Sequel Cold Husband.
Elleora, tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan jatuh cinta pada pria ketus, angkuh dan menyebalkan.
Kennard Xavier Chin adalah putra sulung pasangan Dannis Chin dan Araabella Islean Frederic. Tanpa sengaja bertemu dengan gadis ceroboh seperti Elleora, yang ternyata adalah sekertaris barunya di kantor.
Karena suatu kejadian, membuat Ken berhutang budi pada Rara, entah kenapa dengan hatinya. Ken mulai merasakan ada yang aneh dengan hatinya.
Terlebih, Rara memiliki wajah yang begitu mirip dengan mantan kekasihnya yang sudah meninggal beberapa tahun silam.
Mungkinkah, Kennard menyukai sekertaris barunya itu? Lalu apa jadinya, jika gadis itu malah ingin menjauh darinya, hingga ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor Kennard.
Ikuti terus ceritanya ya 😅
LIKE
KOMEN
RATE BINTANG LIMA
gomawo 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apple Cherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MYDAH : Membingungkan part 2
"Ken, bagaimana kalau minggu depan kita adakan piknik bersama, kita ajak Rara, Kevin, dan Wei juga, sudah lama kan kita tidak berkumpul," ajak Araa.
Rara dan Wei saling melirik, mereka berdua hanya diam saja, tidak ikut menanggapi.
"Aku setuju, bagaimana kalau kita ke pantai?" sahut Lily, seperti biasa ia selalu paling antusias diantara yang lain.
"Boleh juga ke pantai, kalau papa setuju saja," Dane ikut menimpali.
"Jadi kau bagaimana Ken?" tanya Araa pada putra sulungnya.
Ken seperti biasanya, dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Jadwalku bagaiman Kevin?" tanya Ken pada asisten pribadinya.
"Kalau Tuan mau, saya bisa mengaturnya kembali, tidak ada masalah," jawab Kevin.
"Baiklah aku ikut kalian saja, terserah." ucap Kennard.
"Horee.. sudah lama sekali aku ingin piknik keluarga, pasti sangat menyenangkan." tutur Lily.
"Kau tidak masalah kan ikut?" tanya Ken pada Rara.
Rara tersenyum tipis.
"Aku terserah saja," jawab Rara.
"Wei kau harus ikut, kita kan sahabat." Lily merangkul Weiwei, "Baiklah," jawab Wei.
Dan semuanya akhirnya sepakat untuk pergi berlibur ke pantai minggu depan.
***
Setelah selesai sarapan, semuanya kembali ke aktifitas mereka, Lily dan Wei pulang ke rumah, Lily mengajak Wei menemaninya di rumah karena mama dan papanya pergi ada urusan sampai sore nanti.
Sedangkan Kevin kembali ke perusahaan, untuk mengurus pekerjaan yang belum selesai.
Saat ini hanya tersisa Ken dan Rara di apartemen, Kevin sudah membawa beberapa dokumen penting yang harus di periksa oleh Rara, Ken ikut duduk di sebelah Rara sambil mengecek pekerjaan sekertarisnya itu.
"Berikan dokumen yang itu," ucap Ken menunjuk satu dokumen yang ada di depan Rara.
"Baik Tuan, ini silahkan." sahut Rara sambil menyerahkan dokumen tersebut.
"Hmm.." sahut Ken masih dingin.
Rara kembali ke pekerjaannya, sebenarnya ia merasa canggung, beberapa hari ini ia berada di apartemen bersama dengan Ken, bahkan ia sempat menginap, rasanya aneh saja untuknya, terutama dengan perasaanya sendiri, sedangkan ia melihat bossnya seolah sangat santai tanpa merasa canggung sama sekali, seolah biasa saja saat berada di dekat Rara, itu yang ada di dalam pikiran Rara saat ini.
"Kau kenapa malah melamun?" tanya Ken.
Rara terkejut, ia segera mengambil dokumen di depannya, lalu kembali mengeceknya.
"Maaf Tuan," sahutnya.
"Kau merasa canggung?" tanya Ken sambil membuka lembaran dokumen di tangannya.
"Sedikit." jawab Rara jujur.
"Biasa saja, aku tidak bermaksud macam-macam terjadapmu, ini murni hanya karena pekerjaan," ucap Ken, Rara hanya bisa mengangguk, mengiyakan saja.
Walau dalam hatinya merasa bingung, ia sendiri tidak mengerti kenapa perasaannya aneh setiap kali ada di dekat Ken, seperti ada yang bergetar, terutama saat mereka berdua berada sangat sekat seperti kemarin, jantungnya serasa akan lepas, berdebar-debar tidak jelas, pikirnya.
"Kenapa kau tidak mencari pacar? apa tidak ada pria yang mencoba mendekatimu?" tanya Ken.
Rara terkaget mendengar pertanyaan dari Ken barusan, kenapa Ken malah menanyakan urusan pribadi, padahal tadi dia sendiri yang bilang kalau ini hanya membahas pekerjaan saja, batinnya.
