NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RISE UP

Menyadari dirinya dalam bahaya. Karena James bukan orang sembarangan, dia punya emosi yang lebih gila dari dugaannya.

Luz buru-buru menghubungi sopirnya untuk menyiapkan mobil. Mengantarnya pulang ke Bandung sekarang juga. Untuk menyelamatkan diri. Mungkin dengan cara menjauhi Karel sementara, itu bisa meredakan emosi James sebelum meledak seperti bom waktu yang tengah menanti.

Sambil mengompres pipi bekas tamparan Luz. Ia mengemasi barang-barangnya yang baru saja di keluarkan dari koper.

Keselamatannya malah terancam hanya karna ingin dekat lebih intens dengan suami pura-puranya itu. Kalau dirinya sendiri sih tidak apa, berani bangkit untuk melawan tidak takut rintangan. Tapi masalahnya, mana bisa ngelawan dalam keadaan perut besar begini.

Semoga dengan mengasingkan diri dari Karel, lebih dekat dengan keluarga disana. Luz bisa tetap baik-baik saja. Berarti kalau cara jauhin Karel dari James biar James bisa sama Mireya adalah salah besar. Lihat saja semarah apa dia tadi? Terlihat James lebih sayang Karel. Jadi dia bakalan kasih ide ke Mireya bikin James cemburu untuk tahu seberapa besar cintanya.

Luz menutup pintu, ia berjalan di koridor sambil mikir. Kayaknya sebelum ke Bandung, Luz mampir dulu nginep di rumah Mireya. Dia sempet di tanya kayak kesakitan di pipinya, jawabnya bingung yaudahlah sakit gigi aja.

Untung udah sengaja Luz halangin pake make up biar bekasnya gak keliatan jelas banget.

Mireya seneng Luz berkunjung ke rumahnya lagi dalam keadaan sehat, waktu itu dia kacau banget kan.

“Tapi tunggu, gak abis ributkan? Soalnya agak was-was nih.”

“Enggak kok, cuman gue kesepian aja disana, Karel sibuk banget. Kemarin abis nemenin gue liburan healing di Bali. Bosen di rumah butuh suasana baru. Sekalian lewat sini mampir deh,” kata Luz sambil menggenggam tangan Mireya.

Bibir Mireya mengerucut. “Oh gitu. Bagus deh, khawatir juga kalo sendiri terus. Ntar lo lahiran gak ada yang bantuin gimana? Brojolin sendiri?”

“Nah itu dia, kalo bisa mah lahirannya gue joki aja ah.”

“Bosen gak sih kalo gue cerita soal Jere? Dia makin annoying sekarang udah jarang ngabarin bahkan gak sama sekali kalo gue gak chat duluan.”

Duh jawab apa ya? Luz bingung. “Gimana kalo lo tes dia bikin cemburu, khawatir kek? Biar tau dia cinta enggaknya sama lo.”

“Gue sakit aja waktu itu dia gak jengukin, gak bilang cepet sembuh coba. Harus gimana lagi? Masa gue harus nabrakin diri ke truck di jalan biar di jenguk sama dia.” Mireya mendengkus kesal, ia menunduk dengan bibir manyun.

Ini saatnya, Luz memegang bahu Mireya dan memberikan beberapa ide yang bisa dia lakukan untuk mengetes cinta pacarnya. “Semoga itu membantu.”

--✿✿✿--

Nyerah, Karel gatau harus nyariin James kemana lagi. Dia ilang, kek di teken bumi gitu aja. Udah banyak missed call ia berikan tak ada sahutan juga. Di datengin ke tempat biasa dia diem gak ada. Tanpa dirinya tahu, padahal James pergi ke apartment dan nyakitin istrinya.

Karel pun memilih kembali ke mobil, untuk pulang. Setelah hampir 5 kali bolak-balik ke rumah James tapi nihil. Pas dia masih masuk, mobil James dateng membuatnya bisa bernafas dengan lega.

“Abis dari mana? Aku cariin tau. Akhirnya dateng juga.” Karel masih bertutur kata lembut.

Berbeda dengan James yang berubah kasar, sorot matanya tajam. Suaranya tidak lagi lembut, selalu tinggi. “Kepo bet lu.”

“Yakan aku peduli,” kata Karel mengikuti langkah James yang terburu-buru seolah tidak ingin bicara dengannya.

Pas langkah Karel berhenti, ada bunyi notifikasi masuk, ia cek dan pas di buka dari Luz. Baru aja baca dan bales pesan pertamanya.

Karel: oh good! Mau gender reveal gak?

Melihat Karel senyum-senyum balesin chat bikin tangan James terkepal. Itu pasti dari Luz.

“Kamu selingkuh?”

Karel menggeleng, bahkan tidak melihat James sedikitpun masih fokus baca chat. Hingga ekspresinya berubah drastis dari biasa aja ke heranan.

Luz: gue pulang ke rumah mama, sampe lahiran

Karel: Kok mendadak banget? Kenapa gak nunggu gue balik dulu, ada apa?

