Tentang rasa dan tujuan yang tak pernah selaras dengan kenyataan, dimana keduanya bertolak belakang, lalu memilih tak searah. Adella ayu Prasetyo, gadis malang yang terombang-ambing antara keluarga dan cintanya.
Harapan untuk menemukan dalang dalam rencana pembunuhan sang Ayah kandas ketika hatinya berperan dalam pencarian tersebut serta sebagai ajang balas dendam untuk mendapatkan keadilan untuk sosok pahlawan dalam dunianya.
Begitu pula dengan Alaska Regantara, yang mencoba mencari seseorang yang membuat keluarganya hancur lebur, dan bersumpah akan menghancurkan keluarga itu seperti kehancurannya. Kisah ini seperti benang kusut yang sulit dilerai namun memiliki kemungkinan, kedua insan yang terlibat memiliki teka-teki yang sulit ditebak dan dipecahkan.
Akan kah dua orang yang memiliki tujuan balas dendam itu dapat memecahkan perihal hati mereka? Atau justru mereka terfokus untuk tujuan yang sama?
Inilah kisah terumit yang mereka buat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmadila Adelia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babe? (revisi)
Entah sudah berapa lama Adella memejamkan matanya dan terbaring di kasur rumah sakit ini karena ketika ia baru saja membuka matanya, badannya terasa pegal, kepalanya pusing, dan tangan kanannya bahkan tidak bisa digerakkan olehnya.
Ia melihat ke sekeliling, tidak ada siapapun di sana, tidak ada kakaknya, ibunya, Rafa ataupun Alaska. tidak lama kemudian pintu ruangannya terbuka, muncullah Gavin dan Rafa yang masih menggunakan seragam sekolah, sudah pasti Rafa baru pulang dari sekolah.
"Udah melek Lo? kenyang tidurnya?" kata Rafa.
"Ada yang sakit ga?" tanya Gavin yang langsung berdiri di samping adiknya yang baru tersadar.
"Pusing doang sama tangan gua ga bisa digerakin."
"Nanti juga bisa," ujar Gavin.
Adella berharap Alaska berada di sini, berdiri di sampingnya dan menemaninya ketika kondisinya yang belum sepenuhnya baik-baik saja.
"Berapa hari gua pingsan?" tanya Adella pada Gavin yang tengah mengutak-atik laptopnya.
"Kemarin doang, hari ini Lo udah bangun."
Kemarin ya? kemarin adalah hari yang buruk untuknya, sangatlah buruk. andai saja tangannya sedang baik-baik saja maka akan ia pastikan jika dua orang itu akan akan mengalami patah tulang.
Sudahlah, memang jalan takdirnya harus merasakan berbaring di kasur rumah sakit ini bersama dengan infus dan gips di tangannya.
"Orang yang bikin Lo kaya gini udah ditangkap pagi tadi," ujar Gavin.
"Secepat itu?" tanya Adella yang heran.
"Tongkat bass ball yang mereka pake ada sidik jarinya, jaman canggih kaya gini penjahat ga akan bisa kabur apalagi kalo ga main aman," kata Gavin.
"Siapa?" bukan Adella yang bertanya, melainkan Rafa yang sedang asik dengan ciki kentang di tangannya.
"Ga tau, dia bilang cuma kesel aja liat Lo makanya mereka nyerang Lo." Adella mengerutkan keningnya, selucu itu Seketika pikiran Adella tertuju pada Keisya, kemarin bahkan ia sempat di serang oleh gadis itu, apa kali ini juga suruhan Keisya?
"Disuruh orang bang?"
"Ga tau sih, dia bilang atas kemauan dia."
Adella menoleh ke kanan dan ke kiri, ia mencari ponselnya yang entah selamat atau tidak. "Raf, handphone gua di mana?" tanya Adella.
Rafa mengeluarkan ponsel milik Adella yang ia simpan di laci nakas rumah sakit. dengan menggunakan satu tangan ia berusaha menghubungi seseorang untuk memberi kabar dan mencari informasi.
ia membuka room chatnya dengan Alaska, laki-laki itu beberapa kali menghubungi dua hari ini,dan mengirimkan beberapa pesan.
Alaska
^^^I'm fine^^^
^^^Maaf ya ga ngabarin akhir-akhir ini^^^
Ada banyak pertanyaan sebenarnya di kepala Adella, salah satunya mengenai penjagaan dirumahnya. bagaimana bisa orang-orang yang menghajarnya kemarin bisa masuk ke dalam rumah? kemana para penjaga rumahnya?
"Kak, liat rekaman cctv rumah pas kejadian dua hari lalu dong," kata Adella pada Gavin yang masih berkutat dengan laptop nya.
"Cctvnya mati, listriknya sengaja diputus," jawab Gavin.
"Penjaga rumah kita pada kemana?"
"Beberapa dari mereka di bius, dan beberapa lagi di pukul sampai pingsan."
Pantas saja tidak ada yang menolongnya kemarin setelah mendengar kegaduhan, jadi semuanya sudah tersusun dengan rapih.
