Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.
Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Sekutu Tari
Pak Arman terdiam. Pulpen di tangannya berhenti berputar. Dia menatap meja Tari terlalu lama, seolah di sana ada jawaban yang tak ingin dia ucapkan.
Tari membiarkan keheningan itu bekerja. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, jemarinya bertaut santai—sikap seseorang yang tahu dia memegang kendali.
"Pak Arman.” Katanya akhirnya, suaranya lembut tapi tak ramah, “Setiap kali seseorang diam setelah mendengar kata audit, biasanya ada dua kemungkinan.”
Pak Arman mengangkat wajahnya perlahan. “Apa itu, Bu?”
"Yang pertama, dia takut.”
Tari berhenti sejenak.
"Yang kedua, dia sedang menghitung peluang.”
Napas Pak Arman tersendat.
"Laporan keuangan perusahaan ini akan saya audit lusa,” lanjut Tari tenang. “Lima tahun terakhir. Lengkap. Kalau Pak Arman belum siap lusa, temui kembali saya. Jelaskan apa yang membuat Pak Arman belum siap!”
Pak Arman mengusap keningnya. “Bu Tari… audit sedetail itu butuh waktu.”
"Tidak,” Tari menyela pelan. “Yang butuh waktu itu membereskan jejak.”
Ruangan kembali sunyi. Kali ini lebih berat.
Pak Arman menunduk. Bahunya turun, seolah pertahanan terakhirnya runtuh.
"Bu Tari tahu sejak kapan?” Tanyanya lirih.
Tari tidak langsung menjawab. Dia menatap Pak Arman lama, lalu berkata. "Saya tahu cukup banyak untuk membuat Bapak kehilangan jabatan. Dan cukup sedikit untuk memberi Bapak pilihan.”
Pak Arman menatapnya tajam. “Pilihan apa?”
Tari tersenyum tipis—senyum orang yang tidak butuh persetujuan.
"Reza.”
Satu nama itu jatuh di udara seperti palu.
"Perusahaan ini bukan hanya tempat Bapak menyimpan kesalahan,” lanjut Tari datar. “Tapi juga tempat Reza membangun kekuasaannya. Dan percayalah, kalau perusahaan ini runtuh… Bapak bukan satu-satunya yang jatuh.”
Pak Arman terdiam lama. Lalu dia tertawa pendek, pahit.
"Jadi saya dijadikan tumbal?”
"Tidak.” Jawab Tari cepat. “Saya tidak butuh tumbal. Saya butuh orang dalam.”
Dia mencondongkan tubuh ke depan.
"Bantu saya membuka semua permainan Reza. Arus uang, proyek fiktif, pencucian laporan. Sebagai gantinya…”
Tari berhenti, memastikan Pak Arman menatapnya.
"Saya pastikan Bapak tidak jatuh sendirian.”
Pak Arman menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ketakutan di wajahnya berubah menjadi perhitungan.
"Kalau saya bekerja sama,” katanya pelan, “Bu Tari menjamin saya aman?”
"Saya menjamin,” ujar Tari dingin, “Bapak lebih aman bersama saya daripada melawan saya.”
Keheningan menyelimuti mereka beberapa detik.
Akhirnya Pak Arman mengangguk pelan.
"Baik, Bu Tari. Kita bicara soal Reza.”
Tari bersandar kembali ke kursinya.
"Bagus.” katanya singkat. “Karena saya tidak berniat menjatuhkan perusahaan ini pelan-pelan.”
Matanya mengeras.
"Saya ingin menguasainya.”
Tari menatap Pak Arman lama, seolah memastikan satu hal: pria itu benar-benar paham posisi mereka sekarang.
"Secara dokumen, perusahaan ini sudah atas nama saya dan Reza, tinggal ditandatangani. Katanya Minggu depan penandatanganannya." Kata Tari akhirnya.
Pak Arman mengangguk. “Saya yang menyiapkan akta peralihannya.”
"Bagus.”
Tari menyandarkan tubuh ke kursinya.
"Artinya, saya tidak sedang merebut apa pun.”
Pak Arman mengerutkan kening. “Lalu Bu Tari mau…?”
"Mengambil penuh.” Potong Tari tenang.
"Bukan setengah. Bukan berbagi. Penuh.”
Ruangan itu terasa menciut.
"Bu Lastri masih mengendalikan keputusan besar.” lanjut Tari.
"Reza hanya perpanjangan tangan. Mereka bertindak seolah saya hanya nama di kertas.”
Pak Arman tersenyum tipis. “Karena Bu Lastri yakin Bu Tari tidak akan berani.”
Tari membalas senyum itu.
