Dambi nekat mencari gigolo untuk memberikan keperawanannya. Ia pikir kalau dirinya tidak perawan lagi, maka laki-laki yang akan dijodohkan dengannya akan membatalkan pertunangan mereka.
Siapa sangka kalau gigolo yang bertemu dengannya di sebuah hotel adalah profesor muda di kampusnya, pria yang akan dijodohkan dengannya. Dambi makin pusing karena laki-laki itu menerima perjodohan mereka. Laki-laki itu bahkan membuatnya tidak berkutik dengan segala ancamannya yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Jadi, jelaskan kenapa kamu nggak cerita tentang pertunanganmu? Aku bahkan hanya mengetahui dari Gery." kata Rassya melemparkan tatapan tajamnya ke Dambi. Mereka sudah berada di sebuah cafe yang biasa mereka datangi.
Waktu mendengar pertama kali dari Gery, Rassya sangat marah. Pasalnya mereka berdua adalah keluarga tapi dia tidak tahu sama sekali. Sangat tidak masuk akal. Apalagi dia dan Dambi sangat dekat dari kecil. Dia juga tidak tahu laki-laki mana yang bertunangan dengan adik kesayangannya ini. Bagaimana kalau laki-laki itu adalah sejenis laki-laki brengsek yang hanya mau mempermainkan adiknya?
Dambi menyengir. Ia sedikit malu karena beberapa orang dalam cafe tersebut yang duduk berdekatan dengan meja mereka, sesekali melirik mereka karena suara kencang Rassya.
"Aku dipaksa. Aku terpaksa setuju bertunangan karena mama sama papa. Mereka bersikeras mau aku menikah dengan laki-laki menyebalkan itu." ujar Dambi. Rassya mengernyit.
"Laki-laki menyebalkan?"
"Hm," Dambi mengangguk pasti. "Laki-laki itu sangat menyebalkan." tambahnya.
"Kau ingin aku memberinya pelajaran?" tawar Rassya. Siapaapun yang akan membuat adiknya tidak senang akan dia beri pelajaran.
Mata Dambi mengerling senang. Ia memutar otaknya. Mungkin kak Rassya bisa membantunya memberikan peringatan ke Angkasa agar pria itu tidak bertindak seenaknya sama dia lagi.
"Gimana kalau aku bawa kak Rassya ketemu dia besok? Aku akan cari cara membawanya ke tempat kakak." ujar Dambi mulai mengatur rencana. Rassya ini sosok yang menakutkan. Banyak orang yang takut cari gara-gara dengannya. Waktu SMA dulu dia punya genk. Posisinya waktu itu adalah wakil ketua. Termasuk yang paling ditakuti SMA-SMA lain. Bahkan preman saja takut padanya.
Walau Angkasa juga terlihat menakutkan, tapi pria itu tidak bisa berbuat apa-apa kalau bertemu kak Rassya. Dambi tersenyum penuh kemenangan. Ia sudah membayangkan bagaimana tingkah Angkasa didepan kakaknya besok.
"Terserah kamu. Ayo makan dulu." kata Rassya. Ia memang penasaran laki-laki seperti apa yang bertunangan dengan Dambi, ia ingin bertanya tapi perutnya sudah lapar. Makan dulu. Lagipula besok Dambi akan membawa pria itu bertemu dengannya.
***
"Kau darimana saja?" suara itu berhasil menghentikan langkah Dambi. Ia menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Angkasa sedang berdiri di depan pintu kamarnya, bersandar di pintu dengan kedua tangannya terlipat di dada sambil menatap Dambi dengan tatapan menyelidik. Dambi menatap pria itu malas. Kenapa lagi dengannya?
"Bukan urusanmu." balasnya hendak melanjutkan langkah ke kamarnya namun lengannya tiba-tiba ditarik oleh Angkasa memaksanya harus menghadap lelaki itu dalam posisi dekat. Dambi menatap pria itu kesal.
"Kau tunanganku, aku berhak tahu kau pergi kemana saja sampai pulang semalam ini." nada Angkasa begitu rendah. Masih jelas dalam ingatannya Dambi tersenyum lebar pada lelaki sialan itu siang tadi. Dan Angkasa kesal mengingat itu, mengetahui tunangannya ini dekat dengan pria lain selain dirinya, membuatnya merasa marah dan cemburu.
