Awalnya semua begitu indah untuknya. Memiliki keluarga yang sempurna dengan ayah dan ibu yang sangat mencintai dan menyayanginya, tapi kebahagian itu hanya sementara. Cinta pertamanya di dunia ini direnggut darinya, seketika semuanya berubah menjadi duka.
Kehidupan baru mulai dijalani saat seseorang datang dan dikehidupan ibunya. Menjadi anak tiri dari seorang pengusaha yang sukses dan hidup dengan kemewahan yang dirasakannya.
Tapi..., semua tidak seindah yang dijalaninya. Hanya ada kesedihan yang dirasakannya karena penghinaan yang didapatnya dari orang yang sangat disayanginya.
Wanita itu hanya berharap mendapatkan kebahagian, memiliki sosok pelindung yang baru untuknya. Sampai akhirnya sebuah takdir kehidupan yang tak terduga, menikah dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
Tidak ada cinta,tidak ada kebahagian yang dirasakannya, hanya ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di dalam pernikahan itu.
Hanya menunggu kapan Rahasian itu terbongkar dan menjadi Bom waktu di pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Kemarahan Arga
Suasana diruangan itu terasa mencekam, arga dan Kenichi saling memandang satu sama lain dalam keheningan. Tak seorang pun dari mereka saling berbicara, sorot mata antara keduanya menjadi isyarat komunikasi yang terjadi.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat marah sekali denganku, hanya karena wanita itu?"tanya Kenichi, dengan dagu runcingnya yang terangkat.
"Wanita itu bernama Gwen, Kenichi", sergah arga.
"Aku tahu", sergah Kenichi dengan rahang menegang.
"Dengar Kenichi, berhenti untuk mengatakan bahwa pernikahan ini untuk kepentingan kalian berdua. "Baiklah aku mengakui aku salah, awalnya aku mengira bahwa Gwen adalah wanita yang berasal dari keluarga miskin, aku berpikir dengan menikah dengan mu status sosial yang dimilikinya akan berubah, tapi semua tidaklah sesuai dengan yang kita pikirkan, bukan?"tanya arga.
Kenichi hanya diam, bibirnya tertutup rapat dengan sorot mata yang tajam memandangi arga.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, arga", gumam kenichi.
"Apa kamu sadar, Gwen sama sekali tidak memiliki sedikitpun kepentingan. Di tidak butuh menikah denganmu hanya untuk menaiki status sosialnya karen dia telah memiliki segalanya. Dia dibesarkan dari keluarga yang cukup berada,meski tidak sekaya dirimu Kenichi. Jika dia mau, dia bisa saja membatalkan kesepakan itu",jelas arga yang membalas tatapan tajam Kenichi kepadanya.
Kenichi hanya diam dan melamun dalam pikirannya,wajahnya berubah muram. Dia memejamkan kedua matanya sejenak,dengan memijat pelan keningnya dengan jari-jari tangannya. Tiba- tiba saja kepalanya merasa sakit, saat arga terus saja menyalahkan dirinya.
Dia menghela napas dan membuka matanya. "Aku tidak ingin membahas masalah itu lagi", gumamnya.
Arga hanya memandangi Kenichi yang saat ini justru terlihat sangat frustasi, wajahnya angkuh yang diperlihatkannya dari tadi seketika saja sirna bahkan sama sekali tidak terlihat lagi.
"Aku hanya ingin kamu memahaminya, Kenichi", kata arga.
Kenichi sama sekali tidak menggubris perkataan arga dan terkesan seolah tak mendengarnya. Dia menunduk dan memandang kearah leptop nya tanpa melihat kearah arga lagi, dia berusaha menenangkan dirinya. Dia takut jika semakin dia mendengarkan perkataan arga, itu dapat mengubah dan mempengaruhi dirinya dalam bersikap kepada Gwen.
"Kenichi", gumam arga, dia masih ingin membahas permasalah antara Kenichi dan Gwen, tapi orang yang bersangkutan justru terlihat enggan membahasnya lagi.
