Jodoh tak mengenal batas dan jarak, walau berbeda negara dan benua tapi Tuhan memiliki skenario sendiri untuk mempertemukan keduanya yang tak mungkin bisa dihindari umatnya.
Begitu juga dengan Dr. Steven Lee dan Anna Wibisana, yang dipertemukan di sebuah desa kecil di Perancis ketika keduanya sama-sama terlula oleh cinta. Tertatih mereka berdua saling mengisi untuk mencoba kembali bangkit dari kesalahan masa lalu yang kelam, sampau akhirnya retakan di hati mereka perlahan mulai kembali utuh.
Tapi, masa lalu kembali menghancurkan hati salah satu dari mereka.
Yours best teacher is yours last mistake.
-Autumn Girl-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Anna membuang napas panjang berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila, beberapa menit terakhir ia habiskan dengan berdiri di depan sebuah rumah mewah berpagar tinggi berwarna putih, rumah tempatnya dibesarkan, rumah dimana orangtua dan adiknya tinggal saat ini. Di sampingnya berdiri Dr. Lee yang dengan sabar menunggunya menyiapkan diri, dia menggenggam tangan dingin Anna untuk memberinya kekuatan, sedangkan Alice hanya menatap ibunya bingung tak mengerti.
“Mamah, kenapa kita hanya berdiri di sini?” tanya Alice menggunakan bahasa inggris dengan sangat fasih membuat Anna menatapnya kemudian tersenyum walaupun matanya masih menyiratkan rasa khawatir yang mendalam. Ia kemudian menatap Dr. Lee yang kini tersenyum memberi dukungan dan akhirnya dengan tangan gemetar ia menekan bel yang daritadi hanya dipandanginya saja.
Dadanya semakin berdetak hebat, aura dingin merambati kaki, punggung hingga akhirnya naik ketengkuknya ketika menunggu seseorang membukankan gerbang yang menjulang tinggi itu. Perlahan pintu gerbang itu terbuka, jantung Anna semakin menggila, ia menelan air liurnya hanya sekedar untuk meredakan rasa takut, sampai akhirnya seorang pria berumur empat puluhan keluar dari pintu gerbang itu.
“Mau bertemu si…” suara pria itu menghilang, matanya terbelalak ketika melihat sosok Anna berdiri di hadapannya, matanya seketika berkaca-kaca dengan tubuh gemetar tak percaya.
“Non Anna?” tanyanya dengan suara gemetar, matanya masih menatap sosok itu tanpa berkedip.
“Iya, Pak Min,” jawab Anna dengan suara tercekat ketika melihat sosok pria yang selalu setia menemaninya sebagai supir keluarganya dari dulu.
“YA ALLAH!” seru pria itu sambil menangis lalu memeluk Anna seperti putrinya sendiri, tak kalah dengan pria paruh baya itu, air mata Anna-pun tumpah tak terbendung lagi.
Setelah beberapa saat Pak Min melepaskan pelukannya dengan senyum lebar, dia menyuruh mereka masuk dan dianya sendiri berlari kedalam sambil berteriak.
“BU! IBU!... NON ANNA PULANG, BU!” teriaknya sambil berlari di pekarangan rumah, sedangakan Anna, Dr. Lee dan Alice masih terlihat ragu untuk melangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah megah itu.
Anna melihat sekeliling taman yang tertata dengan rapi, belum banyak yang berubah tanaman yang ditanam di taman itu masih sama, yang berbeda kini terdapat sebuah kolam air mancur kecil yang terletak ditengah halaman mebuatnya terlihat lebih asri.
Mereka baru saja melangkahkan kakinya di atas teras marmer rumah itu ketika terdengar suara orang berlarian dari dalam, membuat Anna diam membeku ketika melihat sosok perempuan awal lima puluhan yang kini menatapnya dengan berlinang airmata.
