Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
We Are "Ichigo Ichie"
Davina terlalu sibuk mengajar murid-muridnya sampai tidak menyadari bahwa Raka pergi dari ruang kelasnya. Saat murid-muridnya sudah pulang dan ruangan menjadi kosong, barulah dia menyadari ketiadaan Raka.
"As always..." bisik Davina pada angin lalu.
Raka selalu pergi. Tanpa berpamitan.
Dan Davina selalu tertinggal, menikmati pedih dalam hatinya sendirian.
Dia mengamati bayangannya di cermin. Sampai kapan dia mau seperti ini? Hidup dalam bayang-bayang Raka terus menerus?
Dia mengambil remote, lalu memasang musik secara acak. Lagu Never Enough dari Loren Allred mengalun dari stereo ruangannya.
Davina menutup mata saat piano mengawali lagu tersebut. Selalu meresapi terlebih dahulu setiap emosi yang terkandung di dalam sebuah lagu.
"I'm trying to hold my breath..."
Lirik pertama membuat Davina menarik nafas sedalam mungkin.
Lalu dia pun berjinjit, dan tubuhnya perlahan mengikuti musik. Sebebas-bebasnya, sesuka hatinya. Setiap gerakannya begitu penuh kesedihan. Tubuh Davina seakan tercipta untuk selalu bergerak menyesuaikan musik yang mengiringinya.
"Cause darling without you...
All the shine of a thousand spotlights..."
Davina berjalan jinjit dan mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya, menikmati lagu.
"All the stars we steal from the night sky...
Will never be enough..."
Davina merentangkan tangan dan melompat dengan anggun.
Lagu pun mencapai klimaksnya.
"Never enough...
Never...
Never..."
Davina berputar cepat di atas satu tumpuan kakinya.
"Never enough..."
Davina membuka mata sejenak, hendak melihat dimana posisinya sekarang, tapi dia malah menangkap bayangan seseorang yang sedang memandanginya.
Davina berhenti menari.
"Kenapa?" tanya Raka, lirih.
Davina langsung mengambil remote untuk menghentikan musik.
"Kamu bukannya udah pergi?" Davina malah bertanya balik dengan ketus.
"Aku cuma mau beliin kamu minuman." Raka mengangkat minuman bubble tea favorit Davina. Dulu.
"Aku gak minum bubble tea lagi."
"Kenapa?"
"Gula. Gendut."
Raka terperangah mendengar jawaban Davina.
"Kamu gendut dimananya sih, Devni? Sedikit gula gak bakal bikin kamu nambah seratus kilo."
"Gak mau."
Davina tetap menolak. Dia duduk di kursi untuk mencopot sepatu baletnya.
Raka mendekat.
"Jangan coba-coba!" Davina mengangkat tangan, memberikan tanda penolakan pada Raka.
Laki-laki itu langsung berhenti melangkah.
"Takut aku peluk lagi ya?" tanya Raka, dengan senyuman jahilnya.
"You wish!" Davina menggerutu.
"Kalau aku duduk disini boleh?" tanya Raka, menunjuk tempatnya berdiri saat ini, kira-kira tiga meter dari Davina.
"Suka-suka kamu."
"Galak banget sih sekarang." Raka membuka bungkusan bubble tea-nya, lalu mengambil satu untuknya. Dia sengaja menusukkan sedotan dengan kencang agar Davina dapat mendengar.
"Aku ini calon istri orang. Ingat gak?" Davina menggerutu.
"Ingat. Mana mungkin lupa." Raka kini sudah menyedot bubble tea itu dengan rakus.
"Bisa biasa aja gak minumnya? Lebay banget!"
"Enak banget loh. Kamu yakin gak mau?"
"Yakin."
"Ini manis dan enak banget, Devni. Aku yakin gak bakal bikin gendut. Besok bisa kamu tebus kok kalau main pesawat-pesawatan sama Keysha," kata Raka sambil terkekeh.
Davina menggeram mendengar Raka yang semakin menggoda imannya.
Sebenarnya sudah lama dia tidak minum bubble tea. Setahun? Yap. Mungkin setahun. Pokoknya sepanjang dia berpacaran dengan Nikolas.
"Kamu bener-bener iblis!" Davina memaki.
Raka nyengir. Dia mengambil satu bubble tea lalu mengulurkannya pada Davina.
"Gak nyampe. Boleh mendekat gak?" tanya Raka, sok polos.
"Kamu tuh..." Davina kehabusan kata-kata.
