Pertemuan kembali dengan tidak sengaja antara Ririn dengan Raka, membuat mereka terikat dalam sebuah pernikahan. Karena kesalahannya di masa lalu membuat Ririn terpaksa menerima pernikahan ini.
Ternyata ada seseorang yang selama ini sengaja memanfaatkan Ririn untuk menghancurkan Raka.
Apakah Ririn akan melindungi suami yang telah memaksanya menikah dengan sebuah ancaman atau Ririn lebih memilih bekerja sama untuk menghancurkan Raka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emily dan Raka (Masa Lalu) Part 2 End
Pagi hari ini sebelum berangkat ke perusahaan, Raka mengantarkan Emily pulang ke kediaman papanya. Tuan Bagaskara langsung berangkat menuju ke Jakarta, setelah mengetahui keberadaan putrinya.
Raka sedikit pun tidak menyadari wajah Emily yang duduk di sampingnya itu terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Sepanjang perjalanan Raka sibuk memperhatikan tablet yang ada di tangannya.
"Emily, turunlah. Kita sudah sampai." Raka yang sudah berjalan beberapa langkah ke depan kemudian berbalik lagi karena Emily tak juga keluar dari dalam mobil. Padahal Arya sudah membukakan pintunya.
Raka mengulurkan tangannya pada Emily. Tapi gadis itu hanya memandang tangan yang menggantung di depannya. Kemudian Emily beralih menatap Raka seperti tatapan memohon. Namun Raka hanya mengabaikannya, karena tidak ingin Emily berharap lebih darinya.
"Terima kasih, Raka. Sudah mengantarkan Emily. Maaf, sudah merepotkan." Ucap Tuan Bagaskara.
Raka mengangguk "Saya permisi." Raka dan Arya meninggalkan kediaman Tuan Bagaskara.
*
Tuan Bagaskara menatap Emily dengan marah.
"Beraninya kau pergi tanpa seizin papa !"
"Papa pasti tetap tidak akan mengizinkan ku pergi meskipun aku sudah memohon." Emily menjawab perkataan papanya dengan sama marahnya.
"Papa tidak ingin kau menemuinya lagi. Bersiaplah kita akan kembali ke Belanda sebentar lagi."
Tuan Bagaskara dari awal sudah menentang keras perasaan cinta Emily kepada Raka. Setelah mengetahui bahwa Emily memiliki perasaan khusus untuk Raka, Tuan Bagaskara membawa Emily pindah ke Belanda.
Sebelum perasaan itu semakin mendalam, sebaiknya mereka harus segera dipisahkan sejauh mungkin. Nyatanya meskipun berjauhan selama bertahun-tahun Emily masih tetap mencintai Raka.
"Tidak, papa. Aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan tetap di sini bersama kak Raka." Emily melawan perintah sang papa. Kemudian pergi masuk kedalam kamar.
Tuan Bagaskara memegangi kepalanya yang terasa berdenyut melihat kelakuan putri semata wayangnya.
*
Emily mengerjapkan matanya, melihat langit langit di atasnya. Sepertinya sebuah pemandangan yang tidak asing baginya. Dia pun segera bangun dan langsung berteriak histeris.
"TIDAAAAKKKKK...!!! Aku tidak ingin disini !!!!"
Emily menyadari sekarang dia sudah berada dalam kamarnya. Sejak kapan dia kembali ke Belanda. Bagaimana dia bisa berada di sini.
Emily berlari menuju ke pintu kamar. Memutar-mutar handel pintu, tapi sayangnya pintu itu terkunci.
"Papa, buka pintunya. Hiks... hiks....hiks." Memukul mukul pintu sambil berteriak.
"Paaaa, tolong buka pintunya !!! Biarkan aku pergi, pa. Hiks... hiks... hiks." Tubuhnya merosot ke bawah, duduk bersandar di daun pintu sambil terisak.
Sepertinya tidak ada seorangpun di luar sana yang mendengarkannya. Para pelayan tidak ada yang berani membukakan pintu untuk Emily, karena memang sudah diberi peringatan oleh Tuan Bagaskara. Sekali pun Emily memohon dan merayu.
Sudah dua minggu Emily di kurung di dalam kamarnya. Hari ini Tuan Bagaskara menemui Dokter Psikiater yang sudah hampir dua tahun merawat Emily.
Emily mengidap Major Depressive Disorder atau penyakit depresi mayor.
Penderita penyakit ini akan mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Pada tingkatan yang cukup parah, pengidap depresi mayor akan memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri. Tidak hanya itu, jenis ini dapat memengaruhi hubungan sosial pengidap dengan orang lain.
Tuan Bagaskara menghembuskan nafas panjang. Sebuah keputusan yang berat baru saja diputuskannya. Setelah mendapati Emily hampir bunuh diri dengan menggunakan kaca pecahan gelas untuk melukai pergelangan tangannya.