"Kesalahan terbesar orang yang terlalu lama berkuasa adalah mengira semua orang ingin duduk di bawahnya.”
Dia berdiri, berjalan pelan ke arah meja, lalu mencondongkan tubuh.
"Mulai sekarang, Pak Arman, semua alur keputusan harus lewat saya.”
Pak Arman terdiam. “Itu akan menimbulkan resistensi.”
"Biarkan.” Nada Tari datar.
"Resistensi adalah tanda mereka kehilangan kendali.”
Pak Arman menarik napas. “Dan Reza?”
"Reza akan kehilangan legitimasi.” Jawab Tari cepat.
"Pelan-pelan. Tanpa konflik terbuka. Dia akan terlihat seperti pemimpin yang tidak mampu mengendalikan perusahaannya sendiri.”
"Bu Lastri tidak akan diam.”
"Tidak,” Sahut Tari.
"Itu bagian saya."
Pak Arman mengangkat wajahnya. “Bu Tari ingin mereka jatuh sampai sejauh apa?”
Tari menatapnya lurus.
"Sampai titik di mana mereka tidak punya kuasa, tidak punya akses, dan tidak punya modal untuk kembali.”
Dia menarik napas pelan.
"Orang tanpa akses adalah orang miskin, Pak Arman. Meski rekeningnya pernah penuh.”
Pak Arman terdiam lama, lalu mengangguk.
"Baik, Bu Tari. Saya akan pastikan struktur internal bergerak ke Bu Tari.”
"Bagus.” Kata Tari.
"Dan satu hal lagi.”
Pak Arman menunggu.
"Tidak ada audit. Tidak ada perang terbuka.”
Tari merapikan mapnya.
"Kita hanya akan melakukan satu hal.”
"Apa itu?”
"Mengambil kembali milik saya.”
"Maaf Bu, mereka kan suami dan mertua ibu?"
"Hanya di atas kertasq."
"Apakah ibu punya dendam?"
"Nggak sama sekali, tapi itu urusan saya Pak Arman."
"Oh maaf gak sopan Bu, karena saya penasaran aja."
"Ok."
Pintu ruangan itu terbuka tanpa aba-aba.
Langkah Reza terdengar mantap, disusul senyum tipis yang langsing dia lemparkan ke arah Tari.
"Serius banget ngobrolnya, Sayang?” tanyanya ringan, tapi matanya sempat melirik Pak Arman sekilas.
Tari tersenyum tenang, menutup map di depannya dengan gerakan rapi.
"Ya iyalah harus serius, Za. Namanya juga megang perusahaan. Jadi aku perlu banget ngobrol panjang lebar sama direktur keuangan model Pak Arman ini, yang loyal sama perusahaan.”
Pak Arman ikut tersenyum cepat, sedikit menegakkan punggungnya.
"Iya Pak Reza, Bu Tari cuma memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”
Reza mengangguk.
"Iya memang harus begitu, Tar. Pak Arman ini salah satu karyawan yang loyal. Membersamai perusahaan dari nol. Pak Arman juga adalah salah satu karyawan kepercayaan ibu. Jadi, kamu akan berhadapan langsung dengan ibu kalau memecat Pak Arman."
Tari menoleh ke Pak Arman. Senyumnya hangat, tapi matanya tajam dan penuh hitung-hitungan.
"Betul, Za. Justru karena itu aku ingin semua transparan dan rapi.”
Pak Arman berdehem kecil.
"Tentu, Bu. Saya akan siapkan laporan lanjutan seperti yang kita bicarakan tadi.”
"Baik Pak Arman.” Tari bangkit dari kursinya. "Kalau begitu, obrolan kita cukup sampai sini dulu. Nanti kalau ada apa-apa yang perlu ditanyakan, jangan bosan kalau saya panggil lagi ke ruangan ini.”
Pak Arman ikut berdiri.
"Baik Bu Tari, kapan pun Bu Tari perlu saya, saya akan segera datang. Permisi, Pak Reza, Bu Tari.”
"Ya." Tari menjawab sambil menatap matanya.
Setelah pintu kembali tertutup, suasana ruangan berubah. Hening sejenak.
Reza mendekat, menatap Tari penuh arti.
"Kelihatannya obrolannya berat.”
Tari merapikan berkas di meja, lalu menatap Reza dengan senyum kecil yang sulit dibaca.
"Berat, tapi perlu. Kalau mau pegang kendali, kita gak bisa setengah-setengah.”
Reza mengangguk pelan, tanpa tahu bahwa di balik kalimat sederhana itu, Tari sudah beberapa langkah lebih jauh dari yang dia bayangkan.