NovelToon NovelToon
MENIKAH KARENA HAMIL

MENIKAH KARENA HAMIL

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:394.5k
Nilai: 5
Nama Author: Irhen Dirga

Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Lestari

Hakim dan Santi sampai di rumah sakit, mereka langsung masuk dan berjalan menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan Nesa, karena rumah sakit ini sangat besar, jadi tak mungkin mencari. Karena khawatir, mereka lupa menelpon Devan, jika mereka sudah di Jakarta.

"Permisi, Neng, eh maksudnya, Sus, anak saya di rawat dimana?" tanya Hakim, membuat Suster tersebut melongo.

"Maaf, Sus, maksud suami saya, pasien bernama Arnesa Putri Maharani di rawat di ruangan apa, ya?" Santi kembali bertanya.

"Sebentar ya, Pak, Bu, akan saya cekkan." Suster itu lalu mencari nama yang disebut Santi tadi. "Oh iya, pasien Arnesa Putri Maharani di rawat di lantai 3, kamar Mommy nomor 14."

"Baik, Sus, terima kasih, ya."

Hakim dan Santi pun bergegas masuk ke lift.

Devan terus saja berdiri didepan ruangan putranya yang kini sedang menerima perawatan intensif, di temani oleh seluruh keluarga yang sejak tiga jam lalu tiba di rumah sakit.

"Nak, duduk lah dulu," kata Winda.

Sesaat kemudian lift terbuka, Hakim dan Santi langsung melihat keluarga besannya tengah duduk didepan ruangan bayi.

"Besan? Sini, Besan," panggil Ningrum.

Hakim dan Santi menghampiri keluarga besannya.

"Kenapa semua ini bisa terjadi? Kalian apakan putriku? Huh?" tanya Hakim murka, membuat Santi berusaha menghentikan sikap tak sopan Hakim pada besannya. "Nesa adalah anak yang baik, dia bahkan menurut pada kami, ibunya pergi meninggalkannya, dan itu sudah menjadi hukuman terberat bagi Nesa. Apa ini yang kalian lakukan pada putriku?"

"Mas, diam lah, jangan bikin malu," bisik Santi.

"Apanya yang bikin malu? Huh? Kamu pikir aku sedang bercanda? Aku sedang marah sekarang. Aku memberikan mereka kepercayaan untuk menjaga Nesa dari jangkauanku, dan ini jawabannya? Nesa sekarat begitu pun anaknya?"

"Mas, diam lah. Aku mohon," bisik Santi. "Ini rumah sakit."

"Bu, Pak, mohon tenang, pasien lainnya terganggu," kata suster, menghampiri keluarga itu. "Dan, pasien atas nama Arnesa Putri Maharani harus mendapatkan donor darah. Siapa ayahnya?"

"Saya, Sus, saya ayahnya, ambil semua darah saya, perlu kuras darah saya untuk putri saya," kata Hakim, menunjuk dirinya.

"Baik, Pak, silahkan ikut saya," kata suster tersebut, dan melangkah memasuki sebuah ruangan. Begitu pun dengan Hakim yang berjalan dibelakangnya.

"Maafkan suami saya, ya, Bu Ningrum, Bu Winda, dan semuanya. Suami saya hanya—"

"Tidak apa-apa, Bu Santi, beliau wajar dan pantas marah pada kami, karena kami tidak bisa menjaga Nesa dan bayinya dengan baik," kata Ningrum, membenarkan perlakuan Hakim. "Semua orangtua pasti akan melakukan hal yang sama pada siapa pun yang menyakiti anaknya."

Devan sejak tadi diam saja, ia terus mengabaikan panggilan telpon dari Lestari, ia tak lagi takut pada perpisahan yang bisa saja berada di antara mereka. Devan hanya takut kehilangan bayinya untuk kedua kalinya.

"Dev, kenapa nggak duduk dulu?" tanya Alwi, pada kakaknya. Manda dan Gani sudah pulang ke rumah mereka.

"Nggak usah. Aku begini saja," jawab Devan.

Santi pun melangkah melihat kondisi bayi Nesa, dan itu melukai hatinya, meski selama ini ia selalu memarahi Nesa dan melakukan apa pun untuk melampiaskan kemarahannya, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia pun tak tega melihat anak tirinya itu menderita.

"Bagaimana kondisi bayimu?" tanya Santi pada Devan.

Devan menggelengkan kepala. "Seperti yang Anda lihat," jawab Devan.

Ningrum menyikut putranya agar lebih santun pada Santi, namun sepertinya Devan tak dalam kondisi baik untuk melakukan itu.

Santi memanyungkan bibirnya karena merasa tak di hargai oleh Devan.

***

Lestari masuk ke kostnya dan terkejut ketika melihat Andi sedang berbaring di kamarnya, Lestari membulatkan matanya penuh melihat Andi yang sudah sejak lama meninggalkan Jakarta.

"Andi? Kamu—"

"Hai, Sayang," ucap Andi.

"Apa yang kau lakukan di sini? Dan, kenapa kamu bisa masuk kemari?"

"Aku kemari karena membutuhkan uang, Sayang, dan kamu tahu pekerjaanku, aku mencuri dan tentu saja kunci apa pun bisa aku buka." Andi menyeringai membuat Lestari bergidik.

"Pergi dari sini. Aku tidak punya uang."

"Tidak punya uang? Ya minta lah sama kekasihmu yang kaya itu."

