"Jika kamu tidak mau menikah dengan Louis secara suka rela, anggap saja ini sebagai tanda balas budimu karena aku telah membiayai seluruh pengobatan ibumu."
Perkataan Fradella membuat dunia Irene runtuh. Baru saja dia bahagia melihat ibunya bisa berjalan kembali, tapi kini Irene harus ditimpa cobaan lagi.
Menikah bukanlah sesuatu yang mudah. Menyatukan dua insan yang berbeda, dua kepribadian menjadi satu dan saling melengkapi kekurangan masing-masing itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Bagaimana dengan nasib Irene setelah pernikahannya dengan Louis. Pernikahan antara pelayan dan sang presdir, akankah berjalan layaknya pernikahan pada umumnya?
Lalu akankah Louis membukakan hatinya untuk Irene setelah mereka menikah? Ikuti kisah Irene dan Louis disini ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Crepes Istimewa
"Sayang," panggil Irene saat dia keluar dari kamar mandi. Dengan cepat Louis menutup laptonya karena tidak ingin sang istri mengetahui hal ini.
"Hemm iya Sayang," jawab Louis.
"Ada apa?" tanya Irene yang melihat wajah tegang suaminya.
"Tidak ada apa - apa Sayang. Aku mandi dulu ya." Louis menghampiri Irene dan menciumnya sejenak sebelum dirinya masuk ke dalam kamar mandi.
Louis masih memikirkan pesan email yang dikirimkan oleh Hari. Dia berfikir keras apakah sebaiknya memberitahu sekarang, atau nanti saja.
Louis sendiri masih bingun akan hal ini, dia baru pagi tadi memperingatkan Irene untuk terbuka tentang apapun masalah kepadanya. Tapi sekarang Louis akan mengingkari ucapanya itu. Tentu saja ini demi kebaikan Irene dam buah hati mereka.
Setelah beberapa menit memanjakan tubuhnya dalam guyuran air dari shower, kini Louis telah keluar dari kamar mandi. Louis mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan Irene di dalam kamar.
Louis mengenakan baju yang telah istrinya siapkan di atas tempat tidur dengan cepat. Louis langsung keluar dari kamar untuk mencari Irene, karena dia khawatir akan keselamatan sang istri.
Hati Louis merasa lega kala melihat Irene yang duduk dengan santai di dapur. Namun wajah Louis menjadi aneh saat melihat Irene yang tengah memakan lobak dengan selai coklat. Wanit itu nampak sangat menikmati kudapannya itu, sampai selai coklat yang ia makan mengotori bibir dan juga pipinya.
Louis mendekati Irene, kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sebelah Irene. Sejenak Louis memperhatikan wajah polos Irene yang memakan lobak dengan lahapnya.
"Kamu mau?" tawar Irene karena melihat Louis memperhatikan nya sedari tadi.
"Tidak, aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya." Louis menelan salivanya saat membayangkan perpaduan lobak dan selai coklat itu masuk ke dalam mulutnya.
"Ini sangat enak," ucap Irene yang masih saja menikmati santapannya.
"Lobak ini sudah di rebus Sayang, cobalah kalau kau penasaran." Irene menyodorkan piring dengan beberapa potong lobak yang tersisa ke arah Louis.
"Tidak , tidak Sayang. Kamu saja yang menghabiskan." Louis meringis secara terpaksa agar Irene tidak marah kepadanya.
"Ya sudah, aku akan menghabiskannya," ucap Irene.
Dan benar, wanita itu menghabiskan lobak yang ada di piring hanya dengan beberapa kali suapan.
"Ahh aku kenyang." Irene mengelus perutnya yang kini sudah semakin membuncit.
"Jadi ke rumah momy?" tanya Louis kemudian.
"Iya, aku ambil tas dulu ya. Kita sekalian ke supermarket." Irene hendak berdiri namun di tahan oleh Louis.
"Tunggu." cegah Louis dan memegang tangan Irene.
"Apa?" tanya Irene yang heran.
"Bersihkan dulu mulutmu." Louis berdiri, menarik tisu yang ada di atas meja makan untuk menbersihkan coklat yang masih menenpel si bibir dan juga pipi Irene.
"Sudah," ucap Louis setelah coklat yang ada di wajah Irene sudah benar - benar bersih.
"Hehehe." Irene tertawa sebelum berlari kecil ke arah kamarnya.
"Jangan berlari." teriak Louis.
Mereka sudah berada di dalam mobil dan siap untuk menuju rumah utama. Irene tidak sabar ingin segera bertemu Fradella sang mertua.
Irene memang sudah menganggap Fradella seperti ibunya sendiri. Irene melakukan hal itu bukan karena tanpa alasan, Irene melakukannya karena memang Fradella selalu baik kepadanya selama ini.
Irene juga merasa kehadiran seorang ibu baginya sudah di ambil oleh Fradella. Wanita paruh baya yang masih saja tegas jika mengenai bisnisnya.
Dalam perjalanan, Irene melihat pedangan crepes dan meminta Louis untuk menghentikan mobilnya. Dengan sigap Louis mengijak rem mobil sehingga langsung berhenti di depan penjual crepes itu.
"Hallo Tuan, Nona." Penjual itu menyapa Louis dan juga Irene, karena dia memang sudah mengenal Louis.
"Buatkan crepes istimewa untuk istri tercinta saya Paman," ucap Louis dengan gombalan mautnya.
