Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Pagi yang cerah di area parkir gedung fakultas tidak secerah suasana hati Marsellino. Pria itu berjalan dengan langkah terburu-buru, mencoba melepaskan diri dari Aletta yang terus-menerus bergelayut di lengannya seperti benalu.
"Sel, lepasin. Malu dilihat orang, ini kampus," desis Marsel ketus tanpa menoleh.
"Kenapa sih? Biasanya juga kamu suka kalau aku gandeng begini," rengek Aletta, wajahnya merengut kesal. "Semenjak Kak Thomas nikah sama si Arunika itu, kamu jadi berubah tahu nggak! Kamu lebih sering bengong dan cuekin aku!"
Marsel menghentikan langkahnya mendadak, membuat Aletta hampir tersungkur. Ia menatap Aletta dengan mata yang penuh dengan api amarah dan penyesalan yang bercampur aduk.
"Karena harusnya bukan dia yang ada di sana, Let! Harusnya Nika masih di sini, nungguin gue!" bentak Marsel pelan namun tajam.
Aletta tertawa sinis, ia melipat tangannya di dada. "Oh, jadi sekarang kamu menyesal? Setelah kamu buang dia berkali-kali demi aku? Telat, Sel. Dia sudah jadi Nyonya Adiputra sekarang. Dia sudah jadi kakak ipar kamu!"
Marsel mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap ke arah lobi gedung rektorat, lalu bergumam dengan suara yang sangat dingin. "Kakak ipar? Itu cuma status di atas kertas. Gue kenal kakak gue, Let. Thomas nggak mungkin cinta sama cewek berisik kayak Nika secepat itu. Gue bakal hancurin pernikahan mereka. Gue bakal buktiin kalau Thomas cuma manfaatin dia, dan saat itu terjadi... Nika bakal balik ke gue."
Aletta tertegun melihat kegelapan di mata Marsel. "Kamu gila, Marsel. Kamu bener-bener gila."
Di sisi lain area parkir, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan lobi. Thomas, yang pagi ini mengenakan setelan jas formal berwarna charcoal, keluar lebih dulu untuk membukakan pintu untuk istrinya.
Arunika turun dengan membawa map besar berisi berkas skripsinya. Hari ini adalah hari besar—pengumuman kelulusan dan nilai akhir skripsi. Wajahnya terlihat gugup sekaligus antusias.
"Sudah bawa semua berkasnya? Tidak ada yang tertinggal?" tanya Thomas sambil merapikan kerah kemeja Arunika yang sedikit tertekuk.
"Udah, Mas. Udah dicek sepuluh kali tadi pas di mobil," jawab Arunika sambil terkekeh. "Mas Thomas jangan tegang gitu dong mukanya, yang mau dapet nilai kan aku, bukan Mas."
Thomas menatap Arunika dengan tatapan intens yang membuat jantung gadis itu sedikit melompat. "Ini hari pentingmu, Arunika. Aku ingin semuanya sempurna. Kalau sudah selesai, langsung telepon. Jangan kelayapan ke kantin atau main ke gedung lain. Mengerti?"
Arunika memutar matanya dengan jenaka. "Iya, Mas bawel! Udah ah, sana berangkat ke kantor. Mas bisa telat kalau nungguin aku di sini terus. Hus, hus!" Arunika menggerakkan tangannya seolah sedang mengusir kucing.
Thomas tidak bergeming. Ia justru menarik pinggang Arunika mendekat, mengabaikan beberapa mahasiswa yang mulai berbisik-bisik melihat adegan romantis di depan lobi tersebut.
"Ingat janji kita. Jangan bicara dengan Marsel kalau dia tiba-tiba muncul. Langsung hubungi aku," pesan Thomas lagi, suaranya kini terdengar sangat protektif.
"Iya, Mas Thomas Adiputra yang paling ganteng sedunia. Aku nggak bakal lari ke mana-mana. Janji!" Arunika mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
Thomas akhirnya melepaskan genggamannya, namun ia sempat mengecup puncak kepala Arunika sebelum masuk kembali ke mobil. "Semoga beruntung, Sayang."