Raka menganggap hal itu sebagai tanda persetujuan dari Davina, maka dia pun mendekat pada wanita itu. Dia memberikan bubble tea itu, dan Davina pun menerimanya.
"Kamu boleh balik ke tempat tadi," kata Davina.
"Enggak. Aku mau disini." Raka malah seenaknya duduk di depan Davina. Mereka kini hanya berjarak setengah meter saja.
Davina memutuskan untuk mengabaikan Raka. Dia membuka bungkusan plastik, lalu menusukkan sedotan sama kencangnya seperti Raka. Betapa memuaskannya mendengar bunyi itu lagi. Sampai Raka tertawa pelan dibuat tingkah kanak-kanak Davina.
Begitu satu teguk minuman manis penuh gula itu membasuh kerongkongannya, Davina refleks tersenyum. Dia benar-benar hampir lupa betapa enaknya minuman penuh dosa ini. Nanti saja dipikirkan efek sampingnya pada pinggul dan pipinya, yang penting sekarang dia harus cepat menandaskan minuman ini sampai dasar gelas plastik ini.
Selagi Davina sibuk menikmati minuman bubble tea-nya, Raka mengamati satu kaki Davina yang sudah terlepas dari pointe shoes-nya. Penuh kemerahan dan jari jemarinya masih dibalut karet-karet pelindung.
Tanpa dia sadari, seperti yang dulu-dulu, Raka refleks mendekat untuk mencopot karet pelindung itu.
"Rakaaaa!" Davina histeris, berusaha menjauhkan kakinya dari Raka.
Tapi Raka menahannya.
"Daridulu, sebelum kita pacaran, aku udah sering bantuin kamu lepasin pointe shoes kalau kamu udah kecapean. Kenapa sekarang jadi masalah?" tanya Raka. Dia sudah berhasil mencopot seluruh karet pelindung dari kaki Davina.
"Aku gak suka sama perhatian kamu!" Davina masih berusaha.
Tapi Raka tetap memeganginya dengan erat.
Usahanya benar-benar sia-sia.
Kepala laki-laki itu bahkan lebih keras dari logam titanium. Untuk apa berusaha melawannya?
Kini Raka bahkan sudah mencopot pointe shoes dari kaki kiri Davina.
"Udah! Kamu minum aja sih! Ribet amat jadi cewek!" Raka mencibir.
"Kamu maunya apa sih, Ka?"
"Aku udah jawab berkali-kali. Cape ngulangnya."
"Tapi aku udah gak bisa lagi. Aku mau nikah sama Nikolas."
"Bodo amat! Aku masih punya waktu tiga minggu lagi!"
"Tiga minggu gak bakal ngubah apapun."
Raka berhenti sejenak. Dia mendongak agar matanya bertemu dengan mata Davina.
"Aku gak peduli, Devni. Kalau aku gak berusaha, aku gak bakal pernah tahu jawabannya."
"Ka..."
Raka menunduk, kini mulai mencopot karet pelindung dari jari kaki kiri Davina.
"Aku bilang kamu minum aja. Gak usah ngomong apa-apa lagi," kata Raka.
Davina tidak lagi berusaha melawan Raka. Dia sudah mengutarakan perasaannya. Dari awal dia sudah menentukan pilihannya, dan tidak akan ada yang bisa mengubah hal itu. Termasuk Raka.
"Done!" Raka pun meletakkan kembali kaki Davina ke lantai.
Dia pun berdiri, lalu menunduk agar wajahnya sejajar dengan wajah Davina. Wanita itu segera menghindar karena takut dicium lagi oleh Raka.
Tapi bukan itu yang ingin Raka lakukan.
Dia hanya menyentuh sejumput rambut Davina dari bahu, lalu berkata lirih, "We are 'ichigo ichie', remember?"
Davina terdiam. Sebutan itu...
Raka tersenyum kecil, melepaskan, lalu berbalik dari Davina.
Dan seperti yang sudah-sudah. Yang lalu-lalu.
Raka kembali pergi. Tanpa berpamitan.
***
*ichigo ichie adalah idiom Bahasa Jepang, yang memiliki arti 'satu kali, satu pertemuan'. Maksudnya adalah sebuah pertemuan hanya akan terjadi satu kali dalam seumur hidup, dan tidak akan terulang lagi, dan merupakan momen yang sangat berharga.
***
Ini readers masih semangat gak sih ngikutin cerita anak rawon? 😅
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian