Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap Elina
"Sayang, ada apa? Aku perhatikan dari tadi kalau kamu sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Okan sambil ikut duduk di samping Elina dan bersandar di kepala ranjang
Elina masih diam. Haruskah ia mengatakan semua yang dilihatnya dan didengarnya tentang Susi.
Tangan Okan terulur dan memegang wajah istrinya. "Katakan padaku, sayang. Sejak aku pulang kemarin, aku melihat kalau ada sesuatu yang membuatmu gelisah. Apalagi jika kau memandang Susi."
"Mas, waktu kau menyentuh Susi pertama apakah.....,apakah dia masih perawan?" Tanya Elina sangat hati-hati.
"Mengapa kau tanyakan itu?"
"Jawab saja, mas."
Okan menarik napas panjang. "Susi sudah nggak perawan. Dia di perkosa saat di pesantren."
"Dan mas percaya kalau dia diperkosa?"
Okan menatap Elina dengan dahi berkerut. Ia heran dengan pertanyaan Elina.
"Susi anaknya Soleha semenjak dulu. Dia sangat taat pada ibu, sopan dan jarang sekali keluar rumah. Sholat 5 waktunya jarang sekali bolong. Saat dia menceritakan soal dia diperkosa, aku melihat ada kesungguhan di sana karena ia menceritakan sambil menangis tersedu-sedu."
"Kadang penampilan luar tak menggambarkan kedalam pribadi seseorang, mas." Elina membuka karet yang mengikat rambutnya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya sambil membelakangi, Okan.
"Sayang......, ada apa?" Okan membalikan tubuh Elina. Keduanya saling berpandangan.
"Aku hanya meminta janjimu untuk menalak Susi sebelum kita pindah. Dan tolong, jangan pernah tidur lagi dengannya. Aku tak ingin kamu menjadi kotor."
"Kotor?"
Elina tak mau mengumbar aib Susi. Ia hanya ingin agar Okan terlepas dari Susi.
"Aku mungkin egois. Tapi aku hanya mau memilikimu tanpa terbagi dengan siapapun, termasuk Susi."
Okan mencium dahi Elina. "Akan kulakukan besok. Aku mau membuktikan padamu kalau cintaku sangat tulus."
"Aku percaya padamu, mas." Ujar Elina lalu mengecup pipi Okan.
Okan mendorong tubuh Elina sehingga istrinya itu tidur terlentang.
"Mau apa, mas?" tanya Elina.
"Haruskah kau bertanya?"
Elina tertawa. Ia ingin membuat Okan semakin akrab dengannya. Kali ini, Elina ingin menguasai Okan tanpa peduli lagi dengan perasaan Susi. Elina tak akan mengijinkan Okan tidur di kamar Susi lagi kecuali untuk melihat Haikal.
Saat tangan Okan membuka kancing piyamanya, Elena langsung membuang segala rasa gundah dalam hatinya. Ia ingin melayani suaminya dengan hati yang bahagia.
*******
Selesai sholat subuh, Elina tak tidur lagi. Ia melihat beberapa katalog barang untuk mengisi dapur di rumah baru mereka nanti. Sedangkan Okan, ia tidur lagi karena keduanya semalam tidur di saat jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari.
Jam setengah enam, Elina segera turun ke bawa untuk menyiapkan sarapan. Ia berpapasan dengan Susi yang sedang memeluk Haikal.
"Apakah mas Okan sudah bangun?" tanya Susi.
"Selesai sholat, mas Okan tidur lagi. Kenapa?"
"Aku mau meminta mas Okan menjaga Haikal sebentar karena aku harus membaca karena hari ini aku mau ujian proposal. Haikal bangun dari jam setengah empat dan belum tidur."
"Berikan saja pada pengasuhnya. Jangan ganggu mas Okan. Mari ku antar. Belajar yang benar agar tak menyia-nyiakan waktumu."
