Bercerita tentang kisah cinta segitiga antara Mayra , Rama dan Marcel' sahabat Rama
Setahun berpacaran akhirnya Rama mempersunting Mayra, di usia pernikahan pertama Mayra tengah hamil buah cinta mereka dan akhirnya Mayra melahirkan putra kecilnya yang diberi nama Darren Adiguna
Pada usia pernikahan ke-4 masalah besar datang melanda keluarga kecil itu, dari masalah perusahaan yang akan diakuisisi serta masalah Darren harus dirawat dirumah sakit karena sakit parah.
Itu semua membuat Rama frustasi, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
Akhirnya Rama meminta bantuan pada Marcel sahabat yang sekarang menjadi musuhnya. Marcel bersedia membantu Rama dengan syarat Rama harus menukarnya dengan istri tercintanya. Entah setan apa yang merasuki Rama sampai ia menerima syarat dari Marcel "Kamu bisa membawa Mayra setelah putraku mendapatkan donor sumsum tulang belakang"
🌹Next in bacanya ya readers 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu_Merdeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan cinta Marcel
"Marcel....!
Kamu bodoh atau apa sih, kenapa tangan mu luka begini" ucap ku segera meraih tangan Marcel. Punggung tangannya terluka dan berdarah. Terpaksa aku harus menyobek sebagian dressku lagi, untuk mengikat tangan Marcel supaya darahnya berhenti menetes.
"Mayra... kamu kembali..!
terimakasih... May" ucap Marcel
Tiba-tiba ia memeluk ku dengan sangat erat, rasanya tak tega melihat kondisi Marcel, selain hatinya yang rapuh, dia sangat membutuhkan ku untuk merawat lukanya akibat ulahku sendiri.
"Udah lepasin aku... ini aku bawa daun yodium untuk mengobati lukamu supaya tak infeksi" ucap ku
Aku segera menaruh beberapa daun yodium diatas batu besar, lalu aku mulai menumbuknya dengan batu yang lebih kecil.
Setelah selesai aku membuka ikatan dari dada Marcel lalu aku mengoleskan hasil tumbukan ku ke punggung Marcel yang terluka
"Auw... sakit" kata Marcel meringis kesakitan
"Tahan sedikit... sebentar lagi selesei kok" ucap ku lirik
Ya akhirnya selesai juga, aku kembali merapikan ikatan Marcel.
"Siniin tanganmu" aku meraih tangan Marcel yang terluka tadi
Lalu aku mengobatinya sama persis saat aku mengoleskan yodium ke punggungnya tadi.
Tanpa disadari hati Marcel mulai tersentuh, ia tak memalingkan pandangannya pada wajah Mayra yang tampak lusuh dan berkeringat.
"Apa ini sakit" Marcel memegang pipi Mayra yang tergores oleh ranting
"Nggak kok, cuma perih sedikit" ucap ku
Marcel mendekatkan wajahnya ke arah ku, lalu ia meniup luka di pipiku.
Tiupan lembut itu, seakan meringankan perih di hatiku. Aku bukanlah wanita munafik, aku merasakan kelembutan dari setiap perhatian Marcel. "Seandainya... Rama yang ada disampingku saat ini. Pasti hati ku tak akan segusar ini" pekikku dalam hati
"May... kita harus keluar dari hutan ini." tiba-tiba perkataan Marcel menyadarkan ku dari lamunan
Ya... hari sudah mulai gelap, suara binatang malam sudah mulai menggema di telinga kami. "Apa di hutan ini, ada binatang buasnya... seperti serigala, harimau atau ular gitu...!
Gimana kita bisa keluar dari hutan ini!" ucap ku bingung sekaligus ketakutan
"di Hutan ini banyak sekali binatang buasnya, tetapi kamu tak usah takut. Ada aku yang akan melindungi mu" ucap Marcel dengan santainya
"Bagaimana bisa kamu melindungi ku, kamu aja terluka gini. Lagian kenapa sih, kamu bangun rumah megah di tengah hutan menyeramkan ini... kaya udah nggak ada tempat lain aja... " ucap ku kesal karena disaat genting seperti ini, ia malah bercanda
"Tolong bantu aku berdiri, kita jalan saja... siapa tahu kita bisa keluar dari hutan ini" titah Marcel
Aku segera membantu Marcel berdiri, lalu aku memapah tubuhnya sambil bersama-sama melangkah ke depan entah ke arah mana, aku tak tahu.
Langit sudah semakin gelap, aku sudah tak punya tenaga lagi untuk memapah tubuh Marcel yang tak ringan itu.
Tenggorokan ku juga mengering karena kehausan, aku tak kuat lagi....!
"Kenapa berhenti" tanya Marcel, saat aku menghentikan langkahku
"Aku capek... aku haus... aku udah tak kuat lagi" ucap ku lirih seraya menyandarkan tubuhku di batang pohon besar
"Ya udah kamu istirahat disini aja, biar aku yang cari minum..." ucap Marcel yang berjalan timpang sempoyongan
Aku mulai duduk bersandar di batang pohon, lalu aku memejamkan kedua mataku karena tak kuat lagi menahan lelah dan kantukku
****
Marcel terus berjalan mencari mata air, sampai akhirnya ia menemukan sungai kecil. Dengan bersemangat ia menuruni sisi sungai yang sedikit terjal.
