Jika tidak tahan dengan konflik tajam. Maka di larang keras masuk Novel ini..!!
Tidak peduli apapun profesiku, patah hati tetaplah meninggalkan rasa sakit begitu dalam. Aku pun memiliki hati. Tapi.. Pertemuan kala itu sudah mengalihkan duniaku dan mengubah hidup kita. Aku tidak pernah tau kesalahan itu menjadi masalah yang begitu besar.
Tak ada cinta yang mudah untuk di lalui, begitu pula rasa ini untukmu. Tak bisa ku jabarkan pula mengapa aku bisa menitipkan hatiku pada sosok yang bertolak belakang dengan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Tahan emosi.
"Mama sakit?" tanya si kecil Lingga.
"Mama makannya sedikit, nggak mau minum susu.. makanya Bang Lingga makan yang banyak, biar nggak sakit" jawab Bang Yudha saat mereka menuju rumah sakit.
Bang Yudha melirik Netta yang bersandar melihat sekitar jalan. Istrinya itu lemas dan malas bicara.
"Ini kenapa pakai aksi gerakan tutup mulut segala?" tegur Bang Yudha.
"Kenapa Tania masih ganggu Abang?" tanya Netta agaknya kesal dengan kelakuan Tania.
"Mana Abang tau dek. Dia yang cari perkara. Datang dan..." Bang Yudha rasanya tak sanggup lagi mengatakan apa yang sudah di lakukan Tania pada hubungan mereka berdua.
"Netta tau. Makanya.. cari perempuan jangan hanya lihat tampang dan body nya. Tapi juga harus lihat sampai ke hati. Sekarang baru tau Abang rasanya pernah mencintai anak kuyang" sindir Netta begitu lancar.
"Namanya laki dek. Body nomer satu, apalagi dulu di umur-umur peralihan, nafsuu Abang sedang tinggi dan tidak berpikir panjang. Bawa perempuan cantik hanya menang bangga" jawab jujur Bang Yudha.
"Iya nggak Ric??" tanya Bang Yudha tiba-tiba menegur Bang Rico yang sesekali masih suka melirik Netta.
"Siap Bang. Benar"
"Apa?" tanya Bang Yudha lagi.
"Saya tidak lagi bisa memiliki dia" jawab Bang Rico tanpa sadar.
Bang Yudha menepuk dahinya.
"Kamu mau saya jungkir????? Kita ini lagi bicarakan kelakuan laki-laki kalau lihat perempuan. Bukan sedang bicarakan patah hatimu" tegur Bang Yudha.
"Siap salah Abang" Bang Rico mengalihkan pandangannya, tersadar dengan teguran Bang Yudha.
"Belum bisa move on?" tanya Bang Yudha.
"Siap.. sedang belajar Bang"
"Semua datangnya dari hati, jangan hanya lewat pikiran...!!" kata Bang Winata yang sedang menggendong Lingga. Bang Winata belum sempat membawa Anya bersamanya hingga dirinya harus mengalihkan rasa rindunya pada Lingga, keponakan satu-satunya dari Netta.
"Siap..!!"
...
"Yang mau periksa satu, yang antar satu kampung?" tanya dokter kandungan.
"Kau ini jangan meledek pasukan bo*rex. Kualat kamu nanti..!!" jawab Bang Yudha.
"Cepat tangani. Jangan buang waktu, Abang sibuk sekali.. baru datang"
Dokter Jimmy segera memeriksa istri seniornya itu.
~
"Ini mah sudah isi enam minggu Bang." kata Bang Jim mengarahkan alat USG di sekitar perut Netta.
"Kok bisa sih Jim?????"
"Abang hilang ingatan atau bagaimana? Kenapa tanya saya??" Bang Jim heran dengan pertanyaan Bang Yudha.
"Bukan begitu. Maksud Abang.. kemarin sempat test tapi hasilnya negatif, kenapa sekarang tiba-tiba sudah isi aja" protes Bang Yudha.
"Mungkin kemarin belum kelihatan Bang, hormon Hcg belum naik. Ini buktinya.. sekarang istri Abang positif hamil" jawab Bang Jimmy.