"Mamah ga tau kan kondisi gua?"
"Engga."
Adella bernapas lega, ia tahu ibunya itu sedang ke Palembang, ia tidak ingin membuat ibunya merasa khawatir. Sudah cukup banyak kekhawatiran dan hidup ibunya, ia tidak ingin menambah beban pikiran wanita yang sudah melahirkannya itu.
***
Setelah satu Minggu bersembunyi di dalam rumah sakit, hari ini Adella sudah diperbolehkan pulang dengan catatan harus mengurangi aktifitasnya karena pergelangan tangan kanannya masih butuh waktu untuk pemulihan.
Sudah bisa keluar dari rumah sakit saja ia sudah beruntung karena tidak butuh lagi infus yang menusuk punggung tangannya. Adella menyempatkan diri untuk menghubungi Alaska agar datang ke rumahnya, sudah lama ia menahan rindu pada laki-laki itu.
selama dirumah sakit, Gavin terus mengingatkannya agar tidak memberitahu keberadaan Adella untuk saat ini. Ia seperti sedang bermain petak umpet saja.
Alaska
^^^Lo ke rumah gua ya pulang sekolah.^^^
Adella melangkahkan kakinya memasuki rumahnya, terakhir kali ia melihat rumahnya dengan keadaan gelap dan kacau. Semua kejadian itu masih terekam jelas di kepalanya, ia tidak trauma, hanya saja ia menyesali tangannya yang tidak bisa melumpuhkan lawan sehingga lawannya mampu membuatnya cidera.
"Kenapa?" tanya Gavin ketika langkah Adella terhenti.
"Rak buku nya kemana?" tanya Adella bingung.
"Udah di taro gudang." Adella mengerutkan dahinya, "Membahayakan," lanjutnya.
Adella terkekeh, membahayakan? bahkan ada banyak barang yang lebih membahayakan di rumah ini, salah satunya kaca. Kakaknya ini pasti takut jika dirinya trauma melihat rak buku tersebut, padahal ia tidak selemah yang dibayangkan. Adella langsung berjalan menuju kamarnya, ia teramat rindu dengan suasana kamarnya.
Sesampainya di kamar, Adella langsung merebahkan dirinya dengan mata terpejam, sungguh aroma kamarnya begitu melegakan.
ting.
suara notifikasi ponselnya berbunyi, buru-buru ia mengeceknya, selama seminggu kemarin Gavin menyita ponselnya hingga membuatnya tidak bisa berkomunikasi dengan Alaska, sadar Gavin.
Alaska
Kemana aja, kok baru ngasih kabar?
ia terkikik melihat pesan Alaska, sepertinya laki-laki itu begitu khawatir dengannya.
^^^baru pulang bersemedi^^^
gak lucu
^^^tapi gua gemesin, gimana dong?^^^
emang gua mengakui?
^^^yakin ga mengakui?^^^
Lo harus jelasin nanti
^^^ga ah, abis Lo ga mengakui gua gemesin^^^
iya pacar gua gemesin banget plus imut.
mau dibawain apa?
^^^bawain Hati kamu aja^^^
ih sejak kapan gombal? dasar alay
ia tertawa melihat respon Alaska, biarkan saja ia alay, lagipun ia tidak pernah menggombali Alaska, pasti laki-laki itu tengah tersenyum di sana.
Adella meletakkan ponselnya dan beralih ke laptopnya, sudah lama ia tidak menonton drama China kesukaannya, pasti sudah ada drama yang baru.
Sebenarnya bisa saja ia menonton selama di rumah sakit, tapi mendadak Gavin berubah menjadi ibunya yang selalu mengatakan tidak boleh ini, tidak boleh itu, ia merasa tersiksa selama seminggu kemarin. Jika lebih lama lagi, maka ia akan mati mendadak karena serangan mental.
Saat ingin memulai videonya, tiba-tiba Gavin mengetik pintunya dan berteriak, "Jangan lupa minum obatnya," ujarnya.
ah, tidak di rumah sakit, tidak di rumah hobinya selalu menganggu saja. ia bukan lagi anak kecil yang harus diberi tahu kapan makan dan kapan minum obat, lagipun ia bukan sakit jiwa yang selalu kambuh, hanya pergelangan tangan saja apa yang harus di khawatirkan?
Ia hanya butuh istirahat yang cukup agar tangannya cepat pulih dan kembali seperti semula, Gavin terlalu lebay.
"Iya bawel," jawab Adella yang juga ikut berteriak.
ting.
Alaska
otw babe
mendadak jantungnya merasa lepas dari tempatnya, babe? oh my good, selama hampir setengah tahun berpacaran dengan Alaska, baru kali ini laki-laki itu mengatakan kalimat ajaib yang membuat hati para gadis meleleh seperti es.
"Awas aja kalo udah sampe gua potong-potong badan Lo karena udah bikin gua deg degan."
****
sukses selalu buat author na 🙏🤗
papaygo😙
oklh sukses selalu buat author 😌