkan terdengar merdu, tidak seperti suara nyaring Bu Dena yang bisa buat jantung kebat-kebit.

Setelah Pak Gun pamit keluar, ​Mila menjatuhkan diri ke atas kasur yang terasa sangat empuk, jauh berbeda dengan kasur tipis di kosan lamanya yang sering bikin punggungnya pegal. Ia menatap langit-langit kamar sambil menghitung dalam hati.

​Di Setiabudi, fasilitas begini, minimal tujuh sampai delapan juta per bulan, pikirnya ngeri. Gila, Damian benar-benar gila buang uang seperti ini.

​Mila langsung merogoh ponselnya dan mengirim pesan WhatsApp.

​Mila 📱: [Damiannn! Kosannya nyaman bangetttt! Makasih ya!!! Sumpah. Gw gak tau harus bales pake apa. U r literally my savior.]

​Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar.

​Damian 🏳️‍🌈📱: [Duh, stop the drama. Jangan lupa pake skincare. Kelamaan di AC bisa bikin kulit tambah kering 💅✨]

​Mila tersenyum lebar, lalu mematikan layar ponselnya. Ia merebahkan tubuh lebih dalam ke bantal yang empuk.

Bye-bye kosan misqueen, menyala AC kuu!

...***...

1
Rain Aricia
Entahlah, aku pun jadi pusing sama kehidupan kalian☺️
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri
Rain Aricia
Kau pun juga salah, dah tau istri hamil malah cari gara2.
Rain Aricia
Halahh kalian berdua ini. Ga ekspek aku klo sampe kek begini. Masa lalu kalian ga ada yg beres dah perasaan😭😭
Rain Aricia
Mana ada, emang kalau dia nikah sama mu dia bakalan bahagia? Gak Tyas, malahan dijulitun emakmu dia habis2an. Setidaknya dia ngakui kesalahannya klo dia hamidun
Rain Aricia
Ga tau apa2 malah ngata2in seenaknya.
Rain Aricia
Jadi maksudmu apa?🙄
🌺⃟ SasMaya
keren loh bro Arya ini ... gentle man
🌺⃟ SasMaya
Duarrr... ini mamak-mamak kaya kena petir di siang bolong
🌺⃟ SasMaya
kata mamak Mila: "Oohh... pantas saja Mila putus dengan Tyas." 🤣🤣🤣
🌺⃟ SasMaya
syok lah pasti ... 😆
🌺⃟ SasMaya
klise sekali kalau di dunia nyata .... kelahiran prematur, tapi bobot bayi normal
🌺⃟ SasMaya
wkwkwkwk 🤣🤣🤣
🌺⃟ SasMaya
aku dukung kamu Mila..
Rain Aricia
Jadi badmood lagi ini Mil?
Rain Aricia
Benar Mil, langsung aja ulti
Rain Aricia
Tyas, kau kan dokter yahhh. Kau kan dh punya ilmu banyak. Masa dokter kek kau mau dibodoh2in sama orang kek Jimmy? Aneh kali
Rain Aricia
Mil kamu jujur? Ntar kalau Tyas bocorin ke emaknua gmna? Hancur deh rencana kalian ngeles kalau si anak lahir prematur
Rain Aricia
Lah, kok ga sehat sih Mil? Bukannya harusnya tambah oke ya?🤣
Rain Aricia
Mana ada nyamuk, ga asa suara nyit nyitnya
Rain Aricia
Hihiii pasti Mila kepengen lagi ga sih ini🤣
Habis berantem malah makin nagih ya mil?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!