Abaikan tanda End di atas ya.
Sebelum membaca "Indahnya Jatuh Cinta"
Di saran kan membaca "Talak Tiga" karena semua nya berawal dari sana.
***
Setelah Indah dan Arfan berteman selama dua tahun kini Indah dan Arfan telah resmi menjadi pasangan suami istri. Namun sayang di tengah pernikahan mereka yang terlihat harmonis dan hangat itu siapa sangka kalau Indah belum bisa mencintai Arfan.
Masa lalu Indah yang begitu pilu membuat nya menjadi orang yang menutup hati nya bagi siapa saja termasuk Arfan. Dan pernikahan mereka pun sama sekali tidak di rencana kan. Semua itu karena hal yang membuat mereka terpaksa menikah.
Lalu bagaimana? apa kah Indah akan jatuh cinta pada Arfan yang berstatus suami nya itu?.
Atau kah ia lebih memilih menutup hati nya karena ia takut masa lalu yang kelam itu akan terulang lagi. Karena ia sedang mempersiapkan hati nya bila suatu saat Arfan juga akan melukai nya?.
Terus ikuti cerita nya dan tidak penasaran "Indahnya Jatuh Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi ini Arfan sudah kembali ke tanah air. Ia dengan tidak sabar untuk sampai di rumah mertuanya untuk menjemput istri dan anaknya yang ia titipkan di sana beberapa hari yang lalu. Kini Arfan sudah berada di halaman rumah Fatimah ia mulai berjalan setengah berlari. Setelah ia menekan bell dan pintu terbuka.
"Arfan" kata Fatimah yang membuka pintu.
"Bu" jawab Arfan sambil mencium punggung tangan mertuanya.
"Ayo masuk Nak" kata Fatimah.
"Iya Bu. Indah di mana Bu?" tanya Arfan.
"Ada di atas masih tidur" jawab Fatimah.
"Tidur Bu?" tanya Arfan ia melihat pergelangan tangannya dan jam nya menunjukan sudah pukul tujuh pagi itu tidak biasa menurut Arfan.
"Iya Nak sudah dua hati ini Indah sangat malas bangun pagi" kata Fatimah.
"Apa Indah sakit Bu?" tanya Arfan mulai cemas.
"Iya kemarin katanya maag nya kambuh" jawab Fatimah.
"Arfan ke atas ya bBu lihat Indah" kata Arfan.
"Iya"jawab Fatimah.
Arfan berjalan menuju kamar Indan. Dan Fatimah tersenyum melihat Arfan ia tau menantunya itu dari bandara langsung menemui istrinya karena pakaian Arfan juga terlihat berantakan di tambah lagi wajahnya yang terlihat lelah. Fatimah sangat bersukur Indah akhirnya bisa bahagia bersama Arfan orang yang sangat tulus mencintainya.
"Sayang" kata Arfan yang sudah berada di kamar. Ia menaiki ranjang dan memeluk tubuh Indah.
"Mas" jawab Indah. Indah terkejut karena Arfan yang datang tiba tiba.
"Sayang kamu sakit?" tanya Arfan sedikit panik.
"Nggak Mas Indah lagi malas saja" jawab Indah.
Arfan baru menyadari Rey tidak ada di sana. Dan Arfan juga tidak melihat Rey dari ia masuk tadi. Ia memang tidak tau kalau Rey di bawa Mira dan Mira pun tidak menghubunginya. Lagi pula Arfan pun tidak sempat menghubungi Indah atau yang lainnya karena jadwalnya sangat padat dan ia ingin cepat pulang.
"Sayang Rey di mana?" tanya Arfan.
"Rey di bawa Mama kemarin Mas" jawab Indah.
"O" jawab Arfan.
Arfan mulai mencium Indah dan melepaskan hasrat yang terpendam selama tujuh hari tidak bertemu Indah. Indah tidak menolak tubuhnya merespon dengan sangat baik karena ia pun sudah sangat merindukan sentuhan Arfan. Setelah selama satu jam mereka melakukan olah raga ranjang di pagi hari. Kini keduanya sudah memakai pakaian karena keduanya akan menjemput Reyhan.
"Bu Indah sama Mas pamit ya. Indah mau jemput Rey" kata Indah berpamitan pada Fatimah yang sedang duduk di sofa sambil menyeruput teh.
"Tidak sarapan dulu?" tanya Fatimah.
"Tidak usah Bu. Aku ingin cepat bertemu Rey" kata Arfan karena ia memang sudah sanagt merindukan bocah nakal nya itu.
"Ya sudah. Hati hati ya" jawab Fatimah.
"Iya Bu" Indah dan Arfan mulai mencium punggung tangan Fatimah dan kedua nya mulai berjalan keluar dengan Indah memeluk lengan Arfan dan keduanya terlihat sangat bahagia.
