Langit Agam Perkasa, seorang laki laki yang cerdas serta berprestasi terpaksa menjadi badboy karena keadaan yang memaksanya, Langit tidak pernah memiliki hasrat untuk hidup setelah seseorang di hidupnya dan penyemangatnya pergi meninggalkannya hal itu membuat Langit jauh dari Allah dan dari agama ia berfikir bahwa masalah yang ada di hidupnya karena takdir yang Allah berikan padanya. Namun Langit sadar setelah ia bertemu dengan seorang gadis yang Langit sendiri tidak tau namanya tapi dia menyebutnya Bidadari Syurga. Langit tidak tau bahwa dari pertemuan itu lah kehidupannya akan berubah dan Langit juga tidak tau bahwa itu adalah awal dari sebuah perjuangan panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Verra Vidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Hari sudah larut malam,semua orang sudah terlelap dalam alam mimpi,namun tidak dengan Langit yang kini sedang bersandar di dinding rumah sakit kini ia sedang diam membisu tatapannya terlihat kosong menatap lurus ke arah pintu yang sedang tertutup. Langit kembali menteskan air matanya ketakutan kembali melanda dirinya. Kabar buruk yang ia terima siang tadi masih terus terngiang di fikirannya,Langit mengusap wajahnya dengan kasar lalu memukul dadanya sendiri mencoba menghilangkan rasa sesak yang saat ini sedang melanda hatinya. Hening mengambil alih suasana saat ini,Langit ingin sekali masuk ke dalam ruangan di balik pintu bercat putih itu namun ia yakin setelah itu suasana hatinya pasti akan lebih buruk dari ini Langit yakin ia tidak akan kuat berada di dalam sana meskipun ia sangat ingin masuk ke dalam sana. Langit kembali menangis bersamaan dengan fikirannya yang berkecamuk dengan segala hal buruk yang terus saja terlintas, kejadian di masa lampau terus saja membayangi nya bagaikan kaset yang kusut terus berputar berulang ulang menjadi memori terburuk baginya, Langit mendongakkan kepalanya dan meringis menahan sakit di hatinya. Hal ini terulang kembali,kenangan buruk ini terulang kembali dan mampu menyesakkan dada sampai rasanya Langit sukar sekali bernafas.
Langit pun memilih mendengarkan batin dan fikirannya yang saling berkecamuk beradu argumen antara ego dan batin nya yang terus berseteru tidak ingin mengalah,dan akhirnya kali ini untuk pertama kali batin nya lah yang menang berhasil mengalahkan ego Langit yang begitu tinggi. Langit bangkit ia mencoba menyeimbangi badannya yang hampir tumbang,ia berjalan perlahan mendekati pintu ruangan berwarna putih yang kini berada di hadapannya. Perlahan Langit membuka pintu tersebut suasana berbeda menyambut dirinya ketika berhasil membuka pintu tersebut. Langit terdiam setelah menutup pintu bercat putih itu,Langit memejamkan matanya dan indra penciumannya pun menangkap bau obat obatan yang sangat kuat,bau khas rumah sakit. Langit pun melangkah dengan perlahan menghampiri seseorang yang kini sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit,lagi lagi hening kembali menjadi raja. Hanya ada suara alat pendeteksi jantung yang terdengar begitu nyaring dan begitu memilukan,Langit menghembuskan nafasnya walaupun dengan susah payah ia menatap seorang gadis yang kini sedang berjuang dan bertahan untuk bisa hidup lebih lama lagi. Langit menatap wajah itu,wajah yang kini pucat pasi,wajah yang biasanya ia rindukan kehadirannya. Langit beralih menatap mata orang tersebut yang kini terpejam menampilkan bulu mata lentik nya,Langit sangat suka melihat bulu mata lentiknya namun untuk saat ini Langit tidak ingin melihat bulu mata lentik itu lebih tepatnya ia ingin melihat pemilik bulu mata lentik itu membuka matanya karna Langit sangat merindukannya. Langit mencoba mengengam tangan gadis tersebut yang kini terasa begitu dingin di gengamannya,Langit terkekeh parau bersamaan dengan derai air mata yang mengalir dari sudut matanya.
"Aku tau kamu akan marah kalau aku gengam tangan kamu saat kamu sadar nanti" ucap Langit dengan lirih tanpa berniat sedikit pun melepaskan gengaman tangannya.
