Menceritakan tentang hubungan kasih antar remaja hingga dewasa yg sudah berjalan lama. Tak terasa, hubungan bertahun - tahun membuat perasaan mereka menjadi tak menentu. Ada rasa jenuh sehingga ingin melepas.
Bersama dengan orang yg baru membuat diri kita akan bahagia, tanpa kita sadari bahwa ada hati lain yg bisa saja terluka.
Ditengah kebimbangan dan rasa jenuh yg melanda, mampukah kita mempertahankan hubungan lama yg dimulai dari awal atau melepaskannya begitu saja guna kebahagiaan yg kita dapatkan dari orang baru?
Simak terus yu bg/kk... Novel ketiga aku. Semoga suka ya 🤗.
Jangan lupa tinggalkan jejak (Rate, Favorite, Like, Komen ya). Salam sehat selalu 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marya Juliani Jawak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertiga Malam
Rasa Sakit yg terbesar adalah ketika dirimu terluka oleh sikap dan sifat seseorang yg tak pernah kau pikirkan sebelumnya. Kamu berusaha setia untuk tidak diduakan. Tapi yg kamu dapatkan adalah sebuah penghianatan. Berharap perasaan ini tumbuh bersama, tapi dibunuh secara sepihak. Tidak hanya sakit, tapi aku jadi bodoh untuk tidak bisa membalas rasa sakit ini. Walaupun itu hanya sebuah cacian, tapi tak dapat aku sampaikan. ~Sabrina
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Sesampainya di kontrakan, Sabrina yg merasa lelah dan capek batin langsung memasuki kamarnya. Tak lupa juga ia mengunci pintu dari dalam agar tidak ada yg mengganggu dirinya untuk saat ini.
Tanpa mencuci muka atau berganti baju, Sabrina langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memeluk bantal guling nya dan menutup matanya untuk segera tidur.
(Semoga esok aku sudah lupa dan menyambut hari esok lebih baik lagi) Batinnya
Kejadian tadi berputar kembali dalam pikirannya. Kejadian dimana Naldi memegang bahu seorang perempuan dan jarak mereka terlalu dekat. Tidak hanya itu saja, mereka tertawa bersama seolah dunia ini milik mereka berdua.
Dari cara mereka bersama, sepertinya mereka sepasang kekasih. Nando dan Niken dua karib Naldi juga tampak biasa saja saat melihat Naldi dan perempuan itu saling berpegangan tangan.
(Apa Naldi selingkuh ya? Gak... gak.... gak.... atau jangan - jangan gue lagi yg jadi selingkuhan dia. Tapi....) Lamunan Sabrina terhenti karena getar hp nya yg menandakan ada panggilan masuk.
Sabrina membuka matanya dan menerogoh kantong celananya. Hp nya dibuat mode senyap dan diletakkan di nakas setelah melihat panggilan masuk dari Naldi. Ia tidak berniat untuk mengangkatnya saat ini.
Memastikan tidak ada lagi gangguan, ia menutup matanya erat dan langsung tertidur begitu saja.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dewi yg sendirian mencoba mengetuk pintu kamar Sabrina.
Tok.... tok... tok....
"Sab, buka! Ayo makan dulu!" Tapi tidak ada sautan dari dalam.
(Sepertinya dia masih butuh waktu, nasib ditinggal berdua. Kalau lagi galau, terpaksa makan sendiri. Nasib.... nasib....) Gerutu Dewi dalam hati.
Akhirnya Dewi makan sendiri di meja makan. Makanan yg seharusnya habis dilahap, kini hanya bisa di pandang. Melihat Sahabatnya menderita, membuat cacingnya tidak bernafsu untuk makan saat ini. Nasinya yg hanya dua suap di makam diletakkan kembali dalam tudung saji.
"Sabar ya nak, nanti kalian akan aku makan kalau mood makan ku sudah membaik" Ucap Dewi menutup tudung saji. Ia mengambil cemilan dan menonton di ruang tengah sembari menunggu yg lainnya pulang.
Satu jam berlalu, Cindy, Karlina dan Ratna baru saja pulang dan melihat Dewi di tonton oleh TV. Dewi asik dengan game di hp nya sehingga tidak dengar jika Sahabatnya sudah pulang.
1....
2....
3.....
Door.....
Teriak mereka bertiga yg sukses membuat Dewi terkejut bukan main.
"Astafirulullohalhazim" Ngucap Dewi setelah detakan jantungnya bisa di atur.
"Kalian kalau gak bikin orang jantungan, gak hidup kali ya." Celetuk Dewi. Mereka bertiga hanya tersenyum menampilkan gigi rapi mereka.
