NovelToon NovelToon
Hot Jenderal !!!

Hot Jenderal !!!

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:6.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Fara Dela Sandi

Jenderal tinggi di tinggal kan oleh sang istri. Menjadi duda dengan satu orang Putri. Banyak wanita yang berlomba-lomba menginginkan Bara Dirgantara. Namun tak semua nya tulus pada Putri cantik nya. Hingga, ke dua orang tua sang Hot Jenderal itu memutuskan untuk menikahkan Bara dengan adik dari Nana Wijaya. Turun Ranjang, begitu lah orang-orang menyebutnya. Akan kah cinta antara mereka berdua bersemi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 (Rahasia Di Balik Rahasia)

Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari

Perhatikan Tulisan yang bercetak miring adalah mimpi, khyalan atau isi hati!!!

.

.

.

Petir menyambar keras membuat gendang telinga terasa pengar seketika. Lantai dingin licin mencicit keras. Kerasnya hujan di luar sana terasa begitu menakutkan. Perkiraan cuaca Amerika memang dalam tahap yang buruk. Dorongan ranjang cukup membawa heboh. Teriak keras dalam bahasa Inggris yang kental tak bersahabat. Di temani mimik wajah panik dari para perawat. Ranjang di dorong masuk ke dalam UGD. Darah berceceran turun, membawa hujan kecil dari tempat tidur. Gadis cantik terlihat diam, tak mengerang. Meski bibir pucat menghiasi bibir yang selalu terlihat merah merekah. Dahinya sobek cukup besar, ke dua kakinya lecet. Begitu juga dengan ke dua sikunya.

"Dia adalah korban kecelakaan!" seru perawat cantik yang dari awal sudah setia di samping nya. Mendorong ranjang pesakitan*.

"Bagaimana kondisi nya?"

"Fisik nya luka parah Dokter. Hanya saja seperti nya dia—"

Tangan dingin penuh darah bergerak menyentuh lengan sang suster, menghentikan laju pembicaraan.

"Jang—gan katakan apapun." Cegahnya terbata meski kesadaran mulai mengalami penurunan.

Dahi perawat cantik bermata hijau bening itu menatap lambat pasien nya. Sebelum mengalihkan perhatian nya pada Dokter. Gadis cantik itu menghembuskan napas pelan sebelum menutup ke dua matanya.

Hembusan napas samar mengalun samar. Napas yang di tarik terasa begitu sulit. Hembusan napas begitu panas. Ke dua mata terbuka perlahan. Tubuh nya terasa tak nyaman di gerakan. Saputangan basah menghiasi dahi. Wanita ini tak tau sejak kapan ia dalam keadaan seperti saat ini. Yang ia ingat terakhir kali adalah, dirinya tengah bersiap-siap untuk membuat makan malam untuk sang suami. Sebelum, ia kehilangan kesadaran.

"Panas!" keluh Aurora pelan.

Telapak tangannya bergerak menurunkan saputangan basah. Meletakan asal saputangan di nakas. Langkah kaki mendekati kamar membawa antensi jatuh pada pintu masuk. Benar saja, tak butuh waktu lama pria Dirgantara masuk dengan nampak di tangan. Bara tersenyum hangat, meski wajah pria Dirgantara ini terlihat begitu khawatir. Kaki panjang milik Bara mempermudah pria ini mendekati ranjang tanpa harus memakan waktu yang lama. Napan di turunkan, di letakan di samping saputangan basah yang tergeletak pasrah di samping napan. Bara berunsur duduk di bibir ranjang di samping sang istri. Telapak tangan besar Bara mendarat mulus di dahi Aurora.

"Ah! Masih belum membaik," serunya dengan hembusan napas gusar.

Garis bibir di tarik pelan. Tangan Aurora menyentuh telapak tangan Bara. Menarik telapak tangan besar sang suami membawanya jatuh pada bibir pucat. Mengecup pelan punggung belakang tangan dingin Bara. Pria Dirgantara itu terlihat tersenyum lebar. Mendapatkan perlakuan manis dari istri yang biasanya begitu bar-bar. Namun berubah manis di saat tertentu.