Karel membalas cepat berharap cepat di balas juga. Ia heran kok dia mendadak izin tanpa menunggunya pulang. Kelamaan nunggu di bales, mending telepon aja, taunya gak di angkat juga. Mukanya udah kelihatan gelisah.

Tanpa mikir lagi, ia masukin handphone milih balik ke apartment sekarang juga buat mastiin. Perasaannya gak enak, apa Luz ambil hati soal ucapan dia sebelumnya soal rumah? Makanya milih pulang ke Bandung.

“Mau kemana?” ucap James lembut. Tak tega juga liat dia begitu.

Karel sudah berbalik badan seakan tak peduli. “Pulang.”

“Oh gak jadi ke rumah aku?”

Karel menoleh. “Mau pulang dulu, nanti ke sini lagi.”

“Pasti gara-gara cewek sialan itu,” gumam James marah, ia mengepalkan tangan dengan nafas ngos-ngosan. Sorot matanya begitu menyeramkan.

James marah, dia mau menghabiskan malam ini dengan Karel. Tapi kenapa dia malah pergi gitu aja, katanya abis nyariin dia kemana-mana.

Giliran ada di anggurin. Untuk melampiaskan amarahnya, ia mending pergi ke tempat diskotik minum alkohol dan merokok. Bersenang-senang bersama banyak wanita seksi disana.

Tapi sial, bayangan wajah cantik Luz datang membuyarkan isi pikirannya.

--✿✿✿--

Takut itu cuman pesan gertakan semata, Karel mampir ke toko donat madu biar Luz seneng. Eh sampe di apartment taunya dia emang gak ada. Hampir semua bajunya juga di lemari gak ada. Boneka kesayangannya juga ikut gak ada. Jadi dia beneran pulang secara mendadak gitu? Apa mamanya sakit lagi?

Karel heran, ia ingin menghubungi Devan atau Minawari cuman takut di tanya ada apa nanti di kiranya ribut padahal menurutnya tidak. Nelpon Luz sendiri masih gak di angkat. Kenapa gak kepikiran nelpon Haikal? Langsung aja deh, untungnya di angkat. Bener aja, Luz emang mau ke mamanya.

“Cuman sekarang lagi mampir di rumah temennya, tadi tuh siapa ya namanya Pak, lupa saya. Ada Rea gitu deh,” katanya di telepon.

“Oh bagus deh, saya nyusul kesana jangan bilang ke dia ya.” Karel bisa bernafas dengan lega, pas mau pergi lagi ia melihat ada pecahan beling. Pas di ambil ada bekas darahnya sedikit yang mengering. Sisa pecahannya di mana, pas di cek di tong sampah ada dan mayan banyak darahnya.

Kemungkinan pecah keinjek atau ada hal lain? Misal di sengaja. Dari pada mikir mulu kelamaan, Karel langsung pergi aja ke rumah Mireya.

Di jam yang sama Elena video call. Dia nanya kemana Luz, Karel cerita aja kalau dia mendadak pergi tanpa izin. “Sekarang mau di susulin. Bilangnya mau disana sampai melahirkan.”

Elena malah nyuruh Luz melahirkan di Washington aja biar bisa dia temani. “Terlebih mamanya kan sakit. Kalau mama kan masih sehat. Kasian kalo membebani Mina. Coba deh nanti ngomong ke dia. Biar paspor Karel yang urus. Seneng juga kalau dia bisa ke sini. Iya kan Pah?”

“Betul, Karel. Tapi coba aja tanya dulu, kami seneng kok,” sambung Thomas.

“Baik, Ma nanti aku bilangin.”

Usai Karel menjawab, Elena pamit dan mengakhiri panggilan. Ia memencet klakson tepat di depan rumah Mireya terus turun bawa buah tangan. Gak lama mereka keluar, syukurlah kalau baik-baik saja.

“Nih makan.” Karel memberikan donat itu membuat Mireya berjingkrak kegirangan dari dalam karna nguping dari tadi, ternyata mereka gak berantem.

Barulah Karel cerita soal usulan mamanya. Ternyata Luz setuju tapi mau ke Bandung dulu sekalian nunggu paspor nya di urus.

Pasti bakalan Karel urus secepatnya.

Oh iya Karel teringat, ia mencari bekas luka di tubuh Luz. Dan sikutnya di plester. “Itu kenapa?”

“Oh ini? Luka dikit.”

“Gue tadi ke apart, ada bekas vas bunga pecah—“

“Oh itu? Kesenggol tadi, terus belingnya ke gesek ke sikut jadi luka deh tapi gapapa,” kata Luz berharap tidak di curigai. “Oh ya gue inget---“

Luz menarik Karel menjauh dari rumah. “Mending lo pulang ke rumah James deh, temuin dia, perbaiki hubungan biar gak salah paham. Kayaknya dia marah deh karna lo ngabisin waktu sama gue terus.”

Aneh sih, kok tiba-tiba banget yang biasanya marah-marah jadi peduli gitu sama hubungannya. “Tau dari mana?”

“Ya nebak aja sih, gue juga kalau pasangan gue gitu sama orang ya marah.” Duh semoga aja Karel gak curiga.

“Jadi lo marah kalau gitu?”

“Lah napa bisa gitu?” Luz heran lah kok bisa dia nanya gitu.

