Luciana hanya mampu terbelenggu mengikuti aturan tak kasat mata dari kedua orang tuanya. Terlalu banyaknya aturan yang tercipta membuat luciana merasa dunianya seketika menjadi mati. Hingga luciana bertemu dengan pria yang memilih kehidupan bebas tanpa memikirkan apa itu aturan yang membuat hidup seperti dipenjarah. Setidaknya Luciana sedikit bernapas lega bisa bertemu dengan pria yang berkehidupan bebas. Apakah mampu Luciana menghancurkan pagar tak kasat mata yang membuat hidupnya selalu terkekang, atau mungkin mungkin Luciana akan terbendam dalam ikatan yang akan membuatnya terbunuh secara perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echa Wathy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
KATTY PARY - The One That Got Away
...Summer after highschool when we first met...
...Musim panas sepulang sekolah saat kita pertama kali bertemu ...
...We'd make out in your mustang to Radiohead...
...Kita lalu naik mobil mustangmu ke Radiohead...
...And on my 18th birthday we got matching tattoos...
...Dan pada ulang tahunku ke-18 kita membuat tato yang sama...
...Used to steal your parents liquor and climb to the roof...
...(kita) biasa mencuri miras orang tuamu dan naik ke atap...
...Talk about our future like we had a clue...
...Berbincang tentang masa depan kita seolah kita tahu...
...Never planned that one day I'd be losing you...
...Tak pernah berencana bahwa suatu hari aku akan kehilanganmu...
...CHORUS...
...In another life, I would be your girl...
...Di kehidupan lain, aku kan jadi kekasihmu...
...We'd keep all our promises...
...Kita akan penuhi janji kita...
...Be "us" against the world...
...Menjadi kita hadapi dunia...
...In another life, I would make you stay...
...Di kehidupan lain, aku kan membuatmu tak pergi...
...So I don't have to say...
...Maka aku tak harus bilang ...
...You were the one that got away...
...Engkaulah satu hal istimewa yang hilang...
...The one that got away...
...Satu hal istimewa yang hilang...
...I was June and you were my Johnny Cash...
Aku adalah Juni dan kau adalJohnnyCash-ku
Never one without the other, we made a pact
Tak pernah berpisah, kita tlah berjanji
Sometimes when I miss you, I put those records on (woah-oh)
Kadang saat aku merindukanmu, kuputar rekaman itu
Someone said you had your tattoo removed
Seseorang berkata kau hapus tatomu
Saw you downtown, singing the blues
Melihatmu di kota, nyanyikan lagu blues
It's time to face the music, I'm no longer your muse
Saatnya hadapi musik, aku bukan lagi lamunanmu.
Seakan lagu itu menggambarkan perasannya kali ini yang sedang ingin menangis. dia pun berlari mengelilingi taman yang ramai ini sendirian. hingga rasa lelah dirasakannya kali ini membuatnya duduk di bangku taman dibawah pohon besar.
Meminum air agar menghilangkan dahaganya. hingga suara teriakan yang nyaring mebuatnya tersendak.
"Ana" ya teriakan yang bukan lain adalah Alexsa.
"Hai tertumben kau ada ditaman ini pagi-pagi seperti ini" sembari duduk disamping Luciana
"Tak apa hanya ingin lari pagi saja" Luciana mengusap air yang tumpah membasahi bajunya.
"Tak usah kau bohong padaku aku tau kau sedari dulu jadi jangan kau bohongi aku".
"Tak ada apa kau sendiri" untuk mengalihkan pembicaraan Alexsa.
"Tidak aku beramai-ramai disini" Luciana melihat kesekitar tapi nampaknya Alexsa hanya sendiri.
"Mana aku tak ada melihat teman teman mu" Alexsa hanya tersenyum senyum melihat sahabatnya yang terus memperhatikan sekeliling.
"hahaha kau ini mudah sekali memang untuk ditipu apa gak capek jadi gadis polos terus" Luciana masih bingung dan memperhatikan kesekitar tetap saja tak ada orang yang mengikuti Alexsa.
Alexsa hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang satu ini benar-benar polos dan cukup mudah untuk dikelabui.
"Aku sendiri kau ada apa tumben sekali kau mau lari pagi seperti ini" tapi nampaknya Luciana masih belum ingin membagi ceritanya saat ini.
"Aku kemarin tidur lebih awal hingga akhirnya aku bangun terlalu pagi jadi aku memutuskan untuk lari melihat cuaca yang begitu cerah" Alexsa masih tak percaya dengan ucapan Luciana tapi tak enak rasanya untuk memaksanya untuk bercerita jadi Alexsa hanya memberikan senyuman saja pada sahabatnya ini.
