"Apakah aku akan tetap seperti ini? Jika saja dulu aku tidak mengajaknya masuk kedalam rumah ini, mungkin ini tidak akan terjadi. Menyesal pun aku sudah tidak bisa" (Nara 25th)
"Maafkan aku mencintaimu dan juga dia. Jangan memintaku untuk memilih. Karena kalian adalah pilihanku" (Kendra 26th)
"Aku tau aku salah. Maafkan aku. Tapi, cinta ini telah tumbuh. Aku ingin pergi jauh dari kehidupan kalian. Apakah aku bisa?" ( Yuna 25th)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhifa Syafana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Berpisah
Sudah tiga hari Yuna terus berusaha mencari tahu keberadaan Kendra dan Nara. Dia saat ini berada di depan perusahan milik Julian. Yuna memaksa salah satu orang kepercayaan Kendra untuk mendapatkan informasi nama perusahaan yang suaminya itu datangi. Selama dua hari dia sengaja duduk di kafe tepat di depan gedung tinggi itu, berharap mendapatkan titik terang.
"Eh gimana kabar Bu Nara ya? Sampai sekarang belum masuk kerja," ucap salah satu pengunjung kafe yang duduk di dekat Yuna.
"Kasian dia. Gara-gara Mak lampir, Bu Nara harus di rawat. Dan katanya sih patah tulang," Yuna diam mendengarkan. Dia cukup terkejut mendengar kabar Nara.
"Eh tapi benar tidak sih pria yang waktu itu suaminya Bu Nara? Bukannya dia itu janda ya?" Mereka masih sibuk membicarakan Nara.
"Mungkin mantannya. Setahu gue Bu Nara itu janda. Gue sendiri yang memasukkan data pribadinya ke data perusahaan." Salah satu dari mereka adalah staff kepegawaian di kantor Julian.
"Wah berarti pria itu gak bisa move on dari Bu Nara. Buktinya masih saja menganggap Bu Nara istrinya," mereka mengangguk bersamaan membenarkan ucapan salah satu dari mereka.
Yuna mengepalkan tangannya. Dia ingin sekali memaki para wanita di dekatnya tadi. Tapi dia masih belum menemukan keberadaan Kendra dan baru hari ini dia mendapatkan sedikit informasi. Satu jam berlalu, mata Yuna melihat seseorang yang baru saja keluar dari perusahaan itu. Dia bergegas keluar dan segera menaiki taksi untuk mengikuti orang itu.
Akhirnya kendaraan itu berhenti di sebuah gedung apartemen. Yuna turun dari taksi dan berusaha mengikuti orang tersebut. Yuna terus mengikutinya, dan melihat di lantai berapa lift itu berhenti. Dia segera menyusul orang tersebut. Meskipun dia tahu akan sulit mencari di unit berapa dia berada saat ini, setidaknya dia bisa menunggu hingga orang itu kembali keluar. Hatinya semakin gusar, dia masih berusaha untuk tetap tenang. Apapun yang akan dia lihat nanti, dia sudah siap.
Di depan lift, dia berdiri dan memejamkan mata. Dua lorong dihadapannya membuat langkah kakinya berhenti sesaat. Dengan keyakinan hati, dia memilih lorong sebelah kanan. Dia menyusuri lorong itu dan berdoa semoga keberuntungan berpihak kepada dirinya. Sayup terdengar suara beberapa orang sedang beradu mulut. Dia mengenal salah satu suara itu.
"Sudah cukup. Kalian sudah berpisah dan kamu sudah memiliki istri. Jangan lagi mengusik kehidupannya. Biarkan dia bahagia dengan pilihan hidupnya saat ini. Ayo kita pulang, istrimu pasti sudah menunggu." Suara pria yang Yuna sangat kenali saat ini sedang berbicara dengan lembut.
"Tidak pah, aku akan pulang bersama Nara. Aku ini masih suaminya pah. Bahkan aku sama sekali tidak datang ke persidangan itu," mereka itulah yang saat ini Yuna cari. Perlahan kakinya melangkah ke arah mereka tanpa bersuara.
"Dasar hukum perpisahan kalian sudah jelas dan kuat. Meskipun kamu tidak datang dalam persidangan, perceraian kalian sah. Sudah cukup Kendra, Nara sudah kami anggap sebagai putri kami. Papa akan berbicara sebagai ayah dari Inara Ayunda, saya mohon jauhi dan tinggalkan putri saya. Biarkan putri saya bahagia. Tidakkah cukup rasa sakit yang anda ciptakan untuk putri saya. Saya mohon sekali lagi, ikhlaskan putri saya. Kembalilah kepada istrimu. Dia membutuhkan kamu, sayangi dia. Jaga dia dengan baik. Jangan sakiti dia seperti kamu melukai putri saya." Orangtua itu menangis meminta kepada putra kandungnya untuk meninggalkan anak angkat yang tidak lain mantan istrinya.
