Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Lestari
Hakim dan Santi sampai di rumah sakit, mereka langsung masuk dan berjalan menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan Nesa, karena rumah sakit ini sangat besar, jadi tak mungkin mencari. Karena khawatir, mereka lupa menelpon Devan, jika mereka sudah di Jakarta.
"Permisi, Neng, eh maksudnya, Sus, anak saya di rawat dimana?" tanya Hakim, membuat Suster tersebut melongo.
"Maaf, Sus, maksud suami saya, pasien bernama Arnesa Putri Maharani di rawat di ruangan apa, ya?" Santi kembali bertanya.
"Sebentar ya, Pak, Bu, akan saya cekkan." Suster itu lalu mencari nama yang disebut Santi tadi. "Oh iya, pasien Arnesa Putri Maharani di rawat di lantai 3, kamar Mommy nomor 14."
"Baik, Sus, terima kasih, ya."
Hakim dan Santi pun bergegas masuk ke lift.
Devan terus saja berdiri didepan ruangan putranya yang kini sedang menerima perawatan intensif, di temani oleh seluruh keluarga yang sejak tiga jam lalu tiba di rumah sakit.
"Nak, duduk lah dulu," kata Winda.
Sesaat kemudian lift terbuka, Hakim dan Santi langsung melihat keluarga besannya tengah duduk didepan ruangan bayi.
"Besan? Sini, Besan," panggil Ningrum.
Hakim dan Santi menghampiri keluarga besannya.
"Kenapa semua ini bisa terjadi? Kalian apakan putriku? Huh?" tanya Hakim murka, membuat Santi berusaha menghentikan sikap tak sopan Hakim pada besannya. "Nesa adalah anak yang baik, dia bahkan menurut pada kami, ibunya pergi meninggalkannya, dan itu sudah menjadi hukuman terberat bagi Nesa. Apa ini yang kalian lakukan pada putriku?"
"Mas, diam lah, jangan bikin malu," bisik Santi.
"Apanya yang bikin malu? Huh? Kamu pikir aku sedang bercanda? Aku sedang marah sekarang. Aku memberikan mereka kepercayaan untuk menjaga Nesa dari jangkauanku, dan ini jawabannya? Nesa sekarat begitu pun anaknya?"
"Mas, diam lah. Aku mohon," bisik Santi. "Ini rumah sakit."
"Bu, Pak, mohon tenang, pasien lainnya terganggu," kata suster, menghampiri keluarga itu. "Dan, pasien atas nama Arnesa Putri Maharani harus mendapatkan donor darah. Siapa ayahnya?"
"Saya, Sus, saya ayahnya, ambil semua darah saya, perlu kuras darah saya untuk putri saya," kata Hakim, menunjuk dirinya.
"Baik, Pak, silahkan ikut saya," kata suster tersebut, dan melangkah memasuki sebuah ruangan. Begitu pun dengan Hakim yang berjalan dibelakangnya.
"Maafkan suami saya, ya, Bu Ningrum, Bu Winda, dan semuanya. Suami saya hanya—"
"Tidak apa-apa, Bu Santi, beliau wajar dan pantas marah pada kami, karena kami tidak bisa menjaga Nesa dan bayinya dengan baik," kata Ningrum, membenarkan perlakuan Hakim. "Semua orangtua pasti akan melakukan hal yang sama pada siapa pun yang menyakiti anaknya."
Devan sejak tadi diam saja, ia terus mengabaikan panggilan telpon dari Lestari, ia tak lagi takut pada perpisahan yang bisa saja berada di antara mereka. Devan hanya takut kehilangan bayinya untuk kedua kalinya.
"Dev, kenapa nggak duduk dulu?" tanya Alwi, pada kakaknya. Manda dan Gani sudah pulang ke rumah mereka.
"Nggak usah. Aku begini saja," jawab Devan.
Santi pun melangkah melihat kondisi bayi Nesa, dan itu melukai hatinya, meski selama ini ia selalu memarahi Nesa dan melakukan apa pun untuk melampiaskan kemarahannya, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia pun tak tega melihat anak tirinya itu menderita.
"Bagaimana kondisi bayimu?" tanya Santi pada Devan.
Devan menggelengkan kepala. "Seperti yang Anda lihat," jawab Devan.
