"Aku kira pernikahan ini seperti kisah di novel romansa yang sering aku baca. Berawal dari perjodohan dan berkahir dengan cinta sungguhan. Ternyata, aku salah." -Elyna Prameswa-
Menjalani biduk rumah tangga tanpa adanya cinta sudah lumrah pada cerita fiksi novel romansa modern. Beda halnya dengan Elyna yang mengharapkan suaminya melihatnya sebentar saja. Jangan hanya menjadikannya bahan jinjingan ketika menghadiri acara penting perusahaan. Padahal, pada nyatanya dia terus diabaikan selama menikah dengan pria yang bernama Rifal Addhitama. Seorang suami yang mengharapkan wanita lain untuk kembali padanya. Bukankah itu sangat menyakitkan?
Akankah Elyna mampu mempertahankan rumah tangganya? Ataukah dia menyerah, memilih pasrah dan mengikhlaskan suaminya kembali ke pelukan wanita yang memang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Merasa Tersaingi
Rifal segera menyudahi panggilannya setelah perkataan penuh penekanan yang dia berikan kepada pria yang mengaku bernama Fareeq. Tangan Rifal dengan lincah langsung menghapus panggilan tersebut dan meletakkan kembali ponsel Elyna ke tempat semula.
"Mas, ayo pulang."
Rifal terkejut dan menatap Elyna dengan tatapan datar. Namun, dia sadar dia tidak boleh memancing keributan. Biarlah nanti dia menanyakan sendiri kepada Elyna sambil berbincang santai. Lagi pula nomor pria itu sudah dia blokir dan tidak akan pernah bisa Elyna menghubungi pria itu juga sebaliknya..
Mobil melaju menuju kediaman Elyna. Sedari tadi Rifal tidak banyak bicara. Elyna merasa ada yang aneh dari suaminya. Ingin bertanya, tapi wajah Rifal sangatlah tidak bersahabat.
Tibanya di rumah, Elyna masuk terlebih dahulu dan diikuti Rifal dari belakang. ******* panjang keluar dari mulut Rifal dan itu mampu Elyna dengar.
"Mas mau ngopi?" tawar Elyna.
"Enggak, saya mau mandi."
Elyna menatap tubuh pria itu yang tengah menuju dapur. Bingung, itulah yang Elyna rasakan. Pria itu selalu saja berubah-ubah. Kadang manis dan kadang seperti ini. Hembusan napas kasar pun keluar dari mulut Elyna.
Lampu ruang tamu sudah padam, tapi seseorang masih berkutat dengan layar pipih di tangan. Wajahnya tegang, menunggu informasi yang sedang dicari oleh anak buahnya.
Ting!
Fareeq Al Mumtadz usianya 30 tahun. Seorang dokter di salah satu rumah sakit besar di Jakarta yang masih bekerja sama dengan WAG grup. Dia adalah seorang putra dari dokter Hadi Raharja. Adik Anda pasti tahu siapa beliau. Dia masih lajang dan belum memiliki kekasih. Dari kabar burung yang beredar, dia masih berharap kepada istri orang.
"Breengsekk!" umpatnya ketika membaca kalimat terakhir. "Ternyata bukan orang sembarangan."
Ada perasaan ingin bersaing di hati Rifal. Juga ada rasa takut jikalau Elyna direbut oleh dokter muda itu. Akhirnya, dia menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki sejauh mana hubungan Elyna dan juga Fareeq. Rifal masih menunggu jawaban.
Pada saat itu juga pintu kamar Elyna terbuka dan mata Rifal dan Elyna bertemu. "Mas, belum tidur?" tanya Elyna.
"Belum ngantuk."
"Ya udah, lampunya aku hidupin, ya." Elyna berjalan menuju stop kontak. Rifal pun berdiri dan menghampiri tempat ke mana Elyna berjalan. Tangan Rifal mencegah tangan Riana yang hendak menghidupkan lampu.
"Saya ingin di temani kamu di sini."
Deg. Jantung Elyna terasa berhenti berdetak. Apalagi dengan lembut Rifal menarik tangannya dan mengajaknya duduk di kursi.
"M-mas."
Rifal tersenyum dan dia menggenggam kedua tangan Elyna dengan begitu erat.
"Tangan kami begitu dingin." Rifal mulai mengusap lembut punggung tangan Elyna. "Kamu gugup?"
"Mas, kita 'kan janji hanya akan menjadi teman," ucapnya penuh keraguan.
"Tidak ada larangan seorang teman menggenggam tangan temannya sendiri," balas Rifal.
"Tapi, bukan mukhrim." Rifal malah tergelak, dia mengusap lembut ujung kepala Elyna.
"Kita sepasang suami-istri yang sudah sah di hadapan agama dan hukum. Bukan hanya sekedar pegangan tangan, melakukan hal lebih pun diperbolehkan."
Elyna menelan salivanya. Terlihat dia sedikit ketakutan ketika deru napas Rifal mulai menerpa wajahnya.
"Bolehkah saya mencium bibir kamu?"
"Jangan, Mas. Aku belum siap." Seketika Elyna menunduk dalam. Rifal pun ikut terdiam. Dia menatap ke arah Elyna.
"Berikan alasannya." Tangan Rifal masih menggenggam tangan wanita di hadapannya.
"Aku takut ... Mas hanya memperlakukanku sebagai pelampiasan saja karena--" Kalimat itu terjeda. Terlihat punggung Elyna bergetar.
Rifal segera memeluk tubuh Elyna. Dia teringat akan kesalahannya pada malam itu.
"Maafkan saya, El."
Elyna pun menggeleng. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Rifal dan seketika jantung Rifal berdegup kencang.
"Aku tidak ingin kecewa lagi, Mas." Tanpa Rifal sadar tangannya mengusap bagian belakang kepala Elyna yang tertutup hijab.
Rifal mulai mengendurkan pelukannya. Dia menatap Elyna dengan teramat serius. Sebelumnya dia mengusap lembut air mata Elyna yang sudah membasahi wajah cantik natural yang Elyna miliki.
"Jikalau, saya mengecewakan kamu lagi ... apa kamu masih akan tetap bertahan?" tanya Rifal dengan begitu serius.
"Enggak, aku menyerah, Mas."
Sungguh jawaban yang membuat hati Rifal sakit. Jawaban ini bukanlah jawaban yang ingin Rifal dengar.
"Kenapa?"
"Mungkin aku bukan jodohnya, Mas," sahut Elyna. "Mungkin juga di luaran sana ada pangeran berkuda putih yang telah menungguku, membawaku menuju pelaminan yang sesungguhnya. Menjadikanku ratu bukan hanya sebagai pemuas nafsu."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
di sat orang2 yg kita sayang telah tiad
salam dari sang mantan /Smile//Smile/
dan menepati janji ny
tapi masalalujugamshbrersemayam i dah do hati kang Rifal.
dan sakit
jangan berhara kepada manusia klu tak ingin kecewa dan sakit../Sob//Sob//Sob/