Apa jadinya ketika kita dijodohkan kepada seseorang yang telah kita anggap kakak atau adik kandung sendiri?
Entah perjodohan ini hanya tertulis di atas awan dan akan tertiup angin, atau sudah tertulis di Arsy dalam keabadian, yang pasti saat ini aku telah kehilangan masa-masa remajaku karena perjodohan.
-Senja Nafeesa Humaira-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ini adalah hari pertama masuk kuliah setelah libur semester, yang artinya akan banyak makanan dari teman-teman yang pulang mudik. Seperti saat ini kami tengah makan keripik pisang coklat oleh-oleh dari Eka temanku asal Lampung sambil duduk di dalam kelas menunggu dosen biokimia datang.
“Jadi kamu sudah tunangan?” tanya Wida, yang dijawab anggukan olehku.
“Itu cincinnya?” aku kembali mengangguk sambil memerlihatkan cincin di jari manisku.
“Aaah … senang banget aku juga mau tunangan,” ucap Eka membuat kami tertawa.
“Sudah kerja atau masih kuliah?”
“Kerja. Jadi supir,” jawabku sambil memasukan keripik ke dalam mulut.
“Hah! Supir?” teman-teman menatapku dengan mata terbelalak tak percaya.
“Iya, supir.”
“Supir pribadi?” tanya Cika ragu.
“Bukan supir angkutan umum.”
Semua teman-temanku terkejut sambil saling pandang.
“Angkot?” Wida bertanya tak percaya.
“Iya ... semacam angkotlah.”
“Bis?”
“Hmm ... mirip.”
“Iiih, supir apa?”
“Pesawat,” jawabku santai membuat mereka terdiam kemudian meneriakiku sambil tertawa.
“Kita kira benaran supir angkutan umum.”
“Pilot juga supir, terus pesawat juga angkutan umum cuma bisa terbang saja.”
“Iiih, dasar!”
“Hahaha.”
“Hati-hati, Ja, katanya kalau pilot, pelaut terus tentara itu selingkuhannya dimana-dimana maklum mereka jarang pulang.”
Aku mengangguk membenarkan itu.
“Tapi tidak semua, tergantung orangnya juga." Aku menelan keripik pisang. “Papah tentara tapi setia sama Mamah.”
“Iya deh tergantung orangnya, anak ibu kostan saja cuma tukang ojek tapi istrinya 2,” ucap Cika sambil nyomot keripik pisang coklat.
“Nah iya, tergantung orangnya kan.”
Mereka mengangguk mengerti.
“Tapi dia tinggal di sinikan?” tanya Eka.
“Di Sydney, dia pulang cuma libur saja.”
“Sekarang masih ada di sini atau sudah kembali kesana?”
“Masih di sini, minggu besok baru balik.”
“Kenalin dong, Ja.”
“Iya, Ja, penasaran kita sama calon suami kamu.”
“Hahaha, jangan nanti kalian malah cinta.”
“Kebalik nanti malah dia yang bakal cinta sama kita.”
“Hahaha, gak bakalan.”
“Kalau gitu kenalin dong.”
Aku hanya tersenyum sambil kembali makan keripik membuat mereka terus menggodaku membuatku akhirnya mengabulkan permintaan mereka. Seperti yang telah dijanjikan Mas Juna akan menjemputku sepulang kuliah hari ini, jadi di sinilah kami sekarang berjalan menuju tempat parkir dimana Mas Juna menungguku.
“Itu?!” Seru Cika sambil menatap seorang pria yang baru saja keluar dari mobil, dia terlihat keren dengan kaca mata hitam sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku.
“Benar yang itu?” semuanya kini menatapku dengan mata membulat dan mulut menganga.
“Iya,” jawabku sambil tertawa melihat teman-teman yang terkejut melihat sosok asli Mas Juna yang tinggi tegap dan aku tak akan menyangkal kalau dia memang sangat tampan.
“Ya Allah, Ja, buat ku saja, Ja,” ujar Wida sambil menggenggam tanganku erat.
“Hahaha, dianya gak bakalan mau sama kamu, maunya sama aku.”
Kami semua tertawa sambil berjalan mendekati Mas Juna yang juga berjalan ke arahku dan menarik perhatian mahasiswi yang ada di sana.
“Dari tadi?” tanyaku ketika kami berdiri berhadapan.
“Lumayan,” jawabnya sambil tersenyum.
“Mas, kenalin teman kuliahku.”
Mas Juna membuka kacamata hitamnya kemudian menyalami teman-temanku yang pipinya kini memerah membuatku menggelengkan kepala sambil tertawa.