"Hmm.. saya tidak sempat memikirkan hal itu Tuan, saya terlalu sibuk, sekalinya saya bertemu pria malah pria itu berniat buruk terhadap saya, saya trauma, jadi saya pikir lebih baik seperti ini saja." jawab Rara.
Ken terdiam, jadi selama ini Rara merasa trauma karena ada pria yang pernah berusaha melecehkannya, batin Ken.
"Tuan, sepertinya semua sudah selesai saya cek, dan Tuan tinggal tanda tangan saja, setelah itu semuanya beres," ucap Rara.
Ken malah termenung, memikirkan perkataan Rara sebelumnya.
Ia menyentuh lengan Ken untuk sekedar menyadarkan Ken yang masih melamun.
"Tuan? apa Tuan mendengar saya?"
Ken pun segera tersadar dari lamunanya.
"Astaga, ada apa?" decaknya kaget.
"Maaf tadi Tuan melamun, saya sudah selesai mengecek semua dokumennya, dan hanya tinggal mendapatkan tanda tangan Tuan saja, ini Tuan." Rara menyerahkan dokumen tersebut kepada bossnya.
"Ah baiklah, maaf tadi aku tidak fokus." jawab Ken, ia mengambil dokumen tersebut dan langsung menandatanganinya.
"Masalah pria yang kurang ajar terhadapmu, itu tidak perlu kau pikirkan lagi, aku sudah memastikan dia tidak berani mendekatimu lagi, kenapa kau tidak melaporkan dia ke kantor polisi saja sejak dulu?"
Rara tersenyum tipis.
"Mana mungkin polisi mendengarkan penjelasanku, laporanku hanya ibarat kertas kosong saja, pria itu memiliki kekuasaan, yang membuatnya tetap aman, sedangkan aku ini siapa," sahutnya.
Ken terdiam lagi, "Kekayaan dia tidak ada apa-apanya, hanya seperti debu saja, tidak ada artinya." ucap Ken dengan entengnya.
"Itukan bagi Tuan, sedangkan bagi orang kecil seperti saya, hanya akan semakin menyusahkan saja, aku lebih baik diam,"
Ken menganggukkan kepalanya.
"Benar juga, tapi dia sekarang berurusan dengan Kennard, jadi jangan harap ia bisa kabur, karna aku tidak akan membiarkannya." tegas Ken.
Rara terdiam, ia mendadak cemas dengan perasaannya sendiri, ia bingung saat ini ia seolah di hembuskan angin segar yang memabukkan, karena kata-kata Ken barusan yang seperti sedang membelanya.
"Terimakasih Tuan, tapi Tuan terlalu baik, aku takut hal itu malah membuatku salah paham," ucapnya, Rara adalah orang yang suka berterus terang, jadi ia tidak ragu mengatakan hal itu pada bossnya.
Ken menggaruk keningnya, ia juga heran kenapa belakangan sikapnya jadi aneh.
"Maaf, tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, ini karena saat ini kau adalah bagian dari perusahaanku, kau adalah sekertarisku, aku hanya berusaha membantu saja, tidak lebih, jadi kuharap kau tidak salah paham tentang ini."
Rara mengangguk.
"Baik Tuan, saya juga mana berani berpikiran macam-macam, kalau begitu sekarang apa tugas saya? karena pekerjaan yang tadi sudah selesai." Rara berusaha tetap tersenyum dan profesional, walau dalam hatinya mendadak ada rasa kecewa, apa yang sedang ia harapkan sebenarnya, mana mungkin bossnya menyukainya, itu mustahil, batin Rara.
"Sudah selasai semua, kau boleh kembali ke rumah, dokumen ini biar Kevin yang membawanya ke kantor nanti," sahut Ken.
"Tapi ini belum jam pulang Tuan, apa tidak apa-apa?" tanya Rara lagi.
Ken mengernyitkan kening.
"Apa kau mau menemaniku disini sampai malam seperti kemarin?" tanya Ken.
Rara menggeleng, " Maaf Tuan, bukan begitu maksud saya, baiklah kalau memang sudah selesai saya akan segera pulang, permisi Tuan." Rara beranjak dari duduknya, bermaksud untuk pulang.
Tapi Ken malah menarik tangan Rara, membuat Rara menghentikan langkahnya.
"Ada apa Tuan?" tanyanya terkejut.
"Tidak, terimakasih karena sudah membantuku, hati hati di jalan." Ken melepaskan genggaman tangannya pada Rara.
"Ah itu, baik, terimakasih kembali." jawab Rara, ia segera mengambil tasnya dan keluar dari apartemen Ken.
________________
Author : Cherry mau tanya ges, kalau kalian dapat boss kayak Ken, sikapnya tuh begitu kayak ngasih harapan tapi ujung2nya cuek, kalian bakal baper gak sih? jawab di kolom komen ya 😒😒😂
Jangan lupa Vote nya readers, 😉😉🤗