"Andi, kamu itu jangan terus kemari, kita nggak ada hubungan apa-apa."

"Aku kakakmu, Sayang."

"Kakak? Kamu hanya anak dari istri ayahku, jadi nggak usah menyebut kakak atau adik, kita emang nggak ada hubungan apa-apa."

"Lupa kamu, dengan malam yang kita habiskan?"

"Andi, kita sudah sepakat nggak membahas itu. Dan kenapa kamu—"

"Kamu memang bodoh, Sayang, terlepas dari siapa ayahmu dan siapa ibuku kita tetap saudara yang melakukan hubungan terlarang."

Lestari menutup kedua telinganya. "Jangan mengatakan itu lagi. Aku mohon."

"Itu memang kesalahan, namun kita sama-sama mau, 'kan?"

"Pergi dari sini!" bentak Lestari. "Atau aku teriak?"

"Sebelum kau teriak, aku akan mengatakan pada kekasihmu yang kaya itu, kalau kamu pernah bercinta denganku," ancam Andi, membuat Lestari membulatkan matanya penuh. "Kita nggak sekedar saudara, Lestari, kita seperti pasangan."

"Jangan mimpi, Andi. Kau tak akan mendapatkan apa pun, jika kau katakan kepada Devan. Silahkan saja. Lakukan itu, jangan hanya omongan doank, katakan padanya, dan ibumu yang di rumah sakit akan di usir karena nggak memiliki biaya," ancam Lestari balik, berhasil membuat mata Andi membulat dan senyumnya pun sirna.

"Oh jadi sekarang kau berbalik mengancamku?" tanya Andi.

"Ya. Kau mengancamku, jadi aku pun harus melakukan hal yang sama. Bukankah begitu cara mainnya?"

"Oke. Untuk sekarang aku mundur, tapi berikan aku uang, aku butuh makan dan rokok."

Lestari menghela napas, dan merogoh tasnya, ia mengambil 3 lembar uang merah, lalu diberikan kepada Andi.

"Ini uang terakhirku, aku belum gajian," kata Lestari.

"Oke ini cukup," kata Andi, lalu melangkah hendak melintasi Lestari. Ia mengelus dagu adik tirinya itu.

"Jangan menyentuhku, Andi!" tekan Lestari.

Sepeninggalan Andi, Lestari duduk ditepian ranjang dengan mengacak rambutnya frustasi. Ia ingin melenyapkan Andi, namun ia tahu bahwa itu akan membahayakan dirinya sendiri.

Lestari berbaring ditepian ranjang, seharian ini ia terus memikirkan Devan, kabarnya putri kekasihnya itu meninggal dunia. Namun, entah mengapa Lestari tidak menerima itu, dan terus memikirkan Devan yang bersama Nesa.

Lestari tak tahu jika Nesa kini sedang kritis, semuanya terjadi terlalu cepat.

Lestari mengacak rambutnya dan menyentak kaki, ia kesal sekali, dan ia sudah mencoba mengerti Devan, namun ia tetap tak terima dan tetap kesal pada kekasihnya itu.

"Aku akan membunuh siapa pun yang sudah membuat langkahku tersendat," gumam Lestari. "Andai saja itu bisa terjadi, dan bisa ku lakukan."

Dengan helaan napas Lestari mencoba memejamkan matanya.

.

.

Bersambung.

Gimana? Gimana?

1
Shifa Burhan
thor jika ada wanita lain yang baik dan perhatian pada suami mu dan dia enteng nya mendekati suami dan mengatakan suka dan cinta pada suami, bagaimana tanggapan mu thor

pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil

tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno

kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
rya
karya imajinasi yg menghibur, jadi selalu nunggu up nya
rya
nunggu bucinya Devan sama nesa dan baby boy...
rya
semangat selalu Kaka, semoga lancar dan di beri kesehatan...
Irnawati wati
maaf thoor tdk usah di beri gambar visual, yang penting alur cerita nya masuk sesuai dengan judulnya. okee thorr semangat berkarya terima kasih
Christiani Natalia Yani
lanjut dong Thor jangan d gantung🙏
Dessy Flashin
ayo donk kk please lanjutin ceritanya jgn menggantung gini, ditungguin trus update nya ya kk 🙏🙏🙏 semangat kk 💪💪👍👌
Dessy Flashin
iiiissshhhhh Gedeg sm Devan, udah Thor klo emg besar hrs pisah sm Devan nnti klo udah pisah buat Nesa sm Juno ajalah, biar tau tuh si Devan sok kegantengan, dikira Nesa gk ada orang yg mau apa
Dessy Flashin
hadeeuuhhh ini kyk sinetron di ikan terbang nih, bikin keseeeeeeelllll....
rusidah siti
semangat buat nulisnya
kris tianti
lanjut dunk
Rosdiana Diana
lanjuttt
wili o
up
_kooky00
😭😭😭😭😭😭😭,,tau tk
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
Zhafirafira 225
fighting author
Ema Sofia
Keturunan turkey tapi mirip cina, canda turkey 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤔🤔🤔🤔🤭🤭🤔🤔
Suti Habdayani
ini di lanjutin gk ya ceritanya
샤샤
hai kak author, semangat selalu ya kak
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
샤샤
hai author, semangat selalu buat novel nya
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
Irhen Dirga: Wah terima kasih banyak❤
total 3 replies
샤샤
hai aurhor, semangat selalu yaa
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!