Bekerja dengan boss yang lebih muda darimu, membuatmu merasa harus lebih dihormati? Tidak dengan boss satu ini. Dia lebih dingin dari sebongkah es batu.
Indira Pertiwi, perempuan 30 tahun yang berstatus janda dengan anak satu. Ditinggal mati oleh suaminya karena penyakit kronis. Mencari pekerjaan demi menghidupi dirinya sendiri dan anak satu-satunya.
Bertemu dan bekerja dengan Boss yang lebih muda dari dirinya serta mempunyai sifat yang dingin, membuat Indi menghadapi banyak hal setelah resmi bekerja di perusahaannya. Demi pekerjaan, Indi bertahan dalam keadaan tersebut. Sampai suatu saat ada benih-benih rasa tumbuh di antara mereka.
Bagaimana kisah dari seorang Indira? Apakah pada akhirnya Indi akan bahagia saat menjalin hubungan dengan seorang Arya Wijaya?
Ikuti terus alur ceritanya. Dukung author dengan like,komen,vote n giftnya ya. Tank you readers 🤗❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeKha_chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Kejutan
Hari sabtu ini, Indi akan mengajak Evan jalan-jalan. Sudah hampir dua minggu, dan Arya belum juga kembali. Indi mencoba mengalihkan pikirannya, dengan mengajak Evan jalan-jalan.
"Om Arya, belum pulang juga Mah?" tanya Evan.
"Belum sayang, masih sibuk di luar kota," jawab Indi. Niatnya mau mengalihkan pikiran dari Arya, Evan terus-terusan tanya soal Arya. Indi hanya bisa pasrah.
"Mah, hari ini kita mau kemana?" tanya Evan lagi.
"Ke Fun World aja ya, sayang," jawab Indi.
Evan hanya mengangguk senang. Indi dan Evan sedang dalam perjalanan ke Mall.
Sesampainya di Mall, Indi dan Evan langsung menuju ke area bermain anak, Fun World.
"Indi," panggil seorang perempuan, yang ternyata adalah Sinta, teman dekat Indi semasa kuliah.
"Sinta, aaaa kangen," kata Indi langsung memeluk Sinta.
"Lo yang sok sibuk, diajak jalan aja banyak banget alasannya," kata Sinta, menabok pelan lengan Indi.
"Ngapain lo di sini?" tanya Indi.
"Jalan-jalan aja. Eh, ini Evan ya," tanya Sinta, setelah melihat Evan di samping Indi.
"Iya Tante," jawab Evan sambil tersenyum.
"Wah, pinter banget anak lo Ndi." Sinta kagum dengan Evan yang ramah, dan murah senyum.
"Didikan gue gitu loh," kata Indi membanggakan diri.
"Dih, sombong, hahaha." Sinta tertawa dibarengi oleh Indi.
"Mau ikut gue 'gak, Sin?" tanya Indi.
"Kemana?"
"Fun World, nemenin Evan," kata Indi mengacak rambut Evan.
"Ayuk aja deh, daripada gue sendirian," akhirnya Sinta ikut dengan Indi dan Evan.
"Arya belum pulang Ndi?" tanya Sinta.
Sinta sudah tahu semua tentang Indi. Walaupun mereka jarang bertemu, tetapi Indi dan Sinta berkomunikasi dengan baik.
"Belum, masih sibuk katanya," jawab Indi dengan raut wajah sedih.
"Kangen berat dong," ledek Sinta.
"Gue ngajak jalan-jalan Evan, biar 'gak kepikiran Arya terus. Tapi daritadi yang ditanyain Arya terus, huft," Indi mempoutkan bibirnya.
"Hahaha, sabar ya Bu." Sinta mengelus lengan Indi.
Indi dan Sinta mengikuti Evan yang sedang asyik bermain game menembak. Evan tersenyum senang, bisa bermain banyak game hari ini.
Ddrrtt..ddrrtt.. Ada chat baru di ponsel Indi.
Chat Arya : 'sayang lagi dimana?'
Indi membacanya sambil tersenyum, dia sudah sempat bilang sama Arya kalau mau jalan-jalan sama Evan.
Chat Indi : 'di Fun World Mall Atrium Ar. kamu lagi ngapain?'
Karena tidak ada balasan lagi dari Arya, Indi memasukkan lagi ponselnya ke tas.
"Chat dari Arya?" tanya Sinta.
"Iya, nanyain lagi dimana. Tadi udah sempet kasih tahu juga, kalau aku mau jalan sama Evan," kata Indi menjelaskan.
"Lagi belajar jadi istri yang baik ya?" Sinta meledek Indi, membuat pipi Indi merah karena malu.
"Lo aja dulu sana, nikah. Mau sampai kapan lo jomblo?" kata Indi mengalihkan pembicaraan.
"Ngeles aja lo." Sinta merangkul pundak Indi. "Gue lagi deket sama Ardi," kata Sinta tersenyum.