Pandangan Anna seketika mengabur oleh airmata ketika melihat sosok yang selama ini ia rindukan berdiri dihadapannya dan menatapnya dengan penuh kerinduan.
“Ya Tuhan… Ya Tuhan… Anna,” bisiknya dengan suara bergetar sambil berjalan dengan tangan terentang membuat Anna menghambur ke dalam pelukannya.
“Mamah!” Serunya sambil berlari ke dalam pelukan ibunya, mereka saling berpelukan dengan isak tangis yang membuat orang di sekitar mereka ikut meneteskan air mata.
“Kamu kemana aja, Na? Kenapa baru pulang sekarang?” Seru ibunya di antara tangis sambil mengeratkan pelukannya seolah takut putrinya itu akan kembali menghilang. Sedangkan Anna sudah tak bisa lagi berkata apa-apa, dia hanya terus saja menangis dalam dekapan ibunya.
Beberapa saat mereka hanya berpelukan dalam isak tangis, mulut ibunya tak henti-hentinya mengucap terimakasih kepada Yang Maha Kuasa karena telah mengembalikan putrinya kedalam pelukannya.
“Biar Mamah melihatmu,” ucap ibunya sambil melepas pelukannya dan kini menatap wajah putrinya dengan penuh kerinduan.
“Kenapa kamu sangat kurus.” Ibunya mengusap wajah Anna dengan lembut, mengahapus air matanya lalu mengelus rambutnya penuh kasih sayang, “Apa kamu makan enak selama ini? Apa tempat tidurmu nyaman?” lanjutnya yang hanya dijawab anggukan oleh Anna karena tenggorokannya masih tercekat tak mampu untuk berkata apa-apa.
“Mamah, makan sangat banyak,” celetuk Alice membuat semua orang kini menatapnya, merasa diperhatikan gadis kecil itu menundukan kepala malu lalu bersembunyi di balik kaki Dr. Lee.
Ibunya Anna menatap gadis itu dan putrinya bergantian, lalu dia menatap Anna dengan sorot bertanya yang dijawab Anna dengan anggukan.
“Dia.. putri Anna, Mah, cucu Mamah,” ucap Anna yang membuat Ibunya itu terbelalak terkejut, perlahan senyumnya mulai menghiasi wajah ayunya tapi matanya terus saja mengeluarkan airmata, membuat wanita paruh baya itu harus menghapusnya berkali-kali.
“Apa dia mengerti bahasa Indonesia?” Tanya ibunya dengan mata masih menatap gadis kecil itu yang kini mengintip dari balik kaki panjang ayahnya.
“Iya, dia bisa bahasa Indonesia,” jawab Anna sambil tersenyum menatap putri kecilnya yang hari ini terlihat cantik dengan rok merahnya. Ibunya Anna perlahan membungkuk sambil menatap Alice lembut.
“Siapa namamu, nak?” Tanya ibunya Anna sambil menjulurkan tangannya dengan senyum penuh kasih sayang khas seorang nenek.
Alice menatap ibunya yang mengangguk sambil tersnyum memberinya semangat, “Alice,” jawabnya malu-malu masih bersembunyi di balik Dr. Lee yang kini merangkul bahunya dan perlahan mendorongnya maju.
“Alice… nama yang cantik untuk seorang putri yang cantik,” ucap Ibu Anna membuat Alice tersenyum malu-malu, kaki kecilnya dengan perlahan melangkah mendekati neneknya yang masih mengulurkan tangan kearahnya, ia menatap Anna yang kembali mengangguk kemudian berbalik menengadah menatap Dr. Lee yang juga tersenyum sambil mengangguk, dan akhirnya tangan mungilnya menerima uluran tangan neneknya yang langsung menariknya ke dalam pelukan.
