NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27 Cheef galak

“Selamat pagi semuanya.” ucap Arlan menyapa semua muridnya

“Pagi!” jawab para murid dengan semangat, semuanya sudah rapi dengan seragam masing-masing.

“Hari ini adalah praktek pertama kita, kita akan membagi beberapa tim, masing-masing tim terdiri atas tiga orang, kalian boleh memilih teman kalian masing-masing dalam lima menit kalian sudah berkumpul di meja dengan tim masing-masing.” Jelas Arlan.

Suasana kelas menjadi sedikit gaduh, karena para mahasiswa sibuk mencari teman satu tim. Dean bahkan tidak bergerak sidikitpun menyaksikan kegaduhan itu, ia lebih fokus menatap meja di hadapanya yang terisi banyak bahan makan serta beberapa alat memasak yang sama seperti yang ada di apartemen Hermawan.

Mimi dan Max segera berdiri si samping Dean, membuat wanita itu sedikit terkejut, tapi memilih diam dan kembali menatap meja di hadapanya.

“Kita akan menjadi tim yang terkuat!” ucap Max, Mimi mengangguk dengan semangat seakan mereka akan menghadapi pertarungan yang hebat untuk menghadapi tim lainya. Dean hanya diam, ia tahu ini hanya praktek biasa untuk mengetes kemampuan para mahasiswa setelah mendapatkan banyak tiori selama ini, para mahasiswa dituntut untuk mengaplikasikan apa yang mereka pelajari.

“Ada satu hal yang belum aku beritahu, aku tidak bisa memasak apapun sebelumnya, aku harap kalian tidak akan kecewa padaku karena aku telah berkata jujur.” ucap Dean mengakui kelemahanya pada teman satu timnya.

“Jangan merendahkan diri, aku tahu kamu siswa pintar.” bisik Max.

“Max kamu salah, aku benar-benar tidak bisa memasak!” Dean berteriak meyakinkan, tapi tidak di indahkan oleh Max dan Mimi

***

“Ayo semuanya kita mulai prakteknya, Dean bisa maju kedepan sebentar,” Ucap Arlan, dengan malas wanita itu melangkah “Karena kamu sangat pintar di kelas ku, tolong kamu contohkan cara mengupas dan memotong bawang yang benar sesuai tiori yang kamu jelaskan kemarin.” Arlan tersenyum lebar sambil menyerahkan sebuah pisau kecil dan sebuah bawang bombai.

Dean menerimanya, tapi ia tidak melakukan apapun, ia hanya menatap dua benda itu, berharap sebuah keajaiban datang. Semua anak memperhatikanya dengan serius.

Dean menarik napas dalam “Maafkan saya sebelumnya Chef, saya belum pernah memasak apapun seumur hidup saya,” ucap Dean jujur membuat semua orang tertawa, bukan untuk mengejek melaikan tidak percaya karena Dean selalu bisa menjelaskan apa yang di tanya oleh dosen di kelas.

“Biar saya saja chef.” Mimi melangkahkan kakinya menjuju kedepan, dengan mudah Mimi menjelaskan dan memperaktekan berbagai tehkni memotong. Semua orang bertepuk tangan termasuk Dean.

“Baiklah terimakasih Mimi, untuk Dean tidak apa-apa kalau masih malu dengan teman-teman yang lain.” ucap Arlan bijak.

***

Praktek di mulai, tampak Max dan Mimi sibuk memotong sayuran dan menyiapkan berbagai bahan lainya. Max dengan lihai mengupas udang dan memotong daging ayam. Dean ia sibuk hanya melihat apa yang teman satu timnya kerjakan. “Dean tolong kocok telurnya.” Max memerintahkan.

“Apa? kocok telur bagaimana caranya? aku tidak bisa.” bisik Dean berkata jujur.

