*Kelanjutan dari karya sebelumnya, yaitu BENANG TANPA UJUNG*
Cinta tumbuh seiring dengan bertambahnya usia, saat kita tinggal bersama dalam satu keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
Mansion Tjandra.
Setibanya di rumah, Wanda menghempaskan raganya diatas sofa. Wanita itu tersenyum senang, karena keinginannya telah berhasil. Yaitu membuat Hendrik mengeluarkan uangnya untuk sang putri tercinta tanpa bekerja sedikit pun.
"Apa ini benar?" tanya Tjandra merasa kelakuan istrinya itu tidak sesuai.
Wanda lantas cemberut dan mencubit lengan suaminya karena kesal. "Berisik! Memangnya kamu bisa mencari uang lebih untuk gaya hidupnya Carol hah? Lihat saja sekarang kondisimu saat ini, kau telah menjadi pekerja rendahan dibawah kekuasaannya koh Hendrik, karena sudah kehabisan dana di perusahaan!"
Tjandra menggeleng. "Ya aku memang tidak bisa mendapatkan uang besar seperti dulu lagi, tapi apa kamu tidak berpikir kalau tindakanmu tadi sangatlah memalukan harga diriku sebagai seorang suami. Bagaimana kalau mereka tahu, kita telah menipu mereka?" cemasnya.
"Eleh takutan amat! Asal kita kagak ngomong, mereka juga tidak bakalan tahu," balas Wanda remeh.
"Betul tuh kata Mommy, kapan lagi kita bisa dapat duit tanpa harus cape-cape kerja. Ya kan Mom?" serobot Caroline yang baru saja mendaratkan bokongnya.
"Nah, pintar Carol. Tidak seperti papa mu, selalu saja tidak enakan sama orang!" sindir Wanda.
Tjandra mendesah kasar, lalu pergi meninggalkan dua wanita beda usia namun sama-sama mata duitan itu.
"Sudah jangan pikirin Daddymu itu, sekarang Mommy sudah tidak pusing mikirin biaya hidup kamu. Karena om Hendrik sudah setuju bertanggung jawab dan mau menafkahi kebutuhan kamu," ucap Wanda.
Caroline tersenyum senang. "Baguslah kalau begitu! Berapa yang akan om Hendrik berikan padaku setiap bulannya?" tanyanya antusias.
"50 juta dan itu juga belum termasuk biaya keperluan yang lainnya," balas Wanda bangga.
Caroline bersorak atas berita bahagia tersebut. "Mommy memang hebat! Setidaknya aku tidak perlu repot-repot bangun pagi, kerja apapun lagi. Tinggal duduk, rekening sudah terisi!" serunya gembira.
"Yah! Kamu sudah enak, sekarang bagaimana caranya Mommy bisa dapat uang nih?" pikir Wanda.
"Gampang, mintalah sama Daniel. Bukankah dia sudah janji mau bayar jika dapat si Mei Chen itu," balas Caroline.
"Oh iya, Mommy hampir lupa. Untung kamu mengingetin, Mommy harus bilang sama Daddy buat telepon-in si Daniel itu dan minta uang mukanya," balas Wanda bergegas.
"Ya sudah sana," ucap Caroline.
Wanda segera ke kamar untuk menemui sang suami, disana ia meminta agar suaminya menghubungi Daniel dan meminta uang muka yang telah dijanjikan.
"Sayang," panggil Wanda mesra.
"Ada apa? Mau apalagi?" tanya Tjandra kesal.
"Aku baru ingat kita harus menagih uang pada Daniel," jawab Wanda tanpa beban.
"Yang ada diotakmu hanyalah uang dan uang, mereka menikah saja belum tapi kau sudah meminta bayarannya!" protes Tjandra menolak.
"Kamu ini bagaimana sih! Mintalah dulu uang mukanya sebagian pada dia, setelah menikah baru sisanya," bujuk Wanda.
Tjandra menghela nafas kasar. "Ya besok aku coba tanyakan pada Daniel!"
Wanda tersenyum. "Nah gitu dong, sudah gatal nih tangan aku gara-gara kelamaan tidak belanja. Terima kasih ya sayang," balasnya sambil memberikan satu kecupan di pipi.
Tjandra hanya bisa menghembus nafas kasar dan berharap tidak ada hal rumit menimpa keluarganya setelah ini.
...----------------...
Mansion Hendrik.
Lima jam sudah berlalu, pun dengan pencarian Yuan telah gencar dilakukan diberbagai sudut kota. Namun, baik itu pencarian dari kubu Alin maupun dari kubu Hendrik, usaha tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil sedikit pun.
Mereka tidak menemukan Yuan dimana pun, bahkan jejak kakinya tidak terlihat meninggalkan bekas.
Sehingga akhirnya mereka pulang ke rumah dengan tangan hampa, sesekali berharap, siapa tahu Yuan akan kembali dan berkumpul bersama lagi dengan mereka.
Namun harapan tinggallah harapan, karena setibanya mereka di rumah, keduanya tidak melihat keberadaan Yuan di kamarnya atau pun dimana-mana tempat seperti saat-saat sebelumnya.
Pria kecil yang begitu antusias menyambut kepulangan orang tuanya, berlari menghampiri dan memeluknya dengan manja.
Hal tersebut membuat Alin merasa sedih, ia menangis disepanjang detiknya. Susah payah ia membesarkan putranya dari kecil hingga beranjak dewasa, dengan berbagai harapan serta impian indah tinggal bersama sebagai satu keluarga bahagia.
Akan tetapi, kini ia tidak tahu buah hatinya itu pergi entah kemana. Sedang apa dan bagaimana keadaannya? Ia tidak tahu.
Alin hanya bisa menangis di dalam kamar Yuan, sambil memeluki bajunya satu persatu.
"Kokoh ada dimana? Pulang ya ... " lirih Alin menyayat hati.
Sementara itu Hendrik terdiam di muka pintu, melihat istrinya menangis hatinya merasa tak tegaan. Pria itu pun mendekat dan berusaha menenangkan dengan memeluknya, walau Alin memberi penolakan keras untuk didekati karena telah kecewa kepadanya.
"Jangan menangis lagi, aku berjanji akan membawa Yuan pulang ke rumah ini." Lalu Hendrik memberikan kecupan didahi.
Alin menggeleng lemah. "Bagaimana kalau dia menolak pulang? Yuan telah memutuskan hubungan keluarga dengan kita karena rasa kecewanya itu, aku yakin saat ini dia pasti sedang sedih dan merasa kesepian."
"Yuan pasti pulang," balas Hendrik.
Alin menatap nanar suaminya. "Ini semua gara-gara kamu, Koh? Andai saja kau lebih memahami perasaannya atau paling tidak sedikit saja ada rasa percaya pada Yuan, mungkin saja kejadian ini tidak akan pernah terjadi," sesalnya.
"Aku percaya pada Yuan, tapi bagaimana kalau Carol benar? Kejadian ini pasti akan mencoreng nama baik keluarga kita dan aku tidak mau orang lain menganggap keluarga kita tidak bertanggung jawab," balas Hendrik.
"Tapi demi menjaga nama baik, kau malah mengorbankan putraku. Aku tahu Yuan memanglah bukan putra kandungmu dan aku merasa kau tidak adil padanya," isak Alin.
Hendrik menangkup kedua sisi wajah Alin dan menatapnya. "Jangan berkata seperti itu sayang, aku telah menganggap Yuan seperti putra kandungku sendiri dan aku sangat menyayanginya. Tidak pernah terlintas didalam pikiranku sedikit pun Yuan adalah orang lain," balasnya menegaskan.
"Kalau begitu buktikan? Bawa Yuan padaku dan katakan padanya kalau kau percaya padanya," pinta Alin tersedu-sedu.
Hendrik menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembusnya panjang. "Baiklah, aku berjanji padamu. Aku akan membawa Yuan kembali dan berkata kalau aku percaya padanya," balasnya menenangkan. Lalu membawa Alin ke dalam pelukannya agar bisa meluapkan rasa sedihnya itu.
...***...
Keesokan paginya.
Suasana pagi kali ini sungguh terasa berbeda seperti suasana pagi pada pagi sebelum-sebelumnya, terutama suasana pagi di ruang makan keluarga.
Meja makan mereka sangatlah kosong, bukan karena tidak adanya lauk, melainkan karena kurangnya anggota keluarga yang duduk disana.
Di ruangan tersebut hanya ada Hendrik, Mei Chen dan juga Michael, yang sedang sarapan pagi sebelum memulai aktifitas.
Michael menghela nafas panjang, nafsu makannya telah berkurang sejak kemarin malam. Ia hanya memutar-mutar makanannya diatas piring, sesekali melihat kursi kosong dimana biasanya Yuan duduk untuk sarapan bersama.
"Makanlah! Jangan dibuat main seperti itu," tegur Hendrik kepada Michael.
"Aku mau ada Mommy dan Kokoh disini, kapan Kokoh pulangnya?" cebik Michael.
Hendrik terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. "Tidak akan lama, kau makan saja dulu. Setelah itu pergi sekolah."
"Baiklah," patuh Michael lesu.
Hendrik lalu melemparkan pandangannya kepada Mei Chen yang sama lesunya dengan Michael. "Tadi pagi Daniel telepon, dia bilang mau datang ke sini dan mengajakmu makan malam di luar. Daddy harap kau bersiap-siap nanti malam dan jangan kecewakan calon suamimu."
Setelah mendengar kata-kata calon suami, Mei Chen merasa geram. Ia meletakkan sendok garpunya dan menyudahi makan paginya yang terlihat belum habis.
"Daddy, Yuan pergi entah kemana dan dia belum ditemukan sampai saat ini. Tapi Daddy malah mengungkit kata-kata itu padaku," protesnya.
Hendrik menautkan kedua alisnya karena bingung. "Kenapa kau terlihat tidak suka? Perginya Yuan, apa ada kaitannya dengan hubungan dan Daniel?"
"Daddy, biar Mei tegaskan pada Daddy. Kalau Mei tidak akan menikah dengan Daniel atau dengan pria manapun dimuka bumi ini sebelum Daddy berhasil membawa Yuan pulang ke rumah dan berkumpul lagi bersama kita!" tekan Mei Chen bersikeras. Lalu menarik tas kuliahnya dan pergi meninggalkan meja makan.
...~ Bersambung ~...
slam dri Madu pilihan Ibu kak
ditunggu kisah terbarunya ya kak 🤗