Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keyakinan Damian dan kegelisahan Ara.
Di mansion Kalandra, tepat di dalam kamar, Ara saat ini sedang termenung. Bayangan tentang percakapannya dengan Damian tiba-tiba muncul di depan wajahnya, membuat Ara merasa penasaran sekaligus berpikir keras tentang apa yang diucapkan pria itu tadi.
"Kenapa Mian masih di sini? Sebenarnya sejak kapan dia kenal dengan Ara? Kok aku tidak mengetahuinya?" tanya Ara pada dirinya sendiri dengan dahi yang mengernyit.
Di kehidupannya dulu, saat dia menjadi Alea,Damian tidak pernah bercerita kalau dia mempunyai kerabat di indonesia, dan dia baru mengetahui setelah meninggal saat hidup kembali di tubuh Arabella.
Dia terus saja menebak-nebak alasan Damian memilih negara Indonesia sebagai tempatnya saat ini.
"Kenapa aku merasa Mian mulai mengenaliku?" gumamnya pelan.
Perasaan itu membuat Ara tidak nyaman. Ara memang dikenal berani, keras kepala, dan tidak pernah takut menghadapi siapa pun. Namun ada satu kelemahannya—dia tidak suka ketika ada seseorang yang seolah mengetahui sesuatu tentang dirinya yang bahkan dia sendiri tidak ingat.
Hal itu membuatnya merasa berada dalam posisi yang lemah.
"Kenapa juga aku harus memikirkan dia?" desis Ara kesal, mencoba mengusir pikiran itu.
Tapi semakin dia mengabaikannya, bayangan Damian justru semakin jelas di kepalanya.
Kembali ke beberapa jam yang lalu.
Setelah balapan selesai, Ara langsung saja menjalankan motornya dan pergi dari tempat itu. Namun tiba-tiba saja sebuah suara memanggil namanya dengan keras.
"Ara, tunggu!"
Ara otomatis menghentikan motornya dan menoleh ke belakang.Ternyata Damian yang memanggilnya.
" Ck, ada apa dengan dia?"
umpatnya dengan kesal.
Pria itu berjalan cepat mendekat ke arahnya. Napasnya sedikit tidak teratur, seolah dia baru saja berlari.
"Ara," panggil Damian lagi.
Ara menatapnya datar dari atas motor.
"Ara, ada yang ingin saya bicarakan denganmu," kata Damian.
Ara menaikkan sebelah alisnya.
"Berbicara?" gumamnya pelan.
Tatapannya mengamati pria di depannya itu dari atas sampai bawah.
Damian memang terlihat tenang, tapi Ara bisa melihat satu kekurangan pria itu—dia terlalu percaya diri. Cara bicaranya seolah menganggap semua orang akan menuruti keinginannya.
"Emangnya dia pantas?" batin Ara dingin.
Belum lagi, Damian juga terlihat seperti seseorang yang menyimpan banyak rahasia. Hal yang paling tidak disukai Ara adalah orang yang berbicara setengah-setengah.Ara paling benci permainan teka-teki seperti itu.
"Iya, kita butuh berbicara dengan serius," jawab Damian seolah mereka berdua sudah sangat akrab.
Ya, memang Ara dan Damian itu sangat akrab tapi itu dulu, saat Alea masih hidup.
Sekarang yang berada di dalam tubuh Ara adalah jiwa Alea, Queen mafia sekaligus sahabat Damian.
Namun apakah Damian akan percaya kalau dia adalah Alea?
Itu terasa sangat mustahil.
"Tentang apa?" tanya Ara lagi dengan nada datar.
Damian yang mendengar pertanyaan itu langsung tersenyum tipis. Tatapannya tertuju lurus ke arah Ara, seolah sedang mencoba membaca sesuatu dari wajah gadis itu.
"Gue yakin lo bukan Ara adik gue tapi lo adalah Alea, Queen," gumam Damian dalam hati.