"Jangan khawatir Kak. Ini hal bisa, perubahan cuaca membuat tubuh ku agak bermasalah. Setelah makan dan minum obat ke depannya akan baik-baik saja," ujar Aurora menyakinkan sang suami jika ia baik-baik saja.

Bagaimana pria ini tak khawatir. Saat pulang ke basecamp. Ia menemukan Aurora pingsan di dapur. Pria ini kalang kabut, berteriak keras menyadarkan sang istri. Namun ke dua kelopak mata sakura Aurora tak terbuka. Bara Dirgantara bak suami siaga dalam kurun waktu empat jam. Setelah meletakan Aurora di ranjang. Ia berlari cepat menuju pos kesehatan. Menarik Dokter wanita memasuki rumah yang ia tempati. Membuat Dokter cantik itu kewalahan hanya untuk menjawab pertanyaan Jenderal tinggi Indonesia itu. Bahkan pria Dirgantara ini menelpon pos kesehatan dalam hitungan sepuluh menit sekali. Ia akan meneror sang Dokter. Meski Dokter wanita itu sudah berkata jika Aurora keletihan, karena perbelanjaan jauh. Dan perbedaan iklim dari dingin menjadi panas. Sekaligus keletihan melayani sang Jenderal. Yang terakhir cukup memalukan untuk Dokter itu utarakan. Mau bagaimana lagi, ia harus menjelaskan nya.

"Jangan suka sakit ya, aku khawatir!" tutur Bara pelan.

Aurora terkekeh kecil. Seperti ini raut wajah khawatir Bara Dirgantara. Hati kecil Aurora bergemuruh, dulu saat ia dalam rasa sakit yang mendalam. Tidak ada satupun orang di sisinya. Ia hanya akan berada di tempat tidur dalam waktu yang lama. Tidak ada erangan, hanya diam dan bernapas pendek-pendek. Tapi kali ini berbeda, ada seorang pria yang setia di samping nya. Mengompres dahinya dengan raut cemas. Saat bangun akan ada yang membawakan sepiring bubur dan air hangat. Tenyata seperti ini memiliki seseorang di sisi. Memiliki orang yang terus berdoa dengan raut cemas. Memiliki seseorang yang akan memasak untuk nya yang tak bisa berbuat apa-apa. Tenyata begini lah rasanya memiliki suami. Nyaris saja, Aurora melakukan apa yang ia niatkan. Yaitu keinginan untuk melajang seumur hidup. Jika ia tau, menikah seindah ini dan sehangat ini. Mungkin ia tak akan menolak untuk menikah dengan pria ini.

"Kenapa kau menatap ku seperti itu sayang?" Seru Bara mengusap punggung tangan Aurora dengan tangan lain yang bebas.

"Aku menyesal karena pernah menolak mu, kak!" ujar Aurora jujur.

Dahi Bara berlipat. Sebelah alis matanya terangkat tinggi. Seakan tak tau apa maksud dari perkataan sang istri. Menyesal pernah menolaknya? Kapan? Yang Bara Dirgantara tau adalah Nana adalah perempuan pertama yang di jodohkan dengan nya. Ia tak tau jika calon kandidat istri nya dulu adalah Aurora Wijaya Bukan Nana Wijaya.

"Menolak?" ulang Bara pelan.

"Ya. Kau tak tau kan Kak! Jika aku adalah gadis pertama yang menolak di jodoh kan dengan mu."

"Kau? Bukankah gadis yang di jodohkan dengan ku adalah Nana!"

Auroro menggeleng pelan."Tidak. Gadis yang harusnya menikah dengan mu tujuh tahun lalu adalah aku. Bukan Kak Nana."

"Lalu kenapa kau menolak ku!" kesal Bara.

"Hem! Kenapa ya?" tutur Aurora mencoba menggoda sang suami,"Kau dulu begitu menakutkan. Wajah mu lebih datar dari pada papan triplek. Banyak bibir mu itu berlumut karena tak pernah tersenyum. Di tambah saat itu Kakak adalah calon Jenderal tinggi. Aku tak suka!" jelas Aurora di sertai ledekan keras.

