NovelToon NovelToon
Read Zone

Read Zone

Status: tamat
Genre:Patahhati / Permainan Kematian / Teen School/College / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Litlerose

Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.

Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.

Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.

Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trauma

​"Dulu janji lo apa ke Abang? Coba ulang, Abang mau denger!"

​Suara bariton Azka menggelegar di ruang tengah yang luas itu, memantul di dinding-dinding yang biasanya tenang. Dokter muda yang biasanya sabar dan murah senyum di depan pasiennya, kini berdiri dengan wajah merah padam, telunjuknya mengarah lurus ke wajah adiknya yang babak belur.

​Annas duduk di sofa tunggal, kepalanya menunduk dalam. Sudut bibirnya masih memperlihatkan darah segar, lebam di pipinya pun sudah membiru dengan jelas. Dia sejak tadi diam seribu bahasa. Tidak membantah, tidak juga membela diri.

​Di sofa panjang, Fadhil duduk meringkuk memeluk bantal sofa. Dia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Melihat Azka marah besar adalah mimpi buruk bagi mereka berdua. Azka bukan tipe yang main tangan, tapi kalimatnya selalu tepat sasaran dan menyakitkan.

​"Jawab!" bentak Azka lagi.

​"Buat perlindungan diri," jawab Annas pelan, nyaris tak terdengar.

​"Perlindungan diri?" ulang Azka sinis, tawa hambar keluar dari mulutnya. "Liat muka lo sekarang. Ini perlindungan diri? Atau lo abis jadi jagoan pasar?"

​Azka mengusap wajahnya dengan kasar, ia mulai mondar-mandir di depan Annas.

​"Dulu Abang nentang keras lo ikut ekskul bela diri. Abang larang mati-matian. Tapi lo kekeh. Lo mohon-mohon. Lo bilang, 'Gue nggak akan pake ini buat berantem, Bang. Gue cuma pengen jaga diri.' Dan sekarang?!"

​Azka menatap adiknya dengan tatapan kecewa.

​"Lo pulang dengan muka hancur. Lo ngelanggar satu-satunya syarat yang Abang kasih. Lo lupa? Ayah meninggal gara-gara apa, Nas? Ayah meninggal karena dia terlalu percaya diri sama kemampuan bela dirinya! Ayah pikir dia bisa ngelawan penjahat itu sendirian!"

​Kalimat itu menohok ulu hati Annas. Tangannya yang bertumpu di lutut mengepal erat. Dia ingat janji itu. Dia tidak lupa. Tapi tadi siang, saat Satria memprovokasinya soal Febby, emosinya tersulut. Logikanya mati. Dia lupa bahwa di rumah ada kakak dan Bundanya yang trauma soal perkelahian.

​"Gimana kalau Bunda tau?" suara Azka merendah, terdengar lelah. "Lo mau bikin Bunda serangan jantung liat anak tengahnya pulang kayak gini?"

​Annas masih diam, menatap pola karpet di bawah kakinya.

​Cklek.

Semua orang menoleh.

​Suara pintu depan tiba-tiba terbuka, diikuti suara riang yang sangat familiar.

​"Assalamualaikum! Azka, Annas, Fadhil! Liat nih Bunda bawa apa? Ada martabak telur kesukaan kali—"

​Langkah kaki itu terhenti tepat di ambang ruang tengah.

​BRAK!

Seketika ​kantong kresek berisi belanjaan dan kotak martabak itu terlepas dari genggaman, jatuh menghantam lantai marmer. Isinya berhamburan keluar.

​"A-Annas...?"

​Jantung Annas mencelos melihat ekspresi bundanya. Ekspresi yang sama seperti lima tahun lalu, saat jenazah Ayahnya dibawa pulang.

​"Bunda..."

​Wanita itu berlari kecil, langsung menjatuhkan dirinya, berlutut di depan sofa tempat putranya duduk. Tangannya yang gemetar hebat terulur, menyentuh pipi Annas yang lebam dengan sangat hati-hati, seolah takut putranya akan hancur jika disentuh terlalu keras.

​"Ya Allah, Nak... Kamu kenapa? Siapa yang bikin kamu kayak gini?" Air mata wanita itu langsung menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa mukanya kamu begini? Kamu berantem? Azka, jangan berdiri aja, tolong obatin adikmu ini. Kamu nggak apa-apa, kan, Nak? Mana yang sakit lagi, hm?"

​Tangan Bundanya yang dingin itu menyentuh rahang Annas.

​"Annas... Ayahmu juga pulangnya begini dulu..." bisik Bunda nya dengan lirih, air matanya menetes jatuh ke tangan Annas. "Ayahmu bilang cuma luka kecil... Ayahmu bilang nggak apa-apa... tapi besoknya Ayah nggak bangun lagi, Nak.." Isak Bundanya.

​Fadhil memalingkan wajah, tidak tega melihat ibunya. Sedangkan Azka memijat pangkal hidungnya, rasa marahnya pada Annas berganti menjadi rasa sakit melihat trauma ibunya kambuh.

​Annas pun tak tahan melihat itu. Dia segera menangkap kedua tangan ibunya, menggenggamnya erat-erat untuk menghentikan getarannya.

​"Bun... Bunda, liat Annas," ucap Annas lembut, ia tersenyum tipis. "Annas nggak apa-apa. Ini cuma lecet biasa."

​"Tapi darahnya..."

​"Ini bukan berantem sama penjahat kayak Ayah, Bun," ucap Annas lagi. "Tadi pas sparring di ekskul, Annas kurang fokus. Jadi kena pukul temen dikit. Biasa, latihan, Bun. Annas ngak apa-apa, kok. Serius."

​Annas membawa tangan ibunya ke dadanya, membiarkan ibunya merasakan detak jantungnya yang stabil.

​"Annas masih di sini. Annas sehat. Annas nggak akan ninggalin Bunda kayak Ayah. Annas Janji."

​Mendengar suara tenang putranya, tangisan bundanya perlahan mereda, meski isakannya masih terdengar. Dia memeluk Annas dengan erat, menenggelamkan wajahnya di bahu bidang anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa itu.

​Di balik punggung ibunya, Annas menatap Azka.

​Yang ditatap menghela napas panjang, lalu berbalik menuju kamarnya.

Melihat itu semua, Fadhil mendekat ke Bundanya. Ia juga ikut memeluk wanita yang mengenakan jilbab warna cokelat muda itu.

"Bunda, kita nggak bakal ninggalin Bunda. Bunda jangan nangis lagi, ya." ujar Fadhil sambil mengelus-elus punggung Bundanya.

Wanita itu mengangguk perlahan, lalu menyeka air matanya.

"Sini Bunda obatin lukanya, Sayang."

-BERSAMBUNG

1
icaaaa
😭
Vena
Masih sempet" nya ya
Vena
Awal yang menyedihkan tor
Vena
Tuh kannnnn
Vena
Hmmm seperti ada firasat buruk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!