Alice hanya diam mematung tampak bingung mendapati seseorang memeluknya sambil menangis, melihat itu airmata Anna kembali bergulir, kekhawatirannya selama ini tak terbukti. Ia takut kalau orangtuanya tak akan menerima Alice dan dirinya kembali. Tapi melihat reaksi ibunya yang seperti itu membuat Anna sedikit lega karena ia yakin kalau ibunya telah menerima Alice sebagai cucunya, tapi bagaimana dengan ayahnya?
Seketika jantung Anna kembali berdetak hebat ketika mengingat ayahnya, matanya menatap sekeliling ruang tamu hasil sentuhan apik ibunya, tanpa dikomando matanya mencari sosok pria paruh baya yang diam-diam selalu ia rindukan melebihi siapapun.
“Non Anna,” ucap seorang perempuan yang Anna kenal sebagai asisten keluarga mereka dari dulu, Bi Nani nama perempuan berusia akhir tiga puluhan itu yang berdiri disamping Pak Min.
“Bi Nani,” ucap Anna sambil merentangkan tangannya yang disambut perempuan yang masih setia dengan keluarganya itu dengan hangat, Anna memeluknya beberapa saat sebelum melepaskannya. Dan kini matanya menatap seorang pemuda tampan dengan tinggi menjulang yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan senyum tertahan.
“Kakak ingat aku?” tanyanya dengan suara bergetar mambuat tenggorokan Anna kembali tercekat dan air mata kembali mengaburkan pandangannya.
“Dasar bodoh, tentu saja kakak ingat kamu, dek,” ujar Anna sambil merentangkan tangannya membuat Byan langsung memeluknya erat.
Byan tertawa tapi juga menangis dalam waktu bersamaan begitu juga Anna yang kini harus berjinjit untuk memeluk adiknya. Waktu 6 tahun telah telah banyak merubah adik kecilnya itu menjadi sosok pemuda tampan dengan tinggi menjulang, tak ada lagi adik kecilnya yang gemuk dengan pipi tembem seperti bapau yang selalu ia cubiti, kini tubuhnya telah terpahat sempurna layaknya para pemuda yang selalu menghabiskan waktunya dengan berolah raga.
“Kamu sudah banyak berubah,” ucap Anna sambil mantap Byan yang tersenyum lebar, “Tapi kamu tetap saja cengeng,” lanjutnya membuat Byan tertawa.
“Dan Kakak masih saja jelek, tidak berubah,” balasnya membuat Anna tertawa.
“Kamu persis seperti Mamahmu waktu kecil,” terdengar suara ibunya yang tengah berbicara dengan Alice membuat Anna dan Byan mengalihkan pandangannya kepada mereka. Ibunya Anna kini tengah menggendong Alice dengan senyum mengembang, sedangkan gadis kecil itu hanya menatapnya bingung karena tak mengenalinya.
“Alice tidak mengenalku?” Tanya ibu Anna sambil menatap Alice yang terlihat menggemaskan.
“Tidak,” jawabnya sambil menggelengkan kepala membuat ibu Anna tersenyum.
“Aku adalah Ibu Mamahmu, jadi aku adalah Neneknya Alice… kau bisa memanggilku Eyang putri.”
“Eyang put…” Alice terlihat kesulitan ketika harus mngatakan huruf R dan itu sangat menggemasakan karena gadis kecil itu hanya membuat matanya semakin membulat tanpa berhasil mengucapkannya.
“Eyang ti, Alice bisa memanggilku Eyang ti,” ucap Neneknya sambil tersenyum lebar.
“Hmmm… baiklah,” ucap Alice mengerti.
“Dan aku adalah adik ibumu… kau harus memanggilku Om Byan,” ujar Byan sambil mengambil Alice dari gendongan ibunya, “Apa Alice mau es krim?” tanyanya yang dijawab anggukan semangat oleh gadis kecil itu.
“Bagus! Om punya es krim yang sangat banyak,” lanjut Byan sambil berjalan ke dapur dengan Alice dalam gendongannya, dibelakang mereka ikut mengekor Pak Min dan Bi Nani yang sepertinya sudah terpesona oleh gadis kecil itu.