"Baik Tuan, akan saya buatkan." Dengan sigap laki - laki paruh baya itu membuat satu crepes dengan isian yang tidak biasa. Dia mengisi crepes dengen paprika dan stoberi dengan sedikit keju dan selai coklat.
"Kenapa paprika Paman?" tanya Louis keheranan.
"Memang seperti ini kesukaan Nona Irene." Jawaban penjual crepes itu membuat Louis bingung. Dia tidak tahu jika Irene sering kemari tanpa sepengetahuannya.
"Iya, aku sering kemari dengan supir aku," ucap Irene yang tahu arti dari tatapan Louis.
"Tidak pernah memberitahuku." Cebik Louis pura - pura sebal.
"Hey, aku pertama kali kemari bersama Hari. Dan aku kira Hari selalu memberitahumu, karena aku kemari tiga kali bersamanya saat akan membawakanmu makan siang ke kantor." Irene memberikan penjelasan.
"Mungkin Hari lupa, yasudah mau dimakan disini apa di rumah Momy nanti?" tanya Louis.
"Disini dan di rumah momy." Dengan girang Irene menjawab pertanyaan Louis. Laki - laki itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedangkan penjual crepes hanya bisa tersenyum melihat sepasang suami istri yang lucu tapi juga dermawan ini.
"Ini Paman, terima kasih." Irene memberikan uang lima ratus ribu untuk sepuluh crepes yang dibawanya.
Tentu saja yang lima untuk ia makan sendiri dan lima yang lain untuk siapa saja yang ingin memakannya nanti.
"Nona, anda selalu membayar lebih untuk crepes yang anda beli." Penjual crepes itu mengembalikan uang yang Irene berikan.
"Tidak paman, satu crepes yang aku beli itu harganya lima puluh ribu bukan lima ribu. Karena crepesku ini istimewa, dan Paman juga membeli paprika hanya untuk crepesku bukan." Senyum Irene mengembang sempurna, membuat Louis semakin mengagumi sosok istrinya itu.
"Saya sangat berterima kasih kepada Tuan dan Non," ucap penjual crepes itu yang tidak bisa menutupi rasa haru beserta bahagianya.
"Saya yang berterima kasih Paman. Paman sudah dengan baik melayani setiap pesanan istri saya, dan Paman juga rela membeli paprika itu hanya untuk istri saya." Dengan tulus Louis menepuk pundak laki - laki paruh baya itu.
Louis dan Irene kembali menuju mobil mereka. Di dalam mobil Irene banyak berbincang tentang laki - laki tua penjual crepes itu.
"Bagaimana jika kita buatkan kedai untuk paman Alet saja Sayang," ucap Irene dengan semangat.
"Itu ide yang bagus. Tapi siapa nanti yang akan membantunya?" tanya Louis membuat Irene ikut berfikir keras.
"Bukankah dia memiliki seorang putri, nanti akan aku tanyakan dulu kepada paman Alet." Irene kembali memakan crepes yang dibawanya. Dengan sekejap tiga crepes lenyap dalam mulut Irene, membuat Louis mengelangkan kepalanya.
Beberapa menit akhirnya Irene dan Louis tiba di rumah utama keluarga Chen. Seperti biasa Fradella duduk di kursi santainya di teras belakang.
Louis dan Irene yang sudah memahami hal itu langsung menghampiri Fradella.
"Momy," panggilan Irene berhasil membuat Fradella tersenyum ceria.
"Sayang, Momy kangen sama kamu." Fradella memeluk Irene.
"Kangen juga sama calon cucu nenek," ucap Fradella dengan tangan membelai perut buncit Irene.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Fradella melihat plastik yang ada di tangan Louis.
"Itu crepes Mom. Aku sangat suka, Momy mau coba?" Irene menawarkan crepes itu kepada Fradella, dan wanita paruh baya itu mengambilnya satu.
"Ini enak Sayang, tidak terlalu manis." Fradella terlihat menikmati crepes yang Irene beli tersebut.
Namun di tengah kehangatan mereka bertiga, ada dua pasang mata yang tidak menyukainya. Iya, dia adalah Else dan Antoni. Sepasang suami istri itu iri kepada Irene dan Louis.
Else iri dengan kedekatan Fradella dengan Irene, tali untuk Antoni dia iri dengan kebahagian Louis dan wanita yang dia idamkan.
Else yang menatap mereka dari belakang dengan tatapan sinis. Dirinya ingin sekali menghancurkan kebahagian Irene seperti saat dulu dia kehilangan ibunya.
"Bagaimana dengan rencana kita? Apakah belum berhasil?" tanya Else kepada orang yang tengah ia telfon.
"....."
"Lakukan dengan segera, aku ingin mereka kehilangan calon bayi mereka." Else mematikan sambungan telfonnya.
Else bekerja sama dengan seseorang untuk menghancurkan kebahagian Irene dan Louis tanpa sepengetahuan Antoni. Else tentunya tidak mau jika suaminya tahu itu akan menggagalkan rencananya yang sudah sangat apik tersebut.
"Sebenarnya apa yang di lakukan wanita ini, melakukan tugas mudah saja lama sekali. Wanita tidak berguna, menyingkirkan wanita lemah seperti Irene saja tidak becus." gerutu Else. Dia mengeluarkan sebuah bubuk putih dari dalam sakunya dengan senyum menyeringai.
suka dg kisahnya yg tdk memperdulikan kasta