Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.
Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.
Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chayang-chayang...
Surya tenggelam di balik kegelapan awan ketika Rinjani memilih untuk berkunjung ke salon kesayangan tanpa Nanang. Pria itu hanya mengantarnya dan memilih menunggu di kedai kopi untuk menghindari tanya dan tatap penuh arti dari kawan-kawan budayalita dan sosialita istrinya.
“Mau diapain rambutnya, Jeng? Disanggul modern apa di blow?” Jeng Lina menyentuh rambut kawannya setelah mohon ampun dengan mengatupkan kedua tangan.
Rinjani menunjukkan foto masa mudanya. “Seperti ini tapi tidak perlu pakai poni, malu aku Jeng kalau banyak gaya.”
Berdecak-decak bibir Jeng Lina setelah melihat foto yang diungkap Nanang dalam micro-sd rahasia setelah makan siang dan kemudian teler bersama di ranjang masing-masing.
“Mau kelihatan muda buat suami baru? Di semir hitam juga tidak ini, Jeng? Sudah lumayan banyak ubanmu.” katanya sambil melihat-lihat rambut Rinjani macam orang cari kutu rambut.
“Bukan suami baru, dia pacar lama yang bangkit kembali.” Rinjani menghela napas waktu Lina, temannya dari kalangan sosialita budayalita dan gemar menyanyi dan menari itu mendengus.
“Kamu beruntung memiliki Don Juan macam Nanang dan Mas Kaysan, Jeng. Mereka itu memang banyak maunya tapi setia, parah.”
Rinjani menatap Lina dari pantulan cermin.
“Beruntung memang iya, tapi lebih dari sekedar beruntung aku merasakan banyak sekali perasaan. Seperti seni, sejarah dan perkembangan zaman. Paten tapi berubah-ubah.”
Lina terkekeh-kekeh sambil memulai aksinya menata rambut Rinjani. “Yakin ini tidak di semir sekalian, Jeng? Nanang itu bagimu memang kelihatan biasa-biasa saja, tapi bagi sekelas tante-tante nakal dan anak-anak kuliahan dia masih muda... Masih bisa di andalkan jadi pria idaman.”
Rinjani memutar mata. Punggungnya sudah pegal-pegal, sudah malu pula harus jadi bahan omongan.
“Terus aku harus ganjen, nakal dan kelihatan muda baginya? Amit-amit, Jeng. Tadi saja aku niat romantis-romantisan keningku di pukul pakai sendok ager-ager.” sembur Rinjani.
Lina menghentikan aktivitasnya menyisir. Wajahnya kini penasaran. “Memangnya kau apakan dia, Jeng?”
“Aku bilang, sebelum senja tenggelam aku ingin melihat matamu dalam-dalam.”
Senyum Lina menjadi pudar, dan mulutnya tak tahan untuk mengumpat. “Kamu juga salah ngomong, Jeng. Senja tenggelam bagi kita-kita ini artinya mati. Kamu kok malah ngomongin itu. Jelas Nanang jengkel... anjir lah. Aku jadi dia gitu juga jengkel. Sebel.”
Rinjani tersenyum malas. “Maksudku itu senja anak muda, yang romantis-romantis gitu. Bukan mati cepat-cepat, Jeng. Tidak begitu.”
“Ya udahlah ya, diganti rayuannya. Jangan bawa-bawa senja, nggak masuk akal buat usia kita.”
Rinjani kembali tersenyum malas. ‘Dulu saja senja bermakna meromantisasi keadaan, menjadi sendu, rayu, hangat dan berakhir ciuman. Sekarang kok mati. Tau ah gelap.’
Nanang meraih ponselnya di meja setelah satu jam berlalu.
‘Kamu selesai belum? Aku capek.’
Lina yang menonton pesan di layar ponsel Rinjani menyahutnya.
“Aku yang balas.”
Rinjani panik, dia pun berusaha meraih ponselnya kembali, tetapi tudung astronot yang membungkus kepalanya dan mengeluarkan hawa hangat itu membuatnya tambah panik.
“Jangan bales aneh-aneh.” Rinjani mengingatkan karena Lina itu menye-menye dan genit.
“Sans...” ( santai ) Lina nyengir, terlihat ada berlian kecil di gigi taringnya.
‘Aku belum selesai, Mas Nanang chayang. Sini, lihat aku.’