"Meskipun Kendra kembali kepada Nara dan membawanya pulang, Yuna akan tetap menjadi istri saya. Kami akan hidup seperti dulu. Dan pasti kami bahagia," ucapan Kendra memicu emosi Julian yang sejak tadi sudah ingin memukulnya. Dan benar saja tangannya melayang menyentuh rahangnya dengan keras.
"Julian!" Nara berteriak kencang dan berusaha menarik lengan Julian agar menjauh dari Kendra yang saat ini sudah tersungkur.
"Saya sudah habis kesabaran melihat kegilaan anda. Dimana hari nurani anda? Hanya nafsu yang anda utamakan tanpa memikirkan perasaan kedua wanita itu. Anda terlalu terobsesi dengan mereka. Mereka manusia bukan binatang yang bisa anda perlakukan seenak hati anda!" Sepupu sekaligus asisten Julian memeluk tubuhnya dan menariknya mundur.
"Anda bukan siapa-siapa dan tidak ada hak ikut campur dalam urusan ini. Dan saya minta anda silahkan pergi dari tempat ini. Ini masalah keluarga kami, anda hanya orang luar." Nara menjawab ucapan Kendra dengan penekanan.
"Julian calon suami saya. Anda tidak berhak mengusirnya yang seharusnya pergi itu anda. Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Dan mah, pah maaf jika Nara harus mengatakan ini. Saya tahu kalian sangat menyayangi saya, dan hanya menepati janji kepada mendiang kedua orang tua saya. Mungkin ini menjadi hari terakhir bagi saya menjadi putri papa dan mama. Maaf jika ini menyakitkan. Saya tidak ingin menyakiti Yuna yang kini menjadi menantu kalian. Bagaimana perasaannya jika mengetahui perihal ini? Meskipun saya pernah disakiti mereka, dengan ikhlas saya sudah memaafkan mereka dan kini saya sudah menemukan orang yang bisa membahagiakan dan menerima saya dengan tulus." Mama Indi tidak percaya Nara akan mengatakan hal itu. Beliau berjalan mendekati Nara yang kini duduk di kursi roda.
"Sayang, tidak harus seperti ini. Kami sangat menyayangi kamu nak. Kamu adalah putri kami. Kami juga menyayangi Yuna. Tetaplah menjadi putri kami," Mama Indi berjongkok dan mengecup menatap mata Nara. Keduanya menangis.
"Untuk saat ini keputusan ini yang terbaik mah. Nara hanya ingin hidup dengan tenang. Jika saya masih ada dalam lingkup keluarga mama dan papa, Kendra tidak akan berubah. Maafkan Nara jika menyakiti hati Mama dan papa. Saya akan kembali menjadi putri kalian nanti. Saya juga tidak ingin Yuna salah paham." Mereka berpelukan, mama Indi mau tidak mau harus menerima keputusan Nara.
"Kamu benar nak, Kendra sudah terlalu gila. Kami menghargai keputusanmu dan akan menunggu kamu pulang kepada kami sebagai putri kami," Kendra sudah sangat marah dengan ucapan Nara. Dia berjalan dan menarik lengan Nara kencang melupakan kondisi Nara saat ini.
"Ayo pulang, aku tau kamu hanya marah. Tidak baik marah seperti ini terus-menerus. Kamu masih memiliki suami. Pulang sekarang dengan saya!" Nara terjatuh dan Julian menahan lengan Kendra.
"Cukup!" Teriakan Yuna mengalihkan perhatian mereka.
"Yuna," mereka lirih memanggil nama itu karena terkejut.
"Jadi benar selama ini kamu tidak pernah melupakan Nara mas? Dan terus mencarinya?" Kendra masih memegang erat lengan Nara mengabaikan suara kesakitan dari wanita itu.
"Sayang, darimana kamu tahu aku disini? Bukankah sudah ku larang kamu untuk ikut?" Yuna berjalan pelan mendekati sang suami dan tangannya melayang cukup keras mengenai kedua pipinya.
"Inikah alasan kamu melarang ku untuk ikut mas? Apa kabar kamu Nara, sahabatku?" Yuna menoleh kearah Nara yang masih menahan sakit karena Kendra.
"Yuna, tolong bantu aku." Orang yang dia mintai tolong hanya tersenyum tipis.
"Aku pikir kamu sudah tidak mengingat mantan istrimu lagi mas, tapi nyatanya aku salah. Kamu masih terus mencarinya, bahkan berharap dia kembali. Apakah kamu tau mas? Bahkan aku sudah merencanakan untuk hamil kembali dan hidup bahagia bersama dengan mu. Hanya ada kita tidak dengan dia ataupun yang lain. Jika saat ini aku meminta kamu untuk memilih, apakah kamu bisa memilih mas?" Kendra dan Yuna saling menatap. Dia berusaha menahan air matanya.