"Wah!! Kau terlalu hebat menghina suami mu," decis Bara kesal.

"Itu adalah fakta bukan hinaan Kak!" bela Aurora pada pendapat nya.

Bara Dirgantara melepaskan paksa tangannya yang terkurung oleh genggaman Aurora. Bara Dirgantara merajuk! Lihat lah betapa mengemaskan Bara Dirgantara yang merajuk. Ia membelakangi Aurora dengan bibir yang mengerucut lucu. Sesekali bergumam akan kekesalan nya. Aurora mengulum senyum. Tangannya menarik pelan lengan baju sang suami. Namun Bara terlihat enggan melihat nya.

"Aku cinta mati padanya. Dia malah menggatai ku!" gumam kecil Bara masih dapat di tangkap oleh Indra dengar Aurora.

"Kak!" Panggil Aurora menarik kembali lengan baju Bara.

Sayang. Bara Dirgantara sungguh-sungguh dalam merajuk. Aurora kembali tersenyum tipis. Sebelum melaksanakan ide jahilnya. Hanya agar pria ini tak lagi merajuk.

"Akh! Sakit!" Aurora meringis pelan memegangi kepalanya.

"Mana yang sakit!?"

Lihat! Bara Dirgantara beraksi. Tubuh nya berputar cepat, telapak tangan nya bergerak sigap menyentuh dahi Aurora. Panik. Satu ekspresi yang wanita ini tangkap baik dari mimik wajah dan nada suara yang di yang di hempas kan.

Diam-diam wanita bermata bulat itu tersenyum. Menarik cepat ke dua bahu Bara. Hingga pria Dirgantara gagah itu jatuh dalam tubuh Aurora Wanita itu memeluk ketat tubuh Bara Menyelinap kan kepalanya di sisi leher Bara. Harum dan menangkan. Tubuh Bara membeku.

"Jangan marah sayang. Jika kamu marah, aku kan kembali sakit." Ujar Aurora sebelum melayangkan kecupan di pipi kanan Bara.

Ugh! Manisnya. Bara Dirgantara berdebar. Rasa kesalnya menghilang bersamaan dengan kecupan maut sang istri. Jantung nya menggila. Bara tersenyum lebar.

***

Musim gugur memenuhi jalanan dengan daun yang kuning yang jatuh. Uap teh hijau mengepul. Wanita bermata rubah itu berdiri menatap jalan di bawah sana. Jas besar milik nya tergantung hampa di belakang tubuh nya. Dokter , sudah sangat lama ia bekerja menjadi seorang Dokter hebat Indonesia.

Pintu didorong pelan. Tak lantas membuat tubuh Wanita cantik itu berbalik melihat siap gerangan sang tamu.

"Hari ini bukan?" seruan keras membuat Sera menoleh.

"Ternyata kau masih mengingat nya," balas Sera pelan.

Sebelum melangkah kembali ke meja kerjanya. Duduk di kursi singgasana miliknya.

"Ya. Tentu saja. Dia adalah wanita yang memiliki kesan mendalam untuk kau dan aku."

Wanita berambut sebahu itu semakin mendekat. Duduk tanpa permisi di depan teman satu profesi. Kaca mata di lepaskan di letakan di atas meja. Sebelum ingatan kemana menari ke masa lalu.

Flashback on!

Wanita berambut sebahu itu berteriak nyaring. Menangis keras  tubuh dingin tak lagi menangis. Bayi tak lagi terlihat merah. Membuat Nana senewen seketika.

"Tenangkan dirimu, nyonya!" Seru Sera memeluk tubuh pasien nya.

Sedangan Hana mendesah pelan. Ia menatap bayi mungil yang di perkirakan keracunan itu dengan pandangan sendu. Bayi tak berdosa itu mati hanya karena racun yang mematikan. Tak satupun yang tau siapa yang tega meracuni bayi itu

Nana meronta. Ibu yang baru dua Minggu ini melahirkan sang buah hati itu melepaskan tubuh nya dari sang Dokter. Bergegas menuju meja Dokter. Menatap hasil otopsi dengan wajah sangar. Wajah yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun. Wajah yang tak pernah ia hadirkan. Meski sang Ibu meregang nyawa.