Nanang tersedak bola-bola udang dari sup tom yam yang dia pesan. “Kok chayang-chayang, ih, ih... Rinjani kalau kumat terus aku bisa ilfill.”
Nanang membalik hpnya setelah mengirim pesan. ‘Telepon saja kalau sudah selesai! Chayang-chayang, malu sama anak.’
Lina pun terkekeh-kekeh dibuatnya. ‘Mereka sudah tidak bisa bermesraan lagi, mereka hanya melanjutkan hidup untuk tetap hidup.’
Lina memberikan kembali ponsel Rinjani dengan muka cengengesan. “Dia minta ditelepon setelah selesai.”
“Minta itu saja?” Rinjani penasaran isi chatnya dan baru setelah dia membacanya, dia malah terbahak.
“Chayang itu panggil jaman SMS, Lin. Dia pasti muntah sekarang.”
“Tidak cuma muntah lah ya, tapi gumoh susu kadaluwarsa.”
Tak tanggung-tanggung, Rinjani justru tergelak lagi.
“Mulutmu itu loh, kebiasaan suka benar.”
Lina meneruskan pekerjaan sampingannya sebagai seorang penata rambut profesional.
“Telepon sana laki you... udah selesai ini.” Lina menaruh sisir rambut di rak seraya mengambil keputusan untuk memutar kursi Rinjani agar menghadapnya.
“You serius dengan rumah tangga ini, Jeng?”
Rinjani menguap perlahan-lahan. “Kami sudah tidak mencari apa apa lagi selain memberikan kebahagiaan dan kesenangan yang tersisa. Jadi serius atau tidak, hanya kami yang tahu karena hakikatnya, cinta itu kan tidak sekedar perasaan dan emosi.”
Lina mengibaskan tangannya enggan mendengar cinta-cintaan yang serius dan memusingkan sebab baginya cinta adalah seru-seruan. “Udah sana keluar, Arjuna kurang ajar itu pasti sudah jalan.”
Rinjani setuju, Nanang memang kurang ajar, tapi Sakila pun tak sanggup mengendus kenakalan suaminya yang begitu rapi itu dan yang tak kalah penting, ia sekarang menjadi istri Arjuna kurang ajar itu. Playboy cap lebah. Bisakah Rinjani mengendus kenakalannya?
Rinjani menunggu di bahu jalan sebelum Nanang datang dengan ekspresi datar. Keduanya bertatap-tatapan penuh arti.
“Tidak perlu chayang-chayang...” ucap Nanang.
“Bukan aku yang balas chatmu, Lina itu.” Rinjani menarik kedua sudut bibirnya ketika Nanang berdecak. “Gimana rambutku, kamu suka ndak?”
Nanang memegangi rambut baru Rinjani. Sedikit ikal tapi rapi, tapi wangi. “Nanti aku lihat di rumah, sekarang pakai helmmu dan naik. Kita pulang.”
“Kok langsung pulang?” tanya Rinjani dengan nada heran. “Nggak jalan-jalan dulu sampai anak-anak pada tidur?”
Nanang memakaikan helm di kepala Rinjani dengan serius. “Kita harus memantau anak-anak toh, mau jalan-jalan ke mana lagi memang?”
“Makan malam dulu begitu, di restoran, atau di kaki lima. Oh, aku kangen Nina.”
Nanang geleng-geleng kepala. “Mentang-mentang habis nyalon maunya main terus, lihat itu bajumu, orang-orang nanti mengira sudah nenek-nenek saja keluyuran terus.”
Dengan sedikit sebal, Rinjani duduk miring di atas motor seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Nanang. “Nggak usah ngebut, awas kalau aku sampai jatuh dan terluka!”
Nanang menunduk, menatap tangan Rinjani sebelum menggesernya ke sisi tubuh.
“Aku pelan-pelan wes, jadi kamu nggak usah peluk-peluk begitu. Risi aku.”
Bermodal rasa jengkel dan cemas, Rinjani mencubit perutnya.
“Kebayaku tidak salah, kelakuanku juga tidak salah, kamu saja yang sensitif terhadap aku!”
Nanang tersenyum dan mulai menggeber motornya ke arah rumah, sebab semakin lama dia hanya berdua dengan Rinjani, semakin sesak napas. Semakin susah untuk menepis rasa yang semakin berkembang pesat di benaknya. Tentang Rinjani yang telah ada di genggaman tangan dan jiwa.