KISAH SANTRI PESANTREN MANBAUS SALAM. NO PROMO!
✍️ NASKAH DALAM PROSES REVISI. Please jika ada kesalahan tulisan, mohon tulis di kolom komentar, ya. Atau, apa pun segala yang berhubungan dengan cerita.
Kesedihan, tawa, romantisme hubungan pernikahan, kemarahan, mawas diri, muhasabah, cinta dan akhlak seorang santri.
⚠️⚠️ Plagiat? Langsung sy serahkan urusan itu antara Anda dg Tuhan.🙏 Cerita ini tidak terinspirasi dr satu pun novel di platform ini.
Novel pembangun jiwa yang dilatarbelakangi pesantren salaf milik seorang Yai Makrus dan Bu Nyai Hindun.
Kisah kasih perjuangan santri yang ingin menggapai surga dengan jalan menghafalkan Alquran. Penuh tirakat, ujian, berlomba-lomba ngalap berkah.
Ranaa ialah putri kesayangan aba yg bercita-cita menjadi hafizah mutqin. Sayangnya, harapan tak semanis dengan realitanya.
Melalui ujian dan seluruh keluh kesah yang dialaminya, bagaimana caranya dia memperjuangkan Alquran? Caranya menjaga hati sahabat-sahabatnya? Teguh di atas kaki sendiri hingga dia dipertemukan dengan kekasih hati yang sebenarnya.
Wahai Merpati Putihku, jika suatu saat kamu terbang jauh, ingatlah bahwa Tuanmu ada di sini yang setia menunggu." Begitu kata sang kekasih di suatu malam penuh bintang gemintang, tapi disertai ratapan tak biasa.
Bagaimana kelanjutannya? Check it out.
👉 Tempat dan nama tidak berhubungan dengan siapa pun.
Selamat membaca. Semoga dapat diambil manfaat dan ibrahnya. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuni Umdatun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik
“Assalamu’alaikum?” Kuletakkan tas ranselku.
Tidak ada orang menyahut. Hatiku gusar. Pintunya dikunci. Jendelanya juga dikunci, tertutup selambu dari dalam. Teras yang harusnya bersih setiap hari, pagi dan sore disapu, kulihat masih kotor seperti sudah ditinggal beberapa hari.
“Assalamu’alaikum.” Kang Nawi salam lebih keras.
“Nduk Rana?”
Aku menoleh. Tetanggaku memanggil.
“Bapak Ibuk ki ndak enek lo, Nduk. Wis pirang-pirang dino neng rumah sakit.”
Terjemah: (Bapak Ibu tidak ada lo, Nduk. Sudah beberapa hari di rumah sakit.)
“Siapa yang sakit?”
“Ibukmu sing loro. Kae sempat operasi barang jarene Bapakmu, tapi kumat maneh.”
Terjemah: (Ibukmu yang sakit. Sempat operasi juga kata Bapak U, tapi kumat lagi.)
Kang Nawi menyongsong tubuhku yang hampir lembing.
“Teng pundi (di mana), Bu, rumah sakite?”
“Dokter iskak kono lo. Yowis, yo, Le.”
Terjemah: (Dokter Iskak sana lo. Ya sudah, ya, Le.)
“Nggeh. Suwun.”
Terjemah: (Iya. Terima kasih)
“Umaku sakit, Kang? Kok, Aba nggak pernah bilang kenapa?” kataku lirih, pelan-pelan menatapnya.
Aku terjatuh, terduduk di tangga teras. Wajahku berubah seperti orang linglung.
“Istighfar, Neng? Ya Allah."
Kang Nawi jongkok. Lantas membelai pundakku.
“Kita ke sana sekarang.” Kang Nawi membantuku berdiri.
Kang Nawi memesan ojek online, mobil.
***
Lorong-lorong rumah sakit kulewati dengan kepala melongok-longok. Di mana ruangan yang dikatakan petugas administrasi tadi? Aku memperpanjang langkah. Kang Nawi mengambil alih tas ranselku. Menuju belokan, aku tidak sengaja melihat Aninda menggendong Si Bocil Anda. Aku mendekati dia yang langung terperanjat.
“Ya ampun, Mbak Na.” Dia memelukku.
“Di mana Aba?”
“Di dalam, Mbak.”
Aku ke dalam. Kang Nawi dan Aninda mengekor.
“Aba?” Kupanggil Aba yang sedang duduk.
Aba menoleh ke belakang. Kulihat aba tidak kaget melihatku datang. Mungkin sudah kalut memikirkan kondisi uma yang tidak kutahu seberapa parahnya. Aku mendekat, lalu merangkul aba dari belakang.
“Uma sakit apa, Ba?” Suaraku bercampur isak.
“Mium.” Suara aba kedengaran ditegar-tegarkan.
“Sejak kapan dan berapa kali operasi?”
“Sebelum Aba nyambang kamu. Sebelumnya Umamu sudah operasi.”
“Jadi, waktu Aba tiba-tiba pamit pulang itu karena Uma kambuh?”
“Maafkan Aba bohong pada Ranaa.”
Aku menggenggam tangan Aba kuat. Pundaknya basah kutetesi air mata.
“Kamu ke sini sama siapa?”