“Sini aku ajarkan.” Max memecahkan telur dengan cepat memasukanya dalam kom sedang, Dean mengikuti cara Max memecahkan telur dengan satu tangan membuat telur yang ada di tanganya tepat memercik kemukanya dan muka Arlan yang tidak sengaja lewat di depan Dean untuk memeriksa setiap pekerjaan murid-muridnya. Tentu saja muka Arlan menjadi merah padam, semua anak tertawa melihatnya, tidak terkucuali Dean yang ikut tertawa.

“Diam semuanya!” teriak Arlan, membuat semua suasanah menjadi menegangkan, mereka tidak pernah melihat Arland semarah itu sebelumnya. “Apa kamu tidak tahu cara memecahkan telur?” suara Arlan tertekan.

“Maaf, Chef saya tidak bisa.” jawab Dean sambil menahan tawanya, ia sama sekali tidak takut pada Arlan. Mimi menyodorkan tisu pada Arlan tapi di tepis oleh dosen galak itu.

“Kalau kamu tidak bisa memasak untuk apa kamu kulia disini ha?!” Arlan berteriak seperti siap menelan Dean hidup-hidup.

‘Jadi kamu mengajaku debat ha?!’ Gumam Dean dalam hati “Cheef Arlan yang terhormat, dan tanpa mengurangi hormat saya kepada anda sebagai dosen saya dan wali kelas saya, saya akan menjelaskan, saya kulia disini untuk belajar memasak karena saya tidak mengerti caranya memasak, dan karena saya dengar kampus ini adalah kampus terbaik di kota ini untuk jurusan kuliner, maka dari itu saya yakin. kampus ini akan membantu saya untuk belajar memasak. Saya dengar juga semua dosen di sini berpengalaman di bidangnya saya yakin anda juga berpengalaman mengajarkan cara memasak dengan baik pada murid-murid anda termasuk pada saya!” Jawab Dean dengan suara lantang, ia tampak seperti seorang yang siap tempur dengan Arlan.

“Kamu, kamu keruanganku sekarang!” Arlan kemudian pergi sambil mengelap mukanya dengan tisu yang tadi ia tepis, bahakan Arlan mengambil tisu itu dengan kasar dari tangan Mimi, membuat Mimi menegang seperti patung, tadi gadis itu berpikir Arlan akan menyeretnya, tapi salah dia hanya ingin meminta tisu.

***

“Permisi chef,” Dean masuk keruangan Arlan, tidak ada rasa takut sedikitpun yang ia sarakan, bahkan ia melangkah dengan anggun dan tenang berdiri di hadapan meja Arland.

“Kupas sekarang!“ Arlan menunjuk semangkuk bawang diatas mejanya, di sana juga telah di siapkan pisau yang berukuran kecil agar memparmudah Dean melakukan tugasnya. Daen hanya menuruti tanpa ada bantahan sedikitpun, tadi ia sudah melihat bagaimana Mimi mengupas bawang, walau sangat pelan Dean berhasil mengupas sebuah bawang.

“Lima menit untuk satu bawang?” ejek Arlan setelah melihat sebuah bawang terkupas dengan sempurnah di sana.

“Menurut saya ini tidak terlalu buruk, saya baru pertama kali melakukanya dan hanya dalam lima menit saya bisa mengupas dan memotong bawang dengan cepat.” Dean membelah diri, bahkan wanita muda itu merasa bangah atas skil baru yang ia miliki saat ini setelah skil mencuci piring tentunya.

“Kamu tahu, seorang chef hanya perlu waktu beberapa detik untuk melakukan itu. Dan kamu, kamu memang pandai dalam teori, tapi untuk praktek aku akan memberikanmu nilai F!” Jelas Arlan sambil berusaha menahan amarahnya, entahalah setiap berhadapan dengan Dean, Arlan merasa dirinya menjadi sedikit lebih aneh, ia lebih sering terpancing emosi.

“Aku tidak tahu mengapa kamu sangat lemah dalam hal praktek, coba kita lihat kamu sekolah dimana sebelumnya.”

Dean hanya menarik napas dalam, ia tahu ini akan menjadi berat untuknya, ia juga menyadari akan kelemahan yang ia milik saat ini, tidak bisa memasak, bahkan mengupas bawang itu hal yang sangat memalukan bagi Dean, wanita itu tidak tahu harus menyalakan siapa, karena hidupnya akhir-akhir ini menjadi rumit.