Bang Yudha mengusap wajahnya, speechless tak tau harus berkata apa dan berbuat apa.
:
Sambil menggandeng Netta, Bang Yudha lebih banyak diam.
"Abang nggak suka?" tanya Netta sembari melepas genggaman tangan Bang Yudha.
"Nggak suka apanya?" pikiran Bang Yudha berantakan memikirkan banyak hal.
"Abang nggak mau anak ini?? Lebih kepikiran anaknya Tania.. yang di bilang anak Abang itu???" ucap kesal Netta karena melihat sorot mata Bang Yudha yang datar saja.
"Nggak usah mikir macam-macam bisa nggak sih dek? Jangan tambahi beban pikiran Abang pakai pertanyaan mu yang nggak terarah itu..!!"
"Yudhaa..!!!!!" Bang Winata menegur ucapan adik iparnya.
Netta semakin marah dan menepis tangan Bang Yudha.
"Abang menyadarkan Netta tentang banyak hal termasuk anak ini. Di saat Netta mulai ikhlas dengan semua keadaan kita, Abang bilang Netta hanya menambahi beban pikiran Abang. Mungkin lebih baik Netta pergi saja sama Lingga biar Abang nggak semakin pusing dengan keberadaan Netta"
Netta berjalan cepat menjauh dari Bang Yudha. Seketika darah Bang Yudha mendidih melihat sikap Netta yang menjauh darinya. Di tariknya tangan Netta dengan kuat.
"Aaaww.. sakit Bang..!!"
Refleks Bang Rico sigap memasang badan untuk Netta.
"Tolong jangan kasar Bang..!! Nggak usah terlalu menanggapi semua kata-kata Netta. Dia hanya terbawa perasaan karena kehamilannya saja"
"Kamu pikir, kamu yang lebih tau semua tentang Netta??" bentak Bang Yudha.
"Siap salah Abang" jawab Bang Rico menahan perasaannya dan memilih untuk mengalah. Dirinya paham betul tingkat stress Bang Yudha, mungkin dirinya akan bersikap sama jika berada dalam posisi Bang Yudha.
"Sudah, jangan berdebat lagi. Kamu tahan emosi mu Yud. Bumilmu ini sensitif sekali" kata Bang Winata menengahi.
Bang Yudha menghela nafasnya kemudian mencoba menarik tangan Netta, tapi istrinya itu menolaknya.
"Apa punggung Rico lebih nyaman? Ini ada bahu Abang yang bisa kamu sandari setiap saat" bujuk Bang Yudha merendahkan nada suaranya.
Tak ayal seketika Netta menangis. Hanya dengan bujukan lembut itu Netta sudah kembali dalam dekapan Bang Yudha.
"Abang salah. Abang minta maaf ya..!! Abang hanya syok aja sudah mau jadi Papa lagi. Masalah kita belum beres, status mu dan Lingga saja masih belum jelas tapi kamu sudah hamil lagi.. Rasanya pikiran Abang buntu belum bisa selesaikan masalah ini" ucap Bang Yudha.
"Jangan begitu lagi..!! Netta nggak suka..!!"
"Siap..!! Nggak berani begitu lagi" jawab Bang Yudha.
dddrrttt.. ddrrrtttt.. ddrrrttt..
Bang Yudha melihat ada panggilan telepon masuk dari Danyon lalu mengangkatnya.
"Selamat pagi. Ijin arahan Abang..!!"
"Cepat datang ke Batalyon. Tania disini..!!" kata Danyon.
"Siap .!!!"
:
Wajah Bang Yudha berubah geram mendengar nama Tania apalagi wanita itu sudah begitu mengacau.
"Kenapa Bang?" tanya Netta.
"Tania ada di Batalyon" jawab Bang Yudha.
Wajah Bang Winata dan Bang Rico ikut geram mendengarnya.
"Biar kuberi pelajaran perempuan satu itu Bang" kata Bang Rico.
.
.
.
.
mba Nara "pot" itu apa sih...apa sebutan utk sahabat atau apa...tlng jwb dong