Dipaksa menikah dengan musuh bebuyutannya di kampus karena sebuah perjodohan yang dibuat oleh kedua kakek mereka yang saling bersahabat. Membuat hidup Johan dan Jihan penuh dengan warna.
Bukan warna kebahagiaan namun warna pertengkaran di setiap hari yang mereka lalui bersama. Johan yang memiliki perasaan cinta pada Jihan namun tak bisa mengekspresikannya dengan baik karena sikap kaku, dingin dan isengnya membuat ia selalu bersikap menyebalkan di mata Jihan. Jihan selalu tak pernah tak marah jika bertemu dengan Johan.
Mampukah Johan membuat Jihan jatuh cinta padanya, meski Jihan sudah terlanjur sebal dan benci pada Johan?
Lalu bagaimana kisah rumah tangga tak biasa mereka akibat perjodohan ini?
Yuk simak novel ini hingga akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marisa Dewi Penolong
Marisa yang telat datang ke kampus, melihat ada keramaian di lorong pun segera mendekati pusat keramaian tersebut.
"Ada apa sih? Ada apa rame banget?" Tanya Marisa pada setiap orang yang ia lewati.
Namun tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Marisa. Bukan karena mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi karena mereka mengetahui jika Jihan adalah sahabat Marisa salah satu anggota himpunan mahasiswa yang sangat aktif di kampus ini.
Marisa berlari sekencang-kencangnya, ketika salah satu teman himpunan mahasiswa yang cukup dekat dengannya datang menghampiri dirinya.
"Gawat Sha! Sahabat lo lagi di bully sama gengnya Siska. Cepatlah tolongin gue mau, laporin hal ini sama dosen." Ucap Lidya teman terdekat Marisa saat berada di organisasi himpunan mahasiswa.
"Apa-apaan lo? Sok jago banget lo! Lo kira kampus ini ring tinju!" Marisa mendorong tubuh Siska sekuat tenaga hingga ia terjungkal ke lantai.
Siska yang melihat siapa yang mendorong dirinya, memilih untuk tidak melakukan perlawanan. Karena Siska adalah orang terpenting di organisasi himpunan mahasiswa. Ia akan bermasalah jika menyentuh Marisa. Marisa segera berjalan menghampiri Jihan yang berdiri dengan gemetar.
Marisa sangat tahu bahwa Jihan kini dalam keadaan ketakutan. Marisa menyingkap rambut yang menutupi seluruh wajah Jihan. Betapa terkejutnya Marisa saat melihat wajah Jihan sudah tak berbentuk lagi, banyak luka lebam pipinya pun memerah bahkan bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.
"Gila lo ya! Kriminal! Gue akan laporin hal ini ke rektor! Biar lo di DO sekalian." Pekik Marisa yang kini membalikkan keadaan.
Siska terlihat ketakutan dan memohon ampun di bawah kaki Marisa. Ia berharap Marisa tidak akan melaporkan tindakannya terhadap Jihan pada rektor.
"Cih, makanya lo jadi manusia kalau mau lakukan sesuatu itu dipikir dulu, jangan gunakan emosi lo. Lo itu mahasiswi punya otak buat mikir, bukan ditaruh di kuas make up Lo. Lo pasti ngeributin masalah Johan ataupun Pak Damian 'kan sama Jihan?" Ucap Marisa pada Siska dan mahasiswi lain yang masih mengerubungi mereka.
Tatapan mata Marisa saat bicara begitu tegas dan bicaranya pun begitu lugas. Hingga membuat deretan mahasiswa yang berkerumun pun menaruh simpatik padanya.
"Kalian tuh menyerang orang yang salah. Jihan itu sama seperti kalian cuma sekedar ngefans sama Pak Damian, gak lebih dari itu. Kalau Pak Damian yang suka sama Jihan, itu bukan salah Jihan, juga bukan salah Pak Damian. Gue rasa kalian itu nggak bego-bego amat. Cinta itu datang secara tiba-tiba nggak harus sama orang yang cantik,yang kaya, yang pinter, atau yang bego sekalipun kayak kalian. Dan untuk permasalahan Johan sama Jihan. Emang kalian siapa? Punya hak apa melarang Johan nikah sama Jihan? Kalian tuh nggak punya hak apapun untuk melarang ataupun misahin Johan dan Jihan. Sekarang gue minta kalian bubar. Lo semua datang ke sini buat kuliah kan bukan buat mejeng?" Pekik Marisa dengan kultumnya.