"Apa kau jadi akan pindah jurusan dan mengikuti mau ayahmu" nampaknya Luciana tak ingin membahas itu tapi dia pun tak mungkin tak berpamitan dengan Alexsa.
"Ya begitulah"
"Kenapa kau tak menolak" berat rasanya mengungkapan rasa yang kini dia rasakan.
"Kau tahukan apa yang akan terjadi jika aku menolaknya jadi lebih baik aku mengikutinya saja" ingin rasanya menangis tapi untuk apa mungkin ini jalan terbaik untuk Luciana.
"Semangat kau pasti bisa aku tau kamu kuat dan bisa menjalankan semua ini dengan baik" Alexsa pun memberikan pelukan pada Luciana yang menahan rasa sakit dihatinya.
***
Dering ponsel seakan menjadi pengganggu mimpi indah yang sedang Vano rasakan.
"sial siapa yang menelpon sepagi ini ayam pun belum berkokok" sembari menggeser tombol hijau diponselnya.
"Al apa kau belum bangun" ya suara yang tak asing dan hanya Elizabet yang memanggil Vano dengan panggilan itu.
"Aku baru tertidur pukul 5 tadi ma jadi biarkan aku tidur " mata ini rasanya tak mampu terbuka saat berbicara dengan Elizabet .
"Al ini sudah pukul 07.00 apa kau lupa hari ini kau harus pergi ke kantor ayah pukul 09.00 sebaiknya kau bangun dan siapkan dirimu mama sudah mengirimkan mu pakaian yang harus kau kenakan" tapi nampaknya Vani lebih memilih hanya mendengarkan perkataan Elizabet tanpa menjawabnya.
"Al apa kau mendengar kata mama" kini nada bicara Elizabet mulai meninggi karena tahu anak semata wayangnya ini masih asik dengan posisi memejamkan matanya jika tak dibentak.
"Ia ma aku mendengarnya"
"Baiklah cepat bersiap karena yang mengirimkan pakaian untukmu sudah menunggumu didepan pintu".
"Sial apa tak bisa ada yang membiarkanku tidur dengan tenang" Vano pun mengusap wajahnya dan berjalan menuju pintu.
Dan benar saja sudah ada yang menunggunya didepan pintu dengan membawa setelan jas hitam dan kemeja putih .
"Haruskah aku menggunakan pakaian panas ini"
"Saya hanya mengantarkannya Tuan muda ini semua nyonya yang sudah menyiapkannya"
"Baiklah terima kasih kau bisa kembali ke rumah mama" baru saja Vani ingin masuk tapi dihentikan langkahnya.
"Maaf tuan muda saya diperintahkan nyonya untuk mengantar tuan muda kekantor tuan" sial hanya kata itu yang mampu Vani ucapan karena sudah tak mungkin lagi untuk Vani untuk menghindar hadir di kantor ayahnya.
"Baiklah kurang lebih satu jam lagi aku akan menemui mu di parkiran bawah" .
"Baik tuan muda saya permisi" sembari membungkukkan badannya lalu pergi.
Vano pun terus memandangi pakaian itu pantaskah dan haruskah dia menggunakan pakaian panas ini, tak bisakah dia hanya menggunakan pakaian yang biasanya dia gunakan sehari-hari.
Vano pun meletakan pakaian itu diatas sofa dan berjalan menuju dapur menuangkan air kedalam gelas.
ia mencoba memikirkan bagaimana cara untuk tak hadir kekantor ayahnya, karena dia tahu sudah pasti kali ini ayahnya tak mau ada lagi penolakan untuknya yang harus menggantikan posisi ayahnya.
karena selama ini Vani selalu menghindar dan tak mau ikut campur dalam perusahaan ayahnya.
ditunggu kunjungannya ke karyaku TERJEBAK DALAM DERITA
Mampir juga yuks thorr ke " Bersemi Kembali " Dan jangan lupa untuk menngggalkan jejak
Salam Hangat
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" dan
"Siren or Human"
Semangat🥰
jgn lupa mampir jg ke karya ku 👐
jangan lupa beri vote di lapakku saat mampir nanti yaa😉terima kasih
like mendarat untuk episodemu❤️
semangat selalu😊
dan mampir juga ya ke cerita aku
🌸Stole Audrey's Heart🌸
🌸Hate His Touch🌸
cemungut ya... 🤭🤭