"Sejak dulu mas sudah mengatakan, kalian bukan pilihan. Kalian memiliki tempat yang sama di hati mas. Dua wanita yang mas sangat cintai. Jangan suruh mas memilih, karena tidak akan pernah ada pilihan." Julian mengepalkan tangannya. Nara melihat amarah itu, dan berusaha menahannya menggunakan tangan lainnya.
"Meskipun aku tau jawaban itu akan kembali muncul, tapi aku masih memiliki keyakinan kamu hanya akan memilihku. Huh, kamu egois mas. Terlalu serakah. Sakit jiwa kamu mas. Susah payah aku mempertahankan rumah tangga kita dan inikah balasan mu?" Yuna berjalan mendekati Nara dan berjongkok. Dia perlahan melepaskan tangan Kendra yang mencengkram erat lengan kecil itu.
"Nara, sahabat sekaligus kakakku, maafkan aku. Mungkin kamu sudah bosan dengan perkataan ku ini, tapi ijinkan aku untuk mengatakan lagi. Maafkan aku, karena aku masuk kedalam rumah tangga kalian semua hancur. Mungkin aku sudah mendapatkan karma dari perbuatanku itu, aku kehilangan anakku seperti apa yang kamu rasakan saat itu. Hidupku sudah hancur sejak saat itu. Kini aku akan kehilangan pria yang disebut suami. Masih maukah kamu memaafkan aku Nara?" Tanpa menjawab ucapan Yuna, dia memeluk tubuh sahabat sekaligus adiknya. Mereka saling merindukan.
"Aku sudah memaafkan kamu sejak lama. Ini bukan kesalahan mu saja, ini juga salah ku karena membawa dan mengijinkan kamu untuk hidup bersama kami," mereka saling menatap dan tersenyum setelah melepaskan pelukan.
Yuna kembali berdiri dan berjalan mendekati keduanya mertuanya yang saat ini masih diam menatap Yuna. Mereka merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Yuna.
"Mah, pah maafkan Yuna karena malam itu Yuna menguping pembicaraan kalian. Dan membuat Yuna tau dimana mas Kendra berada. Terima kasih sudah menyayangi Yuna seperti anak sendiri. Maafkan Yuna yang membuat banyak kesalahan. Saya pamit mah, pah. Bolehkah Yuna tetap menganggap kalian sebagai orang tua Yuna jika suatu saat nanti kita bertemu lagi?" Mama Indi memeluk Yuna dan menangis. Dia mengerti maksud ucapan Yuna.
"Kamu juga putri kami nak, maafkan putra mama yang begitu serakah. Berbahagialah nak, jika kamu merindukan kami atau membutuhkan bantuan kami datanglah nak. Kami akan selalu menjadi orang tua kamu." Papa Kendra menjawab semua ucapan Yuna.
"Terima kasih mah, pah. Jaga diri kalian baik-baik." Mereka mengangguk dan perlahan melepaskan genggaman tangan Yuna. Dia kembali berjalan dan berdiri tegak dihadapan Kendra.
"Mas, ijinkan aku yang mengambil keputusan. Aku ingin kita bercerai mas. Aku tidak akan memerlukan ijinmu, aku mengatakan ini dihadapan mereka sebagai saksi. Hari ini aku melepaskan kamu mas. Aku akan kembali ke rumah dan mengurus surat perceraian kita. Berbahagialah mas, carilah wanita yang tepat. Mungkin aku ataupun Nara bukanlah jodohmu. Satu yang perlu kamu ingat, jangan pernah kamu menjalin hubungan dengan wanita manapun jika masa lalu mu belum selesai. Kami memang sudah selesai dengan kamu, tidak untuk kamu yang egois. Aku pamit mas." Dia mundur perlahan dan menjauhi Kendra.
.
"Tidak akan ada perceraian diantara kita. Bagaimana kamu bisa hidup jika berpisah denganku. Selamanya kamu tetap akan menjadi istriku. Aku akan bersikap adil dengan kalian berdua," Yuna tersenyum miris mendengar itu. Julian sudah dipuncak amarahnya, dia memanggil polisi untuk membawa Kendra pergi dari sana.
Apakah mereka berhasil menyembuhkan Kendra?.....tunggu selanjutnya...
Jangan lupa jempolnya dong kakkak cantik dan tampan...
LN ada loe, gue..Hadeuhhh bnyak ngawur ini othor
ada keselnya ada meweknya ada bapernya.
upnya jgn lama2 ya soale penasaran sm kelanjutan ceritanya...🙏💪👍🫶