"Serius lo? Ardi temen kita itu?" Indi tidak percaya, kalau Sinta dan Ardi sekarang dekat. Dulu sewaktu kuliah, mereka memang dekat. Karena Sinta orangnya memang supel.
"Iya, doain aja kalau kita cocok," kata Sinta tersenyum lagi.
"Aaaa, gue ikut seneng Sin." Indi memeluk Sinta.
"Mama," Evan memanggil Indi dan memegang tangan Indi.
"Kenapa sayang? Mau main apa lagi?" Indi bertanya pada Evan.
Indi sedang asyik ngobrol dengan Sinta, jadi dia tidak sadar ada seseorang yang datang menghampirinya.
"Itu Mah." Evan menunjuk kepada seseorang yang berdiri tidak jauh dari Indi.
Indi menengok ke arah yang Evan tunjuk. Ada seorang Arya, yang sedang tersenyum sambil berjalan mendekatinya.
"Hai, sayang." Arya tersenyum melihat Indi kaget.
"Arya? Kok kamu di sini?" tanya Indi kaget dan juga senang.
"Surprise sayang," kata Arya santai. "Hai, kid, sini sama Om." Arya menggenggam tangan Evan.
"Arya ... " Indi masih belum tersadar dari kagetnya.
"Iya sayang." Arya langsung mendekat dan memeluk Indi. Seketika Indi memeluk Arya balik.
"Miss you," kata Arya berbisik.
"Miss you too, Ar," balas Indi.
Sinta melihat pemandangan yang begitu menenangkan.
"Moga lo bahagia Ndi," batin Sinta.
"Ekheemm," deheman Sinta menyadarkan Indi, dan langsung menguraikan pelukannya dengan Arya.
"Sorry, Arya, ini Sinta teman dekatku waktu kuliah dulu," kata Indi, mengenalkan Sinta pada Arya.
"Arya," kata Arya dingin, mengulurkan tangan
"Sinta," kata Sinta, menjabat tangan Arya.
"Ramah, tapi dingin," batin Sinta.
"Evan mau main apa lagi?" tanya Arya pada Evan. "Aku temenin Evan dulu ya." Arya mengusap kepala Indi.
Arya dan Evan sudah pergi mencari permainan yang mereka sukai. Indi dan Sinta mengikuti dari belakang.
"Lo beruntung Ndi," kata Sinta pada Indi.
"Iya, gue akuin itu. Walaupun Arya lebih muda dari gue, tapi dia bener-bener bisa jadi dewasa di hadapan Evan," kata Indi melihat Arya dan Evan berinteraksi.
"Apa Arya mau nikahin Lo?" tanya Sinta.
"Gue 'gak tahu Sin, gue juga bilang sama dia, kita perkenalan dulu." Indi menjelaskan sambil tersenyum pada Evan, yang melambaikan tangan padanya.
"Jangan sampai kalian putus, kalau engga gue yang bakal maju paling depan," kata Sinta membuat Indi tersenyum.
"Lebay lo." Indi merangkul pundak sahabatnya itu.
Indi mendekati Arya dan Evan, setelah Sinta memutuskan untuk pulang.
"Dimana teman kamu?" tanya Arya, melirik sebentar lalu fokus balap mobil dengan Evan.
"Sudah pulang. Kamu kapan pulang Ar? Kok 'gak ngabarin," tanya Indi.
"Baru tadi pagi sampai, dan pengen langsung ketemu kamu," jawab Arya. "Yaaah, Om kalah Van."
"Yeayyy, Evan menang," kata Evan, menjunjung tinggi tangannya.
"Oke, sesuai kata Om, kamu menang berhak dapat hadiah," kata Arya pada Evan.
"Evan mau vidio game terbaru Om," kata Evan berbinar.
"Evan, jangan gitu dong. Itu kan mahal sayang." Indi mencoba menasihati Evan. Walaupun Arya udah janji sendiri, tapi Indi tidak mau Evan terlalu meminta banyak.
"Gak apa Ndi, aku udah janji sama Evan," kata Arya memegang tangan Indi.
"Makasih Om." Evan langsung memeluk Arya. "Boleh ya Mah?" tanya Evan pada Indi.
"Ya udah, itu hadiah kamu dari Om Arya," kata Indi tersenyum, mengacak rambut Evan.
"Aku masih punya kejutan lain buat kamu," bisik Arya di telinga Indi. Perasaan Indi langsung tidak karuan. Kejutan apa lagi itu?
"Apa sih Ar?" tanya Indi penasaran.
"Belum waktunya, sekarang waktunya main sama Evan," kata Arya membawa Evan ke permainan yang lain. Sekarang mereka sedang bermain bom-bom car.
Indi melihat dari pinggir arena, sambil sesekali mengabadikan keseruan Arya dan Evan. Melihat senyuman lebar dari Evan, membuat hati Indi menghangat.
"Semoga, dia memang ditujukan buat kamu, Nak," batin Indi, sambil tersenyum melihat anaknya.