Menghindar dan bersembunyi dulu aku lakukan, tapi tidak untuk sekarang.
Demi membalaskan kematian orang yang ku sayang, aku harus kuat!
"Apa, apa yang lo tahu, lo bukan siapa siapa gw, jangan masuk dalam kehidupan gw."
"Gw suka kesunyian ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MILA KARMILA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Sampai dimansion Queen, Queen dan Alex memarkirkan motornya di garasi.
"Lu ngapain?" Tanya Queen, ternyata Alex mengikutinya sampai ke mansion, dia kira Alex langsung kembali ke markas mafianya.
"Nginep lah, ngapain gw pulang sendirian." Jawab Alex, namun sebenarnya dia ingin menemani Queen, Alex tahu jika Queen nanti akan memikirkan perkataan Leon.
"Hmm." Dehem Queen pasrah, toh Alex juga sudah sampai disini, juga keluarga Adhitama dijaga dengan ketat di markasnya, hingga mereka semua tidak akan pernah bisa lolos.
"Non, Aden, sudah pulang." Ucap Bi Inem yang menunggu Queen kembali, pasalnya sekarang sudah jam 12 malam.
"Iya Bi, kenapa Bibi belum tidur, udah malem Bi." Ucap Alex.
"Nggak papa Den, Bibi cuman mau nungguin Non Queen pulang." Jawab Bi Inem yang sudah terlihat mulai mengantuk.
"Ini Queen udah pulang Bi, Bibi tidur aja." Ucap Queen menghilangkan nada datarnya, Bibi tersenyum akan hal itu, Queen tidak lagi datar padanya.
"Iya Non, tapi tadi tuan besar menelpon Non, menanyakan kabar Non Queen." Ucap Bi Inem memberitahu.
"Iya Bi, besok pagi Queen telpon Grandpa balik." Ucap Queen, Bi Inem langsung masuk kedalam kamarnya, juga Queen dan Alex.
Tidak, Alex tidak langsung masuk kedalam kamarnya sendiri, melainkan mengikuti Queen masuk kedalam kamar.
"Lu ngapain lagi?" Tanya Queen yang terus dibuntuti oleh Alex.
"Enak juga nih kamar lu, udah lama gw nggak tidur disini, gw tidur disini." Alex langsung membanting tubuhnya dikasur empuk Queen, Queen yang melihat itu hanya memutar bola matanya jengah.
Queen masuk kedalam ruang ganti pakaian, mengganti bajunya dengan baju tidurnya.
"Lu terima aja Leon." Ucap Alex memiringkan badannya melihat Queen yang memainkan handphone nya.
Queen tidak menanggapinya, namun dalam hatinya dia memikirkan kata kata Leon, apakah itu cinta atau hanya sebuah perkataan saja.
"Terima aja kali, orang Leon juga udah lama kenal sama lu, ya sih nggak pernah lu ajak ngobrol, ya setidaknya dengan dia jadi pacar lu, lu sama Leon bisa deketan gitu, sukur sukur lu bisa nikah gitu sama si Leon."
"Ya kalo gw lihat si, dia anaknya sebenernya baik juga, cuman gila aja dikit." Sambung Alex.
"Hubungan bukan cuman main main." Ucap Queen tanpa melihat wajah Alex, matanya tetap memandang handphone nya.
"Iya gw tahu, hubungan bukan mainan, tapi kalo lu sama Leon bisa serius dan bangun komitmen sama sama, hubungan itu nggak akan jadi mainan." Alex menanggapinya dengan pemikirannya yang sudah dewasa.
"Gw tahu, komitmen, tapi identitas gw lebih dari segalanya."
"Iya gw tahu lu pewaris satu satunya keluarga Aurora, dan lu adalah seorang pemimpin mafia terbesar, gw tahu nggak akan mudah orang bisa deket sama lu."
"Satu lagi, pengidap leukemia." Ucap Queen meletakkan handphone nya dinakas, samping tempat tidurnya.
Alex menarik nafasnya, menghembuskannya dengan kasar.
"Queen lu itu adek gw, kita masuk dalam lingkup yang sama, dan terjebak dalam masa lalu yang sama, mungkin leukemia adalah masalah utama lu, tapi gw sebagai laki laki yang benar benar mencintai lu, gw pasti akan memperjuangkan elu, dan bakal berusaha membuat leukemia lu hilang dengan cara apapun, meski perlahan lahan." Ucap Alex menatap lekat mata Queen.
"Ayolah semangat, jangan kaya gini, gw nggak suka tahu nggak, gw lihat Leon itu beneran suka sama lu."
Queen sontak menatap balik Alex.
"Tahu dari mana lu?"
"Iyalah gw tahu, orang kalo kita lagi sama sama nih, si Leon pasti curi curi pandang sama lu, lu aja yang terlalu nggak perduli sekitar."
"Tapi dia udah janji sama dirinya sendiri, kalo dia bakal jadiin pacar orang yang ngalahin dia balapan."
"Dan sekarang dia tahu kalau itu elu, kalaupun orang itu bukan elu, mungkin hubungan itu akan kandas dalam waktu yang dekat, ingat jodoh itu akan datang dengan sendirinya tanpa lu atur atur, buktinya sekarang."
Seketika hening, Alex menunggu respon Queen selanjutnya, namun Queen malah melamun entah pikirannya terbang kemana.
Dua menit, tiga menit, lima menit, Queen tersadar.
"Tidur." Ucap Queen yang tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini, dia langsung mematikan lampu kamarnya, menarik selimutnya hingga menyisakan kepalanya saja.
Alex juga langsung membenarkan posisi tidurnya, dia juga tahu Queen tidak ingin melanjutkan obrolan ini, karena dirinya sedang bingung.