"Aku lebih baik melihat kamu marah dari pada harus melihat kamu seperti ini"
Langit menghela nafasnya sebelum kembali berucap,
"Karna jujur melihat mu seperti ini jauh lebih menakutkan buatku dari pada harus melihat kamu marah sama aku."
Langit mendekatkan jemari itu ke bibirnya dan mengecup nya singkat.
"Aku sudah lancang mencium tanganmu,ayo bangun dan marahi aku sepuasmu!" Ujar Langit yang suara nya meninggi
"Ayo bangun! Ayo marahi aku karna sudah menyakiti mu dan bahkan sudah berani menyentuh tanganmu,ayo buka matamu! Bangunlah dan lampiaskan semua rasa sakitmu padaku!" Ujar Langit yang kembali menangis meluapkan segala nya yang ada di hati.
"Ayo bangun jangan menyiksaku seperti ini,bangunlah dan aku akan merasa tenang untuk meninggalkan mu" ucap Langit dengan lirih dan kembali menatap wajah gadis di hadapannya dengan sendu.
"Binar,aku menyayangimu" ucap Langit sambil mengecup tangan Binar dengan durasi yang lama ia ingin meluapkan semuanya untuk terakhir kalinya namun terhenti karna suara pintu ruangan tersebut yang terbuka.
"Seharusnya gue gk ngasih lo kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal,tapi karna gue merasa kasihan sama lo jadi gue izinin lo buat ketemu Binar untuk yang terakhir kali nya" ujar orang tersebut dengan nada dingin dan tatapan tajam nya yang ia berikan pada Langit.
"Waktu berkunjung sudah habis dan sekarang lo bisa pergi dari sini dan dari hadapan Binar untuk selama lamanya,supaya lo gk akan bisa nyakitin Binar lagi" ujar orang itu lagi dengan nada dan tatapan nya yang masih selalu sama,namun Langit masih diam ia masih mengamati wajah Binar seolah olah ia sedang mengucapkan selamat tinggal pada Binar untuk yang terakhir kali nya.
"Cepat pergi dari sini sebelum gue ngehajar wajah lo" Ujar orang tersebut memberi peringatan pada Langit,Langit pun bangkit lalu menoleh pada orang tersebut.
"Gue akan pergi,tapi gue minta satu hal sama lo" ujar Langit dengan nada serius
"Apa?"
"Reno gue mohon sama lo buat jagain Binar,buat dia bahagia sampai dia bisa ngelupain rasa cinta dia ke gue bahkan buat dia lupa semua hal tentang kehadiran gue dalam hidupnya" kata Langit pada orang itu yang tak lain adalah Reno,Reno pun tersenyum miring.
"Tanpa lo minta gue akan berusaha buat Binar bahagia dan buat Binar bisa ngelupain diri lo selamanya"
Langit pun tersenyum sendu ia pun menganguk dan melangkah kan kaki nya menuju pintu bercat putih tersebut namun saat di depan pintu langkah nya terhenti ia kembali menoleh ke belakang menatap seseorang yang berarti di hidupnya untuk yang terakhir kali nya,Langit pun dengan berat hati keluar dari kamar rawat Binar bersama hatinya yang rapuh bahkan Langit tidak sadar bahwa air mata sudah mengalir lagi membasahi pipi nya.
"Gue gk boleh nangis,semua nya akan baik baik aja. Binar pasti bisa lebih baik lagi karna udah gk ada gue lagi di sisinya yang cuma bisa bikin dia selalu sakit."
Setelah berucap seperti itu Langit pun kembali melanjutkan langkahnya,ia benar benar serius dengan janji nya pada Reno untuk menjauhi Binar bahkan kini ia bukan hanya menjauhi namun pergi untuk meninggalkan Binar untuk jangka waktu yang cukup panjang.
[]
"Langit? Ada apa nak? Apa yang terjadi?" Tanya Manda yang melihat penampilan putra tiri nya yang nampak sangat kacau,ia menatap sendu pada Langit yang sedari dulu sudah ia anggap seperti anak kandung nya sendiri.
"Langit apa kamu baik baik saja nak? Kamu ada masalah? Mau cerita sama mamah nak?" Tanya Manda dengan nada lembutnya khas seorang ibu,Langit menundukkan kepalanya mendengar suara mamah tirinya itu kembali mengingatkan Langit akan sosok Bundanya yang sudah tiada. Langit pun tidak menjawab pertanyaan Manda ia malah memeluk Manda dengan erat dan menumpahkan tangis nya dalam pelukan mamah nya,pelukan seorang ibu yang sudah lama tidak Langit dapatkan.