“Itu Kang Nawi, Ba,” kataku lirih putus-putus.
“Maafkan Aba, Ranaa. Kamu sudah bisa mencintainya?”
“Belum.”
Kang Nawi tiba-tiba mendekat. Entah dia mendengar percakapan terakhirku tadi atau tidak. Semoga saja tidak. Dia menyalami aba dan bude. Dia mengambil tempat duduk di tempat tidur pasien yang sudah dikosongkan kemarin sore.
“Uma kapan bangun, Ba?”
“Tidak tahu. Keadaannya belum membaik. Itu, Na, minggu yang lalu baru operasi lagi.”
“Sudah tiga kali?”
“Iya.”
Aku masih merangkul aba. Aku tidak ingin cepat-cepat melepaskannya. Aku berbisik, “Aba tidak cerita soal Kang Nawi, kan?”
“Belum, Ranaa.”
“Jika nanti Uma pada akhirnya harus tahu, semoga Uma bisa menerima, ya, Ba.”
Aku melepaskan aba, kudekati uma. Kuraih telapak tangan uma. Kucium tangan yang penuh doa restu itu.
“Syafakillah (semoga lekas sembuh), ” kata Kang Nawi.
“Aamiin.”
“Sudah makan, Wi?”
“Sampun. Tadi mampir depan terminal,” ucap Kang Nawi canggung.
Langit semakin gelap. Malam ini kami bermalam di rumah sakit. Uma belum sadarkan diri. Berkali-kali aku menunaikan salat hajat, menengadah, berharap saat ini arsy’ selalu terbuka untuk menerima doa-doa hamba yang lemah ini. Tanganku tidak berhenti memutar tasbih. Mungkin inilah jawaban keresahan hatiku ingin segera pulang pondok. Kenapa aku pun gagal ujian kemarin? Karena, tangan yang terbiasa menengadah lebih tulus belum bisa bergerak sampai sekarang. Aku ingin sekali tinggal lebih lama, menunggu hingga tangan itu bisa menengadah kembali.
Aba tergesa-gesa. Kudengar napasnya begitu keras saat didekatku.
“Ranaa, Umamu kritis. Baru pindah ruangan. Kita ke sana.”
Aku mengangguk. Aba pergi lagi. Kang Nawi juga berdiri tergesa-gesa. Kulepas mukenanya. Kulipat sekenanya. Aku dan Kang Nawi ke luar musala cepat-cepat. Ya Allah, Umi amani, wa sa'adati, raḥati. Selamatkanlah nyawanya! pintaku. Aku masih ingin melihat cahaya kasih di matanya. Wajahku yang sembab kembali merah.
Aku duduk di dekat Aninda. Kutatap Anda di dekapannya, lalu Indi di dekapan pakde. Bergantian aku menatap mereka lama. Mereka masih punya masa depan yang panjang. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang uma seperti besarnya kasih sayang uma padaku. Hatiku berkali-kali berkata jangan. Aku menggoyang-goyangkan tubuhku. Meringkuk dalam dekapanku sendiri. Air mataku tumpah ruah sebanyak-banyaknya. Kang Nawi mendekat, jongkok di depanku. Dia mengambil tanganku. Dia menggenggamnya. Aku tidak kuat. Aku ingin berteriak sekeras mungkin. Dan, itu hanya tertahan di wajahku yang berair dan merah. Sudah tak serupa wajahku lagi.
“Kamu siapa?” tanya Aninda.
Baru kali ini saudaraku bertanya. Mereka baru sadar aku datang bersama laki-laki.
“Aku suaminya,” jawab Kang Nawi lirih.
Aninda plonga-plongo. Dia tidak bertanya lagi.
Pekerjaan yang kami lakukan sekarang hanya duduk, berdiri, berputar-putar. Lalu, kembali duduk. Berdiri lagi sambil memohon-mohon. Yang paling sering berdiri adalah aba. Aba menenangkan Indi yang merengek setelah di pangkuan pakde Indi menangis.
Kalimat itu akan sulit terbaca bila tanpa spasi. Justru akan melelahkan jika tanpa koma. Akan berhenti bila di situ ada titik. Aku tidak ingin uma berakhir di sini seperti titik yang mengakhiri sebuah kalimat. Masih ada kisah-kisah panjang yang ingin kutuliskan bersama uma. Kisah ibu dan anak yang telapak tangannya memiliki kekuatan luar biasa untuk saling menggenggam, melengkapi kerenggangan jemarinya.
“Insyaallah semua akan baik-baik saja.” []
dengan datangnya mantan☺️
akan kucoba
menjodohkan Rana dan Asyam sejak kecil ya....
penuh dengan pelajaran
dan sisi religi kita memang sekali2. kadang merindukan ketenangan dalam hidup , novel yg pas untuk selalu ingat akan Sang Maha Pencipta
meskipun disela2 waktu kita harus tetap lihat Akhirat ya😊😊
Fastabiqul Khoirot
terimakasih sudah membuat novel sebagus dan bermanfaat
maturswn sanget thor..
karya nya begitu luar biasa..
di bab bab tertentu cmn bs komen MashaAllah sambil berderai,meresapi karya panjenengan..