Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 27
"Mel, bangun udah siang." Febian mengguncang-guncang tubuh Camelia yang masih terbungkus selimut menutupi tubuhnya hingga kepala. Berkali-kali Febian mencoba membangunkan Camelia, namun gadis itu hanya menggumam pelan, tapi tidak kunjung membuka selimut.
"Sudah siang nanti telat!" Kembali Febian mencoba membangunkan Camelia, merasa tidak ada respon akhirnya Febian keluar kamar menuju tempat dimana Jupi berada. Meski Febian jarang melakukan kontak fisik dengan kucing, tapi tidak ada pilihan lain.
"Jupi, waktunya lo beraksi." Febian memasukan Jupi kedalam selimut, hingga Camelia menggeliat dan akhirnya membuka selimut yang menutupi kepalanya.
"Ih,,, kenapa bawa Jupi kesini sih?" Protesnya,
"Cuman dia yang bisa bangunin lo. Udah bangun yuk, udah jam tujuh, kita harus sampai tujuan sebelum jam sembilan." Meski sudah membuka selimut, Camelia masih tetap tidak beranjak dari tempat tidurnya.
"Ayo,,, mandi sana!" Perintah Febian,
"Lo butuh waktu lama buat make up, muka lo sembab banget." Camelia memegang pipi dengan kedua tangannya, ia menghela nafas lemah. Camelia tau wajahnya pasti sembab, mata pasti bengkak dan merah akibat semalam suntuk dia menangis.
"Lima menit lagi gue bangun." Febian hanya berdecak, dan memilih keluar meninggalkan Camelia.
Camelia masih menatap langit-langit kamar, rasa kantuknya hilang begitu saja meskipun sebenarnya dia baru tertidur jam empat dini hari. Jupi yang masih berada di dalam selimut bersamanya, merangkak naik hingga kepalanya menyembul dari balik selimut,
"Kenapa? Lapar ya? Ibu malas bangun Jupi. Rasanya tenaga Ibu terkuras habis." Camelia mengajak Jupi bicara, dia memang menganggap kucing yang bernama Jupi itu sebagai anaknya, tak heran jika dia menyebut dirinya Ibu di hadapan Jupi.
"Kamu tau, aku bertemu dia kemarin malam. Dia tampak jauh lebih tampan dan,,,sexy," Camelia terkekeh, mengingat sosok yang ia temui kemarin malam.
"Tapi tatapan matanya seakan menelanjangiku dan menyedot habis semua tenagaku. Aku sangat merindukannya Jupi,,,," Camelia memeluk kucing kesayangannya dan memejamkan mata, mencoba kembali mengingat pertemuan tidak sengajanya dengan Jupiter malam itu.
Kini ia dan Febian berada di meja makan untuk sarapan terlebih dahulu, sebelum mereka berdua berangkat menemui investor baru yang akan bekerja sama dengan mereka dan dijadwalkan bertemu hari ini.
"Hari ini kita ada meeting dengan salah satu investor baru, beruntungnya dia minta kita datang langsung ke perusahaannya, bukan klub seperti biasanya." Jelas Febian, memberitahu jadwal yang harus mereka kerjakan hari ini.
"Dimana? Siapa investor nya?" Tanya Camelia,
"Di Mega kuningan, nama investornya Alfa."
"Orang baru?"
"Iya, dia pengusaha baru, tapi jangan salah perusahaannya lagi naik daun." Camelia hanya menggumam, dia cukup tau beberapa pengusaha terkenal di Ibukota ini, bahkan beberapa diantaranya masih meminta jasanya setiap kali mereka melakukan negosiasi, dan tentu saja Camelia mendapat bayaran yang cukup besar sebagai imbalan.
"Tapi ada sedikit masalah," Febian menaruh cangkir kopinya, menatap serius ke arah Camelia.
"Mereka salah satu perusahaan yang jarang menggunakan cara kotor, jadi ada kemungkinan kita ditolak."
Camelia menggeser mangkuk berisi sereal, menaruh kedua tangannya di meja dengan satu tangan menyangga dagunya, lalu berpose sensual dan mengedipkan sebelah matanya.
"Yakin, bakal nolak service gue?" Tanyanya.
Satu tangan Camelia membuka sedikit jas blazer merah yang dikenakannya hari ini, nampak jelas ia hanya memakai tanktop hitam tipis, memamerkan belahan dada yang begitu menggiurkan.
"Oke, gue jamin pasti diterima." Febian mengangkat kedua tangannya, tersenyum pongah melihat penampilan sahabatnya ini, ia yakin tidak ada satupun lelaki yang bisa menolak kecantikan Camelia.
Gedung berlantai lima yang berada di hadapannya, berbeda dari tempat yang sering Camelia datangi.
"Yakin ini tempatnya?" Tanya Camelia begitu dia keluar dari mobil.
"Iya, gue udah bilang kan kalau investor kita ini pengusaha baru, tapi jangan salah dia cukup terkenal." Camelia mengamati gedung yang ada di hadapannya, biasanya dia akan mendatangi gedung-gedung berlantai puluhan dengan pengamanan extra, tapi kali ini justru sebaliknya. Meski tidak termasuk kedalam kategori gedung biasa, mengingat gedung ini berdiri di kawasan elite Mega kuningan, tapi tetap saja di mata Camelia ini salah satu gedung paling sederhana.
Seorang lelaki langsung menyambut kedatangan mereka dan membawa mereka langsung ke lantai lima tempat mereka akan bertemu dengan CEO perusahaan ini.