"Menangislah nak kalau itu bisa meredakan rasa sesak di dadamu" ujar Manda lagi sambik mengelus pungung Langit yang bergetar karna tangis nya.
Langit pun mendudukan tubuhnya di atas sofa ia masih bungkam namun nafasnya masih memburu akibat ia menangis tadi,di hadapannya ada Manda yang masih setia menemani putranya ini.
"Aku ingin pergi" ujar Langit membuat Manda mengerenyit bingung.
"Aku mau pergi,aku tidak mau berada di sini lagi aku ingin pergi jauh dan aku butuh bantuan,mamah.." ujar Langit dengan lirih pada saat ia mengucapkan kata 'mamah',Manda yang mendengarnya pun merasakan hatinya merasa tersentuh karna akhirnya putra tiri nya ini sudah menganggap dirinya sebagai mamah nya.
"Katakan nak apa yang kau butuhkan? Mamah pasti akan membantu mu" ujar Manda yang saat ini sudah meneteskan air mata.
"Bilang pada papa untuk mengirimku ke rumah eyang,aku ingin tinggal di sana" ujar Langit dengan keputusannya yang sudah bulat,Manda terdiam dan menatap manik mata Langit ia tau saat ini putra tirinya sedang tidak baik baik saja. Mata nya menyorotkan kesedihan yang mendalam namun Manda tak tau apa yang membuat putra nya serapuh ini.
"Mamah bisa bantu aku kan?" Tanya Langit menatap Manda dengan tatapan memohon
"Tentu mamah pasti akan bantu kamu" ujar Manda sambil tersenyum dan Langit juga ikut tersenyum lalu memeluk Manda sambil menahan rasa sakit di hati nya namun Langit mencoba untuk baik baik saja.
[]
Pukul 02.00 dini hari,tapi Langit belum juga memejamkan matanya ia tengah berdiri di atas balkon kamar nya menikmati semilir angin yang menerpa wajah nya. Langit tersenyum sendu menatap bulan yang bersinar dengan redup tanpa taburan bintang-bintang yang biasa menemani malamnya,persis seperti bulan tersebut kini nasib Langit pun sama seperti bulan itu. Tadi,setelah usai makan malam papah nya memberitahu diri nya kabar yang seharusnya membuat dirinya senang namun malah sebalik nya. Rahardi memberi izin pada Langit untuk tinggal bersama eyang nya dan besok pagi Langit akan segera pergi ke Turki,tempat di mana kakek dan nenek yang berasal dari almarhum Bunda nya berada.
Langit terdiam sejenak ingatannya kembali tertuju pada saat pertama kali ia bertemu dengan Binar yang bisa di bilang secara tiba tiba,pertemuan pertama yang sangat mengesankan bagi Langit dan kini Langit sadar semuanya telah berakhir secepat ini. Sejujur nya Langit tidak sanggup berpisah dengan Binar tapi takdir tidak berpihak pada keinginannya mungkin ini semua ujian yang Allah berikan padanya jadi mau tidak mau Langit harus tabah menjalani nya,mungkin inilah yang terbaik bagi Allah meskipun begitu Langit percaya bahwa akan ada sebuah pelangi setelah hujan sama seperti cobaan pasti akan ada hikmah yang berharga di dalam nya. Langit kembali tersenyum sendu ia harus kuat demi diri nya sendiri,bukankah selama ini Langit sudah biasa dalam hal kehilangan dan di tinggalkan? Bahkan di anggap tak ada. Langit paham hidup memang menyakitan tapi apapun itu kita harus mensyukuri nya,sudah puas dengan segara fikiran-fikiran di benak nya Langit pun masuk ke dalam kamar nya ia butuh istirahat karna tubuhnya sudah terasa lelah terlebih lagi hati dan fikirannya yang lelah menahan rindu.
satgas tni konga unifil 2018
malah curhat gw... wkwkwkwk
ak jd kangen bpk ku thorrr...semoga bpk selalu bahagia di rumah allah..amin...
ak tau rasanya macam mana di tinggal seseorang yg sangat berharga untuk selamanya...
top karyamu thoor
kasian Evelyn,melht dan mendengar orng yg iya cintai mencintai orng lain😭😭
kasian jugaa sama binarrr,,kuatt yaa binarr😭