Ia mulai mencakupkan kedua telapak tangannya ke dalam air, mengangkat kedua tangan yang berisi air itu dan segera meminumnya. Ia melakukannya beberapa kali, sampai rasa hausnya terobati.
Baru kali ini ia minum air sungai, airnya sangat jernih dan rasanya sangat segar.
Mata Marcel melirik ke arah pohon bambu kering yang tersangkut di pinggir sungai. Dengan cepat ia mengambil potongan bambu yang cukup besar itu. Lalu ia mencari batu sungai yang bentuknya sedikit runcing, untuk memotong bagian tengah bambu itu.
Setelah lima menit kemudian, Marcel berhasil memotong sebagian bambu, tak lupa ia membersihkan bagian dalam bambu dengan membilas dengan air sungai. Kemudian ia mengisi penuh bambu itu, lalu bergegas naik ke atas. Dengan susah payah ia akhirnya bisa naik ke atas, air yang tadinya terisi penuh, kini tinggal separuh saja karena tak sedikit yang tumpah ke tanah.
Marcel kembali melanjutkan langkahnya menuju dimana Mayra beristirahat
"May... aku datang membawakan air untuk mu" gumam Marcel masih terus sempoyongan melangkah
Dari kejauhan ia melihat tubuh mungil Mayra yang terlelap di batang pohon besar, pandangannya semakin dekat... semakin dalam.
Tangannya menyelipkan beberapa helai rambut Mayra kearah belakang, dengan lembut ia membelai pipi yang terluka itu, lalu ia mendekati wajah kucel itu dengan bibirnya, tak berapa lama bibir tipisnya menempel tepat di pipi Mayra. Ia menjilati luka di pipi Mayra, seperti seekor kucing yang mencoba menyembuhkan tubuhnya dari goresan luka.
"Ah... perih" aku terbangun dari lelapku
Marcel memundurkan wajahnya
"Ini minum..." Marcel memberikan potongan bambu yang berisi air itu padaku
Karena tak sabar, akupun segera mengambil bambu itu dari tangan Marcel, lalu aku segera meneguk air itu sampai habis, tak tersisa sedikit pun.
akhirnya rasa hausku sudah terobati, lalu bagaimana dengan Marcel, aku sudah menghabiskan airnya tanpa menyisakan sedikit pun untuknya
"Marcel... Apa kamu sudah minum, maaf aku tak menyisakan airnya untuk mu" ucap ku sedikit menyesal
"Sudah... aku sudah minum tadi di sungai, itu air kubawakan untuk mu." tutur Marcel
Udara alam semakin tak bersahabat, angin malam membuat tubuh ku menggigil kedinginan. "Marcel... dingin banget" ucap ku, yang memang tak kuat menahan hawa dingin di seluruh tubuhku
Marcel seketika langsung mendekati ku dan memeluk tubuhku dengan sangat erat.
Aku yang tak siap dengan pelukan mendadak dari Marcel, aku mencoba melepaskan pelukannya yang sebenarnya menghangatkan sebagian tubuh ku
"Lepasin aku... Jangan macam-macam ya'
Aku bisa membunuh mu" ancam ku
Pelukan Marcel malah semakin erat
"Biarkan aku menghangatkan tubuh mu yang kedinginan, sebentar saja" ucap Marcel lirih
Rasanya aku tak bisa mengelak dari hangatnya pelukan Marcel, bisikan suaranya sangat lembut dan menenangkan hatiku.
Aku semakin tak bisa mengendalikan detak jantung ku, kenapa rasanya sangat aneh...
Apa mungkin akan sudah mulai jatuh cinta pada lelaki kejam ini... Atau ini hanya naluri seorang wanita kesepian seperti ku.
Aku mulai bingung dengan perasaanku, aku tak bisa membohongi kata hati ku... aku memang sudah tergoda oleh sosok lelaki kejam dipelukanku ini.
Saat ini juga aku sudah menjadi wanita jahat yang tega menduakan cinta suamiku sendiri.
Rama maafkan aku... karena aku sudah mengkhianati cinta kita
Maafkan aku yang tak bisa menjaga hati ku untuk mu...
Air mata ku mulai membasahi pundak Marcel
"Mayra... jangan menangis, aku akan mengorbankan nyawa ku untuk melindungi mu" tutur Marcel dengan wajah kalemnya
"Kenapa kamu nglakuin ini semua Cel, apa salahku padamu... kenapa?" teriakku sambil terus menitihkan air mataku
"Aku tak pernah berniat menyakiti mu May, aku tulus mencintai mu. Percayalah padaku... aku tak rela melihat mu menangis seperti ini" ucap Marcel seraya mengusap pipi ku dengan kedua tangannya
Aku sudah tahu kalau Marcel menyimpan perasaan padaku, dan sekarang ia telah mengungkapkannya. Rasanya aku ingin lari dari keadaan ini, aku bingung harus bagaimana... Sepertinya Tuhan mencoba mempermainkan drama percintaan yang sulit untuk ku pilih.
"Mayra... tolong jangan pernah tinggalkan aku." Marcel kembali memeluk erat tubuh mungil ku.
kalo di pikir 2semua nya gk kesalahan Rama aja,,