seandainya suara - suara semangat di ujung Telepon sana, bisa aku tukar dengan kata "Hallo " dari Ibuku,mungkin akulah wanita yang paling berbahagia didetik ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kumala Nainggolan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENYUM GENIT
Tampaknya hari sudah sore ." guman Meilin , memandang pada Matahari diupuk barat.
Hmmm.... waktu sungguh begitu sangat cepat berjalan.
Tidak terasa sudah sore , padahal rasanya baru saja aku berada dipantai ini ." gumannya dalam hati.
Meilin pun berjalan kearah pantai yang lumayan dalam , dan akan hendak berenang .
Ia meninggalkan teman - teman yang masih tengah asik bermain dengan pasir .
Teman - temannya yang baru ia kenal hari ini melalui Hebrew.
Apakah kau ingin berlomba renang dengan ku ?" tanya seorang pria , yang adalah teman Hebrew tadi . Entah sejak kapan pria itu ada di sampingnya , atau tepatnya memperhatikannya sedari tadi.
Meilin tersenyum...
Ayolah...." pinta pria itu lagi dengan mengumbar senyum , dan terus mengikuti Meilin.
Pria bertubuh atletis tersebut , dan tampak tidak ada setitik noda pun pada wajahnya . Pria itu sungguh menggoda jiwa renang Meilin . Jiwa renang Meilin pun meronta - ronta untuk segera menyetujui tantangan dari pria itu , dan ingin segera mengalahkan pria tampan yang ada disamping nya itu.
Baik lah ." ucap Meilin dengan nada tenang.
Lalu kemudian mereka berdua berenang sampai pada pembatas pantai , yang berbentuk bola yang mengapung.
Mereka sudah sepakat , perlombaan dimulai dari pembatas Pantai . Dan siapa yang lebih dulu sampai ketepi pantai , maka ia lah pemenangnya.
Lomba pun dimulai . tampak mereka pun berenang . Menggayuh Kaki dan Tangannya .Tampak dua manusia itu sangat semangat , tidak ubah seperti Atlet renang.
Dari kejauhan juga tampak tepuk riuh teman - temannya pada Meilin , yang lebih dulu tiba ditepi pantai , seolah - olah mereka mengetahuii perlombaan renang itu.
Yaitu adalah Kompetisi antara Meilin dan Pria tersebut.
Para Pria itu sangat terkesima pada Meilin , karena sungguh mampu mengalahkan salah satu dari teman mereka itu.
Dengan napas yang terdengar ngos - ngosan Meilin berjalan menjauhi Air , yang tampak masih setinggi dadanya itu , dan meninggalkan pria tersebut , yang tengah masih berenang dengan ngos - ngosan juga . Padahal pria itu adalah perenang yang terbaik dari pria - pria lainnya yang ada disitu.
Hebrew berdecak sangat kagum pada Meilin .
Iya Tuhan ... Wanita apakah dia ini ?" guman Hebrew dalam hatinya , dan masih terus menatap Wanita itu.
Dari segi aspek manapun , ia tetap nampak mempesona , dan tentu sangat mempesona hatiku..." ucap bathinnya lagi.
Hei...kau sungguh luar biasa Nona , padahal pria itu adalah perenang hebat dibanding kita semua yang ada disini ." kata salah satu pria itu .
Iya ..tapi kau mampu mengalahkannya ." tambah pria lainnya.
Meilin hanya tersenyum , dan tampak napasnya belum stabil dan masih terputus putus.
Hmm..kau luar biasa Nona , aku menyerah atas kemenanganmu hari ini. . Aku sangat salut padamu ." ucap pria itu , setelah mereka berkumpul.
Kau boleh meminta apa saja untuk hadiah kemenanganmu hari ini ." ucap pria itu lagi , yang masih terkagum - kagum dengan kelihaian Meilin didalam berenang.
Awalnya pria itu hanya bercanda mengajak Meilin berenang.
Ternyata Meilin membeli tawarannya itu . Pria itu sungguh merasa malu dikalahkan seorang Wanita , apa lagi Wanita semanis Meilin. Sungguh ia merasa harga dirinya sudah dibeli oleh seorang Meilin.
Ingat Tuan , kau punya utang atas ucapanmu itu , dan atas kekalahanmu hari ini ." kata Meilin , sambil mengedipkan matanya yang tampak secerah Sunset disore itu.
Meilin pun tersenyum genit , sembari menyipitkan matanya .
Ahhh sial , wanita ini benar - benar menghancurkan hatiku.." guman pria itu dalam bathinnya.
Dan Ia pun tersenyum kecut pada Meilin , yang tampak sedang mengemas barang - barangnya pada Ransel kecil yang dibawanya.
Tampak Matahari sudah hampir tenggelam ketika mereka memutuskan untuk pulang.
Apakah kau membawa kendaraan ? " tanya Hebrew pada Meilin , ketika mereka mulai berjalan menjauh dari pantai itu.
Tidak..." sahut Meilin.
Apakah kau tidak keberatan jika kuantar pulang ? " tanya Hebrew lagi , ia sungguh berharap Meilin menerima tawaran dari jasanya itu untuk mengantarnya pulang.