"Ya udah kami makan dulu ya." Ucap mereka bertiga menuju ruang makan. Mereka mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mengambil piring.
Ratna membuka tudung saji dan keningnya berkerut. "Dew kalian gak ada yg makan ya? Trus ini nasi siapa?" Teriak Ratna melihat ikan masih banyak.
Mau tak mau Dewi melangkahkan kaki ke dapur. Melihat Sahabatnya lahap membuat mood makannya kembali baik. Mereka makan dengan hening sebelum akhirnya ribut karena Dewi menceritakan keadaan Sabrina hari ini.
"Brengs*k itu cowok. Berani sekali dia menyakiti Sabrina kita. Lihat aja nanti, ku pites - pites kayak kutu." Emosi Cindy sambil mempraktekkam gaya pites nya di atas meja.
"Ia betul itu, dia belum tau aja kita siapa?" Sambung Ratna.
"Emang kita siapa?" Tanya Karlina polos dan ketiga Sahabatnya menepuk jidat mereka masing - masing.
"Udah de, yg penting sekarang kita kasih waktu Sabrina sendiri dulu. Elu Cin, sepertinya harus ngungsi ke tempat Karlina sementara." Dewi
"Oce baby, siap laksanakan." Hormat Cindy ala - ala dirinya. Mereka segera menyelesaikan makan dan pergi istirahat.
Jam sudah menunjukkan pukul dini. Waktu yg tepat untuk melakukan sholat sepertiga malam. Perut kelaparan membuat Sabrina terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam dinding, ia segera duduk dan berdoa.
Langkah kakinya menuju kamarmandi untuk mengambil wudhu dan kemudian Sholat. Setelah selesai ia melihat hp nya yg terletak di nakas. Terdapat banyak panggilan dan chat masuk ke hp nya. Siapa lagi jika bukan Naldi dan Nicho. Dua laki - laki yg pernah menjadi bagian dalam hidupnya.
Tanpa membalas, Sabrina membuka aplikasi 'IG'. Dia membuka kolom pencarian atas nama Naldi. Betapa terkejutnya dia dengan akun Naldi yg terlalu banyak. Satu persatu di lihat oleh Sabrina hingga jatuh pada satu akun menunjukkan dirinya dengan perempuan yg Sabrina lihat tadi.
"Melihat saja sudah nyesek, gimana mau lanjut baca komentarnya ya? Dasar hati penghianat. Tidak sesuai dengan pikiran. Huff..." Lelah Sabrina tapi dia juga tetap membacanya.
Setelah melihat banyaknya akun, Sabrina udah tau jika Naldi adalah laki - laki yg baik. Baik kepada semua orang sehingga akunnya banyak dengan cewek yg berbeda - beda. Dasar laki - laki ganjeng.
"Semoga kamu bisa berubah Nal. Tidak semua perasaan perempuan itu kuat. Ada masanya mereka akan terluka jika mengetahui fakta bahwa pria yg dicintainya tidak mencintainya balik. Selamat tinggal."
Sabrina merapikan mukena nya, kemudian kembali tidur dengan perasaan yg lebih baik. Toh tidak ada gunanya berlarut dalam kesedian luka yg baru ditorehkan.
Pagi menyapa, malam menjauh. Melihat muka Sabrina yg cerah di pagi hari membuat sahabatnya tersenyum. Mereka bersyukur jika Sabrina tidak larut dalam kesedihan.
"Kita hari ini nonton yok, udah lama kita gak keluar bareng." Usul Dewi penuh harap. Mereka tersenyum dan mengajukan jempol.
"Kalian aja ya, aku gak bisa." Potong Cindy tak enak dengan yg lainnya. Hanya saja hari ini dia harus Konsul mengenai tugas kuliah serta mengikuti rapat di tempat kerjanya.
Mereka tampak kecewa dan memeluk Cindy. "Ya udah semangat. Mungkin next time bisa kita atur." Karlina
"It's okey, tugas yg lebih penting." Ratna
"Kalau dosen lu macam - macam, lapor kami." Sabrina
"Yg semangat, nanti kami bawain makanan de buat Lo." Dewi
"Ia, ia pergilah. Aku baik kok." Senyum Cindy
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
**Sepintar - pintarnya laki - laki akan kalah dengan feeling seorang perempuan. Mulut bisa berbohong, tapi hati bisa merasakan. Bukan perkara mudah untuk melepaskan, hanya saja perempuan bertahan untuk mengetahui alasan kenapa kamu bisa melakukan hal itu.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖**
***Happy Reading Say..... Semoga kalian suka. Jangan lupa 💟, ⭐, 👍 serta 💬 ya say***.... **🤗😇**
semangat
sukses