NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Panggung Sang Predator

Lantai lima puluh empat, The Floating Fortress, adalah hamparan platform obsidian yang melayang di atas jurang kehampaan. Gravitasi di sini tidak stabil, membuat setiap langkah kaki terasa ringan namun berisiko melayang ke jurang yang tak berdasar.

Di tengah aula utama yang luas, Guardian of the Void—makhluk kolosal berbentuk kesatria dengan zirah kristal dan enam lengan yang masing-masing menggenggam pedang raksasa—muncul. Raungannya menggetarkan fondasi lantai, menciptakan retakan yang perlahan menjalar ke bawah kaki kami.

Lyra dan Carmelia terhuyung, insting tempur mereka otomatis bangkit. Lyra sudah bersiap meraih biolanya, sementara Carmelia memasang kuda-kuda belati. Namun, sebuah tangan terangkat, menghentikan gerak mereka tepat di depan dada.

[POV: Yudha]

Aku melangkah maju, melepaskan jubah luarku yang berat hingga jatuh ke lantai.

"Cukup. Kalian sudah cukup babak belur di lantai sebelumnya. Kondisi fisik kalian saat ini tidak akan memberikan nilai tambah bagi efisiensi pertarungan ini."

Aku menarik dua pedang utama dari punggungku, disusul dengan gerakan halus tangan yang mengeluarkan dua belas pisau assassin dari sela-sela jubah. Senjata-senjata itu berdenting saat keluar, memantulkan cahaya redup ruangan.

"Diam dan perhatikan. Aku akan menunjukkan pada kalian apa arti sebenarnya dari melahap."

Aku tidak memberikan perintah. Aku memberikan sebuah pertunjukan kematian.

Guardian itu melompat, enam pedangnya menebas udara dengan kekuatan yang cukup untuk meruntuhkan pulau melayang ini. Namun, tubuhku bergerak lebih cepat dari logika mereka. Dalam satu kedipan, aku sudah berada di titik buta di atas kepalanya.

Kedua pedangku menari, memotong bahu zirah musuh dengan presisi bedah yang kejam. Sret! Percikan api dan serpihan kristal tajam menghujam lantai di sekitar Lyra dan Carmelia.

Monster itu meraung, mengayunkan keenam lengannya dengan pola yang acak dan mematikan. Aku tidak menghindar. Aku membiarkan serangan itu melintas di samping telingaku, merasakan angin tajam dari sabetan pedang raksasa itu hanya beberapa sentimeter dari kulitku.

Dengan satu putaran tubuh yang efisien, aku menusukkan keempat belas senjata itu ke titik-titik meridian energi monster tersebut secara bersamaan.

"Ini yang kalian sebut bos?" bisikku, suaraku terdengar dingin di tengah hiruk-pikuk pertarungan.

Aku melompat mundur, membiarkan Guardian itu terdiam sesaat dalam rasa sakit yang melumpuhkan. Tanganku terentang ke depan, memicu skill yang telah melampaui Gluttony Sight—sebuah evolusi dari hasrat untuk menelan segala sesuatu.

"Void."

Di telapak tanganku, sebuah titik kecil cahaya hitam pekat muncul, menyedot seluruh cahaya di sekelilingnya hingga ruangan menjadi remang. Itu bukan sekadar Gluttony Sight yang menyerap esensi secara pasif—ini adalah lubang hitam aktif yang melahap realitas.

Titik itu melesat ke arah dada Guardian, melebar dengan kecepatan mengerikan hingga mencapai diameter tiga meter.

Monster itu tidak sempat mengeluarkan jeritan terakhir. Void itu menelan zirah kristalnya, memakan daging energinya, hingga ia musnah menjadi debu atomik sebelum menyentuh tanah. Tidak ada sisa, tidak ada bangkai, tidak ada tetesan darah. Hanya kekosongan yang perlahan menutup kembali, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di lantai lima puluh empat.

[POV: Lyra & Carmelia]

Kami hanya bisa terpaku, membeku di tempat. Di depan kami, Yudha berdiri sendirian di tengah platform yang kini kosong, dengan napas yang tidak beraturan—bukan karena kelelahan, melainkan karena kepuasan yang meluap setelah menyerap esensi kolosal tersebut.

Dia tidak memandang kami. Dia memandang kehampaan yang ditinggalkan monster itu dengan tatapan yang seolah merindukan kehancuran lebih lanjut.

"Kalian melihatnya?" suaranya dingin, menggema di lantai yang sunyi itu. "Tadi, aku tidak hanya membunuh. Aku menghapus eksistensinya dari rantai makanan ini. Itulah puncak dari kekuatan yang harus kalian kejar."

Carmelia gemetar. Dia adalah seorang assassin yang telah melihat banyak pembunuhan, namun dia tahu betapa sulitnya membunuh target dengan efisiensi setinggi itu, apalagi dengan gaya yang begitu... menghina nyawa lawan.

Lyra, di sisi lain, merasa jiwanya ditarik oleh sisa-sisa energi Void yang masih bergetar di udara. Dia merasa kerdil.

Yudha berbalik perlahan, menatap kami dengan mata yang berpendar ungu terang, sisa dari kekuatan Void yang baru saja digunakan.

"Kekuatan ini adalah milik mereka yang berani menelan segalanya. Jika kalian hanya ingin bertahan hidup, kalian akan selalu menjadi makanan di rantai bawah. Tapi jika kalian ingin melampaui batas..." dia menunjuk dengan ujung jarinya ke arah pintu menuju lantai 55, sebuah gerbang yang terbuat dari energi mentah, "...maka kalian harus belajar cara menghapus musuh kalian seperti aku melakukannya tadi."

Dia berjalan melewati kami tanpa menoleh, meninggalkan aroma kehancuran dan energi murni yang memicu mana di tubuh kami untuk bergejolak tidak nyaman.

"Istirahatlah," perintahnya, singkat dan mutlak. "Di lantai lima puluh lima, aku tidak akan lagi membiarkan kalian hanya menjadi penonton. Aku tidak membawa aset yang tidak bisa bekerja."

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Kekuatan ini bukan untuk melindungi kami. Kekuatan ini adalah pengingat bahwa di matanya, kami hanyalah instrumen yang sedang ditala untuk tujuan yang lebih besar—atau mungkin, menu makan malamnya nanti jika kami gagal.

Aku mengeratkan genggaman pada biolaku. Di lantai lima puluh empat ini, tarian kami baru saja berubah dari pertunjukan menjadi ujian hidup mati. Kami harus menjadi predator yang setara, atau kami akan mati tertelan oleh masa lalu Yudha yang kelam dan haus akan esensi.

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!