Ningrum menyikut putranya agar lebih santun pada Santi, namun sepertinya Devan tak dalam kondisi baik untuk melakukan itu.
Santi memanyungkan bibirnya karena merasa tak di hargai oleh Devan.
***
Lestari masuk ke kostnya dan terkejut ketika melihat Andi sedang berbaring di kamarnya, Lestari membulatkan matanya penuh melihat Andi yang sudah sejak lama meninggalkan Jakarta.
"Andi? Kamu—"
"Hai, Sayang," ucap Andi.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dan, kenapa kamu bisa masuk kemari?"
"Aku kemari karena membutuhkan uang, Sayang, dan kamu tahu pekerjaanku, aku mencuri dan tentu saja kunci apa pun bisa aku buka." Andi menyeringai membuat Lestari bergidik.
"Pergi dari sini. Aku tidak punya uang."
"Tidak punya uang? Ya minta lah sama kekasihmu yang kaya itu."
"Andi, kamu itu jangan terus kemari, kita nggak ada hubungan apa-apa."
"Aku kakakmu, Sayang."
"Kakak? Kamu hanya anak dari istri ayahku, jadi nggak usah menyebut kakak atau adik, kita emang nggak ada hubungan apa-apa."
"Lupa kamu, dengan malam yang kita habiskan?"
"Andi, kita sudah sepakat nggak membahas itu. Dan kenapa kamu—"
"Kamu memang bodoh, Sayang, terlepas dari siapa ayahmu dan siapa ibuku kita tetap saudara yang melakukan hubungan terlarang."
Lestari menutup kedua telinganya. "Jangan mengatakan itu lagi. Aku mohon."
"Itu memang kesalahan, namun kita sama-sama mau, 'kan?"
"Pergi dari sini!" bentak Lestari. "Atau aku teriak?"
"Sebelum kau teriak, aku akan mengatakan pada kekasihmu yang kaya itu, kalau kamu pernah bercinta denganku," ancam Andi, membuat Lestari membulatkan matanya penuh. "Kita nggak sekedar saudara, Lestari, kita seperti pasangan."
"Jangan mimpi, Andi. Kau tak akan mendapatkan apa pun, jika kau katakan kepada Devan. Silahkan saja. Lakukan itu, jangan hanya omongan doank, katakan padanya, dan ibumu yang di rumah sakit akan di usir karena nggak memiliki biaya," ancam Lestari balik, berhasil membuat mata Andi membulat dan senyumnya pun sirna.
"Oh jadi sekarang kau berbalik mengancamku?" tanya Andi.
"Ya. Kau mengancamku, jadi aku pun harus melakukan hal yang sama. Bukankah begitu cara mainnya?"
"Oke. Untuk sekarang aku mundur, tapi berikan aku uang, aku butuh makan dan rokok."
Lestari menghela napas, dan merogoh tasnya, ia mengambil 3 lembar uang merah, lalu diberikan kepada Andi.
"Ini uang terakhirku, aku belum gajian," kata Lestari.
"Oke ini cukup," kata Andi, lalu melangkah hendak melintasi Lestari. Ia mengelus dagu adik tirinya itu.
"Jangan menyentuhku, Andi!" tekan Lestari.
Sepeninggalan Andi, Lestari duduk ditepian ranjang dengan mengacak rambutnya frustasi. Ia ingin melenyapkan Andi, namun ia tahu bahwa itu akan membahayakan dirinya sendiri.
Lestari berbaring ditepian ranjang, seharian ini ia terus memikirkan Devan, kabarnya putri kekasihnya itu meninggal dunia. Namun, entah mengapa Lestari tidak menerima itu, dan terus memikirkan Devan yang bersama Nesa.
Lestari tak tahu jika Nesa kini sedang kritis, semuanya terjadi terlalu cepat.
Lestari mengacak rambutnya dan menyentak kaki, ia kesal sekali, dan ia sudah mencoba mengerti Devan, namun ia tetap tak terima dan tetap kesal pada kekasihnya itu.
"Aku akan membunuh siapa pun yang sudah membuat langkahku tersendat," gumam Lestari. "Andai saja itu bisa terjadi, dan bisa ku lakukan."
Dengan helaan napas Lestari mencoba memejamkan matanya.
.
.
Bersambung.
Gimana? Gimana?
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