Ibunya Anna menatap Dr. Lee yang dari tadi hanya berdiri menyaksikan pertemuan keluarga itu, merasa bersalah karena sempat melupakannya Anna langsung berdiri disamping pria itu lalu mengenalkannya kepada ibunya.
“Mah, ini suami Anna, Dr. Steven Lee.”
Ibunya Anna mengerutkan alisnya terlihat terkejut sekailigus bingung karena yang dia ketahui pria dihadapannya bukanlah pria yang yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada putrinya.
“Anna akan menjelaskannya nanti, Mah,” ucap Anna setelah mengerti dibalik reaksi ibunya, “Tapi yang pasti… dialah yang selalu menjaga dan mendukukng Anna selama ini, dia menyayangi Alice seperti putrinya sendiri begitu pula sebaliknya, dan karena dia pulalah Anna memiliki keberanian untuk pulang.”
Ibu Anna tersenyum dan tanpa diduga dia langsung memeluk Dr. Lee layaknya seorang ibu yang menyambut kepulangan putranya.
“Terimakasih karena telah menjaga Anna selama ini,” ucapnya dengan tulus sambil menggenggam kedua tangan Dr. Lee yang kini menatap Anna karena tak mengerti apa yang diucapkannya dan Anna langsung menerjemahkan untuknya.
“Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga mereka berdua. Terimakasih karena telah melahirkan dan membesarkan seorang putri yang luar biasa seperti Anna,” ucap Dr. Lee sambil membungkuk hormat yang membuat Anna mematung sambil menatapnya, pria itu selalu sukses membuat hati Anna terasa hangat.
“Kau tidak menerjemahkannya untukku? Kau tahu sendiri Mamahmu ini cuma bisa bilang thank you dan sorry saja,” ujar ibunya yang membuat Anna tersadar lalu tersenyum sebelum menerjemahkan apa yang diucapkan suaminya.
“Sepertinya kali ini kau tidak salah memilih seorang suami, Na,” puji sang ibu membuat pipi Anna semakin memerah.
“Mamah selalu berdoa agar Tuhan memberikanmu jodoh yang terbaik, yang bisa menjaga dan membahagiakanmu, yang selalu bisa membuatmu tersenyum, yang bisa saling mengisi satu sama lain hingga hidup kalian terasa kumplit, dan sepertinya Tuhan telah menjawab doa-doa Mamah,” lanjut ibu Anna sambil menggenggam tangan putrinya lembut.
“Kau seorang dokter?” Tanya Ibunya sambil menatap Dr. Lee yang sepertinya mengerti pertanyaan sederhana itu.
“Iya.. dokter,” jwab Dr. Lee dengan bahasa Indonesia terpatah-patah.
“Bagus, ayah pasti senang mengetaui menantunya seorang dokter,” ucap ibu Anna yang kembali menyadarkan putrinya tentang keberadaan ayahnya yang tak terlihat.
“Tapi… dimana Ayah?” Tanya Anna ketika menyadari daritadi ia tidak melihat ayahnya.
“Ayahmu ada di belakang pergilah menemuinya, selama ini dia selalu menghabiskan waktunya di sana sambil menunggumu dan hari ini seperti punya firasata, pagi-pagi dia sudah menyuruh Bi Nani untuk membereskan kamarmu dan semalam dia meminta Mamah untuk masak sop buntut kesukaanmu untuk menu makan siang hari ini.”
Anna tersenyum dengan tenggorakan tercekat ketika mendengar perkataan ibunya dan akhirnya dia mengangguk lalu berjalan ke taman belakang, sedangkan Dr. Lee diajak ibunya untuk ke dapur bergabung dengan Byan dan Alice.
Rumah mereka yang luas membuat Anna harus melewati ruang keluarga yang terlihat nyaman dengan sofa besar, karpet bulu yang lembut ditambah bantal-bantal tempat keluarganya melewatkan waktu dengan nonton TV layar datar 45’ yang menempal di dinding lengkap dengan home teater di kanan-kirinya.
