"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sang brandalan
Sedan mewah hitam milik Elian Gava Alaric bergerak pelan menyusuri jalan aspal area parkir VIP yang mulai lengang. Di kursi penumpang baris belakang, Lyra Anya Cassandra duduk dengan tubuh kaku. Jas seragam hitam milik Elian masih tersampir di bahunya, membungkus siluet tubuhnya yang proporsional dan ideal. Kepala Lyra bersandar lesu pada kaca jendela yang dingin. Pandangan matanya tampak sayu, menatap kosong pada deretan pohon palem sekolah yang bergeser mundur.
Aroma parfum amberwood yang hangat dan maskulin dari jas itu memenuhi kabin mobil yang kedap suara, meredam sisa rasa pusing akibat serangan Brain Fog yang menderanya di perpustakaan tadi. Lyra menarik napas dalam-dalam, membiarkan wangi mewah itu menenangkan batinnya yang lelah, tanpa menyadari bahwa ia sedang mengisap racun ketergantungan yang sengaja ditanamkan oleh pemuda di sampingnya.
Elian duduk tegak di sisi kanan. Postur tubuhnya yang jangkung memancarkan aura dominasi yang mutlak. Kancing atas kemeja putih mahalnya sengaja dibiarkan terbuka, kontras dengan kulit lehernya yang pucat. Rambut hitam comma hair-nya membingkai wajah simetris rupawan yang kini sedang memasang ekspresi tenang. Namun, di balik manik mata hitam jelaganya yang dalam, ada kepuasan obsesif yang tak kasat mata. Targetnya kini sudah berada di dalam genggamannya.
Tepat saat sedan itu hendak berbelok keluar dari gerbang utama SMA Elit Gava, suara raungan mesin motor yang memekakkan telinga mendadak memecah kesunyian senja.
VROOOMMM! SCRREEECH!
Sebuah motor sport hitam besar melesat memotong jalur, melakukan pengereman ekstrem hingga ban belakangnya berdecit keras, berhenti tepat di depan moncong sedan Elian. Tidak sendirian, di belakang motor tersebut, lima motor besar lainnya langsung bergerak memutar, membentuk barikade melingkar yang mengunci pergerakan mobil mewah itu.
Supir pribadi Elian menginjak rem dengan sentakan mendadak, membuat tubuh Lyra sedikit terdorong ke depan. Kacamata bulatnya melorot di hidung bangirnya. "Ada apa, Elian?" tanya Lyra lirih, suara parunya terdengar canggung dan dipenuhi kepanikan baru.
Elian tidak menjawab. Matanya menyempit tajam. Kilat kemarahan yang dingin dan pekat berkelebat di wajah rupawannya saat ia mengenali sosok di atas motor sport hitam tersebut.
Arsyen El Barack membuka kaca helm full-face-nya dengan hentakan kasar. Rambutnya yang acak-acakan ditiup angin sore menambah kesan liar pada wajahnya yang berahang tegas. Di belakangnya, anggota geng motornya termasuk Galang, cowok berbadan tegap dengan tindik di telinga kiri, dan Jendra, pemuda berwajah sinis yang selalu memegang pemantik api turut menurunkan standar motor mereka dengan bunyi dentang besi yang provokatif.
"Turun lo, Sosiopat!" teriak Arsyen, suaranya menggelegar menembus kaca mobil. Ia turun dari motornya dengan gerakan angkuh, berjalan mendekati pintu penumpang belakang.
"Elian, jangan..." bisik Lyra, tangannya yang kurus namun proporsional refleks mencengkeram lengan kemeja Elian.
Elian mengulas senyum manis yang menenangkan ke arah Lyra. "Tenang, Lyra. Tetap di dalam. Aku akan membereskan berandalan ini," ucapnya dengan nada vokal yang diatur sangat lembut.
Namun, begitu Elian membuka pintu mobil dan melangkah keluar, kehangatan itu menguap tanpa sisa. Tubuh jangkungnya berdiri tegak, menantang Arsyen dengan tatapan mata elang yang memancarkan aura membunuh.
"Kamu mengganggu jalanku, Arsyen," ucap Elian dingin. Suaranya rendah, berat, dan sarat akan ancaman mutlak.
"Gue emang sengaja mau cari gara-gara sama lo!" balas Arsyen kasar. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. Dua energi yang bertolak belakang kembali bertabrakan di udara senja. Arsyen menatap Elian dengan muak. Sebagai anak dari keluarga donatur terbesar kedua di sekolah ini, Arsyen adalah satu-satunya orang yang memiliki imunitas untuk mengacaukan hidup Elian. "Gue tahu lo punya rencana busuk sama cewek beasiswa itu. Apa pun yang lo mau di sekolah ini, gue gak akan pernah biarkan berjalan mulus dan lempeng!"
Galang, yang berdiri di samping motornya, ikut berseru memprovokasi, "Eh, Alaric! Lo boleh jadi donatur nomor satu di yayasan ini, tapi jangan harap semua keinginan lo bisa terwujud selama bos kita ada di sini!" Jendra di sebelahnya terkekeh sinis, sengaja menyalakan pemantik apinya berulang kali hingga menimbulkan bunyi klik-klik yang mengintimidasi udara sekitar.
Elian membenarkan letak jam tangan kronograf hitam mewahnya dengan gerakan yang teramat tenang, seolah gertakan geng motor itu tidak lebih dari angin lalu. "Lyra pulang bersamaku atas kemauannya sendiri karena dia sedang tidak sehat. Dan sebagai donatur terbesar pertama yang menyokong dana sekolah ini, aku punya hak penuh untuk memastikan aset prestasi sekolah pulang dengan aman. Singkirkan motor-motor kotor kalian sekarang."
"Hak penuh kepala lo?!" Arsyen tertawa serak, tawa yang meremehkan sekaligus dipenuhi amarah yang membakar dada.
BRAK!
Arsyen memukul kap mesin sedan mewah Elian dengan telapak tangannya hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di area gerbang. "Gue muak liat hidup lo yang sok lurus dan sempurna! Gue gak peduli sama cewek beasiswa itu, tapi liat lo dapet apa yang lo pengen? Cuih! Itu bikin gue mual, Elian! Gue ke sini cuma buat gagalin kesenangan lo!"