Meskipun yang berdiri di hadapannya adalah Ara, Damian bisa dengan jelas mengenali perbedaan cara bersikap antara Ara dan Alea.
Ara yang dulu tidak pernah bersikap setenang ini. Bahkan gadis itu selalu memanggilnya dengan sebutan kakak atau Mian. Sedangkan Alea dia selalu memanggil Damian dengan santai, bahkan kadang terdengar menantang.
Hal kecil seperti itu tidak mungkin salah.Sayangnya Damian juga punya satu kekurangan—dia terlalu percaya pada instingnya sendiri. Jika dia sudah yakin pada sesuatu, dia akan terus mengejarnya tanpa peduli orang lain menyukainya atau tidak.
"Tentang lo, Ara," jawabnya dengan tegas.
Ara terdiam sejenak.
"Sorry, gue nggak bisa. Gue harus pulang, ini sudah larut malam," tolak Ara dengan halus.
Padahal alasan itu tidak sepenuhnya benar.Ara sebenarnya hanya ingin menghindar.
Kelemahan Ara adalah ketika sesuatu menyangkut masa lalunya sebagai Alea, dia sering kehilangan ketenangan. Dia takut jika terlalu lama berbicara dengan Damian, pria itu akan benar-benar mengenalinya.
Dan itu bisa menjadi masalah besar.
"Ale— Ara, lo mau terus menghindari gue, hah? Kalau gue nggak balik ke sini, gue nggak akan tahu kondisi lo sekarang," kata Damian.
Hampir saja Damian keceplosan memanggil Ara dengan sebutan Alea. Untungnya dia dengan cepat mengubah panggilan itu menjadi Ara.
Deg.
Jantung Ara seolah berhenti sesaat.
"Barusan Damian memanggil gue Alea? Apa dia sudah tahu kalau gue masih hidup?" tanya Ara dalam hati.
Ara langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menatap Damian dengan lekat untuk memastikan bahwa yang dia dengar tadi hanyalah halusinasi.
Namun semakin dia mencoba menyangkalnya, semakin tidak tenang hatinya.
Ara memang kuat dalam menghadapi musuh, tapi dia lemah ketika harus menghadapi orang yang mengenal masa lalunya.
Setelah lama terdiam, akhirnya Ara menghembuskan napas kasar.
"Hmm gue balik dulu. Besok gue yang akan mencari lo untuk berbicara," pungkas Ara pada akhirnya.
Damian menatapnya beberapa detik.Pria itu sebenarnya ingin menahannya, tapi sifat keras kepalanya kadang justru membuat orang menjauh darinya.
"Oke. Gue tunggu," jawab Damian singkat.
"Hmm."
Setelah mengatakan itu, Damian tidak lagi menghalangi Ara.Begitu juga dengan Ara.
Ara langsung saja menjalankan motornya kembali lalu pergi meninggalkan sirkuit untuk kembali ke mansion Kalandra.
Suara mesin motor itu semakin menjauh di jalanan gelap.
Damian masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah lampu motor yang perlahan menghilang di tikungan.
"Apa gue salah, atau benar-benar lo yang kembali, Alea?" gumamnya pelan.
Namun tiba-tiba saja sesuatu terlintas di pikirannya.Cara Ara memiringkan motor tadi saat balapan.
Teknik itu terlalu berbahaya untuk pembalap biasa. Bahkan pembalap profesional pun jarang berani melakukannya.
Tapi Alea selalu melakukan itu.
Bahkan dulu Damian pernah memarahinya karena hal itu.
"Lo bakal mati kalau terus pakai cara gila itu, Lea," katanya waktu itu.
Namun Alea hanya tertawa santai.
Kening Damian langsung berkerut.
"Teknik itu…" Tatapannya semakin tajam ke arah jalan yang sudah kosong.
"Kenapa sama persis kayak Alea?"
kenapa ya mereka bisa begitu sama Ara??
lanjut baca 😍😍😍