Pagi harinya, seperti biasa, Queen dan Alex ke sekolah.
Sampai disekolah, Leon dkk sudah menunggu Queen sedari tadi pagi. Saat Queen sudah turun dari mobil diikuti Alex, Leon langsung mendekati Queen.
"Lex, lu ikut kita." Ucap Arvino yang langsung menarik paksa Alex pergi meninggalkan Queen dan Leon sendiri.
Queen mantap datar Leon sambil menaikkan satu alisnya, pertanda 'apa'.
"Masuk mobil bentar, gw mau ngomong sesuatu sama lu, penting ini." Ucap Leon. Dia sudah merencanakan sesuatu demi mendapatkan Queen, bukan kerena dia terobsesi dengan orang yang sudah mengalahkannya saat balapan, tetapi dia sudah mulai menyadari bahwa dirinya benar benar mencintai Queen.
"Plislah, penting." Ucap Leon kembali dengan wajah memohon, karena Queen tak kunjung masuk kedalam mobilnya.
"Hmmm." Tidak ada cara lain selain masuk kedalam mobil.
Setelah didalam mobil, Leon memegang erat tangan Queen.
"Ngapain sih lu?" Tanya Queen hendak melepaskannya, namun tangan Leon kembali menarik tangan Queen, menggenggamnya lebih erat.
"Gw itu suka sama lu, gw mau lu jadi pacar gw, setelah lu nolak gw semalam, gw baru sadar kalau gw sebenernya suka beneran sama lu, Alqueena Aurora." Ucap Leon menyebutkan nama Queen yang sebenarnya, sontak Queen langsung terkejut, dari mana Leon tahu, padahal dirinya tidak pernah memberitahukan namanya yang sesungguhnya.
"D-darimana lu tahu?" Tanya Queen gugup melepaskan tangannya dari tangan Leon.
"Benar." Batin Leon tersenyum.
"Sebenarnya gw nggak yakin kalau lu itu anggota keluarga Aurora yang masih hidup, tapi dengan ngelihat ekspresi lu yang kayak gini, gw jadi yakin seratus persen." Ucap Leon menatap manik mata indah Queen.
"Jangan macem macem." Ucap Queen dengan nada peringatan, hanya Leon lah yang tahu tentang ini.
"Maaf, gw nggak akan ngasih tahu siapa siapa kok, sebenernya gw tahu semua ini dari foto keluarga yang ada disalah satu ruangan mansion lu."
"Dan keluarga yang lu incar adalah keluarga Adhitama yang hilang satu persatu, juga bangkrut itu, gw tahu itu dari ayah bunda gw." Ucap Leon menjelaskan.
"Kenapa ayah bunda nya tahu?" Batin Queen bertanya, bukankah tidak ada yang tahu jika keluarga Adhitama lah otak dari semuanya.
"Tenang, gw bakal bantu elu kok, gw nggak akan ngambil kesempatan dalam kesempitan lagi, cukup tadi malam aja, dan buat cinta gw, gw cinta sama lu itu tulus, meskipun lu orangnya datar dingin, tapi gw udah tahu penyebabnya kenapa."
"Lu nggak harus jawab perasaan gw sekarang, tapi gw tetep nggak mau tahu, lu harus jadi pacar gw, titik no debat." Ucap Leon langsung keluar dari mobil Queen.
"Gw bakal bantuin lu Queen, bukan cuman gw, tapi juga yang lain." Batin Leon berjalan menjauh dari parkiran menuju kelasnya.
Queen yang masih didalam mobil menjadi diam termenung, dia memikirkan setiap kata kata Leon.
Queen membuka laptopnya, mencari tahu tentang keluarga Leon.
"Leon Abyasa Rycholas, anak tunggal keluarga terkaya kedua yang naik menjadi peringkat satu di negara ini." Gumam Queen membacanya, dia kembali mencari tahu, apa hubungan keluarga Rycholas dengan keluarga Aurora.
Namun sayang, disana hanya tertulis rekan bisnis yang terputus karena meninggalnya keluarga Aurora.
"Mereka memutuskan kerjasamanya, kenapa? apa mungkin mereka takut jika Aurora Company bangkrut? tapi insiden itu, kenapa mereka tahu?" Gumam Queen terus bertanya tanya.
"Sial." Umpatnya tidak mengerti jalan pikiran keluarga Rycholas.
Queen menutup laptopnya, meninggalkan mobil, menuju ke kelas, dia langsung duduk dibangkunya, samping Leon.
Hanya keheninganlah yang menjelaskan suasana saat itu.
"Buset tiba tiba sunyi." Batin Nesya.
"Apaan dah nih, kayak kuburan." Batin Arvino yang mulai tidak nyaman dengan suasananya.
"Ade ape sih?" Tanya Alex pada Devan.
"Tau gw, mending diem aja deh, gw takut macannya kumat." Balas Devan yang malah menyuruh Alex untuk diam.
"Eh kita main uno stacko aja yuk, gw bawa nih." Ucap Aluna berusaha mencarikan suasana.
"SETUJU!" Sorak semuanya kecuali Leon dan Queen, mereka tetap diam.
"Lu nggak ikutan?" Tanya Arkan pada Leon.
"Boleh dah." Ucap Leon bergabung.
"Queen, nggak ikut?" Tanya Nayla.
"Nggak." Jawab Queen singkat langsung menelungsupkan kepalanya bertumpu pada kedua tangannya.
Alex dan yang lain yang melihat respon Queen merasa biasa saja, tetapi tidak dengan Leon.
"Gw tahu ini semua sama sekali nggak nyaman." Batin Leon.