“Ya kan lo pasangan gue.”

Luz tertawa, tawanya pecah begitu saja. “Ya enggaklah, beda konteks. Udah sana, makasih donatnya.”

Karel pun pergi, tapi balik lagi ngasih sesuatu. “Buat bekel adik yang cantik,” katanya sambil memberikan kartu kredit.

Ini lebih dari apapun. “OMG thank you!” Sekalian deh kasih kiss bye yang banyak biar keliatan romantis di depan Mireya. Cuman wajah kecut Karel bikin kesel, keliatan banget dia geli.

Karel cuman ketawa lalu pergi. Luz menoleh saat dia sudah tidak melihatnya. “Sorry, gue belum bisa jujur semuanya sama lo tentang apa yang terjadi. Lo baik banget, suatu saat gue bakalan bales kebaikan lo, itu pasti. Gue gamau hati lo hancur, lebih hancur dari sebelumnya. Lo belum cerita pun gue tau, itu bukan keinginan ataupun impian lo dari jauh hari. Itu keterpaksaan keadaan.”

“GUE BAPER TOLONG!” Mireya mengesot di lantai histeris. “Kalian kenapa cute banget?”

“Oh Rae sorry, lo harus ikut jadi korban James anying juga,” gumam Luz. “Udah ah gausah di bahas, malu.”

Di dalem Mireya super bawel, dia banyak nanya rasanya nikahlah. Rasanya punya suami lah, rasa banyak lagi sampe ke urusan ranjang. Buat sharing katanya biar gak kaget banget. Terus rasanya ada kehidupan di perutnya lah, saking penasarannya dia sampe tiduran di paha Luz, ngajakin ngobrol janinnya tapi gak di respon. Di akhirnya pas mau putus asa, ada dia nendang pelan. Bikin Mireya jingkrak heboh.

“Gak sabar gue mau ketemu anak lo! Please kasih tau gue dia cewek apa cowok?!”

--✿✿✿--

Setiap malam berharap jadi yang terakhir, Minawari harap bisa hilang dalam tidurnya.

Tiada gelap tanpa gelisah dan rasa sakit yang melanda. Rasanya tidak kuat lagi menahan, tubuhnya kian ringkih tidak cantik lagi.

Mungkin itu juga alasan suaminya sudah jarang pulang.

Entah kepincut janda di blok mana, gatau. Hanya sekedar ingin di anggap pun sulit, sudah begini di tinggal. Cuman ada Bebingah dan Devan, itu juga bocahnya jarang ada di rumah. Kebanyakan nongkrong di warung.

“Ibu waktunya minum obat.” Bebingah datang membawa rutinitas yang Minawari benci.

Minawari bosan harus hidup dengan ketergantungan obat. Kalau bisa tidak apa cabut saja nyawanya dari pada hidup hanya menyusahkan orang lain. Lebih baik tiada dalam bahagia dari pada dalam duka. “Simpan saja, nanti saya minum.”

“Nanti tidak Ibu minum lagi kayak biasa,” kata Bebingah yang sering menemukan obat Minawari tidak di minum.

Minawari hanya mengunci mulutnya, menolak minum obat.

“Ibu gamau liat cucu Ibu? Bisa nemenin main nanti, gak kangen sama non Luz?”

Ucapan Bebingah setidaknya dapat memberinya semangat. Masih ada calon cucunya yang ia nantikan. Melihat di foto yang Luz kirim di grup keluarga, air matanya berjatuhan. Ia senang Luz menikah dengan seseorang yang mapan, meskipun itu tidak cukup untuk menjamin kesetiaan.

Minawari pun duduk, meminum obat dan spontan menitihkan air mata. “Terima kasih.”

“Saya udah liat di story Ibu, mereka serasi dan cakep sekali hihi, ternyata itu suaminya non Luz, cocok banget, gak kebayang anaknya gimana nanti,” ucap Bebingah memuji sambil menaruh gelas. Sejauh ini, ia belum pernah bertemu Karel secara langsung.

Devan seketika muncul di ambang pintu. “Gimana kabar Mama? Oh gitu, bikinin nasi goreng Bi, laper.”

“Mas Devan dateng gak di undang, minta nasi goreng,” ucap Bebingah merasa malas. Ia harus mengikuti suruhan majikan.

Bebingah kadang risih, Devan sering banget jahil. “Mas Devan bisa diem gak? Saya lagi masak lho.”

“Abisnya gabut gak ada yang bisa di gangguin. Biasanya si Bezluz, tapi sekarang kan gak ada,” kata Devan yang bertumpu di meja makan, mainin rambut Bebingah pake satu jari.

Bebingah lagi motong bawang tiba-tiba sumringah. “Eh mas Devan tau? Mbak Luz abis fotoshot kayaknya itu di Bali, cantik banget coba liat story Ibu.”

Devan merogoh saku dan betul ada Luz ngirim foto di grup chat keluarga. “Widih cakep juga adek gue, mana suaminya sok cool gitu, tapi masih gantengan gue sih kemana-mana.”

“Hilih pret,” batin Bebingah yang memang sebal dengan Devan.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!