"Aku di kosannya Yuka. Puas sekarang?" sahut Dambi asal. Ia memang berbohong, tapi dia tidak peduli. Yang penting Angkasa sudah mendapat jawabannya agar dia bisa melepaskan diri dari cengkeraman laki-laki itu. Sayangnya, belum ada tanda-tanda sama sekali kalau Angkasa akan melepaskan genggamannya. Tatapan pria itu makin tajam, seolah tidak percaya pada perkataan Dambi.
"Kau bohong." kata Angkasa kemudian. Ia terus menatap Dambi.
"Aku melihatmu pergi dengan laki-laki lain. Siapa laki-laki itu, sebaiknya kau jelaskan dengan benar padaku." lanjutnya lagi. Nadanya penuh sarat akan peringatan.
Dambi mengerutkan kening. Seharian ini dia memang bersama seorang laki-laki. Bukan Gery, kak Rassya. Tapi di mana Angkasa melihat mereka bersama? Kak Rassya tidak mengantarnya pulang karena kebetulan bertemu dengan teman lama pria itu, jadi Dambi hanya pulang dengan taksi online. Dan jam pulangnya tidak semalam yang dikatakan Angkasa. Sekarang baru jam delapan, menurutnya sangat wajar dia pulang jam segini. Pria itu saja yang berlebihan.
Oh, jadi Angkasa melihat dia dan kak Rassya? Tapi kenapa ekspresinya semarah ini? Pria itu cemburu?
Bukannya takut, Dambi malah senang. Entah kenapa dia merasa malam ini dirinyalah yang menang. Jarang-jarang kan dia melihat Angkasa kesal karena dirinya. Biasanya pria itu yang selalu membuatnya kesal.
"Laki-laki itu..." ucapannya menggantung. Ia menatap Angkasa. Pria itu juga tidak pernah melepaskan tatapan darinya sejak tadi.
"Mantan pacarku. Dia sedang mendekatiku lagi sekarang. Besok kami akan kembali bertemu." lanjut Dambi sengaja mengarang.
Rahang Angkasa mengeras. Ia tidak pernah cemburu sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya ia benci mengalami perasaan seperti ini. Dambi berhasil membuatnya kelimpungan. Gadis itu bahkan menatapnya dengan percaya diri seolah menantangnya.
"Kau akan menemuinya besok?" ucapnya dengan nada rendah.
"Tentu saja. Aku bilang aku sudah bertunangan, tapi dia tidak percaya. Katanya sebelum dia melihat tunanganku, dia tidak akan percaya. Kebetulan aku memang masih menyukainya, tidak ada salahnya saling bertemu." sahut Dambi santai. Ia sengaja bilang begitu mengingat rencananya itu ingin mempertemukan Angkasa dan kak Rassya. Pokoknya dia merasa perkataannya akan berhasil membuat Angkasa terpancing. Biar pria itu ikut dengannya menemui kak Rassya dan kak Rassya akan memberinya peringatan agar tidak main-main dengan adik kesayangannya. Dambi tidak sabar melihat wajah ciut Angkasa didepan kakaknya.
Sedetik kemudian ia merasakan remasan kuat di lengannya. Gadis itu meringis kesakitan.
"Ang... Angkasa," ringisnya. Tapi sepertinya pria didepannya ini tidak sadar sudah menyakitinya.
"Aku ikut denganmu menemuinya besok." kata pria itu. Dambi tersenyum senang dalam hati. Rencananya berhasil. Tidak sia-sia ia memancing Angkasa. Tapi... Benarkah pria itu cemburu? Tapi kalau cemburu, artinya Angkasa menyukainya?
"Satu hal lagi," suara Angkasa membuyarkan pikiran Dambi.
"Jangan pernah mengatakan kau menyukai pria lain lagi didepanku, kalau tidak, aku akan membuatmu merasakan hukuman yang belum pernah kau rasakan sebelumnya." kalimat terakhir pria itu sarat akan peringatan yang berhasil membuat bulu kuduk Dambi berdiri. Lelaki menakutkan.
lalu tangan Angkasa yang menggenggamnya kuat tadi turun perlahan.
"Masuklah ke kamarmu." gumam pria itu lalu berbalik masuk ke kamarnya, meninggalkan Dambi yang masih berdiri mematung.