Usai Marissa mengucapkan kultumnya, seluruh mahasiswa yang berkerumun pun membubarkan diri. Pak Damian yang sejak tadi mendengarkan perkataan Marisa pun terkagum-kagum dengan sosok Marisa yang tak kalah menarik dengan Jihan. Kebiasaan perempuan biasanya kalau ada temannya dianiaya, ia akan balik menganiaya orang tersebut. Namun hal ini urung dilakukan oleh Marisa. Siska akhirnya diamankan para Dosen dan juga satuan keamanan kampus. Ia dibawa ke kantor untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Marisa, tolong bantu bawa Jihan ke klinik kampus ya!" Perintah Dosen tampan itu yang hanya diangguki oleh Marisa.
"Jie lo kuat jalan ga?" Tanya Marisa pada Jihan yang terlihat lemas tak bertenaga.
"Gue mau Johan, gak mau ke klinik. Gue takut sama Dokter, Sha." Jawab Jihan yang membuat Marisa tepok jidat.
Sahabatnya ini memang paling-paling. Tentunya paling nyusahin Marisa dengan semua rasa takut dan kemanjaannya. Meski Marisa sering direpotkan oleh tingkah Jihan, namun Marisa sangat senang bersahabat dengan Jihan, yang dibalik tingkah menyebalkannya itu sahabatnya ini memiliki hati yang tulus dan apa adanya.
"Ya, lo ke klinik dulu, nanti Johan, gue suruh datang ke sini." Ucap Marisa yang coba merayu Jihan.
"Mana bisa? Dia lagi pergi keluar kota." Jawab Jihan lemas tak bergairah.
Melihat Marisa kesulitan membawa Jihan ke klinik. Pak Damian pun datang menghampiri.
"Kenapa Marisa? Apa ada kesulitan?" Tanya Pak Damian pada Marisa.
"Gak ada kok Pak. Ini hal biasa, jadi tolong dengan hormat, Bapak menyingkir dulu. Sebelum saya makin ribet ngurus Jihan." Jawab Marisa dengan tegas.
Pak Damian yang dibuat terbelalak dengan sikap dan ucapan Marisa terhadap dirinya. Baru kali ini ada mahasiswi yang berani mengusir dirinya. Padahal niat dia baik menghampiri kedua mahasiswinya hanya untuk sekedar membantu namun ditolak mentah-mentah dan diusir oleh salah satu diantara mereka berdua.
Saat Pak Damian sudah membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan keduanya. Dengan gerakan cepat Marisa segera menghubungi nomor ponsel Johan.
"Di mana lo Jing?" Tanya Marisa blak-blakan pada Johan.
"Di jalan. Kenapa?" Jawab Johan yang balik bertanya pada Marisa.
"Bini lo nih. Dikeroyok, abis mukanya ditabokin sama Siska."
"Hah, jangan becanda lo Nyet!" Ucap Johan tak percaya.
"Yeh, mana gue bohong. Coba aja VC." Balas Marissa yang merubah panggilannya menjadi panggilan video call.
"Ya, ampun. Gak cantik lagi deh bini gue." Respon Johan yang mendapatkan tatapan tajam dari Marisa.
"Sakit gak Jie?" Tanya Johan lembut pada Jihan.
"Sakit," jawab Jihan singkat dengan diiringi tetesan air mata.
"Jangan nangis Jie! Gue udah dalam perjalanan pulang kok. Sabar ya! Masi bisa ikut kuis gak? Kalau gak bisa pulang aja. Gue hubungin supir ya. Biar jemput lo."
"Gak mau. Mau dijemput lo aja Joe." Jawab Jihan lirih. Ia menolak dijemput oleh supir.
Sesering apapun mereka ribut, sekasar apapun Johan padanya selama ini. Disaat seperti ini Jihan selalu membutuhkan Johan. Ini bukanlah kali pertama Jihan mengalami bullying karena Johan. Saat di SMP bahkan di SMA, Jihan pun mengalaminya. Maka dari itu wajar saja jika Jihan memiliki rasa takut berlebih pada fans fanatik Johan.
"Ya. Tunggu ya. Nanti gue jemput di kampus. Sekarang lukanya bersihin dan obatin dulu di klinik nanti infeksi Jie." Pinta Johan lagi, yang lagi-lagi di tolak Jihan.
Johan menghembuskan nafas kasarnya. Ia berusaha bersabar menghadapi sikap keras kepala Jihan yang hanya ingin dirinya.
"Ok deh, Sekarang gini. Marisa tolong bersihin luka bini gue pakai tisu basah atau tisu kering atau apalah ya. Gue secepatnya datang jemput bini gue. Gue titip dia sama lo dulu. Gue pastiin sebelum dia selesai mata kuliah Pak Damian gue udah dateng." Tukas Johan yang kemudian menutup sambungan panggilan teleponnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mampir Ke sini ya guy...