Arunika mematung di tempatnya. Panggilan 'Sayang' itu terdengar jauh lebih berbahaya daripada 'Baby girl'. Ia memegang kepalanya yang baru saja dikecup, lalu menggelengkan kepala untuk mengusir rasa panas yang mulai menjalar ke pipinya.
"Aduhh, Mas Thomas... lama-lama aku beneran serangan jantung kalau begini terus," gumamnya sambil berjalan masuk ke dalam gedung.
Suasana di depan papan pengumuman jurusan sangat ramai. Arunika berdesakan dengan teman-temannya yang lain. Hatinya berdegup kencang saat matanya mulai mencari namanya di daftar tersebut.
"Arunika Nirmala... Arunika... ah! Ini dia!"
Mata Arunika membelalak. Di samping namanya, tertera nilai A dengan catatan: Lulus dengan Pujian (Cum Laude).
"YESS! AKU LULUS!" teriak Arunika kegirangan, melonjak-lonjak hingga beberapa orang memperhatikannya.
Ia segera merogoh ponselnya, ingin menjadi orang pertama yang memberitahu Thomas. Namun, saat ia baru saja akan menekan tombol panggil, sebuah bayangan menutupi layarnya.
"Selamat ya, Nik. Aku tahu kamu pasti dapet nilai bagus."
Arunika membeku. Suara itu. Suara yang dulu sangat ingin ia dengar, namun sekarang justru membuatnya merasa waswas. Ia mendongak dan mendapati Marsel berdiri di sana tanpa Aletta.
"Makasih," jawab Arunika singkat. Ia segera memasukkan ponselnya ke saku dan berniat pergi, mengingat pesan Thomas.
"Nanti dulu, Nik. Kita perlu bicara," Marsel menahan lengan Arunika. "Cuma sebentar. Soal kamu... dan Mas Thomas."
Arunika menarik tangannya dengan tegas. "Nggak ada yang perlu dibicarakan, Sel. Semuanya sudah jelas. Aku sudah menikah, dan aku bahagia."
"Bahagia?" Marsel tertawa sinis. "Kamu pikir aku percaya? Kamu nikah sama dia cuma buat bikin aku cemburu kan? Kamu cuma pelarian buat dia, Nik. Kamu tahu nggak kalau Mas Thomas itu—"
"Aku tahu siapa suamiku, Marsel," potong Arunika dengan nada suara yang belum pernah Marsel dengar sebelumnya—nada yang penuh wibawa. "Dan aku tahu dia jauh lebih baik daripada pria yang cuma bisa narik ulur perasaan perempuan selama bertahun-tahun. Sekarang, tolong minggir. Suamiku sudah menunggu."
Arunika melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan Marsel yang terpaku di tengah kerumunan mahasiswa. Marsel menatap punggung Arunika dengan rasa tidak terima yang semakin membuncah.
"Lo boleh bangga sekarang, Nik," gumam Marsel lirih. "Tapi gue bakal pastiin, dalam waktu dekat, lo sendiri yang bakal lari ke gue sambil nangis karena tahu kebusukan Thomas."
Sementara itu, Arunika sudah berada di luar gedung, ia segera menekan nomor Thomas. Begitu sambungan diangkat, ia berteriak dengan penuh semangat.
"MAS! AKU LULUS CUM LAUDE! MAS HARUS TRAKTIR AKU MAKAN ENAK MALEM INI!"
Di seberang telepon, Thomas yang sedang berada di tengah rapat direksi langsung berdiri, membuat seluruh bawahannya terheran-heran. "Bagus, Arunika. Aku bangga padamu. Tunggu di sana, aku jemput sekarang juga."
Thomas mematikan telepon, lalu menatap Ardi yang duduk di depannya dengan senyum lebar. "Rapat kita tunda. Istriku lulus cum laude. Kita ada perayaan besar hari ini."
Ardi hanya bisa geleng-geleng kepala. "Tua-tua keladi, bucinnya nggak ada obat."
Hari itu, di tengah kebahagiaan kelulusannya, Arunika merasa hidupnya sudah lengkap. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum Thomas dan rencana jahat Marsel, ada sebuah rahasia besar yang sedang mengintai masa depan pernikahan mereka. Namun untuk saat ini, yang ia tahu hanyalah ia ingin segera berada di pelukan pria yang ia panggil 'Mas' itu.
gagal
coba lagi dong 🤭