Arlan membolak-balik lembar kertas di tanganya, tampak lembar itu lebih tebal dari pada milik siswa lain, seketika Arlan menelan ludahnya, tenggorokannya menjadi kering, mengetahui siswa di hadapanya adalah seorang yang jenius, dan ini pertama kalinya ia belajar di Indonesia “Kamu, kamu-?” Arlan tercengang, bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Sudahlah, itu tidak ada gunanya kalau aku masih tidak bisa memasak.” jawab Dean lemas kemudian kembali mengupas bawang, perlahan matanya tearasa peri, ia mengucek matanya, semakin lama semakin perih.

“Chef saya permisi sebentar.” Dean segera meninggal ruangan itu, meninggalkan Arlan yang masih tercengang dengan riwayat pendidikannya sebelumnya, bahkan Dean bisa merasakan bahwa Arlan terus memperhatikan setiap gerakanya.

***

Dean membuka pintu ruangan itu dengan cepat, matanya merah, dan mulai berkaca-kaca karena uap yang mirip belerang yang di hasilkan oleh kulit bawang tersebut.

“Dean kamu tidak apa-apa?” Mimi langsung memeluk wanita itu, Mimi merasa kasihan pada sahabat barunya, Arland pasti telah memarahi Dean habis-habisan. Mimi sering mendengar bahwa Arland adalah dosen tergalak di kampus ini, tapi pihak kampus menyukainya karena Arland sangat profesional dalam mengajar, serta ia sangat pandai memasak bahkan juga ikut di hormati chef senior di sana.

“Aku akan bicara dengan chef!” Max tampak kesal, bagaimana mungkin Arlan membuat Dean menangis pikir Max.

“Aku tidak apa-apa aku harus ke toilet, mataku perih.” ucap Dean kemudian meninggalkan dua orang temanya, karena sudah tidak tahan. Ia perlu air untuk membasuh matanya yang semakin perih, bahkan air matanya sudah mengalir bebas sekarang.

***

“Permisi Chef, maaf menganggu, saya hanya meminta penjelasan mengapa anda membuat Dean menangis?!” Max bertanya dengan suara datar sambil menatap tajam pada Arlan yang masih memegang kertas tebal berisi biodata Dean.

“Apa?! Aku tidak membuat Dean menangis.” Jawab Arlan cepat, lalu meletakan kembali kertas tersebut, Arland sedikit bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan Max, sepertinya ada kesalah pahaman di antara mereka dan Arlan tahu itu.

Arlan tahu betul miridnya yang satu ini Maxi Orlando Wijaya, putra bungsuh dari Wiliam Wijaya, pemilik kampus dimana sekarang ia mengajar saat ini. Wiliam sudah memberitahu Arlan bagaimana sifat Max yang selalu semena-mena karena kekuasaan ayahnya di kampus itu, Wilian bahkan berpesan agar memperlakukan Max sama seperti yang lainya, Arland harus menghukum Max jika anak nakal itu berbuat salah.

Bahkan Arlan berani memberikan skorsing pada Max saat anak nakal itu menganggu Mimi, dengan sangat keterlaluan. Max mengendap dan mencuri pakai praktek Mimi saat pertama di bagikan. Ketika Mimi mencobahnya di ruang ganti, tepat satu minggu setelah kejadian itu dan Max sudah menanda tangani surat perjanjian, anak nakal itu kembali berulah, Max bahkan mengurung Mimi di kamar mandi sampai jam sembilan malam.

Arlan mendapat laporan dari wali muridnya jika Mimi belum pulang sampai jam sembilan malam, bahkan ponselnya juga tidak aktif, Arlan ingat saat ia menyampaikan materi di jam terakhir Mimi meminta ijin ke toilet, lalu selang lima menit Mex juga meminta izin, dan keduanya tidak kembali sampai pelajan selesai.