Di sisi lain terdapat sebuah tangga menuju lantai atas dimana kamar mereka semua berada, ingin rasanya ia naik ke sana untuk melihat kamarnya dulu. Apa semuanya masih sama? Tapi keinginnya itu harus tertunda sementara waktu karena ada hal yang lebih penting lagi, yaitu bertemu dengan ayahnya.
Anna berjalan melewati pintu kaca dimana terdapat teras belakang dengan kursi santai tempat mereka duduk sambil melihat ikan koi yang berada disepanjang teras yang memisahkan bangunan utama dengan taman belakang yang menghampar luas adengan rumput hijau.
Anna menyebrangi jembatan kecil yang menghubungkan bangunan utama dengan taman belakang dimana terdapat kolam renang berukuran cukup besar dan sebuah pavilion tradisional Jawa di pinggirnya. Kecintaan ibunya terhadap tanaman membuat ayah mereka memutuskan membuat rumah di atas tanah yang sangat luas yang terletak dipinggir kota Jakarta timur daripada perumahan tengah kota yang ekslusif.
Oleh karena itu meraka bahkan memiliki beberapa pohon rambutan, mangga, papaya sampai lengkeng yang berada di taman belakang. Anna tersenyum ketika mengingat sering kali ia bersama teman-temannya menghabiskan waktu mereka di sana kala pohon-pohon itu berbuah.
Ia berjalan melewati pavilion, kakinya menginjak batu-batu kecil berwarna putih yang sengaja ditempatkan di jalan setapak menuju rumah kaca yang berada di taman paling belakang tempat beberapa tanaman hias yang sengaja ditanam ibunya untuk menyalurkan hobinya.
Rumah kaca itu tidak terlalu besar tapi sangat nyaman, pertahan Anna membuka pintu rumah kaca itu dengan jantung berdetak hebat. Siulan burung-burung peliharan ayahnya yang sepertinya kini menjadi penghuni di sana tak meredakan debaran di dada perempuan berambut hitam itu.
Dengan perlahan kakinya melangkah memasuki ruangan dan seketika jantungnya terasa copot ketika melihat siluet tubuh pria yang membelakanginya menghadap sangkar burung, tubuh Anna gemetar, matanya memanas ketika melihat tubuh Ayahnya kini sudah tak segagah dulu lagi, rambutnya telah memutih, ia tercekat ketika melihat tubuh ayahnya yang telah menua dimakan usia.
Seketika tubuhnya membeku kaku, tenggorokannya semakin tercekat, matanya memanas, jantungnya berdetak lebih menggila, tubuhnya gemetar ketika perlahan tubuh ayahnya membalik. Mata sendu ayahnya kini menatapnya tak berkedip, beberapa saat mereka hanya saling pandang di antara kesunyian membuat kaki Anna seolah lemah tak mampu untuk menopang tubuhnya bertentangan dengan keinginan untuk berlari ke dalam pelukannya yang menyeruak kepermukaan tapi ia ragu dan juga takut, sampai akhirnya bibir ayahnya berucap dengan suara gemetar.
“Kamu… sudah pulang, Na.”
Hanya satu kalimat itu yang membuat semua keraguan dan ketakutan Anna terbang tak berbekas, tanpa menunggu lama ia berlari sambil terisak ke arah ayahnya yang menyambutnya dengan tangisan.
Mereka saling berpelukan erat tak ada kata yang terucap hanya isak tangis yang keluar dari keduanya, menumpahkan semua kerinduan yang selama ini terpendam.
“Maafin Anna, Yah, maafin Anna.” Hanya itu yang terucap dari bibir Anna disela tangisnya yang dijawab ayahnya dengan anggukan dan berurai airmata.
*****
karyamu selalu menghibur..
untung gw baca Ayumi -Erik duluan,jadi paham alurnya