Susi memberikan Haikal pada Elina. Ia kemudian kembali ke kamarnya. Namun ia kurang suka dengan perkataan Elina.
"Hai tampan, kenapa kamu belum tidur lagi?" Kata Elina sambil menuruni tangga secara hati-hati.
Sesampainya di dapur, nampak pengasuh Haikal yang bernama Tika baru saja selesai minum teh.
"Sudah bangun Haikalnya?" tanya Tika lalu segera mendekati Elina.
"Iya. Dari jam setengah empat subuh katanya."
"Mari, nyonya. Biar Haikal sama saya."
Elina menyerahkan Haikal pada Tika. Ia kemudian mendekati bi Ina yang sedang membersihkan peralatan masak.
"Selamat pagi, bi."
"Selamat pagi nyonya. Oh ya, tadi subuh nyonya Larasati sudah bangun. Ia menyiapkan ramuan ini untuk nyonya. Katanya supaya nyonya bisa kuat dan cepat mendapatkan momongan. Ramuan ini katanya agak berbeda dengan ramuan yang lalu."
Elina menatap gelas yang sudah berisi cairan berwarna merah itu. Ia membuka penutupnya dan langsung membuang isinya ke tempat cuci piring. Bi Ina sangat terkejut.
"Kalau ibu tanya, katakan saja kalau aku sudah meminumnya."
"Tapi nyonya....!"
Elina memperhatikan sekelilingnya. Memastikan kalau tak ada pelayan lain di dapur ini selain mereka. Ia kemudian mendekati bi Ina dan berbisik.
"Aku sudah menyelidiki minuman yang selalu dibuat ibu untukku. Itu mengandung racun untuk membuat indung telurku rusak."
"Astagfirullah!" Bi Ina menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia sama sekali tak menyangka kalau nyonya Larasati akan melakukan itu.
"Aku mohon, bi. Jangan dulu katakan pada siapapun. Aku akan menunggu saat yang tepat dan membukanya di hadapan mas Okan. Aku tak mau menghakimi atau menyudutkan ibu mertuaku. Aku masih menghormatinya. Hanya saja, jika ibu terus memaksa ku, aku terpaksa harus mengatakannya."
Bi Ina mengangguk. Ia menepuk pundak Elina. "Yang sabar ya, nyonya. Bibi selalu berdoa agar nyonya cepat hamil."
"Terima kasih, bi."
Keduanya pun larut dalam kegiatan menyiapkan sarapan. Selama 1 jam lebih Elina berkutat di dapur, setelah itu ia segera ke kamarnya untuk mandi.
Saat Elina memasuki kamar, Okan baru saja keluar dari kamar mandi. Suaminya itu sudah mandi dan tempat tidurpun terlihat rapih.
"Makasi sayang, sudah bersihkan tempat tidurnya."
Okan mendekat dan menyodorkan pipi kirinya pada Elina. "Mana hadiahnya?"
Elina mencium pipi Okan.
"Aku mandi dulu ya, mas."
Okan menatap istrinya sambil tersenyum. Ada rasa bahagia dalam hatinya. Okan sudah bertekad untuk menalak Susi.
Selesai Elina mandi dan ganti pakaian, ia dan Okan turun ke bawa sambil bergandengan tangan. Nampak Zeki, Larasati dan Susi sudah ada di meja makan.
Elina mengeratkan pegangan tangannya pada Okan. Ia dapat melihat Susi yang terlihat cemburu.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Elina. Ia nampak cantik celana kain hitam dan kemeja berwarna oranye berlengan panjang.
"Kakak ipar, kau terlihat sangat bahagia hari ini." Ujar Zeki saat melihat dandanan Elina dan senyum di bibirnya tak pernah pudar.
"Kita akan bahagia jika merasa sangat dicintai. Iya kan, mas?" Elina melirik Okan.
"Benar, sayang." Jawab Okan sambil menyentuh tangan Elina.