Arlan segera mendatangai kampus dan mendapati mobil Max masih berada di parkiran, Arland segera berlari menuju toilet. Laki-laki itu sempat terkejut saat melihat Max duduk di pintu kamar mandi sambil memegangi kunci dan terkekeh. Bahkan Arlan bisa mendengar dengan jelas saat keduanya sahut-sahutan, saling mencaci maki satu sama lain.

“Max, buka pintunya ini sudah malam, ini tidak lucu orang tua ku pasti akan melaporkan mu ke Polisi, buka pintunya, dasar sinting!” itu suara Mimi

“Aku tidak mau, dasar wanita gila, kamu pikir kamu siapa, wanita cantik ha? Harusnya kamu berkaca ha!. Dasar berengsek, kamu membuatku menadatangai surat perjanjian itu, aku bahkan belum satu bulan masuk kampus, dasar wanita sialan, pembawa masalah, kamu harus di hukum, bersukurlah akamu tidak memperko-“

“Max!” Alrlad berteriak membuat Max terdiam.

Dan pada malam itu juga semua masalah di selesaikan, Arlan bahkan langsung menghubungi Wiliam membuat laki-laki paru baya itu datang ke kampus bersama istrinya Indah Wijaya, wanita itu langsung menjewer anaknya, sunguh lucu pikir Arland saat mendapati Max merengek pada kedua orang taunya.

Sedangkan Mimi harus diantar pulang oleh mereka semua, bahkan Max di minta untuk meminta maaf bukan hanya pada Mimi tapi juga kedua orang taunya, karena bersikap sangat kejam.

Tapi sepertinya hubungan Mimi dan Max sudah lebih membaik, itu semua karena Dean yang sering menengahi pertengkaran diantara mereka, setidaknya Mimi akhir-akhir ini jarang menghadapnya untuk melaporkan perbuatan Max yang selalu mengganggunya, bahkan mengancamnya.

***

“Dean ayo cepat! Max, Max ke ruangan chef Arlan, ia marah karena kamu menangis tadi!” Teriak Mimi cemas, wanita itu meremas-remas ujung bajunya hingga kusut.

“Apa lagi sekarang?” Gumam Dean, ia belum sempat mengeringkan wajahya yang basah setelah mencuci muka, Mimi sudah menariknya menuju ruangan Arlan.

“Anda jangan bohong chef. Dean menangis setelah keluar dari ruangan Anda!” Max berteriak dengan napas tersengal-sengal, Dean juga melihat tangan Max yang mengepal siap menghantam Arlan, tapi Arlan terlihat sangat tenang menghadapi Max.

“Max hentikan! Chef Arlan tidak melakukan apa-apa dia hanya menyuruhku mengupas bawang, karena tadi aku tidak bisa mengupas bawang.” Dean menunjuk semangkuk bawang tepat di samping Max berdiri.

Max menelan ludahnya, kemudian tertawa hambar ia baru saja menyadari kesalah pahamannya hingga membuat keributan di ruang Arlan. Max hanya berharap agar dia tidak di skor lagi, Wiliam akan membunuhnya kali ini, Max yakin itu.

“Sudah ku bilang aku tidak berbuat apa-apa, jika tidak ada yang ingin kalian sampaikan segera kembali ke ruangan praktek sekarang!” bentak Arlan, dengan cepat Max, Dean dan Mimi melangkah meninggalkan ruangan itu, Max bahkan setengah berlari meninggalkan Mimi dan Dean yang berlajan cepat.

“Dean kamu belum pernah bertemu orang sepertimu sebelumnya.” Gumam Arlan saat Dean memberhentikan langkahnya sebelum menewati pintu ruangan itu, Dean sedikit menoleh pada Arlan lalu tersenyum tipis dan di jawab angukan oleh Arlan.

***

“Kamu disini saja Dean, aku dan Mimi akan menyelesaikan masakan kita.” ucap Max lembut. Dean hanya menuruti, tentu saja ia menurut, sebab Dean juga tidak tahu harus berbuat apa.

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!