Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.
Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.
Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terciduk
Dalam keheningan, Aruna terpaku memperhatikan wajah Nuno yang tertidur damai di atas sofa. Dengkurannya yang halus seperti nyanyian pagi dengan cuitan burung yang ikut menimpali. Kedatangan Dokter beberapa menit yang lalu pun tidak mengusik tidurnya yang terlampau nyenyak.
Aruna bertopang dagu, kenapa dia bisa senyaman ini di dekat Nuno, mampu menyimpan sementara beban yang belum dia lepas sepenuhnya, dan candaannya semalam membuat dia yakin, kalau dia akan mampu melewati semuanya dengan mudah.
Dibentangkannya selimut yang sudah dia pegang sedari tadi, dipakaikan pada tubuh Nuno yang berlipat tangan di atas dada, seperti menahan hawa dingin saat dini hari mulai merayap.
Brugh....
"Aduh...."
Nuno terperanjat, benturan keras di lutut membangunkan dia dalam satu hentakan,"Arun.... " Diraihnya bahu Aruna yang terduduk di lantai untuk naik ke atas sofa,"Kamu kenapa?"
"Maaf, kaki ku terbelit selimut."
Nuno menahan tawa,"Kok bisa?"
Diacuhkannya pertanyaan Nuno yang berpura-pura tidak tahu, mengusap kening yang berdenyut sakit dan lebih sakit lagi karena harus menahan malu.
"Sini aku lihat...." di rabanya bagian sisi kening Aruna yang memerah,".... yang ini?" dan saat itu juga dijawabnya dengan sebuah anggukan.
"Aku panggilkan suster dulu."
"Eh nggak usah, ini bukan luka parah, sebentar lagi juga ilang sakitnya."
"Setidaknya di kompres biar nggak jadi biru."
"Jangan." Aruna menarik tangan Nuno yang sudah setengah berdiri, dan seketika itu juga terjerembab, menghimpit tubuhnya yang terdorong hingga bersandar.
Mata yang bertemu saling mengunci tak bisa berkedip. Tubuh yang di kukung tangan Nuno yang menyilang di atas perut, terlampau nyaman bila harus segera mereka sudahi. Mata Nuno beralih pada bibir tipis yang menariknya untuk mendekat, membuat nafas keduanya saling beradu, terasa hangat menyentuh hidung yang hampir bersentuhan.
"Ya salam."
Suara seseorang membuat mereka terperanjat,seketika berdiri melihat siapakah gerangan yang tiba-tiba muncul menyadarkan mereka dari sesuatu yang mungkin saja akan terjadi.
"Mataku ternodai." Jino menutup mata dengan tangan yang dibuat masih mengintip.
"Jino.... kenapa kamu bisa disini?" kecam Nuno yang lebih dulu mengikis rasa canggung bercampur malu. Sedangkan Aruna hanya terpaku, bergulat dengan tangan yang dibuatnya saling bertaut.
"Bawain baju ini..... dari sekretaris Mila." masih dalam posisi yang sama, telapak tangan menutup wajah yang serasa mendapatkan Jackpot besar di pagi hari.
Nuno berderap mengambil paper bag dari tangan Jino,"Kenapa kamu yang anter, Mila nya mana?"
Jino tersenyum lebar, niat terselubungnya pasti akan tercium jika dia tidak mencari alasan yang jitu untuk berkilah, Kakaknya terlalu peka bila berkaitan dengan dirinya yang dalam fase remaja brutal.
"Tadi aku nelepon sekretaris Mila buat nanyain Mas, bla bla bla.... dan akhirnya sampai lah aku disini. Kita ketemuan di lobby Rumah Sakit. Berhubung aku kasian sama sekretaris Mila yang pastinya lagi sibuk, jadi aku gantiin tugas dia buat nganter ini."
Penuturan panjang Jino tak serta merta membuat Nuno percaya,"Memang kenapa sampai nelepon Mila buat nanyain Mas?"
"Ya khawatir lah, Mas kan nggak pulang semalam, di telepon malah nggak diangkat, aku kira Mas kenapa-kenapa ampe harus nginep di Rumah Sakit, ya aku susul kesini dong.... eh ternyata...." Jino mengedipkan sebelah mata, kemudian melambaikan sebelah tangan ke arah Aruna yang masih berdiri,".... Hai Mbak."
Aruna tersenyum canggung, rasa malu yang bergumul di otaknya yang masih limbung harus dipaksa menghadapi Jino yang super ceriwis, ia pun hanya bisa membalas dengan sapaan singkat,"Hai Jino...."
"Jadi yang sakit itu Mbak Aruna?"
Aruna kembali tersenyum," Hanya kecapean, tapi sekarang sudah dibolehkan pulang...."
"Kapan Dokter bilang seperti itu?" Potong Nuno.
"Waktu kamu tidur tadi."