"Silahkan masuk, pak Alfa sudah menunggu kalian di dalam." Lelaki itu membuka pintu, mempersilahkan Febian dan Camelia masuk.
Tampak seorang lelaki mengenakan Jas abu-abu tengah duduk di meja kerjanya, ia langsung menoleh begitu menyadari kehadiran Camelia dan Febian.
"Pak Febian, silahkan duduk."
"Terimakasih pak Alfa," Camelia dan Febian duduk di kursi panjang berwarna hitam, tak jauh dari meja kerja Alfa.
Camelia mengamati setiap detail ruang kerja milik Alfa, seperti dugaannya ruangan tersebut tidak terlalu mewah dan terkesan sangat minimalis. Alfa beranjak dari meja kerjanya, membawa beberapa map di tangannya.
Febian menyenggol lengan Camelia, seakan mengerti Camelia langsung membuka sedikit blazer merah yang dikenakannya, hingga belahan dadanya terlihat jelas. Alfa masih menjaga wibawanya, meski tidak bisa dipungkiri sesekali dia masih melirik dengan ujung matanya. Camelia hanya tersenyum tipis, tidak ada lelaki yang bisa menahan godaan seperti itu.
"Ehem,, baiklah kita bisa mulai membahas kerja sama kita. Tapi sebelum kita melanjutkan lebih rinci, saya masih menunggu salah satu investor yang menyokong sepenuhnya perusahaan saya." Camelia dan Febian saling bertatapan,
"Maaf, bisa dijelaskan secara rinci bagaimana maksudnya?" Pinta Febian.
"Begini, perusahaan saya ini masih berada dibawah naungan perusahaan besar, Global ink. Saya memang tertarik menjadi investor dan bekerja sama dengan Pak Febian, tapi sebelum itu saya harus mengikutsertakan atasan saya, sebelum kita deal dan mulai kerja sama." Jelas Alfa.
Camelia dan Febian mengerti dengan penjelasan Alfa, jadi benar dugaan Camelia jika perusahaan ini hanya salah satu cabang dan masih bergantung dengan perusahaan yang menyokongnya. Merasa jika ini bukanlah umpan besar, Camelia segera merapikan blazernya, kembali menutup rapat. Ia merasa tidak perlu melakukan hal-hal berlebihan untuk perusahaan kecil, sekalipun dia ditolak, dia tidak akan merasa rugi.
"Permisi sebentar," Alfa minta ijin begitu ponselnya berdering.
"Orangnya sudah sampai, kita bisa menunggunya sebentar." Tidak berapa lama Alfa kembali, setelah melakukan panggilan telepon beberapa saat.
Camelia dan Febian hanya mengangguk, menunggu petinggi utama yang akan menentukan kerja sama kali ini.
Pintu hitam itu perlahan terbuka, seorang lelaki muncul dari balik pintu. Camelia tidak menyadari kehadirannya karena dia tengah asyik memeriksa beberapa pesan masuk di ponselnya. Febian kembali menyikut lengan Camelia begitu lelaki itu semakin dekat.
"Apa sih, Feb?" Camelia menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat lelaki bertubuh tinggi berdiri tak jauh dari tempatnya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Camelia mengucek-ngucek kedua matanya, berharap dia salah dan hanya berhalusinasi.
"Perkenalkan, ini Jupiter. CEO dari Global ink."
Pupus sudah harapan Camelia, ternyata ia tidak sedang berhalusinasi dan lelaki itu benar Jupiter.
Jupiter duduk persis di depannya, sorot matanya tajam seolah mengintimidasi Camelia, membuat Camelia bergidik merasakan tubuhnya meremang akibat tatapan tajam Jupiter.
"Silahkan memulai presentasinya." Alfa meminta Febian ataupun Camelia untuk segera memulai.
Melihat Camelia seperti kehilangan nyawa, akhirnya Febian Mengambil alih, kali ini dia yang memulai presentasi.
Selama Febian menjelaskan visi misi, hanya Alfa yang memperhatikan dengan seksama, sedangkan Jupiter hanya menatap tajam ke arah Camelia.
Seakan merasa dejavu, ditatap intens seperti itu, ingatan Camelia kembali teringat pada kejadian enam tahun lalu, di saat mereka pertama kali bertemu di acara makan malam orang tua mereka. Tatapan tajam Jupiter seakan mampu menelanjanginya, bahkan sampai menembus ke dalam hatinya.
Camelia hanya bisa memegang kuat hp yang berada di tangannya, menyembunyikan kegugupannya. Ia tidak mampu membalas atau balik menatap Jupiter, namun seakan merasa tertantang karena Jupiter masih diam dan terus memperhatikannya, akhirnya Camelia memberanikan diri balik menatap Jupiter. Tatapan mereka bertemu, untuk sepersekian detik mereka hanya masih saling menatap, hingga akhirnya Jupiter tersenyum. Senyum lembut yang mampu mematahkan rasa percaya diri Camelia, karena senyum itu sangat mematikan untuk dirinya.
Camelia mencoba berusaha tenang, meski sebenarnya jantungnya bergemuruh kencang, seakan loncat dari tempatnya. Camelia masih menatapnya datar, hingga dia bisa melihat gerakan bibir Jupiter bergumam,
"Long time no see, rendang kara."
Meski hanya gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara, Camelia tau apa yang diucapkan Jupiter. Seketika Camelia merasa lumpuh dan tidak mampu melakukan apapun lagi.