Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung Ke Kantor Y2 Group
Setelah Riski berangkat, suasana kembali lenggang, begitu juga dengan Mama Arumi. Ia telah berangkat ke bandara pagi tadi untuk menjemput Papa Hartono.
Berada di rumah mewah seperti ini ternyata tidak seindah yang ku pikirkan sebelumnya. Ukuran ruangan yang terlalu besar menyimpan banyak kesunyian di berbagai sudut.
Aku kembali menyentuh pipi. Meraba-raba bekas kecupan hangat dari Riski sebelum ia berangkat ke kantor. Meski tadi aku sempat marah dan berontak, tapi entah mengapa sekarang terasa manis dan mengandung candu.
Di tengah kesunyian, tiba-tiba saja aku penasaran seperti apa perusahan Y2 Group milik keluarga Anjana itu. Meski sudah hampir 2 bulan menjadi istri sahnya Riski, namun ia belum pernah mengajakku ke perusahaan. Mungkin karena ia tidak ingin publik tau tentang status hubungan kami.
Hanya butuh 20 menit, kini aku telah sampai di pelataran gedung Y2 Group. Gedung besar menjulang dengan kesan super mewah.
Dari kejauhan terlihat mobil Dion juga akan mengambil tempat di pelataran parkiran.
Kebetulan sekali. Dion bisa jadi alasan untuk aku bisa masuk ke dalam gedung dengan leluasa. Mengingat ia adalah sahabatnya Riski. Pasti para karyawan di sini telah mengenalnya dengan baik.
"Arini! Hei! Tumben kamu ada di sini. Pegawai di sini? Atau ...?" sapa Dion, begitu ia menghampiriku.
"Aku ... aku se ..."
"Sudahlah, tidak perlu dijawab. Entah mimpi apa aku semalam, hingga siang-siang begini bisa jumpa bidadari di sini."
Aku tertawa geli mendengar guyonan Dion. Lelaki itu memang senang menggodaku sejak dulu. Sambil berjalan menuju ke ruangan Riski —ruangan CEO, kami berdua terlibat dalam obrolan ringan.
Dion membuka pintu ruangan yang tidak terkunci, hingga kami bisa masuk dengan leluasa.
Langkahku terhenti secara tiba-tiba, melihat Ruka dan Riski sedang melakukan hal yang tidak senonoh. Sementara Dion tersenyum geli menyaksikan aksi wanita itu.
Aku mengatup tangan ke mulut, lalu mencoba melangkah keluar ruangan sebelum air mata tumpah ruah di hadapan mereka.
"Hei, kamu mau kemana?" Dion mencegahku pergi.
Ucapan Dion sontak saja membuat mereka tersadar. Ruka terlihat tenang sambil tersenyum penuh kemenangan ke arahku. Sementara Riski, ia begitu kaget menyadari kedatangan kami.
"Sorry, Brother! Aku tidak menyangka jika kedatangan kami akan mengganggu kalian."
Aku berdiri membatu, menatap Riski dan Ruka secara bergantian. Ingin rasanya berlari dari hadapan mereka. Namun, jika itu aku lakukan, lelaki itu pasti akan berpikir saat ini aku sedang cemburu. Tidak! Aku harus tenang. Walau benar aku cemburu, Riski tidak boleh tau.
Setelah wanita itu keluar dari ruangan. Riski mempersilakan kami duduk. Dia terlihat gelisah sambil mempermainkan ponsel di tangannya.
"Apa ini? Kenapa kalian berdua cuma diam saja." sungut Dion sambil memindai kami satu persatu. "Dan kau Arini, aku pikir kamu ke sini karena ada keperluan?"
Ucapan Dion membuat Riski menatapku dengan penuh pertanyaan.
Aku mencoba tenang dengan tersenyum simpul.
"Tidak, aku tadi cuma kebetulan lewat, dan lihat mobil kamu mau menuju kesini, jadi aku ikut aja," Aku menatap wajah Dion, "Kenapa? Gak boleh?"
"Tentu saja boleh, sering-seringlah ikut bersamaku agar kita selalu dekat."
Tepat di ujung kalimatnya, Dion sengaja mengedip mata menggodaku.
"Oh! Aku baru ingat, jika ada janji dengan temenku Dita siang ini." Aku berdalih, berharap alasan ini bisa membantuku untuk pergi dari ruangan ini. Sesegera mungkin.
"Biar aku antar ya, Rin!"