"Dokter! Tolong aku. Tolong rahasia kan kematian putriku!" Seru Nana melangkah cepat pada ke dua Dokter.

"Kam—"

"Kalian seorang wanita juga. Dan nanti akan memiliki seorang anak. Aku! Akan menangkap pembunuh putriku. Jika mereka tau putri ku mati seperti ini. Mereka akan bahagia. Aku mohon! Polisi tidak akan menemukan bukti nyata!" Tuturnya bersujud di ke dua kaki ke dua Dokter.

"Aku mohon!" ujarnya dengan air mata menetes semakin deras.

Ke dua Dokter menatap satu sama lain. Mendesah kasar."Bagaimana dengan perawat dan yang ikut dalam pengecekkan? Mereka pasti tau akan kematian putri anda nyonya!" tutur Dokter Hana.

"A—ku. Akan menanganinya. Aku mohon!" serunya lagi lirih.

Hana dan Sera tak tega. Mereka mengangguk pelan. Bayi pucat di atas ranjang pesakitan. Yang sudah dua hari kematian nya. Bayi itu seolah-olah baik-baik saja dan bernapas. Benar-benar mencabik kalbu. Ini adalah pertama kali Hana dan Sera melanggar peraturan kedokteran. Dedaunan menguning jatuh di udara. Musim gugur ikut membawa bayi malang itu pergi. Nana masih menangis keras.

Anaknya dan Roy. Telah mati. Nana berencana bercerai dengan Bara. Mereka tak pernah ada rasa. Nana tak ingin terus hidup bersama Bara yang tak mencintai nya.

Flashback off

"Sayangnya, Nyonya Wijaya mati membawa rahasia besar nya," lirih Sera pelan.

"Aku masih terbayang wajah hancurnya di musim gugur!" timpal Hana.

Mohon dukungan nya selalu ya Kakak-kakak dengan cara Vote poin agar cerita ini mendapat rengking untuk pengikutan lomba #YouAreAWriterS3 dan juga jangan lupa untuk selalu Like dan rame kan dengan Komentar tentang cerita satu ini.🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️☺️ cerita nya akan up tiap hari

1
Andriyati
apa apa apa,, sora bukan anak bara,,, omaigott
Cee Suli
mampir lagi kak kangen sama ini novel,,,,semangat y
Ct Marimar
boring ya..x de yg woww ..jln cerita yg pelit1 .
Niaa🥰🥰
Luar biasa
Ibelmizzel
visual ny dak cocok sebagai jendral jauh.😁
Rovin Wijayanti
ok
Theodora Messakh
Keren sekali Aurora, pepet terus sampe dapet daripada si nenek lampir Kayla yg deket...bakalan menderita si Sora
Devi Sihotang Sihotang
bagus aurora... buat keyla kesal... hahaha
Elizabeth Zulfa
pengen tau reaksi bara pas tau klo Sora itu bukan anknya... kira2 apa zg bkalan dilakukan ya...
Elizabeth Zulfa
di bara kek lagu dangdut itu loh... zg bunyinya gini nih " Ande2 orong2 ora Melok gawe Melok momong " 😁😁😁😁
kasian tp lucu 😅😅
Noor Laila Khairul Isma
Good
Wiwuk Putri
wah apa ini
konspirasi konspirasi
Wiwuk Putri
spt dugaan q di flash back ternyata itu bukan anak pak jendral
Wiwuk Putri
nama nya suka berubah ubah jd bingung ini yg siapa itu yg mana
Senja
fix author nya Nctzen dr yuta taeong lukas mark, kita liat siapa lagi yg akan muncul jd cameo di novel ini
Senja
author nya nulis sambil bayangin sohyun sama taeyong
Senja
koq jauh ya di sungai Han
ida fitri
aku mampir ya thor biarpun dah end tpi bikin aku penasaran sama alur ceritanya
Dian Susantie
mana nih Thor.. yg Yamato udh lama bingit ga up.. 😓😓😓
Rosmawati/jnr
Bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!