***
"Ayah" teriak Rey saat melihat Arfan turun dari mobil.
"Sayang" kata Arfan sambil berjalan cepat mendekati Rey yang sedang asik bermain bersama kedua orang tuanya di teras rumah.
"Ayah" kata Rey lagi.
Arfan mengangkat tubuh mungil Rey dan ia mengendong Rey sambil sesekali ia melempar sedikit tubuh Rey keatas lalu dengan cepat ya menangkap nya.
"Ayah ahahahhaa" Rey berteriak kegirangan.
"Apa Rey merindukan Ayah?" tanya Arfan ia mulai menciumi pipi Rey.
"Iya" jawab Rey mengalungkan kedua tangannya di leher Arfan.
"Ayah juga" kata Arfan sambil kembali mencium pipi cabi Rey.
"Ayah Rey malu kalau di cium terus Rey sudah besar" kata Rey dengan wajah masam nya karena ia tidak ingin Arfan terus menciumnya, menurut Rey dia bukan anak kecil jadi ia tidak mau di cium.
"Memangnya kalau sudah besar tidak boleh di cium?" tanya Arfan bingung.
"Rey sudah punya pacar di sekolah. Kalau Rey mau di cium Rey suruh miss Maria saja yang cium Rey" jawab Rey sambil berusaha turun dari gendongan Arfan.
Mira, Arfan dan Indah saling tatap. Ketiganya bongung dan merasa lucu dengan ucapan Rey. Sedangkan Hartono hanya menjadi pendengar setia dengan wajah datarnya.
"Rey sudah punya pacar?" tanya Arfan.
"Iya. Dan pacar Rey sangat cantik dan sexy" jawab Rey sambil melipat kedua tangannya.
Arfan menganga dan ia di buat seperti orang bodoh. Karena jawaban Rey yang sok dewasa itu.
"Memangnya pacar itu apa?" tanya Mira sambil menajan tawanya.
"Pacar itu em.." Rey bingung dan mulai menggaruk kepalanya dan ia bingung harus menjawab apa karena aia tidak tau pacar itu apa.
"Pacar itu apa Rey?" tanya Arfan juga.
"Pacar ya pacar Yah. Teman baik" jawab Rey asal.
"Oh ya Rey benar" kata Indah.
"Rey pernah satu kali di cium miss Maria" kata Rey dengan membanggakan dirinya.
"Arfan apa kamu ingat?" tanya Mira.
Arfan tersenyum kecut mengingat dulu ia sewaktu duduk di bangku kelas 5 sd juga pernah mengatakan pacar kepala sekolah yang sangat cantik.
"Sama kan kalian?" tanya Mira.
"Sama Ma?" tanya Indah ikut penasaran.
"Iya Arfan juga dulu begitu. Kepala sekolahnya dia bilang pacarnya" jawab Mira sambil tertawa.
"Mama apa sih. Kan dulu Arfan masih kecil" jawab Arfan dengan sedikit malu.
"Yuk masuk" kata Mira karena mereka masih berdiri di teras.
"Yah ada mainan buat Rey nggak?" tanya Rey karena ia ingat bila Arfan pulang bekerja dalam waktu yang berhari hari pasti ia akan di bawakan mainan baru.
"Ada di mobil. Kamu minta mang bibik yang ambil ya" kata Arfan.
"Ya Yah. Rey ajak bibik ke belakang dulu" kata Rey sambil berlari mengambil Art untuk mengambil mainanya di mobil.
"Kamu kenapa ssyang?" tanya Arfan karena ia melihat Indah mulai gelisah.
"Indah lapar Mas" jawab Indah.
"Ayo kita makan" kata Mira. Mira yakin Indah sedang hamil karena Indah adalah orang yang sanagt malas makan dan hal aneh bila Indah mengatakan lapar. Tapi Mira diam saja ia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Mira berpikir mungkin Indah masih merasa malu untuk mengatakannya padanya. Atau mungkin Indah ingin memberitahu suaminya dulu baru pada yang lainnya.
"Mas mau makan apa?" tanya Indah. Yang kini keduanya sudah duduk di kursi meja makan.
"Nasi putih saja yang sama ikan goreng dan sayur" kata Arfan.
"Ini Mas" kata Indah sambil meletakan piring dan mengambil sendok untuk Arfan.
"Indah" Arfan merasa mual melihat makanan yang ada di hadapannya.
"Kenapa Mas?" tanya Indah.
"Mas mual melihat nasi ini" jawab Arfan ia bangun dari duduk nya dan ingin menjauh dari piringnya yang beriai nasi.
Jadi hati - hati klo ngatain orang takutnya ketulah, " Mulutmu Harimau Mu"