"Kamu tidak perlu repot-repot, Dion. Aku juga akan keluar, jadi biar sekalian Rini ikut mobil aku saja." Riski menyela.
"Aku bawa mobil sendiri!"
"Oh, begitu!" ucap mereka bersamaan.
________
Aku menunggu Dita di kafe favorit kami berdua. Kafe dengan lukisan bertema taman bunga matahari di setiap dinding. Sebenarnya bukan itu yang menjadikan kafe ini favorit bagi kami, melainkan menunya yang lezat namun ramah di kantong.
Dita datang sambil melambai tangan ke arahku. Hari ini ia terlihat lebih cantik dari biasanya. Perpaduan antara gardigan putih tulang dengan dress berwarna coklat muda serta hijab berwarna senada terlihat cocok di tubuh mungilnya.
"Sepertinya aku mencintai suamiku."
Dita terperanjat mendengar pernyataanku secara tiba-tiba. Hampir saja ia tersedak dengan jus jeruk yang sedang diminumnya.
"Terus! Salahnya di mana? Kan emang lumrah seorang istri itu mencintai suaminya?"
"Dit, Please! Kamu pahamkan maksud dari ucapanku tadi?"
Dita menghela nafas panjang. Ia menggenggam tanganku, mencoba memberi semangat dan dukungan.
"Aku gak ngerti apa yang sedang kamu rasakan saat ini, Beb! Tapi satu yang harus kamu tau. Aku ... sahabat tercantik mu ini akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi. Hum!"
"Sungguh Dit, aku tidak pernah membayangkan jika kehidupanku sampai serumit ini."
"Sabar, Sayang. Cobaan yang berat itu hanya untuk orang yang kuat, dan semua ini pasti akan berlalu. Ok!"
Aku menggangguk pelan, lalu Dita memeluk tubuhku.
_______
"Ya Allah!"
Aku sungguh kaget, mendapati Riski telah ada di kamar se awal ini, padahal ini baru jam empat lewat. Ia baru saja siap mandi, bahkan handuk putih masih terlilit di pinggangnya yang luas.
"Baru jam segini kamu pulang, memangnya habis dari mana?"
Aku bergeming, mengabaikan pertanyaan darinya lalu memilih menyibukkan diri dengan meletakan aksesoris yang aku pakai tadi ke tempatnya masing-masing.
"Dan juga tadi siang, kenapa Dion bisa berbarengan denganmu seperti itu? Kalian janjian?"
Ucapannya masih ku abaikan, sama sekali tak berniat menjawab atau bertanya apapun padanya.
Menyadari aku mengabaikanya, Riski mendekat ke arahku hingga menyisakan jarak beberap inci saja di antara kami.
"Apaan sih, gak usah dekat-dekat!"
"Kamu ini kenapa? Bentar-bentar marah, bentar-bentar ngambek. Persis seperti anak kecil."
Aku bergeming sambil menatap kedua bola matanya. Untuk sesaat, pandangan kami terkunci, sepersekian detik aku bisa menikmati iris matanya yang kecoklatan sambil menghirup aroma mewah sabun Allen Body Wash dari tubuh kekar miliknya.
Tuhan! Maafkan uku jika kini aku menginginkan hati dan raga suamiku.
"Kenapa tak menjawab ...?" ucapnya dengan suara lembut hingga membuat aku terhenyak.
"Ck! Kenapa kamu ingin tahu, kamu sendiri kapan pernah memberi tahu aku, kamu habis dari mana, sama siapa?"
Aku berdalih, lalu menjauh dari hadapannya hendak menuju kamar mandi.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Dion," ucapnya dengan suara keras, "Kamu boleh dekat dengan lelaki manapun, tapi tidak dengan Dion. Paham!
"Kau!"
"Kenapa?"
"Aku tidak pernah ikut campur masalah pribadimu. Jadi, sudah seharusnya kaupun begitu."
Riski mendekat dengan cepat, lalu menarikku secara spontan kedalam dekapannya. "Jangan main-main denganku, Rini! karena kamu akan menyesal nantinya." ucapnya sarkas sambil menatap mataku dengan penuh amarah.
Bersambung ...!!!
__________
Hai Reader!
Jika kamu suka dengan cerita CINTA ARINI (Love story is complicated), jangan lupa tinggalkan jejak ya! Berupa like, komen dan vote supaya Author makin semangat dalam menulis.
Salam sayang untuk kalian semuanya!
💞💞💞💞
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