“Kita duluan ya.”
“Dag … selamat bersenang-senang!” seru mereka membuatku tertawa.
Kami berjalan berdampingan dan seperti biasa Mas Juna merangkul bahuku santai.
“Kamu bilang aku siapamu? Tunanganmu atau kakakmu?”
“Supirku,” jawabku santai membuat Mas Juna tertawa sambil mengacak-acak rambutku pelan.
“Baiklah, Nyonya, kita kemana sekarang?” Aku tertawa mendengar pertanyaan Mas Juna yang sudah siap di belakang kemudi seperti supir.
“Pulang?”
“Ckk ... gak seru, kita main dulu.”
“Main kemana?”
“Taman lalu lintas,” jawabnya membuatku tertawa karena itu adalah taman bermain anak-anak, dan ku tahu dia hanya bercanda … tapi aku salah!
Kini aku bediri mematung di tengah taman yang juga terkenal sebagai taman Ade Irma Nasution dan sebagai ikon tempat latihan rambu-rambu lalulintas di kota Bandung. Terlihat para pengunjung cukup banyak yang kebanyakan adalah rombongan dari sekolah TK dan SD terlihat dari seragam olah raga yang digunakan para murid, ada juga dari rombongan keluarga yang siap dengan bawaan tikar dan rantang berisi makanan.
“Taman lalu lintas!” seru Mas Juna dengan senyum lebar membuatku menganga.
“Kita benaran ke sini?”
“Iya!” serunya dengan senyum lebar menatapku. “Bayi ya mainnya ke sini, ayo!” lanjutnya sambil mendorong bahuku yang merengek tak percaya kalau dia benar-benar membawaku kesini.
“Kamu mau naik itu?”
Dia bertanya ketika kereta api mini yang dinaiki beberapa anak melintas di hadapan kami membuatku menatapnya galak yang malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksiku itu.
“Kalau ngambek gitu persis kaya bayi bebek! Hahahah …”
“Iiiih!” aku mencubit pinggangnya kencang.
“Aduh-aduh, ampun-ampun … hahahaha … mau ke mana!” Dia kembali menarik tanganku yang balik kanan hendak melarikan diri.
“Pulang!”
“Ayolah di sini menyenangkan!” Dia terus menarik tanganku kembali masuk ke area taman tak memedulikanku yang terus merengek minta pulang.
Tapi ternyata taman lalu lintas kini sudah berubah bukan hanya tempat bermain anak-anak dan belajar rambu-rambu lalu lintas seperti ketika aku SD dulu, tapi kini telah banyak spot-spot menarik yang boleh dibilang kekinian, seperti ada mobil yang dibuat melayang, rumah pohon, kali dengan air yang sangat jernih di mana miniatur jembatan pasupati melintas di atasnya, kolam renang, dan hutan kota di mana kini kami berdua berjalan menyusurinya.
“Ada ayunan!” Seru Mas Juna sambil menarik tanganku untuk menaiki ayunan, “gimana? Baguskan?” tanyanya ketika kami berdua duduk di ayunan.
“Lumayan,” jawabku pura-pura tak tertarik membuatnya tersenyum.
“Dulu kalian bertiga paling suka kalau diajak ke sini hari minggu.”
Aku tersenyum mengingat masa kecil dimana aku, Andra, dan Arya berlarian di taman ini untuk mencoba satu permainan ke permainan lainnya, saat itu Mas Juna yang sudah ABG paling malas untuk diajak ke sini.
“Dan dulu Mas Juna paling malas kalau diajak ke sini.”
“Hahaha, ya iyalah malas setiap hari lewat sini kalau sekolah.” Mas Juna memang sekolah di salah satu sekolah favorit yang ada di sekitaran Jl. Belitung ini.
“Waktu itu Mas Juna sudah ABG jadi malu kalau bertemu teman sekolah atau gebetan.”
“Hahaha, iya dulu zaman SMA di depan sini jadi tempat kami nongkrong sepulang sekolah.”
“Termasuk sama perempuan yang Mas Juna cium waktu ulang tahun?” aku bertanya sambil tersenyum menggoda membuatnya menatapku dengan mata terbelalak.
*****
Senang aku bisa jumoa dgn karysmu
susah bacanya gak enak
padahal bisa lebih disederhanakan minta apa tp antara gengsi sama minta suami peka🤣🤣🤣
gustiiii 5x sehari bisa2 senja g kuat turun tangga sekedar ambil makan
kan pagi pertama juga boleh