"Yah si Mas ini gimana sih, jagain yang sakit malah tidur, harusnya tuh Mbak Aruna nggak boleh turun dari kasur, ini malah dibawa pindah ke sofa."
Keduanya saling berpandangan, namun segera Aruna putus sebelum Jino memergoki mereka untuk kedua kali.
"Aku permisi ke kamar mandi dulu." Akhirnya Aruna mendapat alasan jitu untuk menghindar dari situasi yang tidak nyaman ini.
"Perlu dianter Mas Nuno nggak Mbak, nanti jatuh loh." Goda Jino yang langsung mendapat sikutan dari Nuno agar diam.
"Ini baju gantinya, mudah-mudahan pas." Timpal Nuno dengan berderap mendekati.
Jantung Aruna kembali berdebar, diterimanya paper bag yang Nuno ulurkan tanpa berani melihat kedua matanya yang terus memandangi,"Terima kasih."
Nuno menghela nafas pelan tatkala Aruna berbalik masuk kamar mandi. Senyuman tipis tersulam tanpa disadari, kejadian indah beberapa menit yang lalu kembali berkelebat, andai saja Jino tidak datang, mungkin dia bisa mereguk manisnya bibir yang memancing hasratnya untuk mencumbu.
"Orangnya lagi mandi Mas." Celetuk Nuno, mengambil duduk santai di sofa yang menjadi saksi kedekatan mereka.
Nuno menyugar rambut, dienyahkannya khayalan yang membuainya menjadi pemimpi,"Mama tahu Mas ada disini?"
"Memang kenapa?"
"Kalau Mas nanya tuh dijawab."
"Sepulang Papa dari kantor, mereka langsung pergi.... rencananya sore ini mereka baru pulang."
"Kemana?"
"Honeymoon kali."
Nuno tergelak, mengacak puncak kepala Jino dengan gemas. Jawaban Jino membuatnya lebih tenang, Mama tidak akan banyak bertanya bila nanti dia pulang.
"Kayak yang seneng gitu Mama nggak ada di rumah... takut ketahuan berduaan sama cewek ya?" bisik Jino dengan wajah penuh selidik.
"Apa sih kamu ini."
"Kalau Mama tahu gimana?"
"Jangan sampai Mama tahu." Ancam Nuno. Dia tidak ingin membuat Mama Dila berpikir macam-macam tentangnya dirinya, terlebih dengan Aruna yang berstatus istri orang.
"Tapi kalau aku keceplosan gimana?"
"Makanya mulutnya dijaga."
"Aku usahain biar nggak ember...." Mendelik seraya menarik tas ransel untuk dia gendong,".... aku pergi dulu Mas, mau ke puncak sama temen, itu juga mau nebeng motor temen soalnya nggak punya UANG CAS buat beli bensin."
Nuno berdecak, diambilnya jas yang dia sampirkan di sofa, merogoh dompet tebal, mengambil beberapa helai uang merah yang dia keluarkan dengan sukarela,"Nih...."
"Apaan nih, nyogok ya?"
"Kalau nggak mau ya udah."
Secepat kilat Jino mengambil uang itu,"Uang yang udah keluar, haram buat kembali bersarang." Ujarnya tanpa malu.
"Kartu kreditnya balikin."
"Yakin harus dibalikin.... itu buat jaminan loh."
"Jaminan apa?"
"Jaminan rahasia tetap aman....mau dua hari, tiga hari atau seminggu nginep disini, dijamin aman, nggak akan terendus anjing pelacak." Memberikan dua jempolnya kepada sang Kakak yang sudah jengah.
Nuno menarik nafas dalam, selalu saja kalah bila sudah seperti ini,"Pulangnya jangan kemalaman."
"Siap Kakak....
"Udah sana."
"Oh ngusir, nggak mau diganggu nih ceritanya."
Nuno menggiring Jino hingga daun pintu,"Kamu mau jadi orang ketiga?"
"Setan dong."
"Jadi?"
Jino terbahak,"Walau nggak ada setan tetep harus banyak istighfar ya Mas." Godanya lagi sebelum Nuno akhirnya mendorong dia keluar dan menutup pintunya dengan rapat.
Di depan pintu Jino bertolak pinggang sambil tertawa,"Hati-hati ya Mas jangan ampe kebablasan." Serunya lagi yang masih belum puas menggoda sang Kakak. Namun tiba-tiba Jino mematung, memandang pintu yang menjadi penghalang diantara dia dan Kakaknya.
"Bukannya Mbak Aruna udah nikah ya, terus tadi...." Jino menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, "....ah sudahlah gitu aja dibikin ribet, biarkan mereka dengan dunianya." Dilihatnya uang merah yang sudah bertumpuk memenuhi tangan,"Yang penting gua bisa happy."
🥀
🥀
🥀
_ Bersambung _
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...