Larasati menatap Elina. "Kau sudah meminum ramuan yang ibu buat? Ibu bahkan harus bangun pukul setengah empat pagi."
"Aku langsung menghabiskannya setelah bi Ina memberikan padaku tadi pagi, iya kan bi?" Elina melirik bi Ina.
Wanita parubaya itu tersenyum sambil mengangguk.
" Baguslah." Kata Larasati sambil tersenyum senang.
Selesai sarapan, Okan meminta semuanya untuk ke ruangan keluarga.
"Ada apa, Okan?" tanya Larasati. Ia duduk sambil memegang dadanya. Larasati memang terlihat sedikit pucat pagi ini.
"Ibu, kau tahu sejak dulu kalau aku hanya mencintai Elina. Cintaku padanya tak akan digantikan oleh apapun. Aku akan meninggalkan rumah ini untuk ibu dan Susi. Karena aku dan Elina akan pindah ke rumah baru kami minggu depan." Kata Okan membuat Larasati terbelalak.
"Kau membangun rumah tanpa memberitahu ibu?" Ia lalu menatap Elina. "Dasar kau perempuan iblis. Kau sengaja kan menyuruh anakku untuk pindah rumah. Kau ingin memisahkan aku dengan anakku? Kau ingin menguasai anakku sendiri dan melupakan kalau dia punya anak dan istri juga?"
"Ibu, ini atas keinginanku sendiri. Elina tak tahu kalau aku membangun rumah untuknya. Aku hanya ingin menikmati kehidupan rumah tanggaku dengan dengan damai. Karena itu aku akan menalak Susi."
Zeki tersenyum senang. Susi sangat terkejut. Sedangkan Larasati langsung berdiri dari kursinya. Ia bermaksud akan menampar Elina namun Okan dengan cepat menahan tubuh ibunya.
"Ibu, jangan sakiti Elina. Semua yang kukatakan ini atas keinginanku sendiri. Susi dan Haikal tak akan kekurangan apapun."
Larasati yang dipeluk oleh Okan, tiba-tiba merasa lemas. Wanita tua itu memegang dadanya. Okan dengan cepat menggendong tubuh ibunya ke kamar. Ia segera memerintahkan Susi untuk mencari obat jantung ibunya.
Setelah Susi menemukannya, Okan segera memasukan obat itu di bawa lidah ibunya.
Beberapa menit kemudian, Larasati nampak tenang.
"Ibu, tenangkan dirimu." Okan mengusap punggung tangan ibunya.
"Jika kau pergi, jika kau tinggal di rumah yang lain, ibu akan mati." Kata Larasati sambil menangis.
Elina diam-diam meninggalkan kamar Larasati. Ia duduk di ruang tamu dengan perasaan yang bercampur aduk.
Zeki yang menyusulnya, ikut duduk di samping Elina. "Elina, yang sabar ya? Aku yakin Kak Okan akan berusaha agar kalian bisa pindah."
"Aku tak bermaksud memisahkan ibu dengan mas Okan. Aku hanya ingin menikmati kententraman dalam rumah tanggaku."
"Aku tahu. Aku pun ingin melihat kalian bahagia. Entah kenapa aku nggak suka dengan Susi. Aku merasa kalau Susi itu seorang yang munafik."
Elina menatap Zeki. Pada hal Zeki baru beberapa bulan mengenal Susi. Namun ia sudah bisa mengenal siapa Susi yang sebenarnya.
Tak lama kemudian, Okan keluar kamar. Ia melihat Elina dan Zeki yang duduk bersebelahan dan nampak akrab bercakap-cakap. Okan tak mau merasa cemburu karena ia tahu Zeki tak mungkin menggoda Elina dan istrinya itu pasti tak akan tertarik dengan Zeki.
"Ibu sudah tidur. Sayang, ayo kita pergi!" ajak Okan.
Elina mengangguk. Saat mereka bertiga akan pergi, Susi memanggil Okan.
"Mas....!"
"Ada apa Susi?" Okan berbalik dan menatap Susi sementara Elina tetap menggandeng lengan Okan.
Susi tertunduk. "Eh.....eh...., kartu kreditku sudah tak bisa digunakan lagi. Ada apa ya?"
"Aku membatasi pemakaian kartu kreditmu. Mengapa pemakaiannya hampir 50 juta? Aku nggak akan marah jika itu menyangkut pembayaran kuliahmu. Tapi bukankah biaya kuliahmu sudah ku bayar lunas beberapa waktu yang lalu?."
"Mas nggak adil. Aku kan juga istri mas. Mengapa punya mba Elina nggak di batasi?"
Okan akan bicara namun Elina mendahuluinya. "Maaf ya, Susi. Aku memakai kartu kredit dari mas Opastuaanya untuk belanja keperluan dapur. Aku tak pernah menggunakan uang suamiku untuk berfoya-foya apalagi untuk menyenangkan orang lain."
"Apa maksudmu, mba?" tanya Susi dengan wajah sedikit pucat.
"Tanya pada dirimu sendiri apa maksud perkataanku. Kau pasti akan mengerti. Ayo kita pergi sayang!" Elina langsung menarik tangan Okan.
Susi menatap kepergian mereka dengan hati yang kesal. Ia jadi tak bisa melaksanakan rencananya hari ini.
Di dalam mobil, Okan yang sedang mengendarai mobil sesekali menatap Elina. Ia merasa sedikit heran dengan perubahan sikap Elina.
Di sentuhnya tangan Elina.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?"
Elina mengangguk sambil menatap suaminya.
"Aku baik-baik saja, sayang."
"Apa maksud perkataanmu pada Susi?"
Elina menarik napas panjang. "Kamu tidak suka?"
"Bukan begitu. Hanya saja aku heran dengan perkataanmu. Terdengar sedikit ketus."
Elina mengambil tangan Okan dan menciumnya. "Aku hanya mencoba mempertahankan milikku. Hari ini ibu sakit, namun aku berharap jika kondisi ibu sudah membaik, segera perjelas hubunganmu dengan Susi."
Okan mengangguk. "Aku pasti melakukannya, sayang. Kau tenanglah."
Elina tersenyum. "Aku mencintaimu, mas."
"Aku lebih mencintaimu." ujar Okan dengan senyum kebahagiaan di wajahnya.
Saat Elina tiba di toko kuenya, ia turun dan melambaikan tangannya pada Okan.
Dewi yang sementara mengatur kue di lemari kaca tersenyum melihat temannya.
"Selamat pagi, sayang!" Sapa Elina.
"Selamat pagi juga." balas Dewi.
"Banyak pesanan kue?"
"Banyak. 2000 kue baru saja diantar Anita. Sore nanti sore ada orderan dari 3 pelanggan, masing-masing 1000 buah. Eh, bagaimana kabar rumah barumu? Kapan baca doanya?"
"Mertuaku langsung jatuh sakit saat mas Okan mengatakan tentang kepindahan kami."
"Dasar nenek sihir."
"Hei...dosa lho." tegur Elina.
"Biarin."
Ponsel Elina berbunyi. "Hallo."
"Selamat pagi bu Elina. Saya mau melaporkan kalau saya mulai mengikuti ibu Susi saat ini."
"Baguslah. Jangan lupa ambil foto sebanyak mungkin."
"Siap, Bu!"
Elina memasukan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Ia memakai apron dan masuk ke dapur produksi.
Tak akan kubiarkan mas Okan tertipu olehmu, Susi. Aku juga tak akan membiarkan diriku di tindas oleh ibu mertuaku. Aku ku buka pada saat yang tepat.
karyanya memang keren²...
mas okan juga hebat otthornya juga hebat
Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️