Tuan Bagaskara akan membuang egonya agar ia tidak kehilangan Emily. Dia akan menemui Raka dan memintanya untuk menikahi putrinya.
Emily begitu bahagia mendengar papanya akan menikahkannya dengan Raka.
Beberapa hari kemudian, Tuan Bagaskara berangkat ke Jakarta dan langsung menemui Raka.
"Saya akan melepaskan Emily. Usianya sudah cukup dewasa untuk menikah." Tuan Bagaskara memancing Raka untuk membahas masalah pernikahan.
Mengamati setiap perubahan ekspresi wajah pemuda di hadapannya. Raka hanya menanggapi dengan wajah datar. Tidak ada keterkejutan atau senyuman yang diperlihatkannya.
"Saya turut senang mendengarnya. Tuan pasti akan memberikan yang terbaik untuk Emily." Balas Raka, menanggapi perkataan Tuan Bagaskara.
"Kapan pernikahan Emily ? Saya akan berusaha untuk dapat menghadirinya." Lanjutnya lagi.
Lama tuan Bagaskara melihat kearah lawan bicaranya. Apa maksudnya, Raka berkata begitu.
"Apa kau membiarkan Emily menikah dengan pria lain ?" Tanya Tuan Bagaskara ingin menguji perasaan Raka.
"Selagi itu laki laki yang baik, yang bertanggung jawab dan menyayangi Emily, saya akan membiarkannya."
"Apa kau tidak mencintai putri ku ?" Tuan Bagaskara kali ini ingin benar benar memastikan bagaimana perasaan Raka yang sesungguhnya.
Raka menarik nafas dalam, melihat wajah Tuan Bagaskara.
"Saya rasa anda mungkin sudah salah paham. Kedekatan saya dengan Emily sejak dulu karena saya hanya menganggap Emily sebagai adik. Tak lebih dari itu." jelas Raka.
Kali ini Tuan Bagaskara yang dibuat terkejut oleh pernyataan Raka. Dalam pikirannya, hubungan cinta antara Emily dan Raka selama ini terhalang olehnya. Tapi nyatanya, Raka sama sekali tidak pernah mencintai Emily.
Dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan, Tuan Bagaskara mengakhiri pertemuannya dengan Raka.
"Saya harus pergi sekarang. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Tuan Bagaskara berucap tenang dan masih bisa menampilkan senyum di wajahnya.
Dia begitu pintar menyembunyikan emosi yang meluap-luap dalam hatinya.
Raka mengantarkan tamunya itu sampai ke pintu keluar ruangannya. Setelah itu dia melanjutkan lagi pekerjaannya.
Tuan Bagaskara pulang dengan perasaan marah yang luar biasa. Merasa dipermalukan dan terhina oleh penolakan Raka. Rasa bencinya kini sudah bertambah berkali kali lipat dari sebelumnya.
Dia berjanji pada dirinya sendiri akan menghancurkan Raka seperti Raka yang menghancurkan harapannya saat ini.
Beberapa hari telah berlalu. Emosi Emily makin tak terkendali setelah mengetahui dia tidak jadi menikah dengan Raka, seperti yang telah dijanjikan oleh papanya. Hampir sepanjang hari Emily menjerit histeris dan menghancurkan semua benda-benda yang ada disekitarnya.
Semakin hari keadaan Emily makin memprihatikan. Sekarang bukan saja jiwanya yang sedang sakit, tapi tubuhnya juga. Badannya semakin kurus, karena tidak ada makanan yang masuk kedalam perutnya. Badan yang kurus itu pun terlihat sangat lemah, seperti tidak memiliki tenaga lagi.
*
Beberapa bulan kemudian. Raka yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong harus pergi terbang ke Belanda. Bukannya mendapat undangan pernikahan, Raka malah mendapat kabar tentang kematian Emily. Sungguh, tidak pernah terpikirkan oleh Raka, Emily akan pergi secepat ini.
Menurut keterangan keluarga, Emily meninggal karena mengidap suatu penyakit. Raka sendiri pun menyaksikan sendiri seperti apa keadaan Emily di saat terakhirnya. Tubuh yang kaku itu terlihat begitu kurus, seperti tulang yang hanya dibungkus dengan kulit. Pipi yang dulunya berisi kini menjadi cekung.
Raka tidak pernah tahu jika selama ini Emily memiliki penyakit yang sampai merenggut nyawanya. Tuan Bagaskara bahkan tidak pernah bercerita apa apa kepadanya. Hanya beberapa bulan saja setelah Emily kembali ke Belanda, keadaannya jadi separah ini.
Dan sampai sekarang Raka tidak mengetahui penyakit mematikan yang diderita oleh Emily.
*
*
*
*
Bersambung. . .
dosaaa lhoo
gak berbelit
cap cus gas poool