Arga terus saja tidak berhenti menggangunya, dia berusaha sangat keras agar tidak mempedulikan setiap ocehan temannya itu, setidaknya dengan sikapnya seperti itu membuat arga menyadari bahwa Kenichi benar -benar tidak ingin membahasnya lagi.
Kring!! Kring!!! Kringg!!!
Ponsel yang berada di dalam saku jas yang tergantung di balik bangku Kenichi terus berdering. Diambilnya ponsel itu, nama yang tertera di layar ponselnya membuatnya teringat akan sesuatu yang telah dilupakannya.
"Astaga, daichi", gumamnya.
Dia menarik napas panjang,sebelum menjawabnya.
📱Hallo, daichi. Apa kalian sudah sampai?"tanyanya.
📱Kami baru saja sampai. Dimana supir yang menjemput kamu? Kamu tidak lupa dengan yang aku katakan,bukan?"tanya daichi.
Sontak saja kedua mata Kenichi terpejam, bersiap menerima kemarahan dari sepupunya itu.
📱 Aku lupa", jawabnya.
📱Aku sudah menduga itu. Aku memang salah menyuruh mu, seharusnya aku mengatakannya ke ada Paman atau bibi", gumam daichi, tanggapan yang diberikan nya sangat jauh dari yang dipikirkan Kenichi.
📱Maafkan aku, tunggulah disitu. Aku akan menyuruh supir untuk menjemput kalian, kebetulan bandara tidak jauh dari sini", ucap kenichi.
📱Baiklah kami akan menunggu ", jawab daichi dan menutup telepon .
Setelah telpon ditutup, dia langsung menatap kearah arga yang dari tadi masih berdiri dan memperhatikannya.
"Arga, tolong aku", kata kenichi.
"Oh, akhirnya kamu sadar bahwa aku masih ada diruangan ini", sergah arga,wajahnya masih terlihat kesal.
"Ayolah, kita lupakan dulu masalah itu. Ada yang lebih penting dari masalah itu sekarang", ucap kenichi.
"Ada apa?tanya arga, dia mencoba melupakan perdebatannya dengan kenichi.
"Aku lupa bahwa hari ini daichi dan keluarganya datang dan saat ini mereka sudah di bandara. Tolong suruh supir untuk menjemput mereka sekarang, aku kasihan jika harus membiarkan bibi dan sakura menunggu kelamaan", jelas kenichi.
"Baiklah, aku akan mengurusnya", kata arga.
"Terima kasih", ucap kenichi, dia tersenyum.
"Ada apa dengan senyum itu? Jangan lakukan itu, melihatmu tersenyum justru membuat ku ngeri", gumam arga dan pergi dari ruangan kenichi untuk menjalankan perintah yang diberikan kepadanya.
Malam harinya, mobil yang menjemput daichi tiba di kediaman rumah orang tua Kenichi. Ketika mereka keluar dari dalam mobil, mina dan Hayate kedua orang tua Kenichi langsung menyambut kedatangan mereka.
"Kakak", ucap mina yang langsung memeluk imoto.
"Masuklah daichi, para pelayan akan membawanya", gumam Hayate.
"Ia paman", jawab daichi.
Dia langsung bergegas menghampiri sakura, usia kandungannya yang memasuki tujuh bulan membuat daichi semakin protektif kepada istrinya itu. Dipeganginya lengan sakura sambil menuntunnya berjalan hati-hati masuk kedalam.
"Aku bisa sayang", gumam sakura.
"Aku akan membantumu", sergah daichi, dia sama sekali tidak memedulikan sakura yang merasa tidak nyaman degan sikapnya.
Mereka tiba diruang keluarga, ruangan yang cukup luas dan nyaman. Beberapa pelayan langsung datang menyuguhkan minuman untuk mereka, sesuatu yang sangat dibutuhkan saat lelah menunggu cukup lama di bandara tadi.
Dreg....Dreg....Dreg....
Beberapa jam mematikan ponselnya, ketika daichi mengaktifkannya kembali banyak pesan dan panggilan masuk yang terlewat. Dia mulai memeriksa pesan-pesan yang masuk ke ponselnya, benar-benar tidak ada waktu santai bagi daichi. Di manapun dia berada, dia masih saja mengurusi pekerjaannya.
"Sayang, sebentar aku keluar dulu", bisik daichi kepada sakura.
"Hmmm", jawab sakura.
Imoto melihat putranya itu pergi keluar.
"Sayang, daichi mau pergi kemana?"selidiknya.
"Sepertinya dia ingin menelepon, bu", jawab sakura.
"Dia selalu saja sibuk", gerutu imoto.
Pandangan mina langsung tertuju kepada perut sakura yang semakin besar.
"Perut sakura semakin besar ya", kata mina.
"Ia bi, sudah memasuki usia kandungan 7 bulan", ucap sakura, dengan tangan yang mengelus-ngelus perutnya.
"Kenapa memaksa untuk ikut, sayang. Apa tidak masalah dengan kondisi kandungan kamu?", tanya mina.
"Sama sekali tidak bi. Sebelum berangkat kami memeriksakan terlebih dahulu kandunganku dan berkonsultasi dengan dokter kandungan ku, dia mengatakan semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah", jelas sakura.
"Syukurlah kalau begitu sayang",ucap mina.
Ketika beberapa menit mengobrol, barulah imoto tersadar dengan sosok yang dari tadi tidak dilihatnya.
"Dimana kenichi? Aku belum melihatnya?"tanya imoto.
"Kenichi? Dia masih dikantor kak", jawab mina.
"Besok dia menikah, tapi dia masih bekerja", ucap imoto dengan keheranan.
"Yah, begitulah kak", jawab mina.
"Sifatnya sama persis seperti daichi", kata Imoto.
Sakura hanya menjadi pendengar yang baik antara ibu mertuanya dengan bibinya, perjalanan yang terjadi cukup melelahkan untuknya. Sejak hamil kondisi tubuhnya benar-benar menurun,terlalu banyak melakukan aktivitas langsung membuatnya kelelahan.
"Sakura, beristirahatlah dulu. Kamu terlihat sangat lelah sayang", ucap mina.
Imoto langsung menoleh kearah menantu kesayangannya itu. "Ia sayang, wajah kamu terlihat sedikit pucat", timpa ibu mertuanya itu.
Mina langsung memanggil seorang pelayan untuk membawa sakura ke kamar untuk beristirahat. Seorang pelayan wanita langsung membantu sakura untuk bangkit dari tempat duduknya, saat berdiri kedua kakinya benar- benar terasa sakit dan kebas, namun coba disembunyikannya dari ibu mertua dan bibinya.
"Kalau begitu sakura kekamar dulu", ucapnya.
"Ia sayang, beristirahatlah. Ibu akan memberitahu daichi bahwa kamu sudah dikamar",ucap imoto.
"Ia ibu", ucap sakura.
Dengan perlahan, dia membalikkan badannya dan berjalan dengan dituntun seorang pelayan wanita yang memegangi tangannya.
"Terima kasih, sudah membatu saya", ucap sakura, dengan senyum ramahnya.
"Ia nona", jawab pelayan wanita itu sambil menuntun sakura berjalan ke kamar nya.
"Hey...Hey....Lihat siapa ini", ucap seorang pria
Suara yang terdengar tidak asing di telinga sakura, diputarnya badannya dan melihat Kenichi dengan seorang pria disampingnya, tersenyum lebar menatapnya. Ketika keduanya saling beradu pandang, kenichi mengangkat satu tangannya menyapa sakura.
"Apa kabar, sakura", ucapnya.
Sakura hanya tersenyum saat melihat sifat Kenichi sama sekali tidak berubah, dan mencoba melangkahkan kakinya yang terasa sakit itu menghampiri Kenichi.
"Oh..Oh..., jangan. Biar aku yang kesana", ucap Kenichi dan berjalan mendekat kearah sakura dengan diikuti arga.
Bersambung...
penasaran nih gmna ending nya,msa ya d cut aja smpe dsni???
kok gantung gini crtanya??