Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Tiga hari setelah acara akad nikah dan resepsi pernikahanku dengan suamiku mas Hamzah. Aku di boyong olehnya di rumah yang sudah disiapkan untukku. Aku masih membiasakan diri, dan terus menerus mengingatkan diriku. Bahwa aku kini telah menyandang status sebagai seorang istri. Suamiku seorang dokter, bisa dibayangkan bagaimana sibuknya seorang dokter. Namun entah kenapa, mas Hamzah selalu ada waktu untukku. Atau setidaknya untuk menemaniku dirumah selama aku libur kuliah. Hmmm... aku tidak pernah menyangka. Disaat statusku masih menjadi mahasiswi disemester tujuh. Aku sudah menyandang gelar sebagai istri. Tidak pernah aku terbayangkan akan menikah dalam waktu dekat, apalagi masih kuliah. Mungkin saat ini aku belum terasa pontang-panting nya. Karena aku belum masuk kuliah. Beda cerita, jika kuliahku sudah mulai aktif. Menjadi istri seorang dokter sekaligus menjadi mahasiswi. Dua hal yang sangat bertolak belakang segala kegiatannya.
"Zaskia adikku?, apa kamu sudah pulang kerumah dek?. Kak Renita sudah ikhlas menjalani tugas berat dalam satu waktu sekaligus. Bahkan kak Renita sudah rela berkorban dan mengalah dijodohkan dengan laki-laki yang bahkan tidak kakak kenal dek,". Ucapku dalam hati.
Benih-benih cinta belum muncul dihatiku untuk Mas Hamzah. Semua butuh waktu, jujur pernikahan ini teramat sangat mendadak. Jika bukan demi adikku Zaskia. Aku tidak ingin menikah dengan cara yang seperti ini. Aku merasa sedih, kadang menangis. Aku seperti tawanan yang tiba-tiba harus menurut semua perintah yang ada. Papah, putri papah dalam kondisi tidak baik-baik saja Pah. Papah disana lihat kan Pah?. Putri Papah hebat Pah, putri Papah rela berkorban demi kebahagiaan adik tirinya Pah. Papah bangga kan Pah disana?. Sampai detik ini aku belum sempat datang kemakam Papah kandungku. Rindu sekali rasanya, ingin melihat seperti apa wajah super heroku.
"Kapan aku bisa ke Jogjakarta?,". Ucapku lirih.
"Kamu mau ke Jogjakarta dek?,". Tiba-tiba mas Hamzah bertanya demikian. Ternyata suamiku mendengar ucapanku barusan. Kurasa tadi aku mengucapkan sangat pelan. Kenapa dia bisa dengar?. Ataukah memang pendengaran seorang dokter menjadi lebih kuat?. Entahlah.
"Ma-mas Hamzah?. Apa mas de-dengar ucapan Renita barusan?,". Tanyaku dengan gugup.
"Dengar sayang. Ayok, kalau mau ke Jogja sayang. Mas antar kamu. Mau ngapain ke Jogja?,".
"Re-re-renita rindu Papah mas. Renita ingin kemakam Papah. Seumur hidup, Renita belum pernah melihat wajah Papah kandung Renita, apalagi datang ke makamnya,". Air mataku jatuh menetes. Rasanya pahit sekali berbicara demikian.
"Astaghfirullah?!, kamu tidak sedang bercanda kan dek?. Kamu belum pernah sekalipun melihat wajah almarhum Papah kamu?. Meksipun di foto?,".
"Iya mas, sekalipun di foto. Belum pernah Renita melihat wajah Papah kandung Renita mas,". Ucapku pelan sembari menggelengkan kepalaku. Tangisku pecah, meluapkan segalanya yang menyesakkan dada.
Aku merasakan, mas Hamzah suamiku memeluk tubuhku. Aku diam dan tidak merespon apapun. Aku terus menangis, rasanya benar-benar sesak dan sangat sakit, jika sudah bercerita tentang Papah. Apalagi kalau teringat cerita Ibu tentang Ayah yang begitu bencinya dengan Papah.
"Tenanglah dik, jangan sedih. Kapanpun kamu mau ke makam Papah. Mas akan antar kamu. Kamu yang kuat ya sayang. Ada mas disini,".
"Hikkks.... hikks... hiksss,". Aku masih menangis dalam dekapan suamiku.
Mas Hamzah sangat baik. Meskipun aku belum terbiasa dan masih kaku dengannya. Dia tidak pernah marah padaku. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama sepertiku. Bagaimana tidak?, kami menikah bahkan tanpa saling mengenal sebelumnya. Apalagi menikah dengan sangat cepat kilat. Sejujurnya sempat sedih, ketika pindah dari rumah Ibu dan Ayah. Bertahun-tahun aku bersama mereka. Kini harus tinggal dengan laki-laki asing yang kini bergelar suami. Lebih berat lagi sebenarnya, aku sangat berat meninggalkan Ibu. Tapi adik-adik tiriku masih membutuhkan Ibu. Sudah empat hari aku pindah rumah. Rasanya rindu juga dengan orang-orang rumah.
"Mas?, besok ada jadwal praktek?,". Tanyaku pada mas Hamzah.
"Kenapa dek?, ada jam kosong sekitar pukul dua siang,".
"Jika tidak keberatan. Renita mau minta di antar main kerumah Ibu. Renita rindu dengan Ibu dan adik-adik,". Jawabku jujur.
"Bisa sayang. Nanti besok mas antar ya, sepulang mas praktek dari klinik,".
"Terimakasih banyak ya mas Hamzah. Maafkan aku masih sering merepotkan dan mengecewakan kamu mas,".
"Tidak apa sayang. Jangan berkata demikian. Kamu ini istriku. Aku harus menjaga kamu dengan sebaik-baiknya. Nanti Papah kamu marah padaku, jika aku tidak bisa menjaga dan membuat kamu bahagia dek,".
"Alhamdulillah,". Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
"Kalau mas ada salah, ingatkan mas Hamzah yah dek,". Ucap suamiku padaku.
Beginilah rasanya, menjadi kakak tertua. Harus memiliki rasa sabar yang luasnya melebihi hati sendiri. Rela berkorban demi kebahagiaan adik-adik nya, meksipun mereka adik tiriku. Aku di tuntut untuk menjadi perempuan yang kuat, meksipun terkadang menjadi bulan-bulanan ayah tiriku ketika ada yang tidak pas untuknya. Fisikku harus kuat, karena aku harus menjalani peran berat dalam satu waktu. Peran menjadi mahasiswi juga peran menjadi seorang istri. Tidak apa, asal adikku Zaskia bahagia. Mungkin sudah jalannya aku harus seperti ini. Terkadang merasa perih, karena harus aku yang dikorbankan demi kebahagian adikku. Cacian, hinaan, sisksaan fisik dan psikologis sudah sering aku terima dari Ayah. Aku merasakan bagaimana rasanya dibeda-bedakan karena aku bukanlah anak kandung Ayah. Aku harus bagaimana lagi?, selain bersabar dan terus bertahan hidup. Aku hanya memiliki seorang Ibu, tanpa Papah. Siapa yang lebih nelangsa selain aku?, dipaksa menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak pernah aku kenal sebelumnya demi agar anak kandung Ayah tiriku bahagia. Tidak hanya itu, aku bahkan tidak pernah melihat seperti apa wajah laki-laki hebat yang telah menjadikan aku ada.
"Mas?, kenapa kamu mau dijodohkan dengank?,". Tanyaku begitu tangisku mereda.
"Tidak tahu dik. Jujur saja, saat Ayah kamu menyebutkan nama panjang kamu. Hati mas merasa nyaman dan yakin dengan sendirinya. Sungguh mas tidak mengada-ada. Aku sendiri sebenarnya bingung, kenapa bisa begini. Padahal aku sama sekali tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya. Ada apa?, kenapa kamu bertanya demikian padaku dik?. Aku tahu, ini sulit bagimu. Tidak apa kok, mas mengerti,".
"Maafkan Renita mas. Renita hanya butuh waktu saja. Semoga kamu mau sabar mas Hamzah,".
"In syaaAlloh dik. Semua butu proses. Kita sama-sama belajar dan beradaptasi,".
"Tapi Renita bahkan masih kuliah mas?,".
"Mas dan keluarga mas tidak mengharuskan wanita yang akan kunikahi itu sudah menjadi sarjana, dari orang kaya, atau bahkan lebih parahnya lagi harus sama-sama seorang dokter dek. Jodoh itu seperti rezeki. Dan kamu rezeki yang Allah kasih untukku,". .
"Syukurlah mas, maaf jika nanti aku keteteran mas. Karena Renita harus menjalankan dua amanah sekaligus. Menjadi Istri dan menjadi mahasiswi,".
"Tidak apa dek. Kamu jangan sungkan-sungkan padaku. Aku ini suami kamu, suka duka kita harus terbuka satu sama lain. Jangan ada yang ditanggung sendiri yah,".
"In syaaAlloh mas Hamzah. Terimakasih,".
"Sama-sama Istriku,".
Tenang, itu yang aku rasakan ketika aku mendengar jawaban dari suamiku. Tidak dipungkiri, seorang dokter pasti menginginkan pasangan hidup yang sederajat dengannya. Semoga, benih-benih cintaku untuk mas Hamzah segera muncul